
semua orang punya hati, tapi tidak semua orang bisa menghargai.~
Pagi telah kembali, membuat ify berkutat dengan layar laptopnya. Diruang kelas itu hanya tersisa ia saja. Sivia sudah lebih dulu dijemput Alvin untuk makan di kantin, mengisi makanan cacing-cacing diperut mereka. Cacing-cacing yang tidak mengerti kondisi apapun yang penting makan.
"Fy."
Ify menoleh ketika suara barithone milik Rio menggugah fokusnya. Ia tersenyum sebentar.
"Kenapa Rio?"
"Kamu nggak makan? Udah siang loh." Rio masih berdiri diambang pintu.
"Kamu duluan aja Rio. Aku masih ada tugas."
"Aku temenin kamu."
Rio berjalan menghampiri Ify dan duduk di kursi sampingnya. Ia ikut menatap layar laptop milik ify.
Ify menutup laptopnya dan menatap Rio.
"Ayo." ajaknya.
"Loh, udah selesai?"
"Dikerjain nanti aja. Ayo makan. Aku lapar."
Ify langsung menyeret tangan Rio menuju kantin. Sudah ada Alvin dan Sivia yang melambai-lambai dimeja pojokan sana. Rupanya ada Shilla jua ikut duduk disana.
"Shilla, lo udah masuk kampus?" tanya ify begitu ia sampai dimeja. Ia langsung mengambil duduk di samping kanan Shilla.
Karena Rio melihat tak ada yang kosong di samping Ify, terpaksa ia duduk di sebalah kiri Shilla. Hingga membuat Shilla berada ditengah-tengah Rio dan Ify.
"Belum Fy. Baru masukin surat-surat aja. Ini tadi nggak sengaja ketemu Alvin sama Sivia. Jadinya ikut aja daripada nggak ada kerjaan dirumah sendiri."
"Kok lo nggak selesaikan kuliah di sana dulu Shill? Kan sebentar lagi lulus. Nggak sayang ya?"
"Hehe sayang sih Fy. Tapi aku udah nggak betah. Tujuan aku ke sana kan buat lupain Gabriel.."
"Terus tujuan lo udah kesampaian?"
"Alhamdulilah sih udah."
"Saatnya nyari yang baru dong." goda Alvin menimpali.
"Nggak dulu makasih." ucap Shilla jutek. Ia kesal dengan godaan Alvin.
Susah payah ia menyembuhkan lukanya. Bisa-bisa ia kembali terluka oleh orang yang baru, Pikirnya.
Rio hanya mendengarkan obrolan sahabat-sahabatnya itu. Ia melahap baksonya dengan cepat. Ia sangat lapar sepertinya.
"Rio aku mau dong." ucap ify manja.
Shilla yang berada ditengah-tengah mereka mendelik kesal.
Belum juga bakso Rio mendarat di mulut ify, Shilla sudah lebih dulu melahap bakso di garpu Rio. Alhasil Rio yang menyuapi Shilla, bukan Ify.
Ify pun mendengus kesal.
"Shillaaaa lo ambil bakso gue!" teriaknya. Shilla sampai menutup telinganya.
"Lagian lo berdua ngapain duduknya misah gini sih. Lo pikir gue obat nyamuk apa!?" ucap Shilla dengan mulut yang kesana kemari karena mengunyah bakso besar.
Alvin dan Sivia hanya terkekeh saja. Mereka malah tak memperdulikan Ify dan Shilla, mereka asik dengan dunianya sendiri.
"Lo berdua kalo udah lulus kuliah langsung nikah ya?" tanya Shilla menatap Sivia dan Alvin.
"Iya Shill. Nggak mau lama-lama. Mau cepet-cepet tak hap." ucap Alvin. Sivia hanya meninju lengan Alvin dengan pelan karena tersipu malu.
"Asiknya sih, hubungan dari SMA bisa selanggeng ini." ucap Shilla dengan mupeng. Sebenarnya inilah harapannya dengan Gabriel dahulu, bisa bersama hingga berakhir dijenjang pernikahan
"Gue juga nikah Shill. Lo nggak pengen?" tanya Rio.
