
rindu adalah seni, kenikmatan fantasi tentang harapan yang berdebar. dari aku kepadamu.~
Shilla menutup buku kecil sebagai pelampiasan curahan hatinya di atas meja belajarnya.
Ia tersenyum manis dan menengadah menatap langit-langit kamarnya.
Masih terheran, sejak kapan perasaan itu muncul secara tiba-tiba dihatinya. Sungguh, ia sangat mencintai pria yang sudah bersamanya sejak lama itu. Baru menyadari, betapa manisnya senyum sang pujaan hati, betapa mendebarkannya ketika ia disentuh oleh pria tersebut.
Sayang sekali, pria itu sudah mendapatkan kekasihnya. Senyuman manis itu sedikit mengendur, mengingat bahwa pria yang disukainya sudah mempunyai wanitanya.
Ia melangkah keluar, menuju balkon kamarnya.
Menatap bintang-bintang indah di atas langit sana.
"Andai lo tau, mungkin lo bakal benci sama gue. Maaf, gue terlalu lancang buat jatuh cinta sama lo." ucapnya masih menatap bintang.
Malam terlalu dingin untuknya. Ia merapatkan tangannya mendekap badannya sendiri sembari memejamkan matanya dan membayangkan pria yang disukainya itu.
"Shilla!"
Gadis itu berjingkat kaget mendengar suara panggilan barithone milik Rio.
Ia membalikkan badannya dengan kesal menatap pria dengan senyum tanpa dosa diambang pintu kamarnya.
"Lo kayak setan aja sih, ngagetin."
"Lo tuli ya? Gue panggil, gue gedor, nggak ada jawaban sama sekali."
Rio melangkah memasuki kamar Shilla tanpa menutup pintu kamar, dan duduk di atas ranjang dengan kasur empuk milik Shilla itu.
"Lo ngapain kesini malam-malam?" tanya Shilla. Ia masih berdiri di balkon kamarnya dan kembali menatap bintang di langit.
"Kangen sama lo." jawab Rio enteng.
Deg
Hati Shilla mencelos geli mendengar penuturan Rio. Ia tersenyum manis dan sedikit menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya itu.
Tiba-tiba saja, Rio sudah berada dibelakangnya. Namun belum menyentuhnya. Ia hanya memegang rambut Shilla untuk dimainkan. Kebiasaannya jika bersama dengan ify dahulu.
"Ify nggak ngabarin lo Shil?" tanya Rio.
Shilla hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasakan sedikit sakit karena rambutnya ditarik-tarik oleh Rio.
"Sakit Rio! Sialan lo!" bentaknya. Ia merebut rambutnya dan menyampingkannya agar tak dibuat mainan oleh Rio.
"Bibi sama paman kemana? Kok mereka nggak ngasih tau gue kalau lo datang." ucap Shilla.
"Ada dibawah. Tadi mau bibi yang manggil lo, tapi gue yang mau nya naik keatas. Lagian kenapa kamar lo di atas sih, nggak dibawah aja. Kalau ada gempa lo mau lompat?" cerocos Rio tanpa memberi jeda sedetikpun.
Shilla hanya memandang pria dihadapannya kini. Ia menggeleng pelan tak menanggapi.
Mengapa Rio terlihat sangat tampan malam ini? Apa karena tersorot oleh cahaya bulan yang begitu terang? Tapi, bukankah pria sejak dulu memang tampan? Hanya saja, Shilla yang terlalu menutup diri. Pikir Shilla berulang kali.
"Lo ngapain ngeliatin gue?" tanya Rio. Ia juga menatap Shilla.
"Nggak ada. Gue lagi mikir aja."
"Mikir apaan?"
"Kok bisa sih, ify suka sama cowok rese kaya lo." kilahnya.
"Bisalah. Gue kan ganteng mempesona." ucap Rio percaya diri sembari menyentak kan kerah kemejanya.
Shilla hanya melengos saja tak menggubris.
