Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 21


__ADS_3

kebohongan terbesar dalam merelakan adalah ketika kita ditempa untuk terbiasa, berpura-pura untuk melupa, dan berusaha bahagia diatas kata luka.~


Rio mengedarkan pandangannya ke sana kemari mencari Ify di seluruh penjuru kampusnya. Namun tak ia temukan gadisnya itu. Menghela napas panjang, mungkin saja Ify masih marah dengannya.


Rio berlari kecil kearah Shilla yang baru saja keluar dari parkiran mobil.


"Shill, lo nggak ada kabar sama ify ya?"


"Nggak ada. Emangnya dia nggak ngabarin lo?"


"Enggak. Gue kerumahnya juga kayaknya dia nggak ada di rumah semalam. Lampunya mati semua."


Shilla berhenti sejenak dari langkahnya. Begitupun Rio yang mengikuti jejak Shilla.


"Apa mungkin Ify nyusul om Umari ya?"


Rio memandang Shilla dengan tatapan berfikir. Apa mungkin?


"Lo ngapain deh ngelihatin gue kayak gitu."


Rio tersadar dan mengalihkan pandangannya.


Ia tersenyum seketika saat melihat gadisnya akhirnya muncul didepan matanya.


Shilla mengikuti pandangan Rio dan mengerti, ia berlalu meninggalkan Rio. Sedangkan ify berhenti dihadapan Rio tanpa menatap lelaki itu.


"Kita break."


Rio melotot tak mengerti dengan ucapan Ify yang memutuskan sesuatu secara sepihak.

__ADS_1


"Kamu serius?"


"Iya."


"Kenapa Fy? Karena aku merahasiakan tentang ayah kamu sampai kamu tiba-tiba minta break kayak gini?"


"Maaf Rio, aku minta break dengan alasan sepihak. Aku mau nyusul ayah."


"Aku ikut kamu."


"Nggak. Kamu disini. Selesain kuliah kamu. Selesai kuliah, kamu susul aku kalau aku belum juga balik ke sini."


Ify pergi meninggalkan Rio begitu saja. Ia langsung memasuki taxi agar Rio tidak bisa menggapai dirinya.


Rio berhenti mengejar ify yang sudah berlalu dengan mobil taxi nya.


Perpisahan macam apa ini? Di kampus seperti ini? Dan berlalu begitu cepat.


Rio menoleh. Ia menatap Shilla nanar. Lalu memeluk gadis itu erat. Ia sangat butuh sandaran.


"Gue nggak tau harus gimana Shill? Gue nggak bisa tanpa dia." ucapnya sedikit terhuyung.


Shilla mengelus punggung Rio dengan lembut. Ia sangat mengerti rasanya kehilangan tanpa persetujuan.


Memang benar bukan? Setiap yang datang, pasti akan ada yang pergi. Tidak bisa menetap dan memilih.


********


Alvin dan Sivia terperanjat mendengar ucapan Shilla.

__ADS_1


Shilla menceritakan semuanya. Bagaimana saat ia dan Rio membicarakan Umari dan bagaimana Ify memutuskan hubungan secara sepihak kepada Rio.


Shilla menatap nanar Rio yang menunduk di sofa ruang tamu miliknya. Ia tau pikiran Rio saat ini sedang kalut. Maka dari itu ia membawa Rio pulang kerumahnya tanpa mengikuti kelas hari ini.


Alvin dan Sivia pun langsung menyusul begitu mendapat kabar dari Shilla.


"Gue nggak habis pikir sama Ify. Padahal dia masih punya tante Manda. Kenapa dia sampai susulin Ayahnya ya." ucap Sivia.


"Mama Manda udah punya keluarga sendiri. Dia juga sibuk sama kerjaannya sama Ayah Haling." ucap Rio sembari mengusap wajahnya.


"Yang makin buat gue heran, kenapa dia mutusin hubungan secara sepihak." lanjut Alvin.


"Gue nggak tau. Gue juga nggak boleh menyusul dia."


Shilla menatap Rio, ia masih berdiri tak jauh dari tempat Rio. Ia masih terbayang-bayang saat ia dipeluk oleh Rio.


Secepat mungkin ia menggelengkan kepalanya, menepis pikiran tidak baik diotaknya. Rio adalah kekasih sahabatnya. Mana mungkin ia bisa menyukai kekasih sahabatnya.


Sivia yang melihat Shilla menggelengkan kepalanya berulang kali mengerutkan keningnya.


"Kenapa lo Shill?"


Shilla pun terperanjat kaget mendengar ucapan Sivia.


"Gak papa." jawabnya singkat.


Rio berdiri dan langsung pergi keluar dari rumah Shilla. Ia tidak bisa terus menerus memikirkan gadisnya hanya dengan duduk termenung di sana.


Alvin, Sivia, dan Shilla tidak ada yang mencegah kepergian Rio.

__ADS_1


Mereka tau, Rio pasti akan menyusul Ify. Biarkan saja memperjuangkan cinta yang dirasa masih ada. Jika dibiarkan terlalu lama, takut akan menghilang seiring berjalannya waktu.


[Bersambung...]


__ADS_2