
3 TAHUN KEMUDIAN.
Tampan, tegas, gagah, dan manis. Itulah CEO bernama Mario. Tatapan yang dingin dan tajam, membuat semua kaum wanita merasa penasaran dengan CEO juga pemilik perusahaan ternama di kota tersebut.
Merasa ingin mengenal lebih jauh, lebih dekat. Merasa ingin memiliki seutuhnya, namun tidak ada yang berani menatap sorot tajam seorang Mario hingga sebelum tekad membulat, mereka yang ingin mengenal lebih dalam beringsut mundur seketika. Merasa ciut nyalinya hanya dengan mendengar suara barithone pemuda bertampang tampan nan senyum manis tersebut.
Ckitt.!!
Mobil keluaran terbaru dengan warna hitam mengkilat itu berhenti secara mendadak. Tampak seorang gadis yang masih mengenakan seragam SMA itu terduduk lemah dihadapan moncong sang mobil.
Pintu terbuka lebar dan keluarlah sang CEO dengan tergesa-gesa. Ia ikut terduduk, mengamati gadis mungil dihadapannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya berusaha biasa saja. Padahal didalam hatinya, pemuda itu takut jika perempuan dihadapannya ini sampai terluka.
"Ya, aku baik."
Mario membantunya berdiri. Ia mengamati penampilan sang gadis yang begitu acak-acakan, seragam yang sudah tercoret-coret tidak beraturan, dan rambut yang kusut hingga terlihat seperti orang depresi berat.
"Lain kali, hati-hati. Ada yang luka? Perlu kita ke rumah sakit?"
Gadis itu mendongak, menatap manik mata Mario dengan sendu. Ia harus mendongak karena tinggi gadis itu yang tidak semampai dengan Mario.
"Boleh aku ke rumah mu Om? Aku takut disini sendiri." lirihnya. Terlihat genangan air mengumpul dipelupuk matanya.
Dan detik itu juga, Mario terkesiap. Melihat ada luka memar di wajah sang gadis. Juga darah yang menetes disudut bibirnya.
Gadis itu terluka.
*******
Hari kelulusan sekolah tiba. SMA NUANSA PUTIH kini tengah ramai karena angkatan akhir sudah lulus semua dengan nilai yang memuaskan. Hiruk pikuk terdengar, dan asap mengepul berwarna-warni begitu banyak mengudara di seluruh penjuru sekolah. Musik menggema memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
"Liana, Lo mau pulang langsung apa ikut demo dulu?"
Liana. Gadis cantik yang menjadi primadona sekolah itu tersenyum sembari menggeleng lemah. Ia begitu sedih karena baju SMA yang tidak ingin ia nodai akhirnya tercoreng juga akibat ulah teman-temannya.
Meski ia primadona, namun tidak banyak tingkah seperti layaknya anak-anak kota pada umumnya yang selalu ingin disanjung dan ditakuti. Ia bukanlah type gadis seperti itu. Ia lebih sering diam saja, tidak banyak tingkah, dan lebih senang mengamati setiap gerakan orang-orang disekitarnya saja.
"Kenapa Lo nggak mau ikut demo? Takut kalah sexy sama Gue ya?" Liana menatap sinis. Dihadapannya ada Dea, sang pembully anak-anak junior yang berani melawannya. Bukan primadona, namun ia merasa diatas segalanya dari Liana. Tentu julukan seorang primadona bukanlah keinginan Liana, ia hanya dijuluki saja oleh siapapun yang bertemu dengannya. Berbeda dengan Dea, justru gadis itulah yang menjuluki dirinya sendiri sebagai Primadona sekolah dan juga penguasa disana.
Memuakkan!
"Nggak usah urusin Gue. Pergi sana Lo." ketus Liana. Bukan Dea namanya kalau tidak mencari gara-gara. Ia duduk disebelah Liana dengan ekspresi yang begitu menyebalkan bagi Liana.
"Lo pulang pun, mau apa? Mau melayani bokap Lo yang gila sama darah perawan? Atau jangan-jangan, Lo udah nggak perawan ya?"
__ADS_1
"Bukan urusan Lo!"
"Bener dong Gue? Lo udah nggak perawan ya?" cecar Dea. Ia semakin semangat saja karena sebentar lagi tidak akan ada yang bisa ia jahati seperti ini.
"Kalaupun Gue udah nggak perawan, urusannya sama Lo apa? Gue tanya, Lo masih perawan?" Dea tersenyum mengejek.
"Jelaslah Gue masih perawan. Bokap Gue nggak gila kayak bokap Lo."
Liana tersenyum sinis. Ia merogoh ponselnya didalam tas, lalu mencari sebuah foto dan memperlihatkannya pada Dea. Membuat mata bulat Dea seketika melotot seperti ingin keluar dari tempatnya.
Cepat-cepat Liana menyembunyikan ponselnya kala tangan Dea berusaha meraih benda pintar tersebut.
"Jangan macam-macam Lo sama Gue!" gertaknya kesal.
"Gue? Macam-macam sama Lo?" semakin sinis saja suara Liana ditelinga Dea.
"Yang ada itu Lo yang jangan macam-macam sama Gue. Atau Gue sebarin ini foto keseluruh sekolah bahkan ketempat kuliah Lo yang baru."
Bukan mengancam. Liana memang benar akan ucapannya. Ia begitu kesal dengan ulah Dea yang terus menerus mencemooh orang tuanya.
