Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 8


__ADS_3

Pagi ini, empat gadis manis nan cantik itu sudah berkumpul di basecamp mereka yaitu kantin. Pasangan mereka tidak terlihat karena sibuk dengan tuntutan status mereka disekolah yaitu OSIS. Tak ingin dikata perempuan yang tidak mengerti, mereka selalu menurut apapun perkataan sang kekasih. Tak menuntut ini dan itu. Pada dasarnya, saat kita menerima cinta daei seseorang, entah itu masa lalunya, masa depannya, dan semua tentangnya akan kita terima. Itulah konsekuensi dalam mencintai.


"Shill, gimana sama Gabriel? Lo udah tanya tentang Acha?" tanya Sivia. Ia sembari menyeruput minumannya yang dingin itu.


"Kalian lihat ini deh." Shilla menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Wajahnya terlihat sangat riang, seolah apa yang ia perlihatkan adalah hiburan untuknya.


Agni, ify, dan Sivia menganga tak percaya. Inikah Gabriel? Pikirnya.


"Shill, itu bukan editan kan?"


"Ya bukanlah. Mana ada gue edit-edit foto. Nggak jelas banget."


"Terus, lo dapat foto itu dari mana Shilla?!"


"Kemarin, sebelum gue nggak masuk sekolah, gue ikutin Gabriel yang kayak ngehindar dari gue waktu pulang sekolah. Ternyata dia jemput Acha pas hujan sore itu, di taman. Kayaknya dia di titipin Bokap nya ke Gabriel deh. Terus sama Gabriel dibawa ke rumah. Dan ya gitulah, mungkin mereka terbawa suasana." jelas Shilla panjang lebar. Ia menyeruput minumannya sama seperti Sivia. Sama sekali tidak terlihat bahwa ia punya segudang beban dipundaknya.


"Lo cerita kayak gini kayak nggak punya beban aja deh Shill. Lo nggak sakit hati?" heran ify. Ia tidak menemukan raut wajah tak senang dari wajah Shilla.


"Fy, lo nggak lihat mata gue bengkak dan sembab kayak gini? Ini karna gue nangis terus pulang dari rumah Gabriel sampai tadi pagi." jelas Shilla menggebu-gebu. Sialnya, meski ia sudah menutupi semua yang ia rasakan, tetap saja ia tak mampu menahannya ketika sudah berhadapan dengan seseorang yang mengerti akan dirinya.


"Lo nggak putusin Gabriel Shill? Dia udah berkhianat sama lo, 3 tahun lo sama sama dia. Itu sama sekali bukan waktu yang singkat" ucap Agni.


"Gue putusin kok. Tapi gue mau balas dendam dulu sama dia, yang pasti gue bakal sebar ini foto dan dia bakal dikeluarin dari sekolah ini. Mungkin nggak seberapa sama sakit hati yang gue rasain Ag, tapi seengaknya dia ada masalah. Dengan dia dikeluarkan dari sekolah ini udah memicu masalah buay keluarga dia."


"Terus Acha? Lo nggak bikin perhitungan juga sama dia? Wanita kayak gitu nggak bisa dibiarin lolos. Biarlah lo dikata psikopat atau apa. Sakit hati lebih dalam dari apapun. Itulah kenapa kita bisa jadi jahat. Karena baiknya kita itu nggak pernah terlihat."


"Jelas bikinlah. Gue juga bakal sebar foto ini di sekolah dia. Dia pasti hamil, gue yakin itu."


"Lo yakin darimana? Memangnya kalau berbuat satu kali, bisa langsung jadi, gitu?"


"Gue yakin mereka ngelakuin itu bukan cuma satu kali aja Ag, pasti berulang-ulang. Acha aja lihai gitu godain Gabriel."


"Lo nggak kepengen kan Shill waktu lihat Gabriel sama Acha?" celetuk Ify, ia memamerkan giginya yang dibalut kawat tersebut. Shilla memandangnya tajam dengan mata melotot. Bisa saja ia langsung menonjok wajah manis Ify, tapi sudahlah. Ify hanya bercanda.


"Shill lo yang sabar ya, gue tau ini berat buat lo. Gimanapun, lebih baik kita ditusuk dari depan daripada dibelakang. Apalagi ini perbuatan fatal banget. Lo nggak mungkin lanjutin ini semua sama Gabriel kan? Lo yang jaga diri lo dari semua godaan, masa iya harus sama Gabriel yang brengsek gitu?" ify memeluk pundak Shilla.


Air mata yang sudah ia tahan akhirnya meluruh juga. Shilla menundukkan kepalanya, mengatur emosinya. Ia tak ingin terlihat cengeng dihadapan sahabatnya. ia tidak lemah, pikirnya. Namun kenyataannya, sakit itu lebih terasa saat ia mengingat semuanya.


"Gue minta maaf sama kalian. Mungkin setelah ini, gue bakal pindah ke Australia ikut sama bokap gue." ucapnya pelan. Tangisnya semakin menjadi.


