
Ify, gadis berambut panjang nan pirang tersebut duduk di balkon kamarnya. Ia asik bermain dengan ponselnya. Diseberang sana, ada Umari yang bercerita panjang lebar tentang hari-harinya tanpa ify. Dan ify yang senantiasa mendengarkan dengan senyum merekah.
"Gimana Fy tinggal di rumah mama kamu?" tanya Umari.
"Asik aja Pa. Udah kayak rumah sendiri. Namanya juga ikut mama kandung."
"Kamu senang bisa berkumpul sama mama kamu?"
"Seneng pa. Tapi lebih seneng lagi kalau papa ada disini."
"Doakan papa baik-baik aja ya Fy. Biar papa bisa cepat pulang. Dan, maafin papa kalau selama ini papa merahasiakan ini semua dari kamu."
"Iya pa. Semangat ya kerjanya. Jangan sampai lelah, nanti kalau sakit nggak ada yang rawat papa."
"Iya sayang. Papa tutup dulu ya telponnya. Selamat malam."
"Malam pa."
Ify kembali tersenyum. Ia tidak tau jika kepergian ayahnya adalah untuk kemoterapi, bukan hanya sekedar kerja belaka.
Rio didepan kamar Ify yang tertutup, ia mendengarkan obrolan kecil gadisnya itu.
Rio merasa kasihan dengan ify. Ia segera masuk dan mendapati Ify masih duduk di balkonnya.
"Kenapa Rio?" tanya ify heran.
"Kamu lagi apa Fy?"
"Abis telfon sama papa."
"Gimana kabar ok Umari?"
Rio duduk tak jauh dari tempat duduk ify. Ia menatap lembut gadisnya itu.
"Baik kok Rio. Semoga aja papa cepat pulang."
"Kenapa? Kamu nggak suka ya tinggal disini?"
"Suka kok. Aku cuma kangen aja sama papa."
Rio diam menatap gadisnya. Ia tersenyum lembut dan mengelus rambut ify.
Ponsel ify kembali berdering. Tertera nomor tanpa nama di ponselnya.
Ia mengangkat dan mengaktifkan loudspeaker panggilan itu agar Rio juga dapat mendengar.
"Malam Fy. Udah tidur ya?"
Suara diseberang seperti tidak asing lagi ditelinga Ify dan Rio.
"Adam?" tanya ify memastikan.
"Iya Fy, kok gampang ketebak ya suaraku." terdengar kekehan kecil Adam diseberang sana.
Ify hanya diam begitupula dengan Rio. Ia hanya mendengarkan celotehan Adam.
"Ada apa Dam?"
"Nggak papa Fy. Cuma mau ngabarin aja keadaan kamu gimana."
"Udah baik kok."
"Syukur deh. Besok udah mulai kuliah ya?"
"Belum kayaknya."
"Oh belum. Kalau gitu, mau nggak jalan pagi? Nanti aku traktir makan deh."
Rio mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia merebut ponsel ify dan mematikannya. Bahkan memblokir kontak Adam dan menghitamkan nya.
"Cemburu amat pak." ledek Ify terkekeh kecil.
Rio hanya mendengus dan pergi dari kamar ify. Gadisnya itu sangat mengesalkan.
Ify segera menyusul Rio keluar kamar. Saat ia melongok kebawah dari tangga atas, terlihat Rio sudah rapi dengan jaket kulitnya.
"Rio kamu mau kemana?" tanya Ify sedikit berteriak.
__ADS_1
Rio tak menggubrisnya. Ia menyambar kunci mobilnya dan bergegas meninggalkan rumah. Terdengar suara mobil Rio yang semakin menjauh dari rumah.
Ify sudah mengejar Rio hingga diambang pintu depan, namun tak membuahkan hasil.
Alvin melongok dari kamarnya. Menatap ify yang terlihat murung.
"Kenapa Fy?" Alvin berjalan menghampiri Ify.
"Kayaknya Rio marah deh Vin."
"Kok bisa?"
"Tadi Adam nelpon gue. Dia ngajak jalan besok. Padahal gue nggak nanggepin, eh Rio malah marah sama gue."
"Adam? Adam siapa?"
"Ck, Adam dokter muda yang ngerawat gue kemarin Vin."
Ify berjalan menuju ruang tamu. Dan duduk di sana. Disusul oleh Avin yang juga ikut duduk disebelahnya.
"Emang dia suka sama lo?"
"Gue nggak tau."
Alvin dan Ify sama-sama diam.
"Kira-kira, Rio kemana ya?" tanya ify.
"Nemuin Adam mungkin."
"Hah? Lo yakin?" ify tersentak kaget.
"Menurut lo?"
Ify diam. Ia memikirkan apa yang akan Rio lakukan pada Adam? Ia tidak mau Rio terlibat masalah apapun dengan siapapun.
"Oh iya, Katanya Shilla mau balik Jakarta nih." ucap Alvin sembari memainkan ponselnya.
"Lo serius? Tau darimana?"
