Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 28


__ADS_3

Shilla menggigit bibir bawahnya. Menatap layar ponselnya terus menerus. Lalu menghempaskan tubuhnya pada kasur king size di kamarnya. Ia melirik balkon. Kali pertama ia merasakan sentuhan hangat tubuh Rio. Hatinya langsung berdesir hebat kala itu.


"Gimana kalau Rio benci sama gue karena udah jujur sama Ify?"


"Gimana kalau gue kehilangan Rio?"


"Gue nggak mau kehilangan orang yang gue sayang. Lagi. Cukup Gabriel aja."


Shilla terus bermonolog dalam ketakutannya. Ia melangkah menuju balkon. Menghirup udara segar malam hari membuat seluruh tubuhnya sedikit menggigil dingin.


Ia memejamkan matanya. Berharap Rio hadir disisinya. Tangannya menyilang, mendekap erat tubuhnya dan masih memejamkan mata.


Sesaat ia terhanyut karena bayangannya pada Rio benar-benar nyata. Seolah memang pria itu ada di sana, mendekapnya erat dari belakang. Ikut mengelus lembut lengan putih mulusnya itu.


Hati Shilla berdesir hebat kembali, sebegitu dalamnya kah cintanya pada Rio? Hingga membayangkannya saja benar-benar terasa nyata di hidup Shilla. Ia semakin merasakan eratnya pelukan Rio ditubuhnya, menghangatkan tubuhnya yang sedikit kedinginan akibat angin malam yang menerpa wanita dengan sejuta perasaan yang ia punya untuk kekasih orang tersebut.


"Shilla."


Gadis itu terhenyak kaget. Tubuhnya merinding ketika mendengar bisikan halus menyebutkan namanya. Benar-benar tak habis pikir bahwa ternyata khayalannya tadi bukanlah sebuah khayalan belaka. Itu benar-benar Rio. Yang kini memeluknya erat dari belakang tubuhnya.


"Rio? Sejak kapan kamu disini?"


"Sejak tadi. Aku merindukanmu." dikecupnya lembut pundak Shilla dari belakang.


"Ha? Apa?"


"Aku merindukanmu Shilla."


Rio membalikkan tubuh Shilla dengan cepat, dengan mata terpejam ia menikmati hangatnya tubuh sintal milik Shilla. Benar-benar mendekapnya dengan erat. Dan menyalurkan hembusan nafas hangat dileher jenjang gadis mungil itu.


"Tapi tadi? Tadi kamu memungkiri saat-saat kita bersama Rio? Kenapa sekarang kamu berubah?"


"Kamu bilang cinta sama Ify? Kamu nggak mau kehilangan dia? Sekarang apa?" masih didalam pelukan erat Rio, gadis itu terus mencecar dengan segala pertanyaan yang sudah ia rangkum sejak tadi sore.


Rio tak menjawab. Nafasnya memburu seakan menahan semua nafsu yang memuncak dalam birahinya. Dadanya terlihat kembang kempis hingga terasa di dada Shilla.


"Aku hanya berpura-pura Shil. Supaya Mama sama Papa nggak marah sama aku. Aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu."

__ADS_1


Rio semakin mengeratkan pelukannya membuat Shilla sedikit tidak bisa bernafas. Gadis itu tersenyum sangat lebar mendengar penuturan Rio. Ia merangkul Rio dengan hangat.


Rio membopong tubuh Shilla dan menghempaskan nya dikasur, lalu ikut menindihnya. Ia masih memandang wajah cantik Shilla, seolah tak ingin kehilangan. Tangannya menjelajah semua tubuh Shilla dari atas hingga bawah membuat gadis itu benar-benar merasakan kenikmatan bahagia.


Rio memandang dengan nafsu, nafasnya makin memburu ketika ******* bibir ranum Shilla. Tangannya semakin liar menjelajah dan bermain-main diarea intim milik Shilla.


"Ahh Rio.. kamu selalu bisa bikin aku.. aahhh enak." racau Shilla tak menentu.


Keduanya hanyut dalam nafsu yang membuncah. Tak dapat lagi menahan, Rio semakin gencar melucuti pakaian yang ia kenakan dan dikenakan oleh Shilla. Hingga tubuh mereka polos tak memakai apa-apa. Memadu kasih untuk kesekian kalinya, tanpa merasa ada sebuah dosa diantara mereka. Tanpa merasa ada kesalahan diantara mereka. Semuanya mereka lakukan, tanpa berpikir akan dibawa hubungan mereka. Dan juga, akankah ada maaf untuk kedua insan tersebut?


***


Padahal aku sudah begitu yakin untuk menjadikannya yang terakhir, tapi ternyata dia lebih yakin untuk membuat hubungan ini berakhir.~


Berulang kali gadis mungil pemilik warisan satu-satunya keluarga Umari itu menghembuskan nafasnya secara kasar. Menata rapi semua pakaian yang akan ia bawa pergi dari kota terburuk untuknya saat ini. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapat hal yang begitu menyakitkan untuk hatinya. Benar jika musuh tidak datang dari orang asing. Melainkan dari orang dekat yang sudah kita anggap sebagai keluarga sendiri.


"Sudah siap?" Umari menghampiri anak gadisnya itu dan mengelus puncak kepalanya ketika gadis itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Umari tahu pasti, gadis dihadapannya ini hanya berpura-pura tegar semenjak ia resmi bercerai dengan Ginara beberapa tahun yang lalu.


Pagi ini, dan mulai hari ini. Ify memutuskan untuk pergi dari kota ini, dari negara ini. Meninggalkan semua kenangan yang pernah ia buat sedemikian indah. Namun harus berakhir pula dengan luka yang mungkin kedepannya akan terus membekas hingga ia benar-benar menemukan seseorang yang bisa menghilangkan sebuah trauma tersebut.