"Gue tau Shill lo nggak mau lagi ngelihat muka Gabriel. Gue tau. Gue dukung apapun keputusan lo. Asal lo jangan lupain kita. Kita sahabat lo. Kalau lo ke Indo lagi, kita main bareng ya" ucap Agni. Mereka berempat berpelukan.


"Gue pergi bentar ya, mumpung masih sepi." ucap Shilla lalu berlari menuju mading.


***********


Siang ini, SMA NURAGA digegerkan dengan sebuah foto yang beredar dimana-mana. Bukan hanya di mading, tapi juga seluruh penjuru sekolah ini ada foto tersebut.


Foto itu menampakkan dua manusia yang sedang dibuai asmara. Siapa lagi kalau bukan Gabriel dan Acha. Ada yang pose berpelukan, ada yang berciuman, ada yang sudah di ranjang, dan masih banyak lagi. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Shilla.


Berdecak semua manusia yang ada diseluruh sekolah tersebut. Antara percaya atau tidak percaya, antara kesal sendiri, dan juga ilfil dengan sikap Gabriel. Banyak yang menyayangkan sikap waketos seperti Gabriel harus seperti itu. Maka, jika mereka yang terlanjut kagum dan bahkan kepalang cinta dengan Gabriel, menyebut foto itu adalah editan belaka.


Hingar bingar dan kasak kusuk masih terdengar jelas ditelinga Gabriel saat laki-laki itu melintasi lorong menuju ruang kepala sekolah.


"Udah dapat yang sempurna kayak Shilla, masih aja selingkuh. Emang dasar buaya"


"Shilla yang cantik dan pintar juga good atitude aja diselingkuhi, apalagi gue."


"Sok banget sih, muka aja ganteng tapi kelakuan kayak hewan."


Dan masih banyak lagi yang ia dengar. Berusaha menutup telinga dengan sedikit berlari menuju ruangan ysng ia tuju.


"GABRIEL!!" kepala sekolah menatap tajam Gabriel dihadapannya dengan mata melotot seperti ingin keluar. Pria itu hanya menunduk lesu. Tak tahu lagi harus berkata apa.

__ADS_1


"Sebelum saya menghakimi kamu, saya tanya. Apa benar foto yang saya pegang ini?" Kepala sekolah tersebut menyerahkan foto dengan posisi Gabriel yang tengah menindih tubuh Acha tanpa sehelai benang apapun yang jadi penghalang.


Gabriel hanya mengangguk saja.


"Apa yang ada diotak kamu Gabriel!? Kenapa bisa kamu mencemarkan nama baik sekolah ini HAH!? Bagaimana bisa kamu berbuat senonoh seperti ini?"


Gabriel hanya masih menunduk. Ia tak menyangka jika perbuatannya kemarin diketahui seseorang. Padahal ia melakukannya di kamarnya sendiri. Siapa orang itu? Pikirnya.


"Maaf Gabriel, saya tidak bisa kasih toleransi kepada kamu lagi. Kamu saya keluarkan dari sekolah ini. Besok, datanglah bersama kedua orang tuamu"


"Tapi Pak, saya bisa jelaskan pak." ucap Gabriel terbata-bata. Ia sangat panik.


"Apa yang ingin kamu jelaskan? Kamu sendiri yang mengakui bahwa foto itu jelas, dan bukan editan. Itu kamu yang ada didalam foto."


"Pak, saya melakukan itu diluar sekolah pak, itu dirumah saya sendiri."


"Tapi perbuatan kamu itu tersebar dimana-mana Gabriel. Disekolah lain juga ada foto kamu itu. Entah siapa yang menyebarnya, yang jelas nama sekolah kita sudah tercoreng karena ulah kamu! Kita mau menerima siswa didik baru, tapi karena mengetahui perbuatan senonoh kamh ini mereka semua menganggap bahwa sekolah kita salah dam mendidik murid-muridnya. Semua orang tahu kamu Gabriel, mereka tahu kamu siswa di SMA NURAGA ini. Apalagi kamu waketos! Astaga, saya tidak bisa mentoleri kamu lagi!"


"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi. Besok kamu bawa orang tua kamu kesini."


"Tapi pak-"


"Keluar sekarang."


Dengan mendengus, Gabriel pergi dari ruangan terkutuk itu.


Melihat Gabriel keluar dari ruangan kepala sekolah, Shilla tersenyum miring. Ya, tujuannya hanyalah satu. Membuat kekasihnya itu dikeluarkan dari sekolah sebelum ia pergi dari Indonesia.


"Maaf Gabriel, tapi kamu sudah menyakiti aku. Jadi, inilah akibatnya." ucapnya pelan.


**********


Tak hanya di SMA NURAGA, di SMU KENDALITA juga sama hebohnya kendati foto-foto Gabriel dan Acha yang tersebar di seluruh penjuru sekolah.


Acha tersedu-sedu dipinggir sekolah, ia tidak mungkin pulang ke rumah karena pasti akan diceramahi habis-habisan oleh orangtuanya.


"Acha, ayo pulang!" ucap seseorang dari dalam mobil yang baru saja berhenti. Acha sesegera mungkin mengusap air matanya dan masuk kedalam mobil.


PLAAKK !!!


