Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 30


__ADS_3

5 TAHUN KEMUDIAN


Dibandara ternama di Jakarta, seorang gadis dengan seorang anak kecil berusia sekitar satu setengah tahun menjelajahi lantai dengan santai. Berjalan melenggak lenggok bak artis dengan kepopulerannya. Tak menghiraukan tatapan iri atau tatapan menggoda dari sebagian pengunjung dibandara tersebut.


Anak kecil berjenis kelamin pria itu melepas kacamata hitamnya, mendongak kearah Mommy-nya.


"Kemana Daddy Mom? Kok belum sampai?"


"Dia menunggu diparkiran mobil, sayang. Sekarang kita kesana ya."


Pria kecil dengan senyum lebar diwajahnya itu terus berjalan di samping Mommy nya. Ia menggenggam erat tangan Mommy nya tak mau terpisah. Debaran rindu semakin terasa ketika ia melihat siluet pria dewasa yang mirip dengan wajahnya. Tak ada yang berbeda dari semua fisik yang kedua pria berbeda usia itu yang mereka miliki.


"Daddy!" Pria kecil itu berteriak lalu merengkuh tubuh Daddynya. Kecupan hangat mendarat dikeningnya ketika tubuhnya digendong oleh pria dewasa yang ia sebut dengan Daddy.


"Daddy baik kan? Kok lama sekali nggak pernah nengokin aku?"


"Maaf ya sayang, Daddy sibuk terus sampai nggak ada waktu buat nengokin kamu ke Australia. Tapi tenang aja, mulai sekarang kita akan bersama selamanya. Disini."


"Disini?"


"Iya, disini. Di indonesia. Rumah Daddy dan Mommy dulu. Kamu senang?"


"Apapun itu, aku senang. Asal ada Mommy dan Daddy."


Pria kecil itu mengecup pipi Daddy dan Mommy nya secara bergantian. Membuat tawa lepas itu terdengar renyah dengan bahagia.


"Kamu apa kabar sayang?"


"Aku baik. Aku kangen sama kamu."


Gadis yang dipanggil Mommy oleh pria kecil itu memeluk kedua pria dengan usia yang terpaut jauh itu dengan erat.


"Kalian adalah kebahagiaan ku saat ini."


"Ya sudah, ayo. Kita makan siang dulu ya."


Memasuki mobil pribadi mereka, lalu pergi meluncur meninggalkan Bandara dengan cepat. Segera beralih tempat menuju restauran ternama disana. Mengisi perut yang kosong dengan semburat kebahagiaan yang telah mereka raih selama 5 tahun lamanya.


Saling menjaga, melindungi, dan mengasihi sebisa yang mereka mampu. Hingga hadirlah sesosok pahlawan junior dengan 80% kemiripan dengan Daddy-nya. Memberi kebahagiaan itu lengkap sudah. Tak kurang satupun.


***


Rio berjalan memasuki tempat yang sebentar lagi akan mengenyangkan perut kosongnya. Memandang sekitar, memastikan gadis yang ia ajak kesini sudah datang terlebih dahulu. Lambaian tangan ia dapatkan ketika pandangannya mendarat dimeja nomor 7. Gadis itu tersenyum manis, senyuman yang selalu mampu menghipnotisnya dengan mudah.


"Udah lama?" Tanyanya, ia lalu mengambil duduk dihadapan gadisnya. Gadis yang baru saja menggeleng, mendengar pertanyaannya.


"Mau apa ngajak ketemuan?"


"Shill, aku nggak mau basa-basi. Tapi aku rasa, hubungan kita berhenti cukup sampai disini saja."


"Tapi kenapa Rio Kita udah bertahun-tahun berjuang buat dapatin restu orang tua kamu."


"Sampai kapan pun Mama sama Papa aku nggak bakalan setuju sama hubungan kita Shil."

__ADS_1


Gadis itu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ya benar, berjuang dengan segala hal dan segala cara takkan mampu meluluhkan hati Haling dan Manda. Semua cara sudah Rio dan Shilla lakukan, namun tetap saja tak membuahkan hasil.


"Aku tau Rio. Tapi aku benar-benar nggak bisa kalau harus kehilangan kamu."


