Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 7


__ADS_3

Pagi ini benar-benar membuat Shilla terduduk lesu dimeja sekolahnya. Pasalnya ia tidak bertemu Gabriel beberapa minggu ini. Bukan beberapa minggu, lebih tepatnya hampir satu bulan ini dia sama sekali tidak bertegur sama dengan Gabriel. Kekasihnyaitu juga jarang sekali mengabarinya meski lewat ponsel. Selalu saja, jika ia datang kekelas Gabriel, makaia tidak menemukan kekasihnya itu.


"Gabriel kemana sih? Sibuk banget sampai nggak ada waktu buat gue." ucapnya sedih, lalu menundukkan wajahnya dimeja. Menopangnya dengan kedua lengannya yang ia tumpukan menjadi satu.


Agni datang bersama Sivia, ia langsung duduk di samping Shilla.


"Shilla, gue mau tanya sama lo." ucap Agni. Shilla menengadahkan wajahnya menatap Agni. Matanya sayu dan juga sembap.


"Lo kenal cewek ini nggak?" Agni menunjukkan sebuah foto perempuan yang dibawa Gabriel tadi malam. Ternyata saat Sivia beradu mulut, Agni dengan gerakan cepat memotret gadis tersebut.


"Acha deh kayaknya." ucap Shilla sembari memperhatikan betul foto yang ada di ponsel Agni. Sesekali matanya menyipit dan kepalanya memiring.


"Lo kenal?" tanya Sivia.


"Dia sahabatnya Gabriel. Gue sempet ketemu dia waktu dia dijemput Gabriel di bandara, dia dari Jepara, pindah kesini. Waktu itu Gabriel ajak gue jemput dia. Katanya sih dia sendirian kesini." jelas Shilla.


"Yakin cuma sahabat aja?"


"Harusnya sih begitu."


"Kenapa sih emangnya?" lanjut Shilla. Ia juga bingung mengapa ada foto Acha diponsel Agni.


"Semalam dia dibawa Gabriel ke cafe RFM, terus gue nggak sengaja ketemu mereka. Kelihatan mesra gitu Shil. Gue curiga."


"Nggak papa, nanti coba gue tanyakan sama Gabrielnya." Shilla hanya berusaha berfikiran positif agar tak terjadi salah paham. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin. Meski jujur saja, ada keraguan dihati Shilla mengingat banyak berubahnya Gabriel akhir-akhir ini.


Agni dan Sivia hanya mengangguk mengiyakan kalimat Shilla. Merwka tidak perlu ikut campur atas masalah orang lain. Biar yang menjalani hubungan saja yang menyelesaikannya.


********


Rio memegang ponselnya erat, berulang kali mengecek pada aplikasi Whatsapp nya, kemana gadisnya? Kenapa tidak masuk sekolah? Juga tidak mengabarinya seharian ini. Sahabat-sahabatnya juga tidak tahu menahu masalah ify tidak masuk sekolah pagi tadi.


"Aarrggghhhh ify kamu kemana sih!!" teriaknya didalam kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Apakah ia harus kerumah ify? Sopankah? Namun jika tidam, ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Ify. Biarlah nanti ia pikirkan disana, yang terpenting ia hadir dirumah Ify.


"Mau kemana lo?" tanya Alvin yang mendapati Rio keluar kamar dengan pakaian rapi dan membawa kunci mobil.


"Kerumah ify." jawabnya singkat.


***********


Umari datang membawa sebuah kotak ditangannya. Ia duduk dihadapan ify. Menatap sendu pada mata anak gadisnya itu. Yang ditatap hanya mengerjapkan matanya dengan gemas.


Diruang tamu inilah mereka berada sekarang. Saling duduk berhadapan.


"Alyssa, ini ayah ada sesuatu buat kamu. Ini barang yang ditinggalkan ibumu saat kamu berusia 2 bulan." ucap Umari sembari memberikan ify sebuah kotak.


Alyssa membukanya secara perlahan, berulang kali matanya mengerjap mengamati benda yang berada ditangannya kini.


"Kalung?"


"Iya Alyssa, itu kalung yang ditinggalkan Mama kandungmu."


"Jadi Mama Ginara bukan Mama kandung aku Pa?"


"Bukan Al, maafkan Papa sudah berbohong sama kamu."