"Lo kangen ya sama Ify?" tanya Shilla. Ia kembali memandang langit. Diikuti oleh Rio yang kini berdiri disampingnya. Shilla sedikit takut akan jawaban Rio mengenai pertanyaannya. Takut jika, jawaban Rio akan melukai hatinya.
__ADS_1
"Gue nggak tau Shil. Sampai sekarang, gue belum menanggapi apapun pesan dari ify. Dia bilang nggak mau diganggu waktu di bandara. Jadi gue bertekad buat nggak ganggu dia."
"Lo jadi nyusul dia?"
"Mungkin."
"Kapan?"
"Besok"
Shilla hanya mengangguk. Memang benar, ia tidak berhak melarang Rio menemui Ify meskipun hatinya meronta menolak agar pria yang kini menempati hatinya itu tidak pergi. Namun apa boleh buat, ify adalah gadisnya. Sementara Shilla? Rio mungkin hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tidak lebih.
"Gue mau lo ikut sama gue ya."
"Enak aja lo. Kalau lo baikan sama ify, gue terbang sendiri dong ke Jakarta." celetuk Shilla tak enak, kesal sendiri mendengar ucapan Rio.
"Please lah, nanti gue antar pulang ke Jakarta kok."
"Ya kasian elo bolak balik."
"Enggak Shilla. Gue mau lo ikut sama gue besok."
"Lo ajak Alvin aja."
"Alvin lagi ngurusin acara nikahnya sama Sivia. Mereka sibuk. Mama sama papa juga ikutan sibuk, mereka kan lebih suka berduaan terus meskipun udah tua."
Shilla menghela nafas sebal.
"Cakka sama Agni apa kabar ya? Apa mereka udah nikah juga?" ucap Shilla.
"Gue lost contact sama mereka." jawab Rio.
"Gue juga "
Hening. Rio dan Shilla sama-sama diam. Tidak ada suara bising apapun. Hanya hembusan nafas Shilla dan Rio yang beradu diantara semilir angin malam ini.
Gadis itu menoleh. Manik matanya bertemu dengan manik mata Rio, manik mata yang membuat Shilla begitu tergila-gila. Andai saja waktu bisa diulang, pikirnya.
"Lo nggak kangen Gabriel?" tanya Rio hati-hati.
"Enggak. Hati gue udah lupa sama dia." Shilla menatap bintang lagi. Sementara Rio masih menatap Shilla dengan lekat. Menelaah setiap inci wajah gadis dihadapannya ini.
Jarak mereka sangat dekat. Hingga tubuh mereka bersentuhan.
Rio kembali memainkan rambut Shilla yang tertiup angin malam. Itu adalah hobinya semenjak bertemu dengan ify.
Shilla hanya menikmati sentuhan lembut Rio di rambutnya. Kali ini, ia tidak merasa sakit karena Rio tidak memainkannya dengan kasar seperti awal tadi.
"Lo mau minum apa? Gue ambil kebawah."
"Nggak usah. Gue nggak haus."
Shilla diam lagi. Hening kembali. Entahlah, Shilla merasa tak tenang jika berdekatan dengan Rio seperti ini. Hatinya meronta ingin Rio tahu bahwa Shilla sangat mencintainya.
"Gabriel udah punya anak sama Acha."
Shilla diam mendengar ucapan Rio. Ia tersenyum sedikit kecut.
"Gue tau. Acha hamil saat foto-foto mereka tersebar dulu. Lagian udah berapa tahun aja, gue nggak masalah lagi kok Yo. Gue udah ikhlas."
"Sejak putus sama Gabriel, lo kenapa belum menjalin hubungan lagi Shill? Apa gue aja yang nggak tahu?"
Shilla menatap Rio dengan lekat. Begitupun dengan Rio. Ia menatap Shilla dengan lembut dan masih memainkan rambut Shilla.
"Gue suka sama cowok. Tapi sayang, dia udah punya cewek."
"Siapa?"
