Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 33


__ADS_3

Liana berjalan dengan sedikit tertatih menuruni anak tangga satu persatu. Ia mengedarkan pandangannya ketika kaki mungilnya menjajaki anak tangga kedua dari bawah, mengernyit heran karena tak ada siapapun dirumah tersebut dalam pandangannya.


"Mau kemana?"


Suara barithone milik Rio mengagetkan Liana dalam diamnya. Ia sampai harus mengelus dadanya agar tidak meledak. Ia sangat benci saat dirinya merasa kaget dengan sebuah suara.


"Om sudah pulang?"


"Hmm, baru saja. Kamu mau kemana?"


"Lapar." Liana tersenyum sedikit, malu karena ia berkata jujur. Namun cacing diperutnya sudah meronta ingin segera mendapatkan makanan malam ini.


"Om darimana?" Liana kembali bertanya, kali ini sembari mengikuti langkah Rio menuju dapur.


"Menemui Ayahmu." Gadis itu membulatkan matanya tak percaya.


"Untuk apa Om?"


Rio membalikkan tubuhnya menghadap Liana. Mata bulat gadis itu memandang Rio dengan heran. Satu tangan Rio memegang spatula, sedang yang satunya berkacak pinggang. Seperti saat Ibunya memarahinya dulu karena terlalu nakal mengambil makanan sebelum dihidangkan.


"Om, mau masak?"


"Mau apalagi menurutmu?"


"Om, mau apa menemui Ayah?" Tak mengindahkan ucapan Rio yang akan memasakkan makan malam untuknya. Ia malah begitu penasaran dengan semua yang Rio lakukan kepada Ayahnya.


Kini, Rio kembali memunggungi Liana dan mulai beraksi dengan spatula juga wajan kesayangannya.


"Menyuruhnya melepasmu. Terus, aku juga memindahkannya disalah satu cabang perusahaan Ayahku, berbeda pulau dengan kita."


"Om? Beneran?" Serasa ia terbang dari langit ketujuh menuju dataran rendah. Begitu bebas dan semua beban yang ia pikul selama bertahun-tahun langsung memudar dan hilang begitu saja.


Liana langsung memeluk erat tubuh Rio dari belakang. Mengucapkan beribu-ribu terimakasih karena sudah menyelamatkan hidupnya dari Ayah bejat seperti Doddy.

__ADS_1


"Saat ini yang harus kamu pikirkan adalah, mencari pekerjaan."


"Ya, mungkin Om bener. Mana mungkin aku kuliah." Menunduk sendu. Liana tak yakin dapat bertahan hidup jika nekat melanjutkan studynya. Ia harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Mencari sebuah kost atau kontrakan untuknya. Mana mungkin ia terus menerus menumpang pada seorang Tuan Besar Mario?


"Om, tapi sebelum aku dapatin uang buat bayar kontrakan, aku boleh kan disini sementara Om? Tidur dikamar mana saja nggak papa Om, yang penting ada buat tidur." Liana tersenyum penuh harap. Menatap Rio dari samping, karena pria berwajah tampan itu masih saja berkutat dengan kompornya.


"Ya, terserah kamu saja."


"Makanlah."


Tak sadar, makanan nasi goreng dengan telur ceplok mata sapi sudah terhidang dimeja makan. Liana tersenyum sumringah mendapat jamuan istimewa tersebut.


"Terimakasih ya Om!"


"Iya. Cepat makan, aku mau bicara sama kamu."


Gadis itu menatap Rio dengan heran. Kembali menatap nasi gorengnya, lalu menatap Rio lagi dan lagi. Terakhir, ia hanya mengangguk sembari tersenyum saja.


Duduk berhadapan, Liana mulai menyuapkan nasi gorengnya kedalam mulut sembari mengangguk-angguk. Rio yang mendapati Liana menggeleng dan menganggukkan kepalanya menjadi terheran-heran.


"Kalau perempuan menggelengkan kepalanya saat makan, berarti makanannya enak Om. Om pinter banget masak."


