Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 17


__ADS_3

Umari menatap iba wajah anaknya yang dipasang selang oksigen. Wajahnya penuh dengan luka lebam, pasti ify merasakan kesakitan sekali, pikirnya.


Membayangkan saat Ify berulang kali dianiaya oleh Agatha membuat bulu kuduknya meremang.


Ia mengusap pelan wajahnya, terlalu khawatir dengan keadaan Ify. Ia pun berjalan menghampiri Rio yang terduduk di kursi depan ruangan.


Terlihat pemudaitu menunduk, mungkin ia merasa bersalah dengannya dan ify.


"Rio." panggilnya.


Rio menatap Umari dan berdiri dihadapannya. Di sana hanya ada Umari dan Rio. Manda, Haling, Alvin dan Sivia sudah terlebih dulu pulang ke rumah karena sudah larut malam. Enggan untuk meninggalkan kekasihnya meski sudah tau ada orang tuanya, ia memutuskan untuk ikut bermalam dirumah sakit tersebut.


"Om, gimana keadaan Ify?" tanya Rio. Sedari tadi hanya dia yang belum mengunjungi kamar ify. Ia terlalu takut untuk melihat gadisnya. Terlalu takut hal yang tidak ia inginkan terjadi. Ia takut, untuk kembali berpisah dengan orang yang ia cintai.


"Dia belum sadar."


Rio kembali terduduk, tersenyum kecut. Sudah berjam-jam semenjak dokter Adam menjelaskan keadaan ify yang memburuk, ia masih belum mendapatkan kabar baik lagi.


"Maafin Rio om." ucapnya semakin menundukkan wajahnya. Umari duduk disebelah Rio. Menepuk pundak lelaki muda disampingnya itu. Juga, mungkin pemuda yang sebentar lagi akan menyandang predikat sebagai menantunya.


"Rio, kamu mau berjanji sama om?"


Rio menatap Umari tak mengerti. Keningnya hingga mengernyit sempurna.


"Janji apa om?"


"Kamu janji bakal jagain ify lebih dari kamu menjaga diri kamu sendiri. Kamu mau berjanji buat om?"


"Iya om, Rio janji. Apapun akan Rio lakukan untuk Ify."


Umari melepaskan pandangannya dari wajah Rio. Ia berganti menunduk, dan mengatupkan kedua tangannya rapat yang ia letakkan tepat dihidung bangirnya. Pria paruh baya itu memejamkan matanya sebentar.


"Rio, ify sudah om anggap sebagai nyawa om sendiri. Dia satu-satunya yang om punya. Ya, meski saat ini om sudah tahu bahwa ada Alvin disisi om, tetap saja sejak dulu hidup om hanya dengan Ify."


Rio diam mendengarkan ucapan Umari satu persatu tanpa menyela.


"Om sakit Yo. Mungkin nyawa om tidak akan lama lagi."


Rio tersentak kaget. Bagaimana mungkin? Pria paruh baya yang terlihat kuat dan gagah itu ternyata mempunyai penyakit?


"Memangnya om sakit apa?" tanya Rio sedikit sungkan.


"Dokter memvonis om menderita kanker otak Rio."


"Kanker otak?"


"Memang kanker om masih stadium 3. Tapi menurut om, sudah tidak ada waktu buat om menjalani kemo di mana pun untuk menyembuhkan penyakit om. Om sudah tua, dan mungkin memang sudah saatnya om pergi."

__ADS_1


"Om, Rio mohon, demi Ify. Om berobat ya. Papa punya kenalan dokter spesialis diluar negeri, om bisa menjalani kemo sama dokter itu om." paksa Rio. ia tak mau Ify kehilangan sosok ayahnya. Ia tak mau melihat Ify menderita lagi.


Umari diam, nampaknya ia sedang berfikir. Bukankah benar, jika setiap yang bernyawa akan merasakan mati? Hanya menunggu waktu saja kapan sang pencipta mengambil nyawa kita.


"Om, Rio punya tujuan selesai kuliah nanti, Rio bakal nikahin ify. Apa om nggak mau hadir di acara bahagia itu? Apa om nggak mau juga menimang cucu sebentar lagi? Ify sama Rio sebentar lagi mau lulus kuliah. Umur kita udah semakin dewasa."


"Rio mohon om, coba dulu kemoterapi. Seenggaknya itu bisa meringankan sakit om."


Umari masih diam. Ia diam seribu bahasa.


"Terus apa yang om harus katakan sama ify nanti Rio? Apa om harus jujur sama dia?" tanya Umari bingung.


"Bilang saja om mau pergi karena urusan pekerjaan. Dan kalau om terlalu khawatir ify sendiri di rumah, om bisa nitipin ify ke mama kandungnya kan om. Mama Rio juga."


Umari nampak berfikir sembari menatap wajah serius Rio.


"Baiklah, om setuju sama kamu. Besok kamu kabari om ya, kamu hubungi dokter teman papa mu. Dan om akan atur jadwal keberangkatan om. Dan untuk ify, kamu harus jagain dia. Dia harus di rumah kamu. Om nggak mau ninggalin ify di rumah sendirian segede itu. Rumah om, biar dirawat sama asisten rumah tangga dan tukang kebun."


Rio mengangguk antusias. Akhirnya ia berizin untuk masuk keruangan ify dan bermalam di sana. Sementara Umari pulang untuk beristirahat. Ia sudah tenang karena ada Rio di sana. Ia mempercayakan Ify pada pemuda yang memiliki senyum manis dengan gigi gingsul itu.