Berjalan meninggalkan Dea begitu saja, diam-diam ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Air mata luruh begitu saja. Benar kata Dea, bahwa Ayahnya adalah orang gila. Bahkan mungkin lebih dari itu. Ia kuat melawan Dea dengan ucapan kasar apapun lainnya, tapi tidak dengan Ayahnya.
Ia terlalu lemah melawan orang tua itu. Ingin bertindak tegas, tapi ia terlalu takut akan kalap dan menyakiti orang tua nya sendiri. Takut jika masa depannya akan suram setelah ia melakukan kesalahan itu.
Seperti saat ini. Baru saja ia menginjakkan kakinya dirumah besar nan megah ini sudah langsung disambut pertanyaan yang tidak mengenakkan bagi telinganya.
Mungkin bagi sebagian orang yang mendengar terasa biasa saja, namun tidak dengan Liana.
"Sekolah."
"Ini hari kelulusan. Harusnya kamu cuma ambil ijazah dan tanda tangan, selesai. Kenapa jam segini baru pulang?"
"Maaf Pa."
Sang Ayah, yang bernama Doddy itu mendekat secara perlahan. Matanya menatap tajam kearah Liana yang menunduk ketakutan. Setiap langkah Doddy yang terdengar ditelinga Liana, bagai sengatan listrik berkekuatan tinggi setinggi-tingginya.
"Kenapa seragammu seperti ini? Papa sudah bilang, jangan kotori seragammu!"
Plak!
Tersungkur. Tamparan keras mendarat dipipi kanan Liana membuatnya oleh dan tersungkur karena tidak tahu bahwa akan ada dorongan kasar dari Ayahnya tersebut.
Meringis kesakitan, namun tetap mencoba untuk tidak menangis dihadapan sang Ayah. Berfikir keras untuk melawan, agar ia bisa terbebas untuk hari ini. Entah untuk hari esok dan seterusnya. Berfikir belakangan saja.
"Banyak yang menyentuhmu kan?"
__ADS_1
"Enggak Pa."
"Bohong!" Doddy menjambak rambut Liana dengan kasar hingga kepala sang gadis menengadah keatas. Kearah langit-langit rumah yang putih bersih. Dihadapkan wajah Doddy mendekat kearah wajah Liana, membuat sang gadis memejamkan matanya. Tak mau menatap wajah Doddy dari jarak yang begitu dekat.
"Kamu ingat Liana? Jika hari kelulusan tiba, kamu harus memenuhi janjimu dulu."
"Pa, aku nggak pernah janji apapun sama Papa." Luruh sudah air mata yang ia tahan sejak tadi. Ucapan Ayahnya begitu menohok hatinya.
"Papa tidak menerima ucapan lain selain kata iya. Jangan membantah Papa atau kamu tahu akibatnya. Kamu masuk kekamar dan mandi."
Melepaskan rambut Liana dengan kasar pula. Doddy beringsut menuju kamarnya sendiri, membiarkan Liana memasuki kamar sang gadis dengan air mata yang masih merembes keluar.
"Aku harus apa." lirihnya bingung. Ia mondar mandir dikamar hingga tiba-tiba pintu dibuka dengan paksa. Karena Liana menguncinya dari dalam, membuat Doddy tidak bisa masuk dengan lemah lembut.
Brak!
"Liana!"
Liana berjingkat kaget mendengar bentakan Doddy. Tiba-tiba saja Liana disungkurkan kearah ranjang hingga terjengkang disana. Menggelengkan kepalanya lemah, Liana menatap seringai tajam Doddy.
Dengan perlahan Doddy membuka ikat pinggangnya dengan masih berjalan secara perlahan menghampiri Liana yang hanya membeku diatas ranjang.
"Puaskan aku sore ini sayang, kita bercinta hingga malam." ucapnya pada Liana, penuh desah dan nafsu merasuki gendang telinga Liana.
Membuka seragam sekolah Liana dengan pelan, kancing pertama terlepas, kancing kedua terlepas, senyum masih membayang diwajah nakal Doddy. Pria paruh baya itu dengan penuh nafsu memandang Liana seolah menelanjanginya begitu saja.
Liana memutar otaknya dengan cepat. Ia membuka mata dan mencari sesuatu yang bisa ia raih untuk menyelamatkan hidup dan masa depannya. Menjadi psikopat untuk menyelamatkan dirinya sendiri itu penting. Bagi Liana.
Prang!
"Akkhh sialan!" Doddy mengerang dan terjatuh kesamping hingga terduduk diatas lantai. Sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca dihantamkan begitu kuat kekepala Doddy hingga kepalanya berlumuran darah. Mengalir hingga ke leher sang Ayah.
"Liana, kamu...kamu...brengsek!"
"Maaf, tapi Liana hanya ingin menyelamatkan hidup Liana."
Pergi dengan tergesa-gesa. Meninggalkan Doddy yang entah sudah pingsan atau belum akibat kepala yang robek itu. Kaca yang terpecah pun membuat tangan Liana tergores begitu banyak dan mengeluarkan darah juga. Namun tak ia pedulikan.
Gadis itu pergi meski waktu sudah menjelang gelap. Ia terus berlari dengan air mata yang berderai tiada henti. Tangannya ia kipas-kipaskan agar darahnya berhenti. Hingga tidak menyadari bahwa sebentar lagi mobil hitam mengkilat mendekat kearahnya dan hampir menabraknya.
"Boleh aku kerumahmu Om? Aku takut disini sendiri."
Menyadari siapa yang kini berhadapan dengannya, ia pasti akan selamat. Gadis itu yakin.
BERSAMBUNG...
__ADS_1