
Memasuki kamar adik angkatnya dengan tergesa-gesa, Rio menenteng sebuah plastik berwarna hitam dikedua tangannya. Senyumnya mengembang dengan sempurna kala melihat lagi barang apa yang sudah ia beli untuk Liana.
Melirik arloji dipergelangan tangannya, ia menghembus nafas kasar. Sudah jam 1 dini hari, dan ia kini malah berkunjung kekamar anak gadis perawan. Terserah saja, yang penting dirinya hanya mengantar sebuah makanan dan juga obat.
Memutar knop pintu dengan pelan, dahinya mengernyit kala mendapati sebuah ranjang kosong dihadapan. Mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, mata elang sang pemuda menangkap siluet seorang gadis tengah berdiri dibalkon kamarnya.
Sekelebat bayangan masa lalunya bertahun-tahun lalu muncul dibenaknya. Sebuah kejadian yang membuatnya kehilangan seorang gadis bernama Ify Alyssa.
"Ngapain disini? Katanya sakit?" tegur Rio dibelakang sang gadis. Tak terlalu dekat, ia takut sebuah kekhilafan kembali hadir dalam dirinya.
Liana menoleh dengan cepat sembari membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum kecil sembari menggeleng.
Gemuruh hati yang ia rasakan beberapa saat yang lalu kini kembali hadir saat menatap mata elang sang pemuda dihadapan.
"Cuma keinget sama Ayah aja kok."
"Kenapa diinget? Kamu nggak bahagia disini?" Liana menggeleng cepat. Ia takut menyinggung perasaan kakak angkatnya.
"Nggak gitu kok kak, aku bahagia disini, aku juga nyaman disini. Kakak perlakukan aku seperti adik kandung sendiri. Dan aku bahagia atas itu."
"Lalu?"
"Lalu apa?"
Rio terkekeh ringan melihat raut wajah Liana yang kebingungan. Ia mendekat, lalu menggandeng tangan sang gadis menuju ranjang kembali.
"Kamu harus tidur. Kamu harus istirahat supaya kamu cepat sembuh. Kalau kamu sembuh, kamu bisa bekerja lagi."
Liana hanya mengangguk saja mendapatkan petuah seperti itu. Ia ambil selimut yang tadi ia singkap dengan brutal.
"Kakak bawakan makanan sama obat. Kalau kamu mau cepat sembuh, cepat makan dan minum obat."
"Iya kak, terimakasih."
"Kakak pergi ya. Mau istirahat juga."
Setelah sang gadis mengangguk setuju, Rio kembali melangkah meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan perlahan.
Ia mengelus dadanya dengan hembusan nafas yang kasar.
"Harus bisa lupain. Itu nggak baik buat hubungan kalian."
***
Hari berganti minggu, begitupula seterusnya ketika minggu berganti bulan. Sudah genap 3 bulan usia kehamilan Ify saat ini, satu-satunya peninggalan suami tercinta yang kini ia yakini sudah pasti berbahagia di surga.
__ADS_1
Gadis berambut panjang itu mengelus lembut perut yang sudah terlihat membuncit. Meski masih seperti perut orang yang kembung, namun ia sudah menyimpan banyak sekali foto baby bump nya disebuah album foto keluarga. Ia satukan foto-foto tersebut dengan foto-foto keluarganya terdahulu. Suami dengan anak pertama mereka.
Ditengah kebahagiaannya melihat hasil foto dirinya sendiri, ia dikejutkan dengan kedatangan seorang pemuda yang akhir-akhir ini gencar sekali mendekatinya.
"Rio! Ngagetin aja!" sentaknya dengan mata mendelik sebal. Yang disentak malah cengengesan tidak jelas.
"Kamu foto sendiri?" tanya Rio ikut memperhatikan foto-foto didalam kamera yang dipegang oleh sang gadis.
"Iya, aku foto sendiri. Bagus nggak?"
"Bagus kok. Aku fotoin yuk!" tawarnya, membuat Ify tersenyum senang. Ia mengangguk antusias dan menyerahkan kamera mahalnya itu kepada Rio.
Ify memposisikan dirinya untuk bergaya disebuah background bernuansa biru laut tersebut. Senyumnya mengembang saat lampu berwarna putih terang berpendar berkali-kali. Membuat Rio ikut tersenyum melihatnya.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan memberikan ruang bahagia pada Ify Alyssa.
Pada gadis yang sudah sangat ia sakiti hatinya tersebut. Menerima semua yang ada pada Ify setelah ini, kehidupan masa lalunya, juga anak yang akan gadis itu bawa pada masa depan.
"Bagus. Cantik juga." ucap Rio menatap hasil foto-foto yang ia ambil. Senyum Ify menjadi malu untuk dipamerkan saat ia disebut cantik oleh mantan kekasihnya tersebut.
Rio memberikan kamera itu kepada pemiliknya, ia lalu duduk disebuah sofa yang tak jauh dari tempat berdirinya Ify.
"Fy, aku janji bakal bahagiain kamu. Bakal tebus semua kesalahan aku sama kamu dulu. Entah itu nantinya kamu mau milih sama aku atau enggak, aku nggak peduli."