"Nikah sama siapa lo?" tanya Shilla memancing, matanya sedikit disipitkan.
"Sama bapak lo!" ucap Rio kesal.
Shilla dan Ify tertawa lepas mendengar kekesalan Rio.
**********
Sore sudah tiba. Shilla baru saja selesai mengurus surat-surat pindahnya di kampus itu.
Ia keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa hingga tak sadar ia menabrak seseorang.
"Maaf ya maaf. Saya nggak sengaja."
"Apaan sih Shil. Kayak sama siapa aja lo."
__ADS_1
Shilla mendongak. Ternyata Rio. Ia menarik nafas lega.
"Sialan lo." Shilla kembali memunguti buku-bukunya.
"Lo ngapain disini?" tanya Shilla setelah ia berdiri dihadapan Rio.
"Nungguin ify. Dia lagi ngumpulin tugas katanya gue suruh nunggu disini."
"Oh gitu."
"Lo mau pulang ya?"
"Iya. Udah selesai gue urus surat-surat. Besok udah mulai kuliah."
"Terus lo diantar siapa kalau berangkat sama pulang?"
"Naik bis."
"Boros dong."
"Ya gimana lagi. Orang tua gue masih diluar."
"Kata ify, lo tinggal di apartemen?"
"Enggak kok. Gue tinggal di rumah gue sendiri sama asisten pembersih rumah sama paman tukang kebun."
"Kenapa nggak paman tukang kebun itu suruh antar lo kuliah?"
"Nggak ada mobilnya Rio."
"Mobil lo kemana?"
"Dibawa orang tua gue ke luar negeri. Dulu ngiranya gue bakal menetap di sana selamanya. Makanya dibawa semua. Taunya gue nggak betah disana."
"Lo nebeng gue aja gapapa. Ify serumah sama gue jadinya nggak perlu ke sana kemari."
"Kok ify tinggal di rumah lo?"
"Papanya ify keluar negeri buat berobat."
"Emang papanya ify kenapa?"
"Lo jangan bilang-bilang Ify ya. Sebenernya om Umari itu sakit leukimia, tapi dia suruh gue buat rahasiain ini dari ify. Takutnya ify kepikiran terus, om Umari kasihan sama Ify."
"Astaga. Terus gimana sekarang om Umari?"
Shilla hanya mengangguk-angguk saja mendengar penuturan Rio. Ia tak menyangka ify sangat menderita jika mengetahui ayahnya sakit-sakitan. Membayangkannya saja pasti menyakitkan.
"Kenapa lo bohongin gue?"
Rio dan Shilla terpaku. Ia tak sadar bahwa ify ada dibelakangnya. Mereka membalikkan badan, dan benar saja.
Ify sudah menangis dibelakang mereka. Ia mengetahui kebenarannya.
"KENAPA LO BOHONGIN GUE RIO!?" bentaknya dengan brutal. Ia sangat kecewa dengan Rio. Bahkan kata sopan antara aku dan kamu sudah berubah menjadi lo dan gue.
"Fy, maafin aku. Aku bisa jelasin kekamu." Rio mencoba memegang tangan Ify. Namun ify menolaknya dengan kasar.
"Gue benci sama lo!"
Ify pergi berlari meninggalkan Rio dan Shilla.
Rio ingin mengejarnya namun Shilla mencegahnya.
"Rio Rio. Biarin dia pergi. Dia butuh waktu sendiri. Plis, jangan ganggu dia dulu." ucap Shilla.
"Gue takut dia berulah aneh-aneh Shill."
"Enggak Rio. Dia cuma mau nenangin dirinya dulu, gue yakin itu."
Rio mengusap wajahnya kasar. Ia sangat merasa bersalah pada Ify.
"Maafin gue." Shilla menunduk dihadapan Rio.
"Kenapa?" tanya Rio tak mengerti.
"Karena lo cerita sama gue, ify jadi tau semuanya."
Rio memegang pundak Shilla dengan lembut.
"Lo tenang aja. Ini bukan salah lo."
Ada yang salah dengan Shilla. Mengapa hatinya berdesir seperti ada yang menggelitik ketika mendengar ucapan lembut dan perlakuan Rio padanya?
