
Sesampainya dirumah, Rio pun tak langsung tidur. Ia menatap sebuah foto yang terpampang besar dimeja belajarnya. Ia merasa bersalah pada gadisnya sendiri. Semudah itu ia mengkhianati Ify, bahkan saat Ify berjuang untuk kesembuhan Ayahnya.
"Maafin aku Fy." lirihnya.
********
Pagi sudah tiba. Rio bergegas menuju parkiran mobil dan melaju ke rumah Shilla.
Alvin yang mengamati Rio dari atas tangga hanya diam, tak menegur dan tidak bersuara. Ia masih terheran dengan perlakuan Rio pada Shilla tadi malam.
Saat itu, Alvin ingin mengantar Sivia pulang melewati komplek rumah Shilla. Namun ia tertegun melihat Shilla dan Rio yang melakukan adu cium dengan mesra.
Ia kasihan terhadap Ify, biar bagaimanapun Ify adalah adik kandungnya.
Ia mengirim foto kepada ify. Lalu tersenyum kecut.
"Semoga lo bahagia Fy." ucapnya pelan sembari berjalan menuju ambang pintu dan menatap kepergian Rio.
Ia sangat tahu, kemana Rio akan pergi.
Tak lama sesaat setelah mobil Rio menghilang dari pandangannya, mobil Sivia menggantikan posisi di pandangan Alvin.
Alvin berjalan menghampiri Sivia dengan senyum merekah lalu memeluknya erat meski hanya sebentar.
"Kamu dari mana aja? Kok baru kesini? Jam 9 loh ini." ucap Alvin.
Pasalnya, ia dan Alvin akan pergi ke butik untuk fitting baju pengantin.
"Maaf sayang, aku kesiangan." ucap Sivia sembari memamerkan gigi timunnya.
"Kebiasaan kamu ya. Nanti kalau udah jadi istri aku bangunnya siang terus aku siapa yang masakin." Alvin mengerucutkan bibirnya, membuat Sivia gemas.
"Maaf ya Vin, aku belum bisa bangun pagi on time. Aku masih suka molor."
Alvin tertawa renyah lalu mengacak poni Sivia.
"Astaga sayang, ya nggak papa lah. Nanti kan ada bibi yang bisa masakin aku kalau mau pergi kekantor. Apalagi nanti kalau kita udah punya anak." canda Alvin sembari memainkan alisnya.
Sivia hanya terkekeh malu dan mencubit perut Alvin. Sesaat kemudian raut wajah Sivia berubah menjadi serius.
"Gimana Ify? Udah kamu kirim fotonya?" tanyanya.
Alvin menggandeng Sivia menuju dalam rumah sebelum menjawab.
"Udah, tadi waktu Rio berangkat."
"Terus, reaksi ify gimana?"
"Nggak ada reaksi, nggak ada jawaban. Di read aja pesanku."
Sivia manggut-manggut saja.
"Kejam banget Shilla. Kayak dia nggak tau aja rasanya diselingkuhi." ucap Sivia, kembali ia mengingat dimana saat Gabriel bermain dibelakang Shilla.
"Biar gimanapun Ify itu adik aku Vi, aku tetap berpihak sama Ify. Lagian dia pergi juga karena ada masalah, bukan tanpa alasan."
"Aku tau Vin. Tapi aku pikir, ify bisa menyelesaikan masalahnya. Dia cukup pintar menghadapi situasi."
Alvin mengangguk dan tersenyum. Ia merangkul tubuh Sivia dan menciumnya sekilas tepat dibibir mungil itu.
*********
Pria yang semalam tengah mengalami penyesalan secara mendadak kini tiba dihalaman rumah gadis yang membuatnya khilaf. Ia melihat gadis itu sudah bersiap dengan tas kecilnya dan kacamata hitamnya. Sangat mempesona, membuat Rio berdecak kagum.
Entah mengapa, ia baru menyadari bahwa Shilla begitu cantik dengan rambut terurai yang berkibar layaknya bendera diterpa angin tersebut.
"Ngelamun aja lo." ucap Shilla mengagetkan Rio.
Pria itu tersentak kaget, dan mencubit hidung Shilla.
"Ngagetin aja lo." ucapnya. Shilla hanya terkekeh kecil.
"Ayo berangkat. Udah siang. Nanti ketinggalan pesawat." ucap Rio selanjutnya. Shilla hanya mengangguk dan bergegas masuk kedalam mobil Rio.
__ADS_1
"Maaf Fy, gue berkhianat sama lo. Tapi gue terlanjur suka sama Rio." batinnya sendu menatap Rio disebelahnya yang fokus menyetir.
Bukankah benar? Tamu tidak akan masuk jika tuan rumahnya tidak membukakan pintu untuk si tamu.