Ify mengangguk saja, ia pun belum tahu apa alasan Umari menyembunyikan itu darinya.


ify memakai kalung itu, sangat cantik dileher jenjangnya. Kalung emas dengan liontin bulan dan bintang yang menyatu menjadi satu. Dikelilingi oleh berlian-berlian termahal.


"Kenapa Mama ninggalin Papa?" tanya ify.


"Papa belum cukup sempurna buat Mama kamu Al, tapi yang perlu kamu tahu, sebenarnya kamu mempunyai saudara kembar laki-laki." jelas Umari.


"Namanya siapa Pa? Dimana dia sekarang?"


"Papa nggak tau namanya Al, Mama mu membawanya setelah melahirkan kalian, tanpa memberi nama. Setelah usia mu 2 bulan, ia kembali membawa surat cerai dan kalung itu. Tanpa berucap apa-apa." ucap Umari terlihat sedih. Ia merasa Ify sudah dewasa dan cukup mengerti akan kehadiran saudara juga ibu kandungnya.


"Makasih ya Pa udah mau jujur sama Alyssa. Alyssa janji bakal cari Mama dan saudara kembar Alyssa."


Tok..tok..tok..

__ADS_1


Umari dan Alyssa mengakhiri obrolan ringan mereka dan ify membukakan pintu. Terlihat Rio berdiri dengan wajah manisnya disana. Senyumnya mengembang mendapati kekasihnya berdiri dihadapannya.


"Rio? Kenapa kesini? Kok nggak bilang-bilang?" tanya ify bertubi-tubi.


"Bawa masuk dulu Al." ucap Umari. Rio mengangguk dan masuk kedalam rumah ify lalu duduk diruang tamu.


Umari izin berlalu kekamar untuk mengerjakan pekerjaan kantornya yang tertunda. Meninggalkan Rio dan ify diruang tamu. Biarlah mereka berbicara terbuka tanpa ada kecanggungan pada siapapun.


"Kamu kenapa nggak masuk sekolah Fy tadi? Terus kenapa juga hp kamu nggak aktif?"


"Maaf ya Rio, aku nggak ngabarin kamu. Aku tadi pagi nggak enak badan terus aku izin buat nggak masuk sekolah."


"Ya ampun Fy, terus sekarang kamu udah baikkan? Apa perlu ke dokter?"


ify menggeleng lalu meletakkan kepalanya didada bidang milik Rio. Tempat ternyaman yang paling Ify gilai selama ia mengenal laki-laki.


"Rio, ternyata aku punya saudara kembar. Tapi dia laki-laki. Kira-kira dia dimana ya?" ucap ify.


"Aku tadi juga dengar obrolan kamu sama ayah kamu Fy. Kamu yang sabar ya, barangkali nanti kita bisa ketemu sama Mama dan saudara kamu." Rio membelai lembut rambut ify. Mengecup puncak kepala Ify bagai bayi baru lahir.


"Yaudah aku pulang dulu ya Fy, udah malam. Kamu jaga kesehatan ya." ucap Rio.


"Iya Rio, kamu hati-hati ya. Aku sayang sama kamu."


"Aku juga sayang sama kamu."


Setelah Rio mengecup lembut bibir ify, ia bergegas menuju mobilnya dan pergi dari halaman rumah ify.


**********


Dikantin sekolah. Ify, Agni, dan Sivia sedang menunggu Rio, Alvin, dan Cakka.


"Shilla kok nggak masuk ya?" ucap Agni memecah kesunyian.


"Mungkin dia sakit, bisa aja. Nanti coba deh kerumahnya." ucap ify. Dan di angguki saja oleh Agni dan juga Sivia. Biar bagaimanapun mereka ada sepasang sahabat.


"Loh, Gabriel nggak masuk?" tanya Sivia saat Cakka, Rio, dan Alvin datang menghampiri mereka.


"Ah sialan lo nama gue Cakka bukan Cicak!! Lagian gue nggak tahu Gabriel kenapa, gue bukan emaknya ya anjrit." kesal Cakka. Ia menyomot bakso kekasihnya sambil bersungut-sungut. Agni hanya terkekeh melihat Cakka.


"Shilla juga nggak masuk. Apa mereka lagi ngedate ya?!" Alvin seolah menerka-nerka.


Sivia langsung mencubit hidung Alvin.


