Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 29


__ADS_3

Bukan punah, bukan juga menyerah, hanya saja sudah.~


Ify menutup buku hariannya yang selalu menjadi curhatan hatinya. Tidak mungkin baginya membebani hati Ayahnya yang juga sedang berjuang hidup, hanya untuk memenuhi egonya. Ia juga harus memikirkan kesehatan Ayahnya.


Mungkin, dengan ia pergi meninggalkan mereka, itu akan membuat hidup ify jauh lebih baik lagi. Semoga saja.


Malam tiba, gadis itu masih dengan kesendiriannya didalam kamar, menatap bintang-bintang terang dilangit malam dari gazebo kamarnya. Keputusannya pergi mungkin sudah tepat. Karena titik tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan, bukan? Maka benar, ia harus mengikhlaskan semuanya. Cintanya, pasangannya, dan juga hidupnya.


Sebenarnya, ikhlas itu bukan perkara mudah. Bukan juga perkara itu akan langsung terjadi jika kita sudah berbuat. Ikhlas itu perkara waktu. Jika kita memaksa, semua akan terbiasa. Lalu kata ikhlas itu sendiri akan hadir dalam keterbiasaan kita.


"Semoga gue bisa tanpa lo Rio. Bukan gue yang nggak pantas buat lo, tapi lo yang nggak pantas buat gue." gumamnya lirih. Menutup mata dan meneteskan air mata. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu melukiskan betapa hancurnya hatinya saat ini. Biarkan waktu yang menyembuhkan lukanya. Namun, bukankah sebuah luka hanya bisa disembuhkan oleh seseorang yang membuat luka? Haruskah luka itu sembuh tanpa pengobat? Atau justru, menghadirkan orang baru untuk menyembuhkannya? Katakan, bahwa jika kita menerima orang baru, belum tentu luka itu akan terobati. Justru sebaliknya. Semoga saja tidak.


***


Haling dan Manda menatap Rio dan Shilla. Mereka berjibaku dengan pikiran dan pendapat masing-masing. Menatap satu sama lain dimeja bundar tersebut. Ruangan hening. Hanya ada deru nafas dari masing-masing manusia yang masih hidup tersebut.


"Kamu puas ify pergi dari Mama? Ify pergi dari hidup kamu? Dari hidup kita?" Manda membuka suara. Ia luapkan semua emosi yang ada dihatinya. Benar-benar tidak habis pikir dengan anak tirinya tersebut. Ia sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali. Bukan maksud Manda memilah dan memilih antara anak kandung dan anak tiri. Tapi semua memang kesalahan Rio. Ia harus kehilangan Ify lagi, karena kesalahan dari anak tiri yang sudah ia anggap seperti anak kandung tersebut.


"Kamu puas acara pernikahan Alvin berkurang karena kehadiran ify? Ify itu adik kandungnya Alvin. Kalau ify nggak ada, Alvin bakalan sedih."


"Tapi Ma ify sendiri yang mutusin buat pergi kan? Aku juga udah nahan dia kemarin. Dia nya bersikukuh mau pergi."


Plak!!


"Kamu yang buat dia pergi dengan berzina dengan Shilla! Pakai otak kamu Rio!" Tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus Rio. Memerah hingga membuat Rio sedikit meringis.


Manda benar-benar meluapkan emosi yang ia pendam sejak kemarin dimana saat hati anak kandungnya tergores begitu dalam. Ingin ia mencabik-cabik tubuh Shilla karena telah menghancurkan kebahagiaan Ify. Namun bukankah Rio juga bersalah? Kesalahan itu nyata adanya karena dua manusia yang tidak mau mengalah. Laki-laki dan perempuan sama, haruskah menyalahkan salah satunya?


"Kamu ingat kata-kata Mama ya Rio. Kalau sampai kamu menikah sama Shilla, Mama dan Papa akan mencoreng nama kamu dari harta warisan Mama dan Papa. Menjadikan Alvin satu-satunya pewaris tunggal kekayaan keluarga Haling."


"Nggak bisa gitu dong Ma. Pa? Aku kan anak kandung Papa."


"Papa nggak pernah punya anak yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Kamu bukan Rio yang Papa kenal. Kamu benar-benar berubah. Papa tidak pernah mendidik kamu seperti ini. Menyakiti perempuan. Apalagi sampai meniduri seseorang yang bukan istri sah kamu."


