
Pagi ini Alvin sudah nangkring di atas motornya didepan rumah Sivia. Sivia yang baru saja keluar dari rumahnya heran melihat Alvin disana yang tak biasa menjemputnya.
"Ngapain Vin?"
"Ya jemput kamu lah sayang."
Sivia tersenyum manis sekali. Membuat Alvin gemas dan mencubit pipinya. Pipi yang mulai sekarang akan menjadi miliknya sendiri.
Alvin melajukan motornya membelah ramainya jalanan. Mereka pergi bersama ke kampus setelah beberapa lamanya mereka tak pergi bersama.
Alvin dan Sivia sampai dikampus. Alvin langsung memarkirkan motornya dan Sivia yang menunggu dipinggir kelas.
"Rio mana Vi?" tanya Agatha yang juga baru saja datang.
"Mana gue tahu. Gue aja baru datang." Sivia langsung pergi karena tidak suka dengan Agatha. Biarlah nanti Alvin menyusulnya. Tapi langkahnya terhenti karena tangan Agatha yang menahannya.
"Lo tuh kenapa sih Vi berubah gitu sama gue? Karena lo udah punya ify? Dulu kita sahabat baik loh." heran Agatha.
"Iya, dulu kuta sahabat baik Tha, jauh sebelum lo pergi gitu aja ninggalin sahabat-sahabat lo termasuk pacar lo!"
"Gue benci sama lo." lanjut Sivia.
"Ya karena apa? Lo bilang dong sama gue."
"Karena kelakuan lo. Ternyata selama ini lo tuh nggak pernah sadar ya Tha."
"Kelakuan gue yang mana?"
"Lo ninggalin Rio, ninggalin gue, Agni, Shilla, TANPA ALASAN! Lo gak kasih kabar apapun! Lo gak ada informasi dan izin ke kita! Sebegitu nggak berharganya kita dimata lo!?"
"Vi, maafin gue. Gue panik waktu itu."
"Panik? Terus setelah lo udah sampai di Paris, lo masih panik? 2 tahun lo disana dan itu masih panik juga? Ngelawak loe!"
"Udahlah, gue udah nggak ada urusan apapun lagi sama lo. Lo bukan Agatha yang gue kenal dulu."
Sivia pergi menghampiri ify didepan kelas yang ternyata menyaksikan pertengkarannya dengan Agatha.
Agatha berlari menyusul ify dan Sivia. Ia langsung menyambar ify dan menamparnya.
Plakk!!
Sivia terbelalak kaget. Ia menghadang Agatha yang ingin menampar Ify lagi.
"Lo tuh apa-apaan sih Tha? Ngapain lo nampar ify?" bentak Sivia kesal. Ify masih diam, ia mengelus pipinya yang sedikit terasa memar.
"Ini semua tuh karena kedatangan ify di hidup lo sama Rio, dan kalian semua. Lo berubah, apalagi Rio! Gue tau Rio masih cinta sama gue, tapi karena ify semua itu hancur!"
__ADS_1
Ify maju mendekati Agatha dan menjambak rambutnya sekuat tenaga.
"Makanya lo ngaca, lo liat diri lo baik-baik. Sehebat apa sih lo? Bahkan untuk nge-bunuh lo saat ini juga gue bisa lakuin." bisik ify ditelinga Agatha.
Ia mendorong tubuh Agatha hingga Agatha tersungkur. Sivia tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya Ify bisa juga melawan Agatha yang terus menerus menyalahkannya.
Rio datang menolong Agatha. Ia baru saja datang dan melihat keributan itu.
"Lo apa-apaan sih Fy? Ngapain dorong-dorong Agatha?" ucap Rio. Ia merasa kasihan dengan Agatha, meskipun ia sudah tidak mencintai Agatha.
"Kenapa? Masalah buat lo?" tantang ify.
"Nggak punya hati lo!"
"Emang."
Saat sedang berdebat, Agatha tiba-tiba saja pingsan. Rio dengan sigap meraih tubuh Agatha.
"Astaga Agatha lo kenapa!" panik Rio.
"Alah palingan cuma pura-pura." ucap Sivia enteng.
Rio hanya memandang tak suka pada Ify dan Sivia. Ia langsung membopong tubuh Agatha menuju ruang kesehatan.
*********
"Minum es teh, enak nih Fy." ucap Sivia bersemangat. Ify hanya mengangguk setuju. Cuaca panas memang membuat semua orang merasa dehidrasi.