Tidak mungkin! Tepis pikirannya dengan cepat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Rio menatapnya heran.
"Awas copot."
__ADS_1
"Sialan." Shilla memukul lengan Rio dengan kesal.
Rio mengotak-atik ponselnya. Hari semakin menjelang magrib, namun ify malah pergi entah kemana.
Sembari menempelkan ponselnya pada telinga, ia menarik tangan Shilla menuju mobilnya.
Shilla yang kaget tangannya dipegang oleh Rio pun akhirnya menurut saja.
"Hallo Vin. Ify pergi Vin." ucap Rio. Ia sudah berada didalam mobil bersama Shilla.
"Pergi kemana maksudnya?"
"Vin, ify tau kalau gue bohong soal om Umari."
"Bego."
"Gimana ini Vin bantuin gue nyari ify."
"Gue yakin dia cuma pengen nenangin pikirannya. Dia butuh waktu. Biarin aja dulu."
Rio menutup sambungan teleponnya dengan Alvin secara sepihak.
"Sama saja." umpatnya kesal. Ia memegang stir mobilnya dengan kuat.
"Rio."
Rio menoleh. Ia lupa ada Shilla di sana.
"Gue anterin lo pulang ya."
Shilla hanya mengangguk. Ia menatap keluar jendela. Sudah lama ia tidak diperlakukan hangat seperti ini oleh seorang pria. Hanya Gabriel lah satu-satunya pria yang memperlakukan Shilla seperti ini. Dan mungkin, Rio juga.
********
Ify berlari menuju rumahnya sendiri. Kosong. Sepi. Sunyi. dan Gelap.
Ia berdiri di teras rumahnya yang megah itu. Air mata masih membasahi pipi chubbynya.
Perlahan, ia mengambil ponselnya dalam tas. Tanpa menatap layar ponselnya, ia menekan sebuah nomor yang ia hafal diluar kepala dan menempelkan ponselnya pada telinganya.
"Pa." ucapnya pelan.
Diseberang telepon, terdengar suara Umari yang lembut menyapa gendang telinganya.
"Ada apa sayang?"
"Papa kenapa bohongin Ify?"
"Maksud kamu apa Fy?"
"Ify udah tau pa kalau papa keluar negeri itu untuk berobat. Bukan bekerja. Iya kan pa?"
"Maafin Papa Fy."
Terdengar jelas hembusan nafas berat Umari di sana. Ify sesenggukan menghapus air matanya. Ia benar-benar terpukul. Satu-satunya orang yang ia punya kini harus berjuang mati-matian demi bertahan hidup.
"Fy."
"Iya?"
Ify masih mendengarkan ucapan Umari meski tangannya sibuk membuka kunci pintu rumahnya dan mencari saklar lampu.
Pyarr
Lampu terang menyala. Hampir tiga bulan ia meninggalkan rumah ini. Dan tidak ada yang berubah. Orang yang disewa Umari nampaknya merawat rumah ini dengan benar.
"Kamu jangan benci Rio. Papa yang minta Rio buat rahasiakan ini." ucap Umari.
"Papa satu-satunya orang yang ify punya. Kalau papa kenapa-kenapa, ify juga berhak tau pa."
"Fy, kamu masih punya mama manda."
"Mama udah punya keluarga sendiri pa. Dia juga sibuk bolak balik keluar negeri buat kerjaan kantor. Cuma papa yang walaupun sibuk tapi tetap ada buat Ify."
"Fy, papa baik-baik aja disini. Doakan papa agar cepat pulih."
Ify diam. Ia hanya mengangguk meski ia tau Umari tak mungkin dapat melihatnya.
"Fy, papa matikan dulu."
Sambungan telephon terputus. Ify melempar ponselnya dan bergegas menuju kamarnya.
Ia memutuskan untuk hidup sendiri di rumah sebesar ini. Ia akan menyewa asisten rumah tangga dan tukang bersih untuk ikut membantu merawat rumahnya.
Ikhlas itu bertahap: tersiksa, terpaksa, lalu terbiasa.~
[Bersambung]
__ADS_1