Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 36


__ADS_3

Mendapati sebuah fakta mengejutkan dari bibir sang mantan. Ia yang dulu insecure dengan kehadiran Adam dihidup Ify membuatnya harus menelan rasa insecurenya karena itu tidak berguna. Ternyata, ia dan Adam sama saja. Tidak cukup hanya dengan satu wanita.


Untung saja, orang yang dulu membuatnya insecure luar dan dalam itu sudah tiada. Hingga sebuah perasaan yang dulu tertanam untuk sang mantan kekasih, kembali menyeruak ingin segera dituntaskan.


Ya, ia masih mencintai Ify.


"Shilla selingkuh sama Adam? Kamu beneran Fy?"


Gadis itu hanya mengangguk saja. Ia menundukkan kepalanya sebelum kembali berucap.


"Sebenarnya bukan keinginan Adam selingkuh, dia dijebak dan aku benar-benar nggak suka karena dia mau ketemuan sama Shilla sampai akhirnya Shilla jebak Adam. Sebelum kecelakaan itu, aku sama Adam bertengkar hebat, Rio."


Bibir gadis itu bergetar, begitu juga pundaknya. Sedang pemuda dihadapan itu masih setia mendengarkan ceritanya.


Ia tidak berani mendekat, berpindah posisi untuk sekedar mendekap atau mengelus punggung sang gadis pun tak berani. Ia harus hati-hati mendapatkan hati Ify kembali. Bertahun-tahun berlalu dan ia masih saja menginginkan ify kembali padanya.


"Aku berusaha buat maafin mereka tapi emang sulit banget. Shilla buat aku benci sama Adam."


"Kamu yakin Adam selingkuh sama Shilla Fy?" Tanya Rio tidak yakin dengan penuturan sang mantan.


Satu bulir bening terus menetes disusul dengan bulir yang lainnya. Ingin rasanya Rio menghapus bulir-bulir itu, namun siapakah dirinya sekarang untuk Ify?


"Sebenarnya Adam dijebak sama Shilla. Tapi mereka udah terlanjur ngelakuin hal yang hina, sama kayak kamu ke Shilla dulu."


"Setelah itu?"


"Setelah itu aku marah banget ke Adam, sampai usir dia dari rumah dan Amfy nggak mau Daddynya pergi. Makanya dia ikut sama Adam. Kecelakaan mereka karena aku Rio, semua salah aku."


"Itu sebabnya kamu nggak mau maafin Shilla?"

__ADS_1


"Ya, itu juga. Semua salah Shilla juga. Aku nggak tahu kesalahan apa yang udah aku lakuin ke dia sampai saat aku udah lepasin kamu buat dia pun itu nggak cukup buat hancurin kebahagiaan aku." Menyeka air mata tertahan, Ify tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Sedang Rio, pemuda itu berulang kali menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ada keraguan dihatinya untuk mengajak Ify bertemu dengan Shilla, namun jika tidak dipertemukan, bagaimana Ify bisa tahu keadaan Shilla? Bagaimana maaf itu akan terucap kalau Ify saja tidak tahu bagaimana Shilla saat ini.


"Kamu tahu dimana Shilla?" Tanyanya dengan hati-hati.


Ify mendongakkan kepalanya menatap Rio, sembari menggeleng pelan.


"Sejak kejadian itu aku nggak pernah lihat Shilla, atau dengar kabarnya pun enggak. Yang aku tahu, Shilla cuma mau minta maaf sama aku itupun dari Gabriel."


"Kenapa kamu nanyain Shilla? Kamu sering ketemu sama dia?" Lanjutnya, membuat pemuda yang pernah mengisi hatinya itu menggelengkan kepalanya dengan lirih.


Namun sedetik kemudian, mata teduh Rio menatap Ify sembari berkata..


"Ayo, kita ketemu Shilla." Membuat Ify tercengang.


"Buat apa? Yang mau minta maaf kan Shilla, bukan aku!"


"Yang mau mintaa maaf siapa? Kenapa harus aku yang repot kesana kemari? Lagian aku nggak ada waktu buat kembali kesana, kalau dia mau, suruh dia-"


"Shilla udah mati!"


***


"Hai, namaku Zhico. Kamu siapa? Anak baru ya?"


Kopi yang semula tenang diaduk, kini harus tenang diam karena tak lagi teraduk. Sang pengaduk telah beralih atensi kepada seorang pemuda berwajah manis tengah menyapanya. Gadis itu tersenyum kecil, lalu mengangguk.


"Aku Liana."

__ADS_1


"Aku baru lihat kamu, apa karena aku shift sore terus ya makanya kita baru ketemu?"


"Enggak kok, aku baru masuk tadi pagi. Dan aku dikasih shift full siang malam selama sebulan." Liana menghembuskan nafasnya pelan, ia tau ini berat. Tapi ia lebih tahu kalau ia tak bekerja, maka kehidupannya akan lebih berat lagi.


"Semangat yq! Karyawan baru emang begitu ditrainingnya. Semoga kamu betah ya!"


"Terimakasih. Kalau aku boleh tahu, kamu udah lama kerja disini?"


Liana berjalan menuju kursi panjang yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri semula. Diikuti oleh Zhico dibelakangnya.


"Ya, aku...aku..."


"Dia anaknya Pak Usman. Pemilik Kafe ini." Celetuk Anggera. Salah satu senior ditempat tersebut. Liana membulatkan mata dan bibirnya membentuk huruf O.


"Kamu pemilik Kafe ini?" Pekiknya tertahan. Pemuda disampingnya ini terkekeh ringan saja mendengarnya.


"Tidak, aku cuma anaknya aja kok. Aku disini juga jadi karyawan. Kamu jangan ngerasa nggak enak gitu." Ucapnya merendah.


"Kamu sih bukan jadi karyawan disini, tapi jadi mata-mata karyawan Ayah kamu pada rajin apa enggaknya."


"Kamu bisa aja. Enggak gitu. Aku dituntut buat jadi mandiri sama Ayah. Makanya aku jadi karyawan disini. Ya meskipun aku tahu nantinya aku yang bakal ngelola kafe ini."


Liana manggut-manggut saja mendengarnya. Ia melirik arloji ditangan kanannya, kemudian tersenyum kecil.


"Aku pulang dulu ya, nanti jam 7 aku harus balik lagi."


"Baiklah, selamat bertemu nanti." Gadis itu tersenyum hangat lalu berpamitan pada senior-seniornya yang juga baik hati kepadanya itu.


Selepas kepergian Liana, Zhico masih terus saja tersenyum lebar, bahkan sesekali terkekeh ringan. Hal itu tak luput dari perhatian Anggera. Gadis itu menggelengkan kepalanya berulang-ulang.

__ADS_1


"Tiati Lo kesemsem ama Liana."


BERSAMBUNG...


__ADS_2