Rio memandang kesal pada punggung Haling yang semakin menjauhinya bersama Manda. Ia tak habis pikir bahwa ayahnya sendiri tidak akan memihak padanya.


Ia menatap Shilla. Memahami bahwa, ia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu. Dan memahami bahwa, apa yang ia dan Shilla lakukan bukanlah sebuah kesalahan. Semoga begitu.


Sedang Shilla, ia menunduk saja dan tidak bersuara sama sekali. Ditolak secara terang-terangan oleh keluarga Rio adalah hal yang paling menyakitkan untuknya.


"Kamu kenapa Rio? Takut kalau Ayah kamu benar-benar mencoreng nama kamu dari harta warisan?" Gadis itu sedikit mencengkram jemarinya sendiri. Takut jika apa yang ada dipikirannya tentang Rio benar-benar menjadi nyata.


"Shill, apa kamu pikir yang kita lakukan itu benar?" Rio menengadahkan wajahnya. Memandang sendu pada langit-langit ruang tamu yang sangat luas itu.


"Aku nggak tau. Yang aku tau, aku cinta sama kamu. Aku ikhlas kasih semua yang aku punya buat kamu."

__ADS_1


"Termasuk tubuh kamu?" Shilla dan Rio terhentak mendengar ucapan Sivia dibelakang mereka.


Kedua manusia itu berbalik dan menatap tanpa arti pada Sivia yang berdiri tak jauh darinya. Sedang Sivia begitu memicingkan matanya menatap benci pada Rio dan Shilla.


"Iyakan Shill? Kamu mencintai Rio sampai kamu memberikan tubuh kamu? Harga diri kamu? Terus, apa bedanya kamu sama Acha? Acha juga sama-sama memberikan tubuhnya ke Gabriel dengan cuma-cuma kan?" Sivia terus mencecar Shilla tiada henti membuat Shilla hanya menundukkan wajahnya merasa malu.


"Lalu, kenapa dulu kamu seolah merasa tersakiti, padahal kalian semua sama?"


"Kenapa diam?" tanya Sivia, melihat Shilla hanya diam tanpa suara.


"Vi, cukup ya!" Bentak Rio tak terima gadis yang ia cintai dihina sebegitu dalam oleh kekasih saudara tirinya itu.


"Nggak akan cukup hinaan buat kalian. Atas dasar cinta? Berkhianat bukan satu-satunya jalan untuk berpisah. Hina sekali."


Sivia melangkah keluar dari rumah besar itu. Merasa sudah cukup puas dengan apa yang ia ucapkan untuk Rio dan Shilla. Begitu juga urusannya dengan Alvin yang membicarakan pernikahan mereka yang akan digelar beberapa minggu lagi.


"Sudah Rio. Kalau emang kamu takut sama ucapan Om Haling, aku nggak papa. Kamu berhak dapat hak kamu. Jangan pertahanin aku yang akan buat kamu rugi. Om Haling sama Tante Manda cuma sayang dan suka sama ify. Bukan sama aku."


Shilla pergi begitu saja meninggalkan Rio yang masih termangu diruang tamu. Ia benar-benar yakin kalau hatinya benar-benar cinta pada Shilla. Namun ia juga cukup mengerti bahwa hubungan keduanya terlahir karena sebuah pengkhianatan.


"Apa yang harus gue lakuin? Gue udah buat ify pergi ninggalin gue. Masa iya gue nggak bisa dapatin Shilla? Gue cinta sama dia." gumamnya seperti orang tidak waras. Mengetuk-ngetuk dahinya dengan telunjuknya sendiri.


"Kayaknya lo bukan cinta deh, tapi nafsu aja. Lo harus bisa bedain mana nafsu dan cinta. Atau lo akan menyesal."


Rio mendongak menatap Alvin yang berdiri dipinggir bibir tangga lantai dua. Mencerna kalimat-kalimat Alvin yang baru saja terlontar.


***


Hingga malam tiba, berganti pagi lagi, dan menjadikan malam penutup hari. Sekian detik, menit, jam, dan hari bahkan bulan semua terlewati tanpa terkecuali. Kenangan-kenangan manis yang terus terbayang dikepala membuat seseorang kembali mengingat betapa manis hidupnya dahulu. Jauh sebelum kehancuran itu datang menghancurkannya dengan mudah.


Ify Alyssa. Gadis berambut pirang yang terurai panjang hingga sepinggang itu terus menatap hamparan air laut dari balkon kamarnya. Memilih kamar dengan view pemandangan pantai disebuah hotel bintang lima, memang benar-benar favoritnya.