Rio mengangguk membenarkan tanpa menjawab pertanyaan sang gadis dihadapan. Ia kembali terbayang dua gadis cantik yang pernah ia lukai hatinya. Saat kedua gadis itu memakan masakannya, dua-duanya sama-sama menggeleng dan menganggukkan kepalanya sembari bersenandung kecil. Persis dengan apa yang Liana lakukan saat ini. Membuat Rio tersenyum kecut.


"Sudah selesai Om. Mau bicara apa?" Liana menyeruput es teh buatan Rio beberapa saat yang lalu. Lebih tepatnya itu adalah es teh milik Rio.


Yang ditanya malah menggaruk kepalanya bingung.


"Nggak jadi. Kapan-kapan saja. Istirahatlah. Sudah malam." Rio beranjak meninggalkan Liana yang terbengong dimeja makan. Menatap kepergian Rio dengan mulut yang sedikit terbuka, sangat sebal karena ia sudah terlanjur penasaran dengan apa yang ingin Rio bicarakan.


"Dasar manusia!" umpatnya.


********

__ADS_1


"Ayah."


Umari membalikkan tubuhnya menatap anak semata wayangnya yang sudah menjadi ibu dari dua anak. Senyumnya terbit, pagi ini ia melihat senyum indah diwajah anak gadisnya.


"Apa yang membuat kamu tersenyum Al? Ayah seneng banget akhirnya kamu bisa senyum lagi. Sejak kepergian suami dan anakmu, kamu jadi pendiam dan tidak ingin terlihat siapapun."


Ify Alyssa. Seorang gadis yang sudah dikhianati Rio hingga akhirnya bertemu seorang dokter ternama dan menikah dengannya. Mendapati kebahagiaan yang ia yakini akan selamanya ia rasakan bersama sang suami, nyatanya dunia dan takdir tak sebaik itu padanya.


Ia duduk disebuah sofa empuk dikamar sang Ayah. Menatap paras Ayahnya yang semakin menua, ia kembali tersenyum dengan lembut. Ia tidak ingin semuanya berubah, ia ingin semuanya tetap bahagia. Meski tanpa suami dan anaknya, ia harus tetap bahagia.


"Ayah, aku hamil."


Umari tertegun. Ia syok mendengar ucapan sang anak. Merasa yakin, bahwa Tuhan tidak benar-benar jahat mengambil seluruh kebahagiaan anak semata wayangnya yang sangat ia cintai sejak kecil.


"Kamu yang kuat Al. Ayah yakin, Tuhan memang sengaja meninggalkan benih suamimu dirahim mu agar kamu tidak kesepian dengan kepergian mereka." Ify mengangguk mendengar penuturan Ayahnya.


Ya, ia pun juga yakin dengan apa yang Umari katakan. Ia harus kuat demi anaknya, demi buah hatinya dengan sang suami yang kini sudah berbahagia dengan anak pertamanya disurga.


"Ayah, tadi malam aku ketemu sama Rio. Kita berbincang sebentar. Dan, aku bilang ke Rio kalau suami dan anakku sudah meninggal. Aku juga bilang sama dia, kalau aku hamil."


Umari menghembuskan nafasnya pelan. Ia kecewa terhadap Rio karena sikapnya beberapa tahun yang lalu begitu menyakiti anak gadisnya.


"Biarkan saja Fy. Mungkin, dia juga sudah menikah. Kamu....kamu tidak ada..."


"Nggak!" Ify membantah ucapan Umari sebelum terselesaikan. "Aku udah nggak ada rasa apapun kepada Rio Pa. Aku tahu, dulu aku menikah karena sebuah pelarian. Tapi aku rasa, saat ini aku tidak memikirkan siapapun selain suamiku."


Umari mengangguk paham. Ia peluk anak gadisnya dengan hangat.


"Alyssa, suatu saat nanti kalau Papa sudah tidak ada. Jaga baik-baik cucu Papa, dan jaga baik-baik diri kamu."


"Papa, dampingi Alyssa sampai Alyssa melahirkan ya Pa. Alyssa udah nggak punya siapa-siapa lagi." Bulir air mata terjatuh begitu saja dipipi mulus sang gadis. Ia merasa hancur, masih sama hancurnya ketika ia harus kehilangan seseorang yang sangat ia cintai. Meski sudah 1 bulan berlalu.


Kenyataannya, kehilangan memang tidak pernah menyenangkan.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2