"Heh sipit, mana ada ini mendekati ujian mereka malah ngedate." ucap Sivia kesal. Alvin mengelus sebentar hidungnya. Merasa hidungnya sudah ternodai akibat ulah sipipi chubby tersebut.


"Ya barangkali kan. Kan Gabriel udah lama nggak ada kabar kata Shill. Mereka kayak renggang gitu." ucap Alvin membela diri.


"Itu karena Gabriel selingkuh." celetuk Ify.


"Kata siapa lo Fy?"


"Kata gue sendiri. Waktu itu gue pergi kan beliin obat Ayah gue, terus gue lihat Gabriel sama cewek, rambutnya panjang juga kayak Shilla. Gue kira tadinya Shilla. Eh taunya bukan." cerita Ify panjang lebar. Ia mengingat-ingat wajah wanita yang dilihatnya bersama Gabriel.


"Kata Shilla, itu sahabatnya Gabriel. Kemarin gue udah tanyain ke Shilla." jelas Sivia. Ify hanya manggut-manggut saja.


"Fy, kemarin kenapa lo nggak masuk?" tanya Agni menengahi.


"Hehe, gue nggak enak badan Ag." ucap ify. Agni hanya mengangguk.


"Kalung loe bagus Fy." celetuk Sivia. ify hanya tersenyum sebentar. Karena dibalik kebagusan kalung itu tersimpan sejuta rahasia. Terlebih, sejuta luka. Luka tanpa alasan yang disebabkan oleh keegoisan orang tuanya.


***********


Disinilah gadis berambut panjang itu menangis pilu. Matanya bengkak dan wajahnya sembab karena semalaman ini ia menangisi kekasihnya. Kekasih yang sudah menyakiti hatinya. Memang, hanya sekali ini. Namun itu langsung telak bagi Shilla. Terlalu fatal.


"Kenapa lo tega sama gue." lirihnya perih.


[Flashback On]


Shilla membuntuti mobil hitam milik Gabriel. Pulang sekolah mengapa Gabriel sangat terburu-buru? Adakah yang membuatnya terganggu hingga ia melupakan dirinya lagi? Begitulah otak Shilla terus berputar mencari kebenaran. Tak habis pikir dengan alasan yang diucapkan kekasihnya bahwa laki-laki itu tengah sibuk dengan posisinya sebagai waketos. Jelas saja, Rio saja yang posisinya diatas Gabriel masih santai menghadapi semua rapat dan kegiatan sekolah, mengapa wakilnya malah seolah seperti seorang presiden?

__ADS_1


Sreetttt...


Mobil mungil Shilla berhenti mendadak saat melihat mobil Gabriel juga berhenti tak jauh dari tempatnya. Terlihat Gabriel keluar dari mobil dan berjalan menghampiri seorang gadis di seberang jalan. Mereka terburu-buru melindungi tubuh dari hujan lebat yang turun sore itu. Membuat mereka tetap saja basah kuyup meski telah menghadang hujan dengan sejuta cara.


Kedua manusia itu masuk kedalam mobil dan kembali pergi ke suatu tempat. Shilla pun kembali mengekor dengan telaten. Hatinya sudah dag dig dug tidak karuhan. Jantungnya berdebar berkali-kali lipat dari biasanya. Nafasnya begitu terdengar memburu dengan dada yang kembang kempis.


Shilla menganggukkan kepalanya saat tau bahwa Gabriel menuju kerumahnya sendiri. Ia sangat hafal dengan rute jalan menuju rumah Gabriel.


Mobil terparkir dan Shilla melihat dengan jelas bahwa Gabriel bersama dengan Acha. Mereka berdua berlari memasuki rumah Gabriel tanpa menutup pintu.


Shilla perlahan keluar dari mobil dan berlari menuju pintu utama, tidak masuk karena ada Acha diruang tamu.


Shilla hanya berdiri diluar mendengar obrolan kekasihnya bersama Acha, yang setau dia adalah sahabat Gabriel.


"Dingin ya Cha?" terdengar ucapan Gabriel. Shilla semakin mempertajam pendengarannya dibalik pintu bernuansa putih tersebut.


"Gabriel, gue boleh minta peluk nggak? Gue kedinginan." ucap Acha, suaranya terdengar sangat bergetar. Shilla mencoba masih biasa saja meskipun hatinya sudah sesak.


