Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 11


__ADS_3

Sejak dirumah, ataupun dikampus, Ify selalu mempercepat langkahnya. Ia tidak mau bertemu ayahnya ataupun Rio saat ini. Ya, gadis mungil itu belum mampu menerima semua kenyataan tentang hidupnya.


Langkahnya begitu terasa cepat menuju kelasnya. Seperti orang yang berlari saja. Memang gadis itu sedikit berlari, karena ia tidak mau ditemukan oleh Rio.


Bruk..


"Aduh ify, lo tuh kalo masuk kelas nggak usah lari bisa kan?" cecar Sivia yang ditabrak oleh ify diambang pintu. Ia merapihkan tasnya yang berantakan karena terjatuh.


"Maaf ya Vi, gue nggak sengaja." sesal ify.


Sivia hanya melengos saja tak mau menatap wajah ify. Ia masih kesal karena sahabatnya itu berpelukan dibawah guyuran hujan tadi malam. Ia berlalu menuju kantin. Sementara ify hanya mengikutinya saja.


"Vi lo marah ya?" tanya ify sambil terus mengikuti langkah Sivia.


"Enggak."


"Kok tumben lo melengos gitu?"


"Gue mau nanya sama lo." ucap Sivia ketika mereka baru saja menemukan bangku kosong di kantin.


"Tanya aja."


"Semalam lo kemana sama Alvin?"


"Hah Alvin? Kok Alvin?" heran Ify. Tentu saja, pasalnya ia pergi bersama keluarganya juga keluarga Rio. Lalu......


"Semalam yang hujan-hujanan dekat restoran siapa? Elo sama Alvin kan?" ify menghembuskan nafasnya pelan.


"Lo jangan salah paham Vi. Alvin cuma nenangin gue aja semalam."


"Nenangin gimana maksud lo? Lo ada masalah?"


"Vi, sebenernya gue sama Rio semalam makan malam sama keluarga. Dan gue baru tau kebenarannya kalau gue sama Rio itu saudara kandung." ify menunduk. Sementara Sivia memelototkan matanya.


"Hah? Lo nggak bohong kan Fy?"


"Ya enggaklah. Ngapain gue bohong. Semalam Alvin cuma nenangin gue. Gue nggak tau harus gimana Vi. Gue sakit banget."


"Ya ampun lo yang sabar ya Fy. Gue tau ini berat buat lo. Meskipun gue nggak ngalamin, tapi gue pasti tau rasanya."


Ify hanya mengangguk. Air matanya seolah sudah habis karena semalam ia keluarkan tanpa henti. Tak percaya mengapa takdir mempermainkannya sekejam ini.


*******


belum memulai hubungan tapi, sudah merasa sulit digapai.~


Manda melongokkan wajahnya dari meja makan menuju tangga. Ia hanya melihat Alvin menuruni tangga.


"Rio kemana Vin? Kok nggak turun?" tanya Manda.


"Nggak tahu Ma, mungkin belum selesai. Mama kok nggak kekantor?" tanya Alvin. Ia mengambil roti dimeja makan.


"Nanti Vin, Mama agak sedikit nggak enak badan."


"Istirahat aja Ma, daripada nanti jatuh sakit."


Rio menuruni tangga dengan cepat. Dan berlalu tanpa menyapa Manda dan Alvin.


"Rio kamu nggak sarapan dulu?" tanya Manda. Namun Rio tidak menggubris. Ia berlalu begitu saja.

__ADS_1


Manda hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah Ma, Alvin juga berangkat ke kampus dulu ya."


"Hati-hati ya Vin."


"Iya Ma."


Alvin memasuki mobil Rio yang didalamnya juga ada Rio. Mereka berangkat bersama menuju kampus yang sama.


********


Alvin dan Rio sudah sampai ditempat. Tanpa kata lagi Rio bergegas menuju kelas ify. Namun ia tidak mendapati Ify disana.


"Dimana ify?" tanya Rio pada Sella. Teman sekelasnya.


"Di kantin sama Sivia tadi."


Rio langsung pergi ke kantin. Alvin yang melihat itu hanya mengikuti saja dibelakangnya. Ia tahu Rio pasti ingin berkata sesuatu tentang kejadian tadi malam.


"Fy aku mau ngomong sama kamu." ucap Rio setelah berhasil menemukan Ify dan Sivia.


Ify sampai tersedak minumannya karena kaget dengan kehadiran Rio.


"Apalagi sih Rio?"


"Fy aku nggak percaya kalau kita itu saudara." dengan bodohnya Rio berbicara seperti itu. Ify mencebikkan mulutnya. Mendengar kata saudara terlontar membuat hatinya teriris.


"Kenyataannya?"


"Fy ayo kita cari tau bareng-bareng. Kita tanya Mama sama Om Umari. Pasti mereka mau menjawab."


"Fy--"


"Udah ya. Mungkin emang jalan kita kayak gini." ucap Ify meninggalkan ketiga orang tersebut.


Rio menatap kepergian ify. Bagaimana mungkin gadisnya itu hanya berpasrah pada keadaan? Tanpa mencari tau kebenarannya.


"Sabar ya Rio." ucap Sivia menepuk pelan pundak Rio.


[1 BULAN KEMUDIAN]


Sejak saat ify mengetahui bahwa impiannya adalah saudaranya sendiri, ia benar-benar menjauh dari Rio. Dan sejak saat itu juga, Agatha semakin gencar mendekati Rio. Sudah bukan rahasia umum lagi jika Rio berangkat sekolah bersama Agatha. Tidak akan ada lagi yang cemburu karena Ify sudah tertera sebagai saudaranya.