__ADS_1
"Yang jelas bukan lo." ucap Shilla ketus dan memalingkan wajahnya. Menahan merah merona dipipinya. Ingin sekali agar Rio berlama-lama dibelakangnya.
"Sialan lo." ucap Rio menoyor kepala Shilla dengan pelan.
"Shill, gue boleh nggak...."
Shilla menatap Rio yang menghentikan ucapannya. Membuatnya sangat penasaran. Ia menaikkan satu alisnya seolah bertanya "kenapa ?"
Rio menatap lekat Shilla. Sedikit demi sedikit jarak diantara mereka terhapus kan. Hembusan nafas Rio begitu terasa menerpa di wajah manis Shilla.
Rio memegang dagu lancip Shilla, ia menempelkan hidungnya dengan hidung Shilla. Cukup lama ia menatap mata Shilla, lalu menatap bibir tipis milik gadis itu.
Mengecupnya lembut dan sangat pelan.
Shilla menutup kedua matanya, merasakan sentuhan lembut dari bibir Rio di bibir tipisnya. Tangannya dengan refleks melingkar dileher Rio. Sementara tangan Rio sudah berpindah pada pinggang Shilla. Ia merapatkan badan Shilla dengan badannya. Agar tak ada celah lagi diantara mereka.
Angin malam seolah mendukung birahi mereka. Sepoi-sepoi membuat badan mereka sedikit dingin dan semakin merapatkan pelukan mereka.
Dua bibir itu masih terpagut dengan lembut, kepala dua insan itu kadang ke kiri dan ke kanan. Hembusan nafasnya semakin terdengar memburu.
Lidah Shilla menerobos memasuki mulut Rio. Begitupun Rio yang menyambutnya dengan lembut.
Cukup lama mereka berada diposisi itu, sebelum akhirnya pintu diketok oleh asisten rumah Shilla.
Tok..tok..tok..
Shilla dan Rio bergegas melepaskan bibir dan pelukan mereka. Rio terlihat salah tingkah, sementara Shilla menghampiri bibinya diambang pintu.
Bibinya membalikkan badan tak melihat apa yang dilakukan Rio dan Shilla baru saja.
"Ada apa Bi?" tanya Shilla setenang mungkin.
"Maaf non, tadi hp non Shilla bunyi terus dimeja ruang tamu. Ini non." ucap Bibi sembari memberikan ponsel milik Shilla.
"Makasih ya Bi." Bibi itu buru-buru pergi ke kamarnya setelah Shilla menerima ponselnya.
Shilla kembali menuju balkon menghampiri Rio yang terlihat masih salah tingkah.
Ia menatap ponselnya dan tertera nama Ify disana.
"Ify nelpon gue." ucapnya masih menatap layar ponselnya.
"Bilang aja besok kita ke sana."
Shilla mengangguk dan menuliskan beberapa teks untuk dikirimkan kepada Ify.
Setelah itu ia menyimpan ponselnya pada saku celana hotpans nya. Kembali menatap Rio yang juga menatapnya.
"Kenapa?" tanyanya. Rio hanya menggeleng pelan.
"Gue pulang ya Shill." ucap Rio berpamitan. Shilla hanya mengangguk pelan.
Rio mendekat lagi dan mengecup kening Shilla dengan lembut. Lalu pergi meninggalkan Shilla di kamarnya.
Setelah kepergian Rio, Shilla berjingkrak heboh di ranjangnya. Lalu telentang dengan senyum merekah di bibirnya.
Ia sangat bahagia dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama Rio.
"Apa iya Rio mulai suka sama gue?" ucapnya masih dengan senyum kesaltingannya.
"Tapi bisa aja sih dia suka sama gue. Kan gue sama dia akhir-akhir ini bersama terus."
"Tapi masa sih? Kan dia punya ify."
Shilla menutup wajahnya dengan bonekanya. Ia merasa sangat bahagia malam ini.
***saya tak mempunyai rumus mengenai kebahagiaan. selagi ada kamu dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja, hidup terasa sangat sempurna.~
__ADS_1
Bersambung***...