"Shill, mau sampai kapan kita mengulur waktu? Sampai puluhan tahun pun lamanya Mama sama Papa kayaknya bakalan nggak setuju sama hubungan ini. Percuma kan? Kamu nggak mau nyari seseorang yang bisa menerima kamu dan keluarga kamu apa adanya? Kamu nggak capek sama hubungan ini?"


"Aku paham Rio. Aku ngerti. Kamu cuma nggak mau buat kecewa keluarga kamu. Aku tau itu. Aku hargai keputusan kamu apapun itu. Termasuk untuk pisah dari aku. Aku akan coba buat ikhlas sama keputusan kamu. Semoga kamu bahagia ya sama siapapun jodoh kamu nanti."


Rio menunduk ketika Shilla begitu saja meninggalkannya disana seorang diri. Menghembuskan nafasnya secara kasar, membuang sesak didadanya. Dua kali ia harus kehilangan seseorang yang teramat ia cintai. Jika mungkin yang dahulu adalah kesalahannya sendiri, mungkin yang ini adalah karma karena telah menyia-nyiakan seseorang dijamannya dahulu.


Pria itu mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya ia menyantap makanannya yang baru saja datang. Rasanya sangat hambar sekali. Sesekali matanya bertumpu pada pemandangan yang teramat menyesakkan, menyaksikan kebahagiaan orang lain ketika ia belum bisa merasakan kebahagiaan seperti itu juga.


Ya, kebahagiaan sebuah keluarga kecil. Seorang istri, seorang anak, dan seorang ayah. Keluarga kecil dengan tawa riang diseberang tak jauh dari tempatnya, kini menjadi sorotan matanya dengan sendu. Belum menangkap wajah dari orang-orang yang ia pandang sejak beberapa waktu yang lalu.


Namun seketika, pupil matanya melebar ketika baru saja tersadar siapa yang tengah ia tatap sekarang. Senyum gadis itu begitu tak asing. Dan pria yang sepertinya sudah menjadi suaminya itu juga tak asing sekali di ingatannya. Siapa mereka?


Rio berjalan mendekati meja mereka. Keluarga kecil yang sesekali terdengar tawanya itu terus menjadi pusat perhatian matanya. Tak teralihkan.


Begitu ia sampai dimeja itu, gadis dan pria yang tak asing baginya itu berdiri dan menatapnya dengan terkejut. Berbeda dengan pria kecil diantara mereka, ia hanya menatap dengan bingung karena tak mengenal pria yang usianya sama seperti Daddynya itu datang menghampiri.


"Rio?"


"Ify?"


***


Banyak hal-hal yang terasa berat untuk dilalui tanpamu, tapi tetap harus dilalui.. sulit diterima tapi harus diterima. Semesta kadang suka mengambil sesuatu tanpa aba-aba.~


Shilla melangkah kecil sembari menendang-nendang kerikil kecil ditaman seluas itu. Ia berulang kali menghembuskan nafasnya hanya untuk menghilangkan sesak didadanya akibat keputusan Rio beberapa waktu yang lalu.


Ia terduduk dikursi panjang yang disediakan disana. Menatap lekat pada jemari yang tersemat disandal yang ia pakai. Memang benar, hubungan bertahun-tahun tak akan ada hasilnya jika restu yang menjadi penghalangnya.


"Shilla?"


Gadis itu mendongak, menatap seorang gadis yang sedikit lebih pendek dari dirinya. Rambut hitamnya terurai cantik dengan poni badai yang tipis. Senyumnya mengembang dengan tipis menatapnya. Ia duduk disamping Shilla tanpa aba-aba.


"Lo apa kabar Shill?"


"Ngapain lo nemuin gue?"


Acha, gadis yang menemui Shilla itu tersenyum miring tanpa menatap Shilla. Pandangannya lurus ke depan menatap pada bocah-bocah kecil yang tengah bermain prosotan ditaman itu.


"Gue nggak sengaja ketemu lo disini. Habis dari supermarket."


Shilla hanya diam tak ingin merespon. Ia membuang muka dengan kasar. Sama sekali tak ingin berbicara dengan gadis disampingnya ini. Ia ingin beranjak, namun pergelangan tangannya sudah tergenggam oleh Acha. Menepis kasar, tanpa menoleh. Shilla kembali melanjutkan langkahnya.