Rio pun sepertinya tidak lagi berusaha mendekati ify, karena ify yang selalu menolaknya. Begitupun hubungannya dengan Manda. Tak sebaik dulu. Rio kerap kali berlalu tanpa menghiraukan Manda. Seringkali Manda berusaha mengajak Rio berbicara, namun Rio selalu menolak.


"Gimana? Lo pasti sakit hati ya sama perlakuan Rio? Kan udah gue bilang, mau sedekat apapun kalian, orang lama yang bakal jadi pemenangnya." ucap Agatha dengan percaya dirinya pada Ify, ia memang tidak mengetahui bahwa Ify dan Rio adalah saudara kandung.


"Mau sedekat apapun kalian, Rio nggak akan pernah nikahin lo. Karena gue nggak akan biarin itu terjadi."


"Lo cuma orang baru. Nggak tahu kedekatan gue sama keluarga Rio dulu kayak apa. Jadi nggak usah bisa nebak apa yang bakal terjadi selanjutnya."


"Sedekat apapun lo sama orang tua nya Rio, apa lo bisa memanggil nyokap nya Rio dengan sebuat Mama? Seperti gue yang memanggil beliau Mama? Enggakkan!? Itu artinya gue lebih dekat sama keluarga Rio. Lo udah terlupakan. Nggak ada bandingannya sama gue." Ify sengaja berkata demikian tanpa memberitahu Agatha posisi apa yang ia punya dikeluarga Rio. Biar saja, biar dia cemburu buta. Pikir Ify.


"Kenyataannya Rio tetap memilih gue daripada lo!" Agatha sudah terbakar emosi.


"Rio doang? Kalau keluarganya nggak kasih restu lo bisa apa? Kawin lari? Mau lo hidup miskin sama Rio? Secara kan Rio pewaris kekayaan ayahnya, bersama Alvin. Kalau Rio menentang keputusan orang tua nya, otomatis dia bakalan didepak dari keluarga Haling. Lo nggak mikirin itu kan? Haha kasian."


"Sialan lo!" Agatha kalah telak.

__ADS_1


"Serah lo deh, nggak penting banget."


Ia pulang jalan kaki, karena niatnya untuk menghirup udara segar terganggu oleh kedatangan Agatha.


"Loh, Papa kok udah pulang?" tanya ify saat ia memasuki rumah dan menemukan Umari diruang tamu.


Sejak kejadian di restaurant itu, Umari ditugaskan untuk pergi ke Singapore. Menggarap proyek besar disana, dan meninggalkan ify tanpa penjelasan apapun. Ya, karena memang Ify yang kerap kali tidak mau bicara dengan Ayahnya.


"Iya, tadi Mama kamu nelpon Papa suruh pulang. Dia mau menjelaskan sesuatu Fy." ucap Umari. Ify duduk disampingnya.


"Mamah Gina?"


"Mamah Manda Fy. Ayo kita ke rumah Rio sekarang."


"Nggak mau."


"Kamu harus dengar penjelasan Papa dan Mama kamu."


Umari menarik tangan ify tanpa persetujuan dari gadis itu.


Sesampainya dirumah Rio, Umari langsung masuk bersama Ify. Karena ia sudah dinanti oleh Manda dan Haling.


Diruang tamu terlihat keluarga besar itu sedang berkumpul.


"Ada apa sih? Kok manggil ify segala?" tanya Rio tak enak karena ia saat ini benar-benar tak ingin melihat ify. Ia terlalu kecewa dengan kenyataan bahwa ify adalah saudaranya. Juga, ia takut bahwa Rio dan Ify akan tinggal bersama. Ia takut, jika para orang tua itu akan memaksa mereka untuk menerima kenyataan.


Sebenarnya, bukan maksud mereka untuk tidak menerima kenyataan atas nama takdir. Tapi mereka butuh waktu untuk menelaah semuanya. Manusia butuh waktu untuk berproses menjadi yang lebih baik lagi.


"Rio, Mama mau bicara soal kamu sama Ify." ucap Manda.


"Iya Ma Rio tau. Rio sama Ify itu saudara. Udah jelas kok. Rio sama Ify juga nggak bakal maksain takdir." ucap Rio sedikit emosi.


"Rio dengarkan Mama dulu."


"Udahlah, Rio mau ke rumah Agatha."


Rio pergi meski ayah dan ibunya terus memanggil namanya. Ify hanya menatap nanar kepergian Rio. Sebegitu bencinya kah Rio pada dirinya?


"Benar-benar anak itu keras kepala sekali." ucap Manda.


"Memangnya Rio sama Ify kenapa Ma?" tanya Alvin yang sedari tadi diam.


"Jadi sebenarnya, saudara kandung ify itu kamu Alvin, bukan Rio."


Alvin menganga tak percaya. Begitupun ify. Lalu, permainan seperti apalagi ini?


"Kok bisa?" tanya ify. Ia benar-benar shock atas ucapan Manda.


"Mama menikah sama om Haling itu sama-sama membawa anak Fy. Mama membawa Alvin, dan om Haling membawa Rio. Jadi kamu dan Rio itu tidak ada hubungan darah sama sekali Fy. Kalian bisa bersatu. Dan saudara kembar kamu itu Alvin , bukan Rio." jelas Manda.


"Hahaha akhirnya gue punya saudara cewek. Asik nih bisa diusilin terus." ucap Alvin lalu memeluk Ify.


"Lo saudara gue." dakunya. Ify tersenyum sekilas. Masih belum percaya bahwa takdir membawanya dalam kegelapan lalu mebawanya kembali dalam kehidupan yang benar-benar hidup.


"Mama harap kalian bisa jelasin ini ke Rio ya. Mama sudah tidak bisa menjelaskan apapun sama Rio. Anak itu selalu pergi kalau Mama bicara." ucap Manda.


"Iya Ma."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2