********


Wajah penuh lebam, disudut-sudut bibirnya tak membuat ify kehilangan aura cantiknya.


Ia masih belum membuka matanya. Masih asik dengan dunia fantasinya dialam mimpi.


"Cepat sembuh ya sayang. Maafin aku." lirihnya. Ia mengecup tangan ify dan menaruh tangannya di ranjang besar. Lalu terlelap.


********


Alvin dan Sivia sudah bertemu di kampus pagi ini. Mereka menyelesaikan tugas mereka dengan cepat lalu ingin pergi ke rumah sakit menjenguk ify.


Sudah tidak ada lagi Agatha. Karena ia sudah dipenjara karena sikap konyolnya menculik dan menganiaya ify 1 hari 1 malam kemarin. Membuat Alvin dan Sivia sedikit lega karena tidak ada lagi pengganggu di kehidupan ify dan Rio. Ya, benar jika kita berani berbuat kesalahan maka kita juga harus berani bertanggung jawab. Apapun itu bentuk kejahatannya, akan ada balasan yang setimpal.


"Ayo Vin, kita berangkat sekarang. Udah siang ini." ucap Sivia sembari mempercepat langkahnya menuju parkiran motor. Alvin hanya menggeleng saja melihat tingkah konyol gadisnya itu.


Keduanya melaju menuju rumah sakit tempat ify dirawat. Tak butuh waktu lama akhirnya sepasang sejoli itu tiba di lobby rumah sakit dan langsung bergegas menuju ruangan ify.


Alvin dan Sivia hanya mendapati Rio di ruangan ify. Gadis itu masih saja terbaring dan belum membuka matanya. Sajaknya, gadis itu benar-benar terkuras energinya karena semalaman disiksa oleh Agatha. Wanita licik dan kejam.


"Ify belum sadar dari semalam?" tanya Sivia.


"Belum Vi. Mungkin nanti." jawab Rio seadanya. Ia juga tak mengerti mengapa gadisnya itu belum juga membuka matanya. Padahal dokter sudah mengatakan bahwa ify sudah berhasil melewati masa kritisnya tadi pagi.


Alvin dan Sivia duduk sembari berbincang dengan Rio.


Tak lama mereka mendengar rintihan seseorang.

__ADS_1


"Ify, kamu udah sadar?" tanya Rio antusias. Akhirnya ify membuka matanya. Sivia dan Alvin ikut mendekat ke ranjang ify.


"Aku dimana?" tanya ify pelan, suaranya sangat serak bahkan nyaris tidak tersengar.


"Kamu di rumah sakit Fy."


Pintu ruangan terbuka dan menampakkan Umari, Haling, dan Manda di sana.


"Ify, kamu udah siuman nak?" tanya Umari sangat senang. Ify hanya tersenyum dan menyambut hangat pelukan Umari.


"Papa nggak kekantor?" Masih saja Ify memikirkan ayahnya, padahal jelas ia sendiri butuh perhatian akan kondisinya yang seperti itu.


"Papa sudah kekantor Fy. Dan papa mau ijin Fy nanti sore papamau pergi keluar negeri cukup lama. Tidak apa kan?"


"Yah, ify sendirian lagi dong. Kenapa nanti sore pa? Kan ify baru aja siuman. Bisa besok-besok kan Pa."


"Tenang aja Fy, kamu akan tinggal di rumah om Haling dan mama Manda selama papa pergi ya. Kamu nggak usah khawatir. Kamu pasti baik-baik saja." Umari mengelus lembut rambut Ify.


Ify hanya mengangguk, meskipun ia merasa sangat sedih.


Keluarga besar itu bercengkrama ringan hingga tak terasa sore sudah tiba. Umari berpamitan pada anak kesayangannya dan keluarga kecilnya itu.


Umari pergi diantar Haling dan Manda. Kini tersisa Rio, Alvin, dan Sivia.


"Rio." panggil Ify. Rio pun mendekati kekasihnya tersebut.


"Kenapa Fy?"


"Apa bener kamu sama Agatha pernah tidur satu ranjang dan melakukan apa yang Gabriel lakukan pada Acha?" tanya ify. Bayang-bayang foto itu terus menghantui pikirannya. Karena tak mau terjadi kesalahpahaman maka dari itu Ify bertanya langsung pada Rio.


Rio tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan ify. Sementara ify hanya terheran melihat Rio yang malah tertawa.


"Pasti Agatha ngasih lihat foto di kertas karton ya Fy?" tanya Rio yang masih sedikit tertawa. Ify mengangguk.


Alvin yang menyadari arah pembicaraan Ify pun ikut tertawa.


"Lo ditipu tuh sama Agatha. Itu editan gue dulu kelas 1 SMA. Iseng gitu edit-edit foto Agatha sama Rio." jelas Alvin.


"Lo nggak usah parno gitu, Rio nggak pernah aneh-aneh kok. Dia masih perjaka original." lanjut Alvin.


Rio memegang tangan ify dengan lembut.


"Kamu percaya kan sama aku?" tanyanya. Ify hanya mengangguk pelan. Lega rasanya Ify mendengar penjelasan apapun itu dari kedua pria dihadapannya ini.


Sekali lagi, Rio mengecup lembut tangan ify.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2