Shilla mengintip kedalam sedikit karena tidak mendengar suara apapun. Matanya melebar karena melihat Gabriel memeluk Acha dengan erat. Memang baju kedua nya terlihat sedikit basah akibat kehujanan. Membuat nafas Shilla semakin memburu tak karuan. Ingin ia beranjak dari tempatnya dan menyusul Gabriel kedalam, namun ia urungkan ketika suara Gabriel mulai terdengar samar-samar.


"Kamu keringin tubuh kamu ya Cha. Nanti aku kasih pinjam pakaian Mama."


"Dimana Gab? Aku kedinginan banget ini."


"Ke kamar aja Cha biar nggak dingin." tawar Gabriel. Shilla membungkam mulutnya tak percaya.


"Kamar siapa Gab? Memangnya ada kamar kosong disini? Aku nggak enak sama Om."


"Kamar aku aja. Nggak papa. Papa aku lagi nggak ada dirumah."


"Iya Gab." ucap Acha menuruti. Bibirnya sudah biru pucat karena kedinginan. Tangannya juga ikut bergetar, ia memegangi tangan Gabriel dengan erat.


Terlihat Gabriel memapah Acha menuju kamarnya. Dengan lihai Shilla menyelinap masuk membuntuti keduanya. Menaiki tangga dengan pelan, masih memantau gerak gerik Gabriel. Menunggu beberapa saat untuk memastikan bahwa keduanya sudah masuk kedalam kamar.


Shilla berharap, Gabriel segera keluar dari kamar tersebut. Namun beberapa saat kemudian, ia jadi bingung sendiri karena Gabriel tak ada keluar kamar sama sekali. Ia dengan cepat mengintip kecelah pintu kamar Gabriel.


Sesampainya dikamar, Gabriel mengambilkan Acha sebuah handuk. Lalu menyampirkan ditubuh Acha.


"Apa mau aku belikan baju buat ganti Cha? Atau mau pake punya Mama aja?" tawar Gabriel.


"Nggak usah Gab. Kamu disini aja." ucap Acha semakin mengeratkan pelukannya. Dan Gabriel yang langsung merespon pelukan Acha. Menurutnya, hujan dan angin begitu membuai kulit dan perasaanya. Disela dinginnya tubuh, Ia merasakan kehangatan dari pelukan Acha. Membuat nafsu liar itu semakin bergejolak. Tak pernah ia melakukan ini bersama Shilla. Membuat Gabriel kelabakan sendiri menghentikan nafsu liarnya agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Keduanya terhanyut dalam suasana hingga perlahan Gabriel terbuai dengan godaan Acha. Gadis dengan kulit putih seputih susu itu menggesek-gesekkan tubuhnya dengan tubuh Gabriel.


"Kenapa gitu Cha?"


"Biar hangat Gab. Aku butuh kehangatan." suara Acha terdengar berbisik ditelinga Shilla.


Gabriel yang tak kuasa mendapat perlakuan tersebut pun langsung ******* bibir Acha dengan lincah. Tangannya bergerilya kesana kemari mengakses tubuh Acha.


Shilla membalikkan badan dibalik tembok, tidak kuasa melihat Gabriel yang dengan lihai memainkan tubuh Acha.


"Ahhhh..." terdengar sekali ******* Acha ditelinga Shilla.


Dengan cepat, gadis itu mengeluarkan ponselnya dan merekam semua kejadian yang ada didalam kamar tersebut. Sesekali memotret kemesraan Acha dan kekasihnya.


Tanpa berkata-kata, Shilla langsung pergi dari tempat terkutuk itu.


[Flashback Off]


"Aaarrggghhhhh Gabriel lo brengseeekkkk!!!!"


Praannggg...


Kaca dikamar milik Shilla pecah menjadi seribu karna dilempar gelas oleh Shilla. Hatinya benar-benar hancur, seperti kaca yang ada dihadapannya tersebut. Sia-sia ia menjaga Gabriel selama 3 tahun. Sia-sia pengorbanan nya mencintai dan menyayangi Gabriel. Sia-sia semua yang sudah ia korbankan untuk kekasihnya tersebut.


Shilla tersenyum sinis dalam tangisnya. Tangannya mengepal. Ia melihat foto ditangannya. Foto yang ia ambil saat Gabriel mulai memainkan tubuh Acha.


"Lo berdua akan hancur ditangan gue."


Memang benar. Saat kita jahat, inilah kita yang tersakiti ketika kita sudah berbuat baik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2