
*P**adamu aku pernah memimpikan hidup bersama, berjuang bersama, saling mengasihi sampai tua. Namun semesta tak sebaik itu mengizinkan*.~
Shilla termangu dibalkon kamarnya. Ini hari pertama dalam hidupnya tanpa sapaan pagi dari Gabriel. Tanpa perhatian kecil dari Gabriel. Tanpa suara lembut dari Gabriel. Semuanya tanpa Gabriel.
"Lo lagi apa Gab?" lirihnya sembari menatap bintang di langit. Sekilas, bayangan dirinya dan Gabriel dibawah cahaya orion itu kembali melintas. Bahagianya mereka kembali membayang dipikiran Shilla.
"Nanti kalau kita udah jadi sarjana, aku janji bakal langsung nikahin kamu. Dan aku bakal bawa kamu keliling dunia buat bulan madu."
Shilla tersenyum kecut ketika mengingat ucapan Gabriel kala itu.
"Semoga lo bahagia sama Acha. Dan gue juga bahagia sama jodoh gue nantinya." ucapnya tersenyum. Satu gelintir air mata menetes dimatanya. Ia membiarkannya begitu saja, menikmati hembusan angin malam dibalkon kamarnya.
************
"Vi, cewek yang kemarin itu siapa sih?"
Ify dan Sivia berjalan menuju bangku taman di unversitas ternama itu. Saling duduk berdampingan, keduanya saling menatap.
"Dia Agatha. Masa lalu nya Rio." jelas Sivia.
"Ceritain sesuatu dong Vi." pinta ify.
"Jadi dulu itu, Agatha sama Rio pacaran dari kelas 2 SMP. Nah, pas masuk kelas 2 SMA itu Agatha pindah ikut papahnya ke paris. Dan kayaknya baru kemarin deh dia kesini."
"Jadi alasan mereka putus?"
"Sebenernya gue nggak yakin ada kata putus diantara mereka. Soalnya gue tau banget dulu itu Agatha pindahnya mendadak kayak Shilla kemarin. Rio frustasi banget waktu tau Agatha pergi. Agatha juga nggak ngabarin Rio kalau dia pindah. Kayak pergi tanpa pesan gitu loh Fy. Tapi lo jangan marah ya."
"Oh gitu, enggak kok gue nggak marah." ify memikirkan kembali kata-kata Sivia.
Belum ada kata putus? Jadi bisa aja dong mereka sewaktu-waktu balikan? Pikirnya.
"Hai Via, hai Ify." sapa Agatha. Gadis dengan rambut sebahu itu duduk di samping ify.
"Ngapain lo?" tanya Sivia sarkastik.
"Gue cuma mau kenalan sama ify aja kok. Nggak boleh ya?"
"NGGAK BOLEH!!" bentak seseorang yang jelas bukan Sivia. Ketiga gadis itu menoleh secara serempak.
"Rio!?" pekik Agatha. Ia berjingkat kaget dibentak sebegitu kerasnya oleh pemuda yang masih menempati hatinya itu meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
Rio menarik ify kedalam pelukannya, ia datang bersama Alvin.
"Lo kenapa sih Rio? Gue baik cuma mau ajak kenalan pacar lo aja kok. Nggak bakal gue sakitin." ucap Agatha.
"Lo tuh jahat. Dan sampai kapan pun lo akan tetap jahat!" Rio pergi membawa ify, begitu juga Alvin.
"Awas aja kalian." ucap Agatha dengan tatapan penuh kebencian.
********
Kelas sudah selesai. Rio bergegas menuju kelas ify bersama Alvin.
"Btw, gue udah jadian sama Sivia." ucap Alvin bangga.
"Wadaaaw ada yang bahagia nih. Traktirannya dong say." ucap Rio menggoda.
"Ntar malam deh kalo jadi."
"Sialan lo." Rio meninju pelan lengan Alvin.
"Rio!!"
Kedua pria itu berhenti dan menoleh. Terlihat Agatha berlari kecil menghampirinya. Rio dan Alvin kompak mencebikkan mulutnya.
"Gue nebeng ya Rio. Kan rumah kita searah."
__ADS_1
"Emang lo tau rumah gue?"
"Emang udah pindah ya? Bukan yang dulu?"
