Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 25


__ADS_3

Gadis dengan semua emosi yang masih memuncak akibat dikhianati oleh kekasih juga sahabatnya itu masih terduduk lemas ditepi ranjangnya. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Ponselnya masih terus berbunyi. Namun ia enggan sekali mengambil atau menyentuhnya.


Bayang-bayang saat dimana ia mencetak foto Rio dan Shilla kembali memenuhi otak dan pikirannya. Menuju bayangan dimana saat detik-detik Rio dan Shilla terbuai dengan adegan yang mereka lakukan didalam foto tersebut.


"****!" makinya pada udara. Dadanya kembang kempis menahan emosi tak teratur. Ia sangat mencintai Rio, namun mengapa dengan mudahnya Rio mengkhianati jalinan cinta yang sudah hampir 4 Tahun mereka tempuh? 4 Tahun hancur hanya dengan waktu yang sesingkat itu.


Ify mengulum bibirnya, menahan air mata agar tidak kembali menetes. Namun sesegera ia sadar, hanya dengan menangis mungkin semua beban yang ada di pikirannya saat ini mereda.


Ify memungut ponselnya yang sempat ia hempas kan di atas bantal mungilnya. Nama Rio dan Shilla silih berganti menghubunginya. Jarak hanya beberapa detik saja.


"**** **** ****!" umpatnya kembali menghantamkan ponselnya pada kaca rias dihadapannya. Tangannya mengepal kuat. Berusaha meredam amarah yang memuncak. Ia benar-benar sakit hati dengan apa yang dilakukan Rio dan Shilla.


Rio? 2 bulan saja ia tinggalkan sudah berpaling darinya. Apakah tidak cukup wanita cantik yang kini menangisinya itu?


Shilla? Shilla mengajarkan Ify bahwa seorang sahabat, juga bisa menjadi musuh dalam selimut hanya dengan sekejap saja.


***


Rio menghempaskan tubuhnya di ranjang hotel begitu saja. Ia memesan 1 kamar saja untuknya dan Shilla. Berencana ia akan tidur disofa sedangkan Shilla tidur diatas ranjang yang kini masih ia pakai untuk beristirahat.


Terdengar shower didalam kamar mandi berbunyi dan nyaring ditelinga Rio. Dengan tiba-tiba otaknya berfikir macam-macam tentang Shilla yang ada didalam ruangan itu.


Secepat kilat ia menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri. Tak mau melanjutkan bayangan tentang indahnya tubuh Shilla dalam bayangannya. Ia menyambar ponselnya yang tergeletak disampingnya. Berjajar dengan ponsel Shilla.


Ia mencari nomor Ify dan langsung melakukan panggilan. Berulang kali ia melakukan itu namun tak kunjung ada jawaban.


Ia mencoba menghubungi lewat ponsel Shilla, namun ada kode yang harus ia pikir dan pecahkan. Seperti misteri saja, pikirnya kesal.


"Apa sih Shilla ini alay banget pakai kode-kode segala." Rio bergidik kesal karena harus bertanya pada Shilla lebih dulu.


Ia berjalan mendekati pintu kamar mandi dan menghembuskan nafasnya kasar. Mengetuk pintu pelan.


"Shill, kode password lo apa? Gue mau telfon ify. Barangkali pakai nomor lo nanti dijawab sama dia." ucapnya setengah berteriak karena suara shower yang sangat keras dan nyaring.


"241097." jawab Shilla sembari berteriak juga.


Nomor apa ini? Togel? pikir Rio. Ia tidak pernah memikirkan hal lain, apalagi tentang password ponsel Shilla.


Beberapa kali ia menghubungi Ify menggunakan ponsel Shilla. Sama sekali tak ada jawaban seperti sebelumnya.


Ia berganti menggunakan ponselnya sendiri dan menghubungi ify kembali. Tetap saja tak ada jawaban.


Rio mendengus kesal dan melempar ponselnya juga ponsel Shilla pada kasur berukuran king size itu. Menutup matanya rapat-rapat. Menyesali semuanya.


Harusnya ia bersyukur bukan, karena ify sudah menyembuhkan luka hatinya dari Agatha? Harusnya ia bersyukur bukan, masih diberikan kesempatan kedua bersatu dengan ify setelah kegilaan Agatha yang menculik dan menganiaya ify? Harusnya ia juga bersyukur karena dilindungi dari ke salah pahaman antara dirinya dan Ify yang ternyata tidak bersaudara.

__ADS_1


Mengapa hanya dengan godaan paras dan fisik cantik milik Shilla ia sampai lupa akan 4 tahun kebersamaan Ify dan dirinya.


Rio membuka mata ketika tetesan air menetes pada hidungnya lalu meluncur lembut pada pipi dan berakhir dilehernya. Ia sedikit terkejut melihat Shilla diatasnya dengan menatapnya lekat.


Rambut yang terikat rapi dengan poni yang menjuntai indah itu kembali membuat Rio terhenyak akan lembutnya rasa bibir Shilla kala itu.


Shilla terkaget melihat Rio membuka mata. Gadis itu mengira bahwa Rio sudah terlelap dalam tidurnya. Ia ingin beranjak namun lengannya ditahan Rio dengan lembut.


"Sebentar."


Shilla tergagu dengan sangat. Berulang kali ia menghindari tatapan lekat dari Rio dengan memutar bola matanya kesana dan kemari.


"Maaf, Rio. Gue pikir lo ketiduran tadi." ucapnya gugup. Masih dengan tubuhnya yang berdiri mengangkangi tubuh gagah Rio.


