
Menemani dari nol tidak menjamin pasangan bisa setia. Pada akhirnya dia akan lebih tertarik dengan seseorang yang lebih baik darimu, dia juga akan mengingkari janji-janji yang dia ucapkan dulu. Dan pada akhirnya kamu dianggap sebagai batu loncatannya saja.
Sama seperti hubungan Gabriel dan Shilla. Saling bersama dalam suka maupun duka, sama-sama berawal dari 0, hingga pada tahap akhir mendekati kuliah, kerja, lalu menikah, dan merintis karir bersama. Semua akan baik-baik saja tanpa pengkhianatan.
Pagi ini, kelas 12B sunyi senyap. Semua fokus mencatat pelajaran yang diberikan wali kelasnya.
Wanita paruh baya nan gendut itu berkeliling disela-sela bangku para siswanya. Melihat-lihat apakah ada yang menyontek atau tidak.
Selang beberapa menit, bel istirahat sudah berbunyi. Semua siswa dan siswi merapikan buku-buku mereka dan bergegas pergi setelah Mini juga meninggalkan kelas.
Ify, Sivia, Agni, Rio dan Alvin berjalan menuju kelas Cakka dan Gabriel. Kedua manusia itu keluar kelas, namun hanya Cakka yang dijemput. Mereka terlalu kecewa dengan Gabriel.
"Kalian musuhin gue?" tanya Gabriel saat mereka beranjak hendak meninggalkannya didepan kelas.
"Pikir pake otak lo." ucap Agni sengit. Ia sangat membenci Gabriel. Karena baginya, Gabriel lah satu-satunya penyebab ia kehilangan Shilla.
Setelah sampai di kantin, Rio bergegas memesankan makanan dan minuman untuk sahabat juga kekasihnya.
Mereka bercengkrama dan bercanda, seolah memang dunia merestui mereka. Membersamai mereka. Dan membahagiakan mereka.
"Shilla dimana?" lagi-lagi Gabriel datang menemui mereka.
"Shilla udah nggak sekolah disini lagi. Lagian, lo kan juga udah dikeluarin. Ngapain sih masih disini? Orangtua lo juga udah selesai tuh urusannya. Pulang sana." ucap Agni.
"Gue mau tau tentang Shilla. Gue belum ada komunikasi apapun sama dia." kekeuh Gabriel.
"Cari tau sendiri, lo sendiri yang putusin komunikasi lo sama Shilla demi selingkuhan lo yang nggak jelas itu. Lo punya otak dan badan lo masih sehat jasmani rohani. Atau, lo urusin aja tuh selingkuhan lo yang pasti lagi hamil entah anak lo yang keberapa."
"Lo nggak tau apa-apa Ag. Jadi diem aja, nggak usah ikut campur." Gabriel sedikit membentak Agni.
Plakkk !!!
Tamparan keras mendarat di pipi Gabriel. Hembusan nafas terdengar kembang kempis dari kedua kubu. Agni dan Gabriel. Agni mendekati Gabriel yang semula tersekat oleh meja.
"Apa sih yang gue nggak tau? Lo selingkuh ? Lo hamilin anak orang? Atau apa? Atau lo juga udah hamilin orang lain selain Acha? Apa Gab yang gue nggak tau? Katakan!" tantang Agni.
Gabriel pergi menjauh dari sahabat-sahabatnya. Karena ia tau, semakin ia meladeni Agni, maka semakin juga ia dipermalukan di sana.
Agni mencebikkan mulutnya. Menatap nanar pada kepergian Gabriel. Ia pun melenggang pergi begitu saja menuju kelas. Selera makannya hilang begitu saja.
"Bawain makanan Agni aja kekelas." usul Ify.
*********
Gabriel pergi menuju rumah Shilla. Ia harus benar-benar menjelaskan sesuatu kepada Shilla. Entah itu tentang apa.
Tok..tok..tok
Pintu terbuka dan muncullah asisten rumah tangga Shilla.