Ify yang semula membelakangi Rio sembari memperhatikan hasil jepretan sang pemuda, kini membalikkan tubuhnya menatap Rio yang masih santai di sofanya.
Sebuah pertanyaan yang menjadi keraguannya selama ini sudah ia lontarkan dengan lugas. Tak mau lagi menutupi apapun dari pemuda yang sepertinya sudah berubah 180 derajat.
"Kamu ragu?"
"Jujur, aku ragu sama kamu. Aku takut, apa yang terjadi dulu itu bakal terulang lagi."
Rio berdiri mendekati sang gadis. Ia menangkup pipi chubby Ify yang selalu menjadi favoritnya sejak dulu. Semakin menggendut saja pipi tersebut akibat bayi yang ia kandung.
"Apapun yang terjadi, aku bakal nerima semua yang ada pada diri kamu. Masa lalu kamu, anak kamu yang nantinya akan menjadi anak aku juga, aku bakalan bilang ke dunia kalau anak yang kamu kandung ini adalah anakku. Marga ku akan mengikuti nama belakangnya."
Rio mengelus lembut perut Ify. Memberikan sebuah kehangatan pada sang jabang bayi yang ada didalam perutnya.
"Aku sudah berubah Fy. Jauh sebelum aku ketemu sama kamu lagi. Aku sudah kembali dengan versiku yang lebih baik lagi. Aku yakin, kamu pasti nggak akan kecewa sama aku."
Ify memandang lembut pada manik mata Rio. Mencari sebuah kebenaran atas apa yang pemuda itu ucapkan baru saja. Mencari sebuah kejujuran atas semua sikap yang diberikan Rio padanya.
Ia mendapatkan itu. Mendapatkan semua yang ia cari selama ini. Rio yang pertama ia kenal sudah kembali dihadapan. Rio yang baik, jujur, penyayang, dan perhatian pada hal sekecil apapun itu.
"Maaf, aku belum bisa beri jawaban. Kamu bisa kan nunggu jawaban aku?" ucap Ify memandang teduh. Yang dipandang tersenyum hangat sembari menangguk pelan.
__ADS_1
"Apapun keputusan kamu, aku yakin itu yang terbaik. Andai pada akhirnya kita nggak bisa bersatu, aku akan tetap sayang sama kamu dan anak kamu nantinya."
***
Zhico menatap semua gerak-gerik seorang gadis yang sejak pagi tadi dirasa berbeda. Gadis itu seperti menghindarinya, tidak ingin menatap kepadanya barang sedetik saja.
Ia berdiri dari duduknya, lalu mendekati sang gadis yang baru saja beristirahat setelah mengantarkan sebuah pesanan kepada pelanggannya.
"Liana, aku mau ngomong sama kamu."
Langsung menarik tangan sang gadis tanpa menunggu persetujuannya dulu, ia yakin jika harus menunggu ia pasti akan ditolak kembali seperti beberapa hari yang lalu.
Yang ditarik hanya berpasrah diri saja, tak mau menolak kembali sebab dirasa akan sia-sia.
"Kamu kenapa hindari aku?" langsung berbicara pada inti masalah, mengapa ia sampai harus memaksa sang gadis untuk ikut padanya.
"Aku nggak hindari kamu, aku cuma jaga jarak aja. Aku disini karyawan dan kamu-"
"Berhenti bilang kamu karyawan dan aku bosnya."
"Karena memang itu kenyataanya, Mas Zhico!"
"Aku nggak peduli. Aku cinta sama kamu."
Liana tertegun mendengar pengakuan itu. Pemuda yang sejak awal sudah ia duga menaruh hati padanya, kini mengakui langsung dihadapannya. Membuatnya melongo tak berkesudahan.
Zhico yang menatap bibir Liana menganga langsung menutup dengan tangan kekarnya.
"Mas? Beneran?" tanya Liana setelah tersadar dari keterkejutannya.
"Ya, aku serius Liana. Aku cinta sama kamu."
"Tapi Mas,"
"Aku nggak peduli apapun. Mulai sekarang, kamu jadi pacarku."
Liana kembali dibuat tertegun dengan keputusan satu pihak itu. Di sisi lain ia merasa tidak mencintai sang pemuda, namun jika menolak ia pun tak akan tega.
"Tapi Mas Zhico nggak tahu apa aku punya perasaan apa enggak sama Mas Zhico."
"Kamu nggak suka sama aku? Kamu nggak tertarik sama aku?"
Gadis itu terdiam sembari meraba dadanya yang bergemuruh. Ia merasa bimbang, apakah selama ini ia merasakan jatuh cinta kepada kakak angkatnya atau tidak. Yang ia tahu, ia begitu nyaman dan merasa hangat kala berhadapan dengan Rio.
Berbeda dengan apa yang ia rasakan pada Zhico. Ia merasa biasa saja kala berhadapan dengan pemuda tampan itu.
__ADS_1
"Kamu diam, berarti kamu menjawab iya." putus Zhico sekali lagi.
BERSAMBUNG...