Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 35


__ADS_3

"Om Rio!!"


Pemuda tampan dengan gigi gingsul disebelah kiri itu mendengkus kasar. Ia menutup bacaan korannya, lalu menatap kesal kearah gadis kecil yang baru saja lulus dari dunia sekolahnya.


"Ada apa?" Tanyanya tak sabaran. Ia berdiri lalu memasukkan kedua tangannya dimasing-masing saku celana kanan dan kiri.


"Aku keterima kerja di Cafetaria Om!" Liana tersenyum girang lalu meloncat kedalam gendongan Rio.


Membuat Rio memekik tertahan akibat harus menampung tubuh sintal milik gadis tersebut.


'****!' desisnya didalam hati.


"Terimakasih Om! Karena udah bantu Liana buat dapatin pekerjaan ini!"


Kecupan hangat mendarat dipipi kanan Rio. Lalu dengan lembut, ia turunkan sang gadis.


"Iya sama-sama.


Liana beringsut meninggalkan Rio diruang keluarga dengan televisi yang masih menyala tanpa ada yang menonton.


Sedang Rio menatap kepergian Liana dengan senyum kecil terutas dibibir manisnya. Ia meraba pipi halus yang baru saja dikecup oleh sang gadis.


Ya, ia tahu bahwa gadis kecil miliknya itu hanya menyuarakan rasa bahagia dan terimakasihnya atas kerja keras yang ia lakukan demi mendapatkan sebuah pekerjaan kecil ini.


Ditawari untuk masuk kedalam dunia bisnisnya, namun sang gadis menolak dengan alasan ingin belajar dari hal yang terkecil lebih dulu. Baiklah, Rio harus mengerti.


Sejak ia memutuskan untuk menolong Liana, maka ia juga harus bertanggung jawab penuh atas diri dan hidup sang gadis tersebut.


***


Pagi ini, Liana sudah terlihat rapi dengan setelan kemeja dan celana kain berwarna senada. Ia tersenyum sangat manis saat berhadapan dengan Rio.


"Pasti ada maunya." Gumam Rio. Mendengar itu, Liana semakin melebarkan senyumnya.


"Om kan mau berangkat kerja, Liana ikut ya! Ampirin lah ke Cafetaria. Kan dekat tuh sama kantornya Om."


Rio memutar bola matanya malas. Ia sangat tak suka mendengar Liana memanggilnya dengan sebutan, Om.


"Ya baiklah. Tapi-"


Gadis itu menatap Rio dengan tatapan menyelidik. Ia was-was akan ucapan yang akan dilontarkan Rio selanjutnya.


"Jangan panggil aku Om. Aku tidak setua itu. Panggil aku Kak! Anggap aku adalah kakakmu."


Liana tersenyum tertahan mendengar itu. Ia mengulum bibirnya sendiri.


"Oke kak!"


"Dan satu lagi!"


"Apa?"

__ADS_1


Rio menatap Liana dari atas hingga bawah. Lalu kembali lagi keatas, dan mendekat kearah wajahnya.


"Jangan cari kontrakan. Tinggallah disini. Supaya aku ada temannya."


***


Berbelanja disupermarket terdekat bukanlah hal yang buruk bagi Ify Alyssa, meskipun harganya lumayan mahal daripada supermarket besar yang biasa disebut swalayan toserba. Ia hanya ingin cepat berbelanja dan memasak untuk sarapan paginya.


Debay didalam perutnya sama sekali tidak bisa diajak berkompromi untuk menahan lapar. Maka ia memutuskan untuk membeli sayur seadanya saja didekat rumah.


Baru saja melangkahkan kakinya keluar dari pintu supermarket, ia sudah dihadang dengan kehadiran Gabriel.


Astaga! Sudah beberapa hari ini hidupnya sudah tenang, kenapa pemuda satu ini harus datang lagi? Ia yakin, pasti Shilla yang menyuruhnya datang.


Menyebalkan!


"Mau apa lagi sih Gab?" Kesalnya. Ia sampai tidak mau menatap wajah Gabriel dihadapan.


"Ikut aku Fy."


"Buat apa? Ketemu Shilla? Ngapain sih? Kalau dia beneran mau minta maaf sama aku, harusnya dia datang kesini sendiri Gab!"


Gabriel menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan kepada Ify kalau mantan sahabatnya itu sudah...


"Fy please! Ikut aku, sebentar aja!"


"Nggak! Aku mau pulang, mau masak. Aku lapar!"


"Aku beliin kamu makanan jadi ya, kamu nggak perlu repot-repot masak."


Berlalu begitu saja tanpa menghiraukan teriakan Gabriel yang memanggil namanya berulang kali. Baginya itu sangat mengganggu.


Moodnya pagi ini hancur karena Gabriel datang padanya.


Tanpa mereka sadari, diseberang jalan ada sebuah mobil berwarna hitam mengkilat, didalamnya seseorang memperhatikan keduanya hingga melihat Ify berlalu meninggalkan Gabriel.


Diam-diam, ia berusaha mengikuti langkah kemana Ify pergi


***


Setelah mengantarkan Liana ketempat kerja barunya, pemuda yang sering disebut Pak Mario itu bergegas meninggalkan pekarangan Kafe.


Berjalan pelan disepanjang jalan hingga ia berhenti mendadak disebuah pinggir jalan dekat supermarket. Merasa mengenal seorang gadis yang baru saja memasuki supermarket, ia ingin beranjak meninggalkan mobilnya dan bertemu dengan gadis. Namun, belum juga ia membuka pintu mobilnya, mata elang pemuda itu sudah menangkap siluet seorang pria yang juga ia kenal.


Merasa ada yang janggal dengan sang pemuda, Rio berusaha untuk menahan dirinya agar tidak menemui sang gadis. Ia hanya menunggu, hingga sebuah pemandangan tak mengenakan datang dihadapannya.


Ify berlalu meninggalkan Gabriel begitu saja, dengan wajah yang terlihat kesal.


Karena begitu penasaran dengan apa yang membuat gadis itu cemberut, ia berjalan meninggalkan tempat parkirnya, mengikuti langkah sang gadis hingga tiba disebuah rumah.


***

__ADS_1


Ify menghembuskan nafasnya dengan pelan, ia benar-benar tidak mood saat ini untuk bertemu siapapun. Tapi lihatlah, mantan kekasihnya itu malah datang dengan senyum yang baginya sangat menyebalkan.


"Ngapain sih kesini? Tau darimana rumah aku?"


Rio mengendikkan bahunya acuh, ia berjalan memasuki rumah Ify bahkan sebelum sang pemilik mempersilahkannya masuk.


Mata elang Rio menelisik kekanan dan kekiri, menatap sudut-sudut rumah dengan pandangan yang entahlah.


"Rio!"


"Apa?" Membalikkan badannya dan menatap Ify yang masih berdiri diambang pintu.


"Nak Rio?"


Rio maupun Ify menoleh keatas tangga. Mendapati Umari yang tengah turun kelantai bawah ingin menemui Rio, bibir pria paruh baya itu tersenyum hangat menyambut kedatangan Rio.


Setelah sampai dihadapan, Umari langsung memeluk Rio dengan erat. Begitupun sang pemuda, yang mungkin masih merasa canggung akibat kesalahan dimasa lalu yang membuat hidupnya sendiri kacau berantakan.


"Om Umari? Apa kabar Om?"


"Ya, Om baik. Kamu apa kabar? Om dengar dari Haling, kamu sekarang yang menjalankan bisnisnya? Kamu hebat. Bisnis Haling berkembang pesat saat kamu yang memegang perusahaanya."


"Om tau darimana? Papa Haling sendiri yang bilang ke Om kalau aku yang pegang perusahaan Papa?"


"Iya, tentu saja. Ayo duduk." Umari melangkah sembari menggeret Rio duduk disebuah sofa ruang tamu. Matanya mengasih kode Ify agar membuatkan Rio minuman juga membawakannya cemilan untuk dimakan.


"Tapi, bukannya selama Om dan Ify diluar negeri, keluarga kita nggak ada komunikasi ya Om?" Rio bertanya dengan menggaruk kepalanya.


"Siapa bilang? Om sama Papa kamu masih sering berkomunikasi. Hanya saja, Om tidak memberitahu Papa kamu dimana keberadaan Om dan Ify." Menghela nafas sejenak, Umari mulai menceritakan sebab apa yang membuatnya menghilang dari pandangan semua orang sejak beberapa tahun yang lalu.


"Om hanya ingin ketenangan Ify saat itu, jadi Om memutuskan untuk menghindar dari semua pandangan siapapun Rio."


"Terus, perusahaan Om saat ini siapa yang ngejalanin?"


"Oh, itu ada orang kepercayaanku selama beberapa tahun. Dia anak dari sahabat Om juga, sudah Om anggap seperti anak sendiri."


"Nih minumnya!" Tiba-tiba Ify sudah berada disebelah meja lengkap dengan minuman juga cemilan. Wajahnya masih saja tertekuk lesu. Moodnya belum kembali.


"Fy aku mau ngomong sama kamu." Suara baritone milik Rio menghentikan langkah Ify yang ingin meninggalkan dirinya dan sang Ayah.


"Ya sudah, kalian ngobrol dulu aja. Ayah mau keatas lagi ya." Umari tersenyum hangat kemudian pergi meninggalkan kedua putra putri itu.


Ify duduk dihadapan Rio, tepat dibekas sang Ayah mendudukinya.


"Aku mau nanyain soal Gabriel. Aku lihat tadi kamu ngobrol sama Gabriel, ada apa?" Ucapan Rio terdengar sangat hati-hati sekali. Ia takut menyinggung perasaan sang mantan.


"Dia mau nyampein maafnya Shilla ke aku."


"Soal yang dulu? Kenapa gitu?"


Menghela nafas panjangnya, Ify kemudian berkata..

__ADS_1


"Bukan cuma yang dulu. Tapi beberapa bulan yang lalu juga. Shilla selingkuh sama Adam."


BERSAMBUNG....


__ADS_2