Menggenggam sebuah minuman kaleng favoritnya pula, sesekali mereguk dan masih memandang kosong pada air laut yang dipenuhi oleh pria dan wanita disana. Matanya menyipit ketika ia mendapati seseorang yang tak asing baginya.


********


"Dokter?"


Pria itu menoleh ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. Terlihat Ify yang sudah berdiri dibelakangnya, berdiri di hamparan pasir putih yang berserakan karena jejak-jejak manusia yang berlarian kesana kemari.


"Ify? Lo apa kabar?" tangan Adam mengulur pada gadis itu, yang langsung disambut hangat olehnya.


"Baik. Lo ngapain disini?" terlihat sangat kalem gadis itu dimata Adam. Ah, bahkan sudah berapa lama ia tidak bertemu gadis yang sempat ia puja-puja itu, tetap saja gadis itu terlihat cantik dan anggun.


"Gue lagi liburan aja."

__ADS_1


Ify tersenyum sedikit sambil terus memperhatikan sekitarnya.Merasa bosan dikamar hingga ia memutuskan untuk menemui dokter yang pernah merawatnya dari kegilaan Agatha yang hampir mengancam nyawanya.


"Lo emang pergi kesini? Atau lo lagi liburan aja?"


"Ha? Pergi? Maksudnya?"


Adan terkekeh pelan. Ia menepuk-nepuk kursi disebelahnya memberi arti agar ify duduk disebelahnya. Gadis itu mengangguk dan duduk disebelah Adam yang masih terkekeh saja.


"Gue tau masalah lo sama Rio Fy. Shilla kan penyebabnya?"


"Lo tau darimana?"


"Gue kenal Alvin, dan lumayan dekat. Gue tau Alvin saudara lo, maka dari itu gue selalu cari-cari info tentang lo."


"Alvin?"


"Iya. Beberapa bulan yang lalu, Alvin liburan dan menginap disuatu hotel yang ternyata Rio dan Shilla disana juga. Alvin memergoki Shilla dan Rio satu kamar, lalu mereka--


"Ah sudahlah lupakan."


Ify memotong ucapan Adam tak ingin mendengarkan lebih jauh. Hatinya masih terlalu sakit mendengar Rio dan Shilla satu atap dikamar hotel. Ia mengalihkan tatapannya dari Adam. Merasa ditatap lekat oleh pria itu.


"Gue tau Fy, hubungan lo sama Rio udah lama. Dan gue nggak nyangka sahabat lo bisa berbuat seperti itu."


"Ya, gue pun sama halnya kayak lo Dam. Nggak nyangka."


"Nafsu pria memang kadang bisa bikin kita khilaf Fy. Nggak peduli lagi sama siapa, nggak peduli lagi kelanjutannya gimana. Yang penting nafsu nya tersalurkan."


"Lo masih sendiri Dam?" Adan hanya mengangguk saja. Nerasa, mungkin cinta yang dulu pernah ia rasakan dan sempat ingin ia lenyapkan harus kembali dibangkitkan.


"Kenapa?"


"Lo tau Fy? Satu minggu kebersamaan kita dirumah sakit dulu membuat gue merasakan rasa yang lebih sama lo. Sayangnya, gue harus memendam semua itu karena kehadiran Rio yang lebih dulu ada dihidup lo."


"Bertahun-tahun loh, elo masih aja menyimpan perasaan itu? Dan lo masih cinta sama gue?" ify benar-benar kaget. Ia kira Adam sudah melupakannya.


"Sempat gue bunuhbrasa gue sendiri Fy, hanya karena gue nggak mau ganggu kebahagiaan lo. Dan sekarang, gue rasa udah waktunya gue berjuang buat dapatin cinta itu lagi."


"Terus lo mau respon kayak apa?"


"Gue nggak berharap apapun Fy. Gue tau lo pasti trauma sama apa yang pernah Rio lakukan sama lo. Asal lo tau aja, gue sama Rio berbeda. Gue benar-benar tulus, asal lo ada didekat gue, bagi gue itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya gue tau, tujuan gue saat ini berada disini itu untuk apa."


Ify diam, tidak bertanya lagi. Merasa sudah jengah dengan pembahasan soal perasaan hati manusia.


"Lupakan mereka. Saatnya kamu mencari kebahagiaan kamu sendiri Fy."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2