Rahasia Dibalik Pernikahan

Rahasia Dibalik Pernikahan
Anak Pungut


__ADS_3

Entah umpatan apa lagi yang keluar dari bibir Neta, untuk orang suruhannya. Karena orang suruhannya yang di bayar untuk membunuh Risa dan juga ibu Ria, dalam kecelakan yang sudah di rencanakan, gagal sudah.


Meskipun mobil dimana ibu Ria dan juga Risa berada tertabrak sebuah truk, tapi tidak membuat keduanya terluka parah, hanya mengalami luka lecet saja dan sekarang sudah ditangani oleh dokter di rumah sakit.


"Dasar bodoh!" umpatan yang keluar dari bibir Anton untuk Neta, ketika keduanya sedang berada di ruang perawatan dimana Risa dan juga ibu Ria berada. Tentu saja Anton akan mengatakan hal itu pada adik angkatnya, setelah dia tahu, kecelakan yang terjadi, karena Neta meninggalkan Risa dan juga ibu Ria di dalam mobil, yang terparkir di pinggir jalan.


"Maafkan aku," ucapan yang keluar dari bibir Neta, tanpa ada penyesalan sama sekali, karena di dalam hatinya masih terselimuti kemarahan.


"Untung saja istri dan juga anakku tidak kenapa napa, jika terjadi sesuatu padanya, sudah aku patahkan leher kamu, Net!" Tentu saja kekesalan tidak bisa ditutupi oleh Anton.


Membuat mama Marta yang juga berada di ruangan tersebut, kini mendekati Anton, dan menjauhkannya dari Neta.


"Ini di rumah sakit, jangan ada keributan, Ton," mama Marta coba meredam kekesalan sang putra.


"Tapi di sini yang salah dia, Ma,"


"Iya mama tahu, tapi Neta sudah minta maaf padamu, jadi maafkanlah,"


"Terus saja bela anak satu ini, mama juga selalu memanjakan anak pungut seperti dia," ucapan yang harusnya tidak keluar dari bibir Anton, sudah meluncur bebas tanpa aba-aba hanya karena diselimuti emosi, mengetahui istri yang sangat dia cintai terluka, meskipun hanya luka gores, dan dokter mengatakan tidak ada yang perlu dikuatirkan.


Tentu saja mendengar ucapan dari Anton, Neta dengan segera keluar dari ruangan tersebut.


Dan mama Marta langsung memicingkan matanya untuk menatap sang putra.

__ADS_1


"Tidak seharusnya kamu mengatakan hal itu pada Neta, Ton, semarah apa pun kamu padanya," ucap mama Marta yang sangat kecewa dengan ucapan Anton, lalu ikut meninggalnya ruangan tersebut, untuk menyusul sang putri.


Papa Martin yang juga ada di ruangan tersebut, dan mendengar apa yang sang putra katakan, kini mendekati Anton, lalu menepuk punggungnya.


"Mama kamu benar, seharusnya kamu tidak mengatakan hal itu,"


Dan Anton pun kini meraup wajahnya, untuk merutuki ucapan yang pasti sudah melukai hati Neta.


"Jika kamu sudah tenang temui dia, dan minta maaf," saran papa Martin.


"Baik Pa,"


"Oh ya, papa ada kabar gembira, orang suruhan papa sudah menangkap pengendara truk yang melarikan diri,"


"Biar papa saja, kamu tetap berada di samping istrimu,"


"Baik, Pa,"


"Kelau begitu papa pergi dulu," pamit papa Martin yang kini keluar dari ruang perawatan dimana Risa dan juga ibu Ria di tempatkan di ruangan yang sama, atas perintah Anton, agar dia bisa mengawasi keduanya dengan mudah.


Setelah kepergian papa Martin. Anton kini mendekati sang istri yang sedang menatap kearahnya.


"Sayang, kenapa kamu mengatakan hal seperti itu pada Neta? Dia tidak salah apa pun dalam hal ini, ini semua sudah takdir, aku dan ibu juga baik-baik saja,"

__ADS_1


"Aku khilaf,"


"Tapi kamu sudah melukai hatinya,"


"Nanti aku akan minta maaf," sambung Anton yang kini mengelus perut sang istri. "Aku sudah memberi tahu kamu, jika ingin pergi, sekalipun itu dengan Neta, mama atau pun ibu, kamu harus memberi tahu aku, tapi kenapa kamu tidak menghubungi aku, aku ini, kamu anggap apa?"


"Bukannya Mas Anton sudah mengijinkan aku pergi?" tanya balik Risa karena sedari tadi belum berbincang dengan sang suami, karena dia baru saja di pindah ke ruangan tersebut.


"Tidak,"


"Mas, jangan bohong. Neta yang menghubungi Mas Anton loh, dan Mas juga sudah mengijinkan aku pergi dengan Neta,"


"Neta?" tanya Anton yang kini menautkan kedua alisnya mendengar pernyataan sang istri.


"Iya Mas,"


"Nak, Anton," panggil ibu Ria memotong pembicaraan sang putri dengan suaminya.


Membuat Anton langsung menoleh kearah ibu Ria yang sedang terbaring di ranjang perawatannya. "Iya, Bu. Ada yang bisa aku bantu, Ibu ingin apa?"


"Ibu tidak ingin apa-apa, ibu hanya ingin mengatakan hal penting padamu,"


"Hal penting?"

__ADS_1


Bersambung................


__ADS_2