Ify yang melihat Agatha mendekat pada pujaan hatinya langsung berlari menuju tempat Rio. Biar bagaimana pun, posisinya saat ini adalah kekasih Rio.
"Nggak usah gatel ya sama cowok orang! Pulang sendiri sana!" bentak ify. Rio kaget melihat kedatangan Ify dan Sivia. Terlebih ketika mendengar ucapan Ify yang begitu kasar.
"Lagian lo kan kaya, ngapain nebeng orang? Udah bangkrut bokap lo ya?!" pancing Sivia.
"Gue nggak bawa mobil gais." ucap Agatha memelas.
"Jalan kaki aja sana!"
Agatha malah memegang tangan Rio dan mengusapnya. Membuat darah ify semakin mendidih didalam tubuhnya. Matanya melotot dan memicing.
"Ayolah Rio ijinin gue nebeng ya." ucap Agatha memasang wajah sok polosnya. Sama sekali tak terlihat berdosa.
"Nggak!" tolak Rio. Ify mendekat kearah Agatha dan langsung menjambak rambut Agatha dengan segenap kekuatan yang sudah ia kumpulkan.
"Aww, sakit! Lepasin gue, brengsek!"
"Lo yang brengsek! Berani lo deketin Rio lagi, gue hancurin hidup lo!"
Rio melerai pertengkaran Ifh dan Agatha, ia pun pergi membawa ify dan Alvin juga Sivia.
"Iiiihhhh nyebelin banget sih. Awas aja lo, lo belum kenal siapa gue." kesal Agatha.
*********
Rio membawa ify kerumahnya. Ia ingin mengenalkan Ify pada orangtuanya. Sementara Alvin masih mengantar Sivia pulang.
"Sore tante, om." sapa ify lalu mencium kedua tangan kedua orang tua Rio.
"Sore nak, kamu pasti pacarnya Rio ya?" tebak Manda. Ify hanya cengar-cengir sedikit malu. Manda dan Haling membawa Ify dan Rio keruang tamu.
"Mamah jangan bawa-bawa Agatha dong. Kan calon mantu mamah ify, bukan agatha." ucap Rio. Mereka hanya tertawa ringan. Ify pun juga tak masalah karena ia lega Rio membelanya.
"Gimana kalo nanti malam kita dinner? Ify bawa orang tua ify, kita makan malam bersama. Ify mau nggak?" tawar Manda dengan lembut. Ia membelai rambut ify dari belakang.
"Mau banget tante. Papa pasti mau kok." ucap ify menggebu-gebu.
Ify disambut hangat oleh orang tua Rio. Membuatnya sangat bahagia.
Namun apakah ia tau jika kebahagiaannya tidak sesempurna yang ia harapkan?
perihal doa.
kamu memang berbisik ke bumi, namun suaranya menggema dilangit. memang tidak semua yang dikatakan akan diwujudkan. tapi Tuhan tau, mana yang lebih perlu.
*********
Sebuah restorant mewah dan megah. Dikelilingi dengan sinar lampu-lampu kuning disetiap beton pertengahan restorant, membuat suasana harmonis begitu terlihat.
Disinilah keluarga Haling berada. Menunggu sang calon besan datang. Ya, mereka sudah menganggap Rio dan Ify akan segera melangsungkan acara pernikahan jika sudah lulus kuliah nanti. Masalah pekerjaan untuk Rio, semua sudah diatur karena Rio adalah pewaris kekayaan ayahnya bersama Alvin nanti.
"Ma, Alvin ijin ke toilet dulu ya." ucap Alvin.
"Jangan lama-lama ya nanti kalau keluarga ify datang nggak enak." ucap Manda.
"Iya ma."
Tersisa Rio, Manda, dan Haling disana.
Baru saja Alvin pergi, Ify datang bersama Umari.
"Malam tante, Om." sapanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Manda tidak tersenyum ramah seperti kemarin, ia malah menatap lekat Ayah Ify. Keduanya sama-sama tercengang tak percaya.
"Umari?!"
"Manda!? Jadi kamu mama nya Rio?!"
Umari dan Manda sama-sama terperanjat kaget. Bagaimana mungkin? Itu berarti....
"Jadi ify itu Alyssa?" tanya Manda dengan mata yang berkaca-kaca. Umari hanya mengangguk sambil menunduk. Ia juga tak menyangka akan bertemu dengan mantan isterinya tersebut.