********
Ify berjalan keluar dari sebuah tempat percetakan foto yang besar di kota itu. Ia tersenyum kecut, sangat kecut.
Benar-benar masih tak percaya. Bahwa dua manusia yang ada difoto itu adalah kekasih dan sahabatnya sendiri.
Baru saja ia meninggalkan mereka 2 bulan. Mereka sudah berani melukai hatinya dengan perlakuan yang begitu menyakitkan hatinya. Pantas saja kekasihnya begitu lihai menghindarinya. Mungkin hal ini yang membuatnya begitu tak perduli lagi pada Ify.
Ia masih tersenyum hingga ia tiba didalam mobilnya. Memegang kendali stir dan mencengkram nya erat-erat.
Tak lama, ponselnya bergetar dan ia mendapatkan pesan dari seseorang.
Dengan menghembuskan nafas kasar, ia melajukan mobilnya menuju bandara untuk menjemput seseorang.
*********
Disinilah gadis cantik itu berada. Menunggu sahabat sekaligus kekasihnya datang menemuinya. Seharusnya, ini adalah hari dan momen terindah semenjak 2 bulan yang lalu ia meninggalkan kekasihnya. Ia sangat merindukannya.
Sayang sekali, gadis itu sudah tidak mengenali kekasihnya.
Ify tersenyum sedikit melihat Rio dan Shilla tak jauh didepannya celingak-celinguk mencarinya.
Ponselnya bergetar, ada panggilan dari Rio.
"Hallo."
"Fy, kamu dimana?"
"Dibelakang kalian."
Rio menoleh. Begitupun Shilla yang mengikuti arah pandangan Rio. Keduanya tersenyum. Rio berlari kecil menghampiri Ify. Sedangkan Shilla hanya berjalan santai sembari membenah kan anak rambutnya yang berantakan terkena angin.
"Fy, aku kangen sama kamu." ucap Rio begitu ia sampai dihadapan Ify. Ia memeluk Ify dengan erat, begitu erat. Seolah ia tak mengingat hal apa yang ia lakukan bersama Shilla tadi malam.
Seolah ify tak ingin lagi berlama-lama dengan dua pengkhianat itu, ia pun melerai pelukan Rio.
"Gimana kabar om Umari Fy?" tanya Shilla.
"Cukup baik. Meningkat stadium 1."
"Alhamdulilah Fy. Berarti sebentar lagi, lo balik dong ke Jakarta."
"Buat apa?" berkata masih dengan ekspresi datar dan dingin milik Ify Alyssa.
Rio mengernyit. Begitupun dengan Shilla. Saling berpandangan sebentar, lalu kembali menatap Ify dihadapan mereka.
"Maksudnya gimana Fy?"
"Ya buat apa gue balik ke Jakarta?"
"Ya buat aku lah Fy. Buat apalagi?" ucap Rio menimpali. Ia memegang tangan Ify.
Shilla yang melihat itu sedikit sakit hati, namun ia sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa Rio.
Ify hanya tersenyum menanggapi ucapan Rio.
"Kamu mau kan nikah sama aku? Aku udah nungguin kamu lo Fy. Ya maaf kalau selama kamu disini, aku nggak pernah balas pesan kamu atau angkat telpon kamu. Aku cuma nurut sama ucapan kamu dulu, kamu nggak mau diganggu sama aku kan. Kamu mau fokus rawat Om Umari kan." ucap Rio.
Ify menarik tangannya dari genggaman Rio. Menghembuskan nafasnya dengan tenang, dan kembali tersenyum tipis.
"Kalian ngapain aja 2 bulan tanpa aku?" tanya Ify mengalihkan pembicaraan.
"Nggak ada Fy. Kita kuliah, selesai kuliah kita liburan biasa di rumah, habis itu kita kesini. Jemput kamu." ucap Rio. Shilla hanya mengangguk.
Ify mengeluarkan foto yang baru saja ia cetak sebelum menjemput Rio dan Shilla.
Rio dan Shilla sama-sama tersentak kaget melihat foto yang diberikan Ify padanya. Sementara Ify masih memasang tampang santainya dengan mengamati dua manusia dihadapannya ini.
"Fy, aku bisa jelasin ke kamu." ucap Rio dengan cepat. Terlihat dirinya dan gadis disamlingnya itu tengah bermanja diatas balkon sebuah kamar yang asing bagi Ify.
__ADS_1
Ify menepis tangan Rio yang ingin meraihnya.
"Semuanya udah jelas. Aku udah dapat penjelasan dari Alvin. Kamu nggak usah jelasin apapun."
"Tapi Fy_"
"Aku yang ini memperjelas Rio. Kita selesai."
Rio menