Rahasia Dibalik Pernikahan

Rahasia Dibalik Pernikahan
Berjuang


__ADS_3

Setelah kepulangannya menjemput sang cucu di sekolah, kini ibu Ria mendekati Risa yang sedang duduk termenung di pinggiran tempat tidur, karena sudah dua hari Risa tidak melakukan apa pun dan hanya diam di dalam kamarnya.


"Ris, ada apa?" tanya ibu Risa yang kini sudah duduk disamping Risa.


Belum juga menjawab pertanyaan sang ibu, Risa kini menangis, membuat ibu Ria langsung membawa sang putri ke dalam pelukannya.


"Katakan pada ibu, apa yang ingin kamu katakan, jangan di pendam sendiri,"


"Mas Anton menyetujui jika aku ingin bercerai, Bu,"


Mendengar ucapan sang putri, membuat ibu Risa kini melepas pelukannya, lalu menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi sang putri.


"Kenapa kamu bersedih? Bukannya itu yang kamu inginkan bukan?"


"Iya Bu, tapi..." Risa tidak jadi meneruskan ucapannya, karena memang dia yang menginginkan hal itu, tapi dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia tidak ingin berpisah dengan Anton, karena jujur dia masih mencintai suaminya.


"Tapi kenapa? Kamu ingin mengurungkan niat kamu itu?"


Namun, Risa enggan untuk menjawab pertanyaan sang ibu, dan memilih diam, membuat ibu Ria kini menggenggam kedua tangan sang putri.


"Ibu selalu mengajarkan kamu untuk berpikir matang dengan niat kamu itu, sebelum kamu memutuskan, karena apa? Ibu tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari dengan niat kamu ini, Ris. Ibu tahu Anton mamang bersalah, tapi apa satu kesalahan menutup beribu kebaikan yang selama ini dia berikan padamu? Tidak bukan? Ingat, tidak ada satu manusia pun yang tidak memiliki kesalahan di dunia ini termasuk Anton," nasihat ibu Ria yang sebenarnya tidak mendukung jika sang putri bercerai dengan Anton, meskipun dia kecewa dengan sang menantu yang menutupi kebohongan dari sang putri.


"Aku harus bagaimana Bu?"


"Berpikir lagi, dengan niat kamu ini, kamu bukan anak remaja yang masih labil, kamu sudah dewasa, dan tahu apa yang baik dan bukan untuk kamu, dan jangan pernah mengambil keputusan dalam keadaan emosi, berpikir lah tenang, dan berpikir jauh kedepan dengan keputusan apa yang akan kamu ambil, karena kamu buka lajang lagi, kamu sudah memiliki anak, Ris," ujar ibu Ria mengingatkan sang putri.


"Mama," panggil Nana yang baru masuk ke dalam kamar, membuat Risa segara menghapus air matanya, dan menyudahi pembicaraannya dengan sang ibu.

__ADS_1


"Iya sayang, ada apa?"


"Barusan aku melakukan panggilan video dengan papa, dan ya. Papa sudah pulang dari rumah sakit, dan aku ingin menemui papa, boleh ya?"


Risa hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang putri, membuat Nana kini mendekatinya, lalu mencium sebelah pipi Risa.


"Terima kasih, Mama juga harus ikut,"


"Sama nenek saja,"


"Tidak, aku mau sama mama,"


"Mama sedikit pusing, sayang,"


"Yah," sambung Nana yang sedikit kecewa.


*


*


*


Padahal Risa bukan pusing, melainkan sedang berpikir langkah apa yang harus dia ambil kedepannya, setelah Anton menyetujui keinginannya.


Anton yang baru pulih, dan baru saja menemani Nana bermain kini mendekati Ibu Ria yang sedang duduk di ruang tengah, meninggalkan sang putri yang sedang mandi sore bersama dengan pengasuhnya.


"Nak, apa kamu sudah benar-benar sembuh?" tanya ibu Ria ketika sang menantu sudah duduk tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Sudah Bu, oh ya Bu, bagaimana keadaan istiku?"


"Risa baik-baik saja,"


"Syukurlah,"


"Nak, ibu mau bertanya padamu,"


"Katakan saja, Bu. Aku akan menjawabnya,"


"Apa kamu benar, sudah menyetujui keinginan Risa,"


"Iya,"


"Kenapa kamu melakukannya, apa kamu sudah tidak mencintai Risa?"


"Ini karena rasa cintaku yang teramat besar untuknya, Bu. Mungkin dengan aku menyetujuinya, dia akan memaafkan aku, dan aku bisa melihat keceriaan lagi di wajahnya,"


"Ini tidak benar, Nak. Jika kamu masih mencintainya, harusnya kamu tidak menyetujui apa yang dia inginkan, dan harusnya kamu berjuang untuk membawa Risa kembali,"


"Tapi dia..."


"Sebenarnya dia tidak benar-benar ingin bercerai denganmu, keputusan yang dia ambil, adalah kepuasan sesaat," sambung ibu Ria memotong perkataannya sang menantu.


"Maksud ibu?"


"Bawalah Risa kembali, ibu yakin kamu bisa,"

__ADS_1


"Tidak perlu," sambung seseorang yang baru saja mendekati keduanya.


Bersambung............


__ADS_2