"Mampir kelas Alvin dulu ya." pinta Sivia.
"Males ah. Lo aja. Gue duluan ke kantin ya. Sekalian pesanin makanan."
"Oke."
Kedua wanita itu melenggang menuju arah yang berbeda.
Saat melewati sebuah ruangan, Ify mendengar suara Rio dengan seorang perempuan. Siapa lagi kalau bukan Agatha. Seketika itu juga Ify mulai menghentikan langkahnya. Tidak berniat mendekat karena suara mereka sudah cukup terdengar ditelinga Ify dari posisinya berjalan saat ini.
"Rio, plis ya jangan tinggalin aku lagi." pinta Agatha dengan suara melemah.
"Sebenernya lo tuh kenapa sih Tha? Dulu elo yang ninggalin gue. Sekarang lo balik gitu aja. Lo gak mikirin perasaan gue?" suara Rio melembut. Berbeda sekali dengan suara Rio saat berhadapan dengan Ify.
"Maafin aku Rio. Aku menyesal banget."
"Udah ya Tha, hubungan kita selesai sampai disini. Mau sekuat apapun gue berusaha buat cinta lagi sama lo, gue tetep nggak bisa. Gue udah cinta sama orang lain."
"Pasti ify ya."
__ADS_1
Rio hanya diam menunduk. Ia tidak membalas ucapan Agatha. Ya, benar. Cinta Rio saat ini hanyalah untuk Ify. Bahkan saat dunia memberinya sebuah kesalahpahaman tentang hubungan masa lalu mereka, cinta itu tak pernah hilang dari hati masing-masing.
Agatha menengadahkan wajahnya menatap langit-langit ruangan bernuansa putih itu.
"Aku tau kok Rio. Aku cuma berusaha buat perjuangin kamu lagi. Yang aku harap kamu masih cinta sama aku. Ternyata aku salah. Cinta kamu udah hilang sejak aku pergi."
Rio masih diam. Ia membiarkan Agatha mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Padahal aku berharap, disisa umur aku yang udah nggak panjang ini, aku bisa bahagia sama kamu Rio."
Rio tersentak kaget. Ia mendongak menatap Agatha.
"Emangnya kamu kenapa?"
"Aku kena penyakit leukimia Rio. Dan aku nggak tau lagi sampai kapan aku bisa lihat kamu kayak gini." Agatha membelai lembut pipi Rio.
Rio diam. Ia tak menyangkan bahwa Agatha mempunyai penyakit mematikan seperti itu.
"Kamu tenang aja Tha. Kamu akan selalu ngelihat aku kok." ucapan Rio yang sama sekali tidak sejalan dengan hatinya.
Agatha memeluk Rio erat. Ia tersenyum dalam dekapan Rio.
Sementara ify yang mendengarkan obrolan mereka hanya diam, ia mengelus dadanya berulang-ulang. Sesak sekali.
Ia berlari menuju kantin. Rupanya Alvin dan Sivia sudah lebih dulu disana. Ia menghampiri bangku sepasang kekasih itu dan melahap makanan yang sudah dipesankan oleh Sivia.
"Lo dari mana sih Fy? Kok lama banget. Katanya mau pesanin makanan, eh malah gue yang pesanin lo makanan." celoteh Sivia.
"Vi gue mau tanya sesuatu dong sama lo." ucap Ify tanpa menggubris pertanyaan Sivia.
"Apa?"
"Emangnya Agatha punya riwayat penyakit ya?"
Sivia menatap Alvin, karena ia tidak mengenal keluarga Agatha. Alvin lah yang mengenalnya.
"Kalo setau gue, dulu dia punya penyakit jantung sih tapi udah sembuh waktu dia masuk SMA. Kan ayah dia dokter ternama." jelas Alvin.
"Tadi gue denger Agatha bilang ke Rio kalo dia kena leukimia." ucap ify. Sivia tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan ify.
"Nggak mungkin Fy! Itu pasti akal-akalan Agatha biar Rio perhatian sama dia. Basi itu. Lagu lama." ucap Sivia masih sedikit tertawa.
Ify hanya mengangguk-angguk saja mendengar penuturan Sivia.
Ify melamun. Akankah ia kembali bersatu bersama Rio seperti dulu? Seperti saat Agatha belum kembali? Haruskah dia memperjuangkan Rio? Sedang Rio malah memperjuangkan orang lain.
aku masih mencintainya, tapi dia sudah berhenti memperjuangkanku.~
__ADS_1
Bersambung...