"Ehh den Gabriel. Ada apa den?"
"Shilla nya ada bi?"
"Non Shilla pindah ke Australia den. Semalam sudah berangkat. Memangnya tidak mengabari den Gabriel?"
Gabriel termangu didepan pembantu Shilla. Australia? Jauh sekali. Apa ini ada hubungannya dengan masalahnya disekolah kemarin?
__ADS_1
"Oiya, non Shilla nitipin surat buat den Gabriel." Asisten rumah tangga itu masuk kedalam rumah beberapa saat lalu keluar membawa sesuatu, memberikan secarik kertas putih kepada Gabriel.
"Makasih ya bi." ucap Gabriel lalu pergi menuju mobilnya.
Didalam mobil, Gabriel membaca surat dari Shilla.
Hallo Gabriel..
Maaf ya, aku nyebarin foto kamu sama Acha disekolah kita dan sekolah Acha juga. Aku kelewat sakit hati sama kamu. Mulai hari ini, kita selesai. Terimakasih udah kasih aku janji kamu yang katanya mau nikahin aku kalau udah lulus. Nyatanya kamu malah selingkuh sama Acha. Maaf ya Gab, aku pergi. Semoga kamu sama Acha bahagia. Dan kalau nanti Acha hamil, kamu wajib harus nikahin dia.
Gabriel memukul kepalanya berulang-ulang. Ia sangat bodoh karena sudah meninggalkan Shilla demi Acha. Shilla yang sangat mencintainya, malah ia khianati begitu saja. Dimana lagi ia menemukan seseorang yang mencintainya setulus dan sesetia itu?
"Maafin gue Shil" lirihnya.
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN.
Hari ini adalah hari kelulusan bagi para siswa dan siswi kelas 12B di SMA NURAGA.
Sekian lama mereka berjuang menghadapi ujian-ujian dan praktek-praktek membuat penat kepala, akhirnya membuahkan hasil. Hasil yang sangat membanggakan.
Rio, Avin, dan Cakka menghampiri gadis-gadisnya.
"Akhirnya kita lulus juga yeeaayyy!!" seru mereka.
"Tapi gue sedih karena kita bakalan berpisah." ucap Ify.
Rio merangkul gadisnya. Ia mencoba memberi ketenangan senyaman mungkin.
"Nggak boleh sedih, Cakka sama Agni kan pergi buat masa depan mereka. Kita disini aja nungguin kabar baik dari mereka." ucap Rio menenangkan.
Memang, setelah lulus sekolah, Cakka dan Agni dikirim orang tua mereka ke sebuah universitas ternama diluar negeri. Agar setelah mereka lulus kuliah, mereka bisa menikah dan meneruskan warisan perusahaan ayahnya masing-masing.
Malam tiba. Alvin mengajak Sivia untuk makan malam disebuah restorant romantis dekat taman.
"Lo kuliah dimana Vi?" tanya Alvin.
"Loh, bukannya lo udah tau gue mau kuliah dimana? Kok nanya lagi sih?" ucap Sivia heran. Ia menyeruput minumannya. Alvin hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Vi gue mau ngomong sama lo." detak jantung yang sangat tidak normal sekali bagi Alvin. Entah mengapa.
"Ngomong ajalah. Daritadi juga lo ngomong kan."
"Gue suka sama loe Vi."
Sivia memelototkan matanya. Menghentikan kunyahan makannya sembari menatap Alvin dengan mulut yang sedikit terbuka.
"What!? Sejak kapann?" pekiknya kaget.
"Udah lama Vi. Tapi gue nggak berani jujur. Takut lo marah terus nggak mau sahabatan sama gue lagi." jujurnya.
"Ya ampun Vin nggak gitu juga. Gue seneng kalo lo jujur sama gue." Sivia tersenyum hangat.