"Iya. Tadi dia ngabarin gue. Katanya besok terbang ke Jakarta gitu, terus tinggal diapartemen ayahnya. Katanya kangen sama Jakarta."
"Gue nggak tau. Tanya sama Shilla aja besok."
Ify mencibir Alvin pelan. Lalu beranjak menuju kamarnya.
Sementara Alvin masih saja berkutat dengan ponselnya diruang tamu.
********
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Mobil Rio berhenti disebuah rumah sakit ternama di sana.
Ia langsung masuk dan kebetulan sekali Dokter Adam juga baru saja keluar dari ruangannya.
"Sini lo." ucap Rio langsung menarik kerah baju Adam keluar dari rumah sakit besar itu.
Ia membenturkan tubuh Adam ke bamper mobilnya dan menatapnya tajam.
"Kenapa?" tanya Adam tak mengerti. Ia membenahi jas kedokterannya itu.
"Lo masih nanya setelah lo mau ngajak jalan ify?"
"Emangnya salah?"
"Asal lo tau, Ify itu calon istri gue."
"Baru calon kan, belum jadi?"
Rio mengepalkan tangannya. Ingin sekali meninju wajah menyebalkan didepannya ini.
"Mau lo apa?" tanya Rio.
"Nggak ada. Gue cuma mau ngajak jalan ify aja."
"Ify nggak akan pernah mau jalan sama cowok kayak lo."
"Kenapa? Lo kali yang takut kalo ify jatuh cinta sama gue."
__ADS_1
"Halu lo berlebihan. Minggir lo! Lo ingat ya, kalau sampai lo berani dekatin Ify, gue nggak segan-segan buat bikin lo celaka."
Rio menyingkirkan tubuh Adam yang menyender di mobilnya.
Ia menancap gas sekuat-kuatnya. Tak lama ia pun sampai dirumahnya.
Ify yang mendengar suara mobil Rio datang pun langsung berlari membukakan pintu.
"Rio kamu darimana?"
"Nemuin Adam."
"Ngapain?"
"Kasih pelajaran buat dia."
"Nggak usah gitu Rio. Aku nggak bakalan kok respon dia. Kamu tenang aja."
"Iya, aku percaya."
Ia memeluk ify dan membawa ify duduk diruang tamu.
Sedikit gelap karena lampu sudah ada yang dipadamkan. Alvin juga sudah tertidur lelap. Begitupun Manda dan Haling.
Kedua insan itu masih saling menyender satu sama lain. Bercerita sedikit demi sedikit hingga akhirnya Ify tertidur dipangkuan Rio.
Rio yang tak tega membangunkan Ify pun akhirnya membopong tubuh mungil Ify kedalam kamarnya dan menidurkannya di sana.
Ia mengecup lembut bibir ify, dan tersenyum. Lalu meninggalkannya dengan lampu yang padam.
********
"Kita hanya sebatas sia-sia yang sempat aku banggakan."
Shilla menghirup udara pagi di bandara Jakarta ini. Akhirnya setelah sekian lama ia memulihkan lukanya di negeri orang, ia kembali lagi ketempat dimana luka itu terbentuk.
Hanya saja, ia sudah tak lagi memikirkannya. Ia sudah sangat bahagia dengan kesendiriannya saat ini.
Tak jauh dari tempat ia berdiri, ke empat sahabatnya terlihat melambaikan tangannya.
Shilla tersenyum dan berjalan menghampiri sahabat-sahabatnya lalu berpelukan dan mencium pipi kanan dan kiri dengan lembut.
"Lo apa kabar Shill? Makin cantik aja." ucap Sivia menggoda.
"Udah ada yang baru belum Shill?" tanya Ify sedikit menggoda.
"Ah Fy, belum mikir gue. Masih mau sendiri."
"Kuliah lo gimana Shill?"
"Gue lanjut kuliah disini Fy."
Ify dan Sivia bersorak gembira karena Shilla memilih kampus yang sama dengannya.
Mereka berlima akhirnya meluncur menuju rumah Shilla bersama mobil Rio.
Didalam mobil, ketiga gadis cantik dikursi belakang itu bercengkrama dan terkadang menyelipkan kenangan masa lalu mereka.
"Kalian tau kabar Gabriel nggak?" tanya Shilla tiba-tiba.
"Nggak ada yang tau Shill. Soalnya waktu itu emang udah bener-bener lost kontak." ucap Alvin.
Shilla hanya manggut-manggut saja.
"Mungkin udah punya anak sama Acha." celetuk Sivia.
"Ya sukur deh kalau mereka udah nikah. Kasian Acha kalau sampai nggak dinikahin." ucap Shilla.
"Lo kangen ya sama Gabriel?" goda Rio.
"Eee enggak lah. Ngapain kangen sama orang kayak gitu."
"Iya sih. Mending kangen sama gue. Ya kan?"
"Gue kangennya sama Ify sama Sivia aja kok. Wlee.
Shilla merangkul tubuh sahabatnya yang berada dikanan-kirinya itu.
__ADS_1
Ify merasakan ada kejanggalan di sana. Tapi apa? Entahlah.
[Bersambung]