Rio diam tak menjawab. Ia masih memandangi Shilla dengan seksama. Tak mau melewatkan seinci pun wajah cantik Shilla. Padahal baru saja ia menyesali perbuatannya di atas balkon saat itu. Apakah ia akan mengulanginya atau malah lebih brutal dari sebelumnya?


"Shill, gue mau tanya sama lo."


"Apa?"


"Password lo itu nomor apa?"


"Lo nggak tau?" Rio menggeleng. Masih menatap lekat wajah diatasnya itu.


"Ha?" Rio membulatkan matanya masih terus memegang lengan Shilla. Password hp Shilla adalah...identitas lahirnya? Ada apa


"Kenapa lo pakai?"


"Nggak boleh ya?" Shilla menatap mata Rio dengan sendu. Segala keberanian ia kumpulkan untuk menatap manik mata lelaki dengan bola mata elang itu. Sangat indah. Pantas saja Ify begitu mencintai Rio, tatapan itu memang menenangkan, dan juga menghangatkan hatinya yang sekian tahun sudah beku akibat perselingkuhan yang dilakukan Gabriel dan Acha.


"Kenapa lo pakai Shill? Lo ada masalah apa sama gue?"


Shilla menghembuskan nafasnya kasar di atas tubuh Rio. Ia lelah dengan posisi mengangkangi tubuh Rio.


Perlahan ia menghempaskan tubuhnya tepat di atas tubuh Rio. Mempertemukan juniornya dengan junior Rio. membuat Rio mendelik karena juniornya yang dijepit begitu erat atas tindihan tubuh Shilla.


Kepala Shilla ia tangkup kan pada dada bidang milik Rio, dan kedua tangannya memeluk erat.


"Shill."


"Apa kamu nggak sadar Rio?"


"Sadar apa?"


"Aku menyukaimu sejak ify pergi dan kamu peluk aku di kampus. Aku memikirkan kamu setiap malam."

__ADS_1


Debaran jantung Rio dapat didengar oleh Shilla. Karena ia menangkup kan kepalanya di dada Rio. Dada yang kembang kempis menahan gejolak di dadanya sendiri. Antara nafsu karena ditindih oleh Shilla, atau gejolak karena perasaan Shilla yang ternyata sedikit sama dengan perasaanya.


Namun tetap saja, Rio masih mencintai Ify. Ia benar-benar mencintai Ify. Apakah bersama Shilla merupakan nafsu belaka? Apa hanya karena Shilla yang begitu menggoda kala malam datang dengan cahaya rembulan menyinari wajahnya dengan bibir yang merona?


"Shill."


"Maaf, Rio. Aku mencintaimu."


Shilla mengecup bibir Rio dengan lembut. Menutup mata seakan merasakan dan menikmati sentuhan bibir kenyal Rio dibibir nya.


Rio merasa terjebak dengan situasi ini. Ia kembali bergejolak, membara, seolah ingin meluapkan semua emosi jiwanya pada perempuan yang masih menyambar bibirnya itu.


"Shill, aku.." Rio menatap Shilla yang menatapnya sendu.


"Aku milik ify." lanjutnya menatap Shilla tak tahan.


"Kalian sudah selesai kan Rio? Ify memutuskan kamu tadi." Shilla masih enggan beranjak dari posisinya ini. Ia begitu nyaman dalam dekapan Rio. Lebih tepatnya Ia yang mendekap Rio.


Tangan Rio masih menggantung di udara. Tak memeluk Shilla, namun jujur saja ia sangat terhanyut dengan sentuhan Shilla.


Sedikit Shilla menggeser tubuhnya, Rio memejamkan mata menikmati juniornya tergesek oleh lawan mainnya.


Shilla kembali menatap Rio dengan sendu.


"Aku milikmu Rio. Bukan Ify. Aku milikmu. Dan kamu pun milikku, bukan milik Ify lagi." ucapnya lalu kembali memagut bibir Rio yang menganggur tak ada kerjaan.


Rio bagai orang kesetanan. Ia kembali bergejolak tak dapat menahan nafsunya. Tangannya bergerak bergerilya menjamah punggung mulus Shilla dan berhenti di bongkahan kenyal milik gadis seksi diatas tubuhnya tersebut. Meremasnya pelan dan menekannya kedalam hingga juniornya semakin terhimpit.


Shilla hanya mengenakan kaos ketat putih dan celana kain pendek hingga dengan mulus mencetak bongkahan semok nan indah itu. Ciuman semakin panas. Kepala mereka bergerak ke kanan dan ke kiri seiring dengan hembusan nafas yang semakin menderu.


Rio membalikkan badan Shilla hingga kini ia yang berada di atas tubuh Shilla. Masih dengan posisi mengecap bibir, tangan Rio dengan enteng menjelajah tubuh sintal milik Shilla.


Baru pertama ini Rio merasakan tubuh seorang wanita. Sedangkan Shilla sudah pernah berbuat seperti ini dengan Gabriel, maka dari itu Shilla tidak takut bahwa mahkotnya akan hilang karena sudah diambil oleh Gabriel beberapa tahun lalu.


Rio meremas gunung kembar yang terasa kenyal milik Shilla membuat lenguhan indah meluncur dari bibir gadis itu. Pun juga membuat darah Rio berdesir hebat.


Shilla memejamkan mata dengan erat seiring tangan Rio yang yang masih berada diatas tubuhnya.


"Riooo...."


Rio mengecup leher Shilla, menyambut aroma tubuh Shilla dengan hati bergetar hebat. Nafsu memburu sudah menyelam dalam lautan terdalam tubuh Rio. Tak dapat ia tahan lagi.


"Maafin aku Fy." batinnya merasa bersalah. Namun seakan tak ingin melepas kesempatan emas, ia terus menjelajahi tubuh seksi milik seorang gadis bernama Ashilla.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2