"Gue nggak mau pacaran. Gue mau jalanin ini aja. Gue takut kalo kita pacaran nanti putus, kita jadi musuh. Gue nggak mau itu terjadi." ucap Sivia. Avin hanya mengangguk. Ia mengelus lembut tangan Sivia yang digenggamnya diatas meja.
"Hai Vin. Hai Vi." sapa seseorang.
Alvin dan Sivia menoleh kaget.
__ADS_1
"Agatha !?"
"Iya ini gue. Kenapa sih kok kaget banget kayak ngelihat hantu. Kalian berdua apa kabar?" gadis bernama Agatha itu duduk disebelah Alvin dan Sivia.
"Lo kapan di Indo? Bukannya lo minggat ke Paris ya? Kok balik lagi?" ucap Sivia beberapa saat setelah ia bisa menguasai dirinya dari keterkejutannya mengenai perasaan Alvin, juga mengenai kedatangan Agatha.
"Iya Vi, jadi papa gue balik kerja di Indo. Dan gue ikut juga. Gue kangen sama kalian."
"Kalian siapa?" pancing Sivia.
"Kalian semua lah, temen-temen gue. Apalagi sama Rio. Dia baikkan?"
"Denger ya Agatha, Rio udah punya pacar. Dia udah punya kehidupan baru sekarang. Jadi lo nggak usah ganggu dia dan pacarnya. Lo bukan tandingan Ify Alyssa." ucap Sivia. Lalu ia pergi bersama Alvin. Ia tidak menyukai keberadaan Agatha, menurutnya, Agatha hanya akan menghancurkan kebahagiaan mereka.
"Apa iya kalau gue bukan tandingannya? Gue bakal buktiin ke lo semua. Awas aja lo." uca Agatha sembari menatap kepergian Alvin dan Sivia.
**********
Kelas hukum, kini kedatangan murid baru. Kelas hukum yaitu kelas Rio dan Alvin. Sementara kelas Ify dan Sivia adalah kelas kedokteran.
"Pagi anak-anak."
"Pagi paakk!!!"
"Kalian kedatangan teman baru. Silahkan perkenalkan nama kamu."
"Kenalin nama saya Agatha Pricilla, kalian bisa manggil nama saya Agatha atau Pricilla. Saya pindahan dari Paris. Terimakasih."
Rio termangu. Kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan tiba-tiba tersentak hebat mendengar nama Agatha. Otaknya bekerja dengan cepat. Agatha banyak bukan, mengapa harus Agatha yang itu? Mengapa ia harus kembali? Pikirnya.
Alvin mengelus pundak saudaranya. Memberikan ketenangan, agar tak terlalu heboh dengan kedatangan Agatha.
"Silahkan duduk Agatha."
"Terimakasih pak."
Agatha berjalan menuju bangku kosong tak jauh dari tempat Rio. Ia tersenyum menatap Rio yang juga menatapnya.
"Hai Rio." ucapnya sambil melambaikan tangan.
Rio melengos menatap Alvin disampingnya.
"Sabar Yo." ucap Alvin. Ia tahu bagaimana perasaan Rio saat ini. Pasti sangat hancur.
**********
Ify dan Sivia bersemangat 45 menuju kelas kekasihnya. Kelas mereka sudah selesai, dan saatnya mereka mengisi perut yang kosong.
Sivia menahan Ify diambang pintu. Sivia kaget bukan main melihat Agatha ada dikelas itu.
"Heh, kok lo ada disini? Ngapain?" cerocos Sivia mendekat pada Agatha yang barus saja memasukkan buku kedalam tas.
"Ya kuliah dong Sivia." ucap Agatha tersenyum menang. Ia memperhatikan gadis tirus disebelah Sivia.
"Ini pacar Rio?" tanyanya.
Belum sempat Sivia menjawab, ify sudah ditarik oleh Rio dan dirinya ditarik oleh Alvin.
__ADS_1
"Bener dugaan gue." batin Agatha.
Bersambung...