"Papa sama tante Manda udah saling kenal ya?" tanya ify tak mengerti. Haling dan Rio hanya diam saja saling memandang. Alvin tak datang, ia hanya menyaksikan keributan itu di kejauhan. Tak ingin menambah runyam masalah, karena ia juga tidak tahu apa yang dibicarakan kedua orang tuanya dengan orang tua Ify. Yang ia tahu, Mama nya menangis disana.
"Alyssa, dialah mama kandungmu." ucap Umari.
DEG!
"Mama kandung?!" pekiknya. Pandangan matanya langsung kosong begitu saja.
Manda menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka bahwa Alyssa adalah anak kandungnya. Anak yang sudah ia tinggalkan 18 tahun lamanya.
Manda memeluk ify erat seolah tak ingin kehilangan lagi.
"Alyssa, mama rindu sama kamu nak hiks. Mama cari-cari kamu di Bandung." ucap Manda dalam tangisnya. Ify hanya diam. Ia tak membalas pelukan Manda. Matanya beralih menatap Rio, pandangannya kini terhalang oleh air mata yang mengembang dipelupuk matanya. Namun ia masih melihat jelas bahwa Rio pun sama berkaca-kaca.
"Jadi Rio?" tanyanya. Rio saudara kandungnya juga? Pikirnya. Lelucon macam apa ini!?
Ify menyentak kan pelukan Manda dan pergi dari tempat itu. Sebulir air mata sempat menetes di sana. Terlalu sakit menerima semua kenyataan yang ia tahu saat ini. Makan malam yang seharusnya berakhir bahagia, malah menjadi petaka dalam hidupnya.
"Alyssa kamu mau kemana nak?!" teriak Manda.
"Alyssa!?"
"Biarkan dia pergi menenangkan pikirannya dulu Ma," ucap Haling menenangkan. Umari pun menuruti kata-kata Haling.
Rio? Ia menutup matanya perlahan. Bagaimana bisa wanita yang ia cintai adalah anak kandung mama nya? Peristiwa macam apa yang terjadi di masa lalu itu. Jadi yang diceritakan Umari mengenai saudara kandung Ify beberapa waktu yang itu adalah dirinya?
Saat itu, mereka melupakan Alvin.
Sementara Alvin, ia berlari mengejar Ify yang sudah entah kemana. Namun karena langkah ify yang gontai, ia terjatuh dipinggir jalan. Hujan mulai turun deras sekali, membuat air mata ify tersamarkan. Memang benar seharusnya begini, ia bisa leluasa menangis dan berteriak dengan bebas.
"Drama apa ini Tuhan!? Aku membencinyaaa." teriak ify dalam isak tangis dan petir yang menyambar kesana kemari.
"Fy, Ify? Lo nggak papa kan?" ucap Alvin menghampirinya. Ia ikut berjongkok melihat Ify yang terduduk diaspal yang sudah basah tersebut.
"Vin, kenapa harus gue yang jadi anak kandung nya? Kenapa Vin? Itu artinya gue sama Rio nghak bisa bersatu kan Vin!? Iyakan?" racau Ify.
"Fy lo tenang dulu. Lo pulang ya, gue antar."
Ify memeluk Alvin erat. Ia butuh sandaran saat ini. Kemana lagi ia harus bersandar disaat seperti ini? Rio? Bukan lagi. Ia bahkan malu untuk bertemu pria tersebut. Pria yang begitu ia cintai.
"Gue nggak mau pulang. Gue nggak mau Vin."
Alvin mengusap kepala Ify pelan dan lembut. Dibawah hujan itu, mereka saling menguatkan.
"Fy lo yang sabar ya. Semua ini pasti salah paham Fy. Lo pulang dulu ya, besok kalian bicara baik-baik." bujuk Alvin.
"Gue antar pulang ya." ify hanya menurut saja. Kepalanya terasa sangat pusing.
Alvin memberhentikan taxi dan menaikinya bersama ify. Ia mengantarkan ify pulang.
Sekali lagi, mereka melupakan Alvin.
Sepasang mata menyaksikan kejadian tersebut. Matanya nanar. Pegangan pada payungnya kuat sekali. Hatinya sakit meskipun itu sahabatnya.
"Sivia, ayo pulang."
Gadis itu melangkah pergi dengan senyuman kecut dibibirnya.
__ADS_1
Bersambung...