"Shilla tunggu. Gue mau ngomong sama lo."


"Ngomong apa?" Shilla berhenti sejenak, masih membelakangi tubuh Acha.


"Gue, gue yang jebak Gabriel waktu itu. Dia nggak salah. Gue yang salah. Gue masukin obat perangsang ke minumannya didalam mobil waktu dia jemput gue."


"Kenapa? Karena lo ingin disentuh? Karena lo ingin dibelai?"

__ADS_1


Sungguh, Shilla baru saja mengetahui kebenaran itu setelah bertahun-tahun lamanya. Setelah ia mengorbankan segalanya. Kenapa baru sekarang gadis itu munculm Ada apa dengannya?


"Gue minta maaf Shill. Gue rasa, selama ini gue bisa miliki Gabriel seutuhnya setelah rebut dia dari Lo. Tapi nyatanya gue salah. Dia benar-benar nggak bisa gue miliki. Dan gue ngerasa bersalah sama lo."


"Setelah semua yang gue korbanin selama ini, lo baru sadar? Lo baru ngerasa bersalah? Gue harap lo nggak mabuk sekarang."


"Enggak Shill. Gue minta maaf sama lo."


Shilla tercengang. Ia kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan sakit hatinya yang bertalu-talu.


"Apa bedanya gue sama lo Shil? Gue khianatin lo, tapi lo khianatin ify. Kita sama kan? Sama-sama memberikan tubuh kita buat orang yang nggak bisa bersatu sama kita."


"Dan kita? Hanya bisa menerima karma kita."


"Kita? Lo aja kali gue enggak." sahut Shilla masih tak menatap Acha. Mungkin dia lupa, bahwa ia sudah menghancurkan kehidupan Ify dengan mengambil Rio begitu saja. Lalu dirinya pun hancur karena tak bisa bersatu dengan Rio.


"Udahlah, percuma gue ngomong sama lo. Yang penting gue udah minta maaf sama lo. Gue mau balik ke Korea. Nggak penting gue disini."


Shilla menatap kepergian Acha dengan sendu. Semudah itu gadis yang pergi meninggalkannya itu menghancurkan kebahagiaannya. Dan semudah itu juga ia menghancurkan kebahagiaan Ify. Sahabatnya sendiri. Mungkin memang benar bahwa apa yang terjadi pada dirinya dan juga Acha adalah sebuah karma.


Kini yang aku butuhkan hanyalah waktu, biarkan waktu yang membuatku ikhlas.. mungkin memang ini waktunya kita untuk berpisah dan mendewasakan diri masing-masing.~


***


Ify dan Rio berdiri dengan tanpa memandang satu sama lain. Ya, Adam dengan baik hati memberikan Rio waktu untuk berbicara dengan Ify secara empat mata. Ia teringat bahwa Rio juga pernah singgah di hati istrinya tersebut.


"Jadi, kamu nikah sama dokter itu?"


"Ya."


"Dan pria kecil tadi?"


"Anak kita. Anak aku sama Adam."


"Wah, hebat sekali kalian."


"Seperti yang kamu lihat."


"Fy, tatap aku."


Gadis itu menatap lekat mata Rio. Seolah menyampaikan hasrat bahwa ia benar-benar sudah menghapus semua rasa untuk pria dihadapannya ini. Namun tidak dengan Rio. Matanya benar-benar menyiratkan bahwa ia sangat rindu dengan gadis dihadapannya itu.


"Fy, mungkin ini terlambat. Maafin aku."


"Aku sudah maafin kamu. Kita sudah punya pasangan masing-masing. Kita punya kebahagiaan masing-masing. Kita sudah selesai."


"Makasih Fy."


Gadis itu hanya mengangguk sembari berdehem.


"Aku balik dulu. Adam pasti sudah nungguin aku."


Kini berganti Rio yang mengangguk sambil berdehem. Ya benar, mereka sudah selesai. Tidak ada lagi yang harus mereka bahas. Ify sudah menemukan kebahagiaannya dan Rio yang kini masih mencari kebahagiaannya. Biarkan itu berlalu dengan semestinya. Takdir hanya Tuhan yang tahu.

__ADS_1


END-


__ADS_2