Ia melangkah pergi, menuju mobil yang sudah siap membawanya menuju bandara untuk pergi jauh dari kota itu. Ia memejamkan matanya, berdoa agar ia bisa benar-benar pergi dari semua kenangan dan luka yang ada saat ini. Agar ia bisa benar-benar pulih oleh luka-luka yang ia dapat saat ini.


Ia merogoh ponselnya ketika mobilnya sudah berjalan meninggalkan pekarangan rumahnya. Umari yang duduk di samping sang sopir pun hanya memandang keluar jendela. Tak menyangka juga akan meninggalkan kota tercintanya ini. Namun, kebahagiaan Alyssa lah yang terpenting. Tak masalah baginya meninggalkan kota manapun, asal ada Alyssa bersamanya.


[Hai, selamat tinggal. Semoga kamu bahagia. Jangan cari aku ya, aku juga sudah bahagia. Salam, ify]


Meluncurkan sebuah pesan kepada Alvin Sivia, lalu Rio dan Shilla. Terakhir Manda dan Haling. Ia tersenyum sendu, kecut, lalu meneteskan air matanya. Memejamkan matanya erat-erat, seolah tak ingin terbuka lagi. Sakit sekali ketika ia harus terkalahkan begitu saja oleh nafsu seseorang.


Ia begitu tulus, dan setia. Namun dengan mudahnya, perjuangan itu hancur oleh orang ketiga dan itu sahabatnya sendiri. Ify membuang kartu ponselnya, lalu mematikannya. Sudah cukup, ia akan membuka lembaran baru dikota baru. Tanpa ada campur tangan dari orang-orang dimasa lalunya.


Membiarkan ia menjadi pribadi yang baru pula. Dengan kisah yang baru, hidup yang baru, dan juga kenangan yang baru.


***


"Vin, Alvin. Alvin!"


Suara cempreng gadis bernama Sivia Azizah tersebut menggema indah di seluruh penjuru rumah mewah nan besar dengan beton-beton besar menjulang didalamnya. Sepertinya ia tak sabar hingga memanggil Avin dengan teriakan nyaring ditelinga. Ia baru saja tiba dirumah Alvin karena buru-buru setelah mendapat pesan dari sahabatnya.

__ADS_1


"Ada apa sayang?" Alvin menyembulkan dari lantai dua, mendapati Sivia yang tengah menoleh ke kanan dan ke kiri karena tak melihat kearahnya.


"Hei, aku di atas." ucapnya lagi, menyadarkan Sivia.


Gadis itu berlari menuju tempat Alvin berdiri. Lalu menghambur memeluk dada bidangnya. Dan menangis tersedu-sedu. Alvin tau kekasihnya itu tengah menangisi calon saudara perempuannya.


"Vin, kasian Ify."


Alvin mengusap kepala Sivia dengan lembut. Menghembuskan nafas beratnya. Memang benar, ia sangat kasihan dengan ify.


"Nggak papa Vi. Ify pasti bahagia sama kehidupannya yang baru. Kita fokus sama diri kita sendiri ya. Aku yakin, Ify disana pasti baik-baik saja. Dia bersama Ayah Umari."


"Tapi aku nggak mau punya saudara jahat kayak Shilla Vin. Aku nggak mau." masih menangis di dada bidang kekasihnya, ia semakin mengeratkan pelukannya. Membayangkan Shilla yang akan menikah dengan Rio suatu saat nanti.


"Kita nggak akan serumah kok sama Rio dan Shilla. Lagian belum tentu juga Rio nikahnya sama Shilla kan?"


"Tapi kan Vin? Kamu denger sendiri kemarin Shilla ngaku kalau mereka udah ngelakuin hal itu."


"Vi, bersetubuh belum tentu hamil. Dan belum tentu mereka nikah."


Sivia diam. Ia membenarkan ucapan Alvin. Jika hanya sekali berhubungan badan, belum tentu seorang gadis bisa hamil kan.


Alvin mengusap air mata Sivia. Dan tersenyum hangat. Menatap sayang pada kekasihnya itu hingga Sivia terlihat salah tingkah olehnya.


"Om sama Tante kemana Vin?" tanya Sivia mengalihkan pandangan Alvin. Namun bukannya menjawab, Alvin malah makin gencar menatap Sivia. Mendongakkan kepala gadis itu agar ia ditatapnya.


Semakin mendekatkan wajahnya pada Sivia, bibir mereka bertemu dalam hening. Saling memejamkan mata, menikmati gairah hangat pagi ini. Pelukan Sivia mengendur, terganti oleh rasa lemas karena tubuhnya yang digerayangi secara liar oleh Alvin.


Semakin dalam Alvin memagut bibir Sivia, semakin liar pula tangan-tangan Alvin menyentuh bagian sensitif tubuh Sivia. Membuat Sivia harus melingkarkan tangannya pada leher Alvin.


"Vi, apa aku boleh miliki kamu sekarang?" tanya Alvin setelah melepaskan tautan bibirnya. Gadis mungil dihadapannya itu hanya mengangguk dan masih memejamkan matanya.


Dengan cekatan, Alvin menggendong tubuh Sivia menuju kamarnya dan langsung menggumulinya diatas kasurnya. Menggelinjang kesana kemari dan memagut bibir dengan kasih. Saling meremas dan memijit. Menjambak rambut Alvin adalah salah satu pelampiasan Sivia.


"Ahh Alvin..Ahhh Vin.. Sshhhh ah sayang."


BERSAMBUNG**...

__ADS_1


__ADS_2