"BIKIN MALU!!" tamparan keras mendarat di pipi Acha.


Ayahnya benar-benar murka melihat kelakuan anaknya. Rupanya, foto itu juga dikirimkan Shilla ke alamat kantor ayahnya Acha. Dan sekarang, inilah kemurkaan ayahnya. Melihat perbuatan anak gadisnya yang baru saja beranjak dewasa seperti iru, membuat darahnya mendidih dengan ceoat. Ia merasa gagal menjadi seorang Ayah dalam hidup anaknya.


Ibu Acha hanya menangis disudut kursi, tak tau harus berbuat apa. Ia juga tidak bisa membela Acha karena disini anak gadisnya lah yang bersalah.


"Acha! Kamu tau Gabriel itu pacarnya Shilla. Kamu tau Gabriel itu hanya sahabat kamu. Kamu tau Gabriel dan kamu itu masih sekolah Acha! Kenapa kalian bisa seperti itu?!" ucap Ayah Acha tak menyangka bahwa anaknya bisa seperti itu. Acha hanya menangis tak bisa menjawab.


"Bagaimana kalau kamu hamil?! Apakah Gabriel mau bertanggung jawab?! Apakah kamu bisa diterima dilingkungan kamu ini!? Kamu hamil diluar nikah, apa kata tetangga dan teman-teman bisnis papah nanti Cha!?"


"Bagaimana kalau Gabriel pergi melarikan diri? Bagaimana kalau orang tua Gabriel tidak suka sama kamu? Bagaimana kalau--"


"PAH STOP!!"


Acha berdiri dan memotong pembicaraan Ayahnya.


"Kalaupun Acha nanti hamil, Acha akan minta tanggung jawab Gabriel."


"Kamu yakin kalau Gabriel akan bertanggung jawab? Kamu yakin Gabriel akan lebih memilih kamu daripada Shilla? HA!?"


"Katakan, siapa yang memulainya?"


"Aku dan Gabriel Pa."

__ADS_1


"Kalau begitu, kalian harus menikah!"


Acha hanya terdiam. Ayahnya mengusap kasar wajahnya lalu pergi meninggalkan rumah. Sementara ibunya hanya pasrah saja.


**********


Rio, Alvin, dan Cakka masih berdiam di bangku ruang osis. Diam dengan pikiran masing-masing.


"Lo bertiga mikirin gue ya?" ucap Gabriel diambang pintu ruangan. Alvin, Rio, dan Cakka tidak ada yang memandangnya. Semuanya masih kecewa kepada sahabat satu tongkrongannya tersebut.


Gabriel berjalan dan duduk dibangku yang kosong. Menghela nafas sejenak.


"Kenapa lo tega khianatin Shilla? Lo sama dia udah 3 tahun bareng-bareng. Kurang baik apa Shilla sama lo? Lo kurang apasih Gab?" cecar Alvin.


"Gue nggak tau gue kenapa. Yang jelas, gue nyaman sama Acha. Dan kemarin kejadiannya cukup singkat menurut gue. Gue nggak sadar. Gue khilaf." jelas Gabriel menunduk.


"Lo rela ngelepasin Berlian demi kerikil." ucap Rio membandingkan Acha dan Shilla yang jelas tidak setara.


"Gue nggak bakal lepasin Shilla." Keyakinan Gabriel membuat Cakka tertawa.


"Setelah lo nikmatin tubuh Acha, lo tinggalin dia? Apa lo pikir Shilla juga mau sama lo? Lo yang udah bekasnya Acha ini? Dia bahkan nggak akan mau ngeliat muka lo lagi." ucap Cakka menimpali.


"Tapi--"


"Udahlah Gab, Lo pergi. Gue kecewa sama lo. Kejar tuh Acha lo." ucap Alvin dan berlalu pergi. Rio dan Cakka mengikutinya.


Gabriel membuang nafasnya kasar. Ia masih berfikir, siapa dalang yang sudah menyebarkan foto-foto itu.


Ia harus menemui Shilla pulang sekolah nanti untuk menjelaskan semuanya.


**********


Malam tiba. Ify masih berkutat dengan bukunya. Belum makan padahal jam sudah menunjukkan jam 8 malam.


Ponselnya berdering. Menunjukkan nama "RIO" disana.


"Hallo Rio." sapanya.


"Hallo sayang."


ify mengatupkan mulutnya menahan geli di dalam dadanya.


"Kok diem?" ucap Rio diseberang telpon.


"Hem nggak papa. Kamu lagi apa?"


"Lagi kangen nih."


"Kangen siapa?"


"Kamu dong. Masa hantu."


ify hanya terkekeh kecil. Ia melangkah menuju balkon kamarnya sambil masih berbicara dengan Rio.


"Rio, aku boleh minta sesuatu sama kamu ?"


"Apa sayang?"


"Nanti kalau kita ada masalah, kamu jangan lari ya dari aku. Kita selesaikan bareng-bareng."


"Iyalah Fy, kalo ada masalah kan emang harus diselesaikan bareng-bareng. Nggak baik lari dari masalah. Kan aku bukan Gabriel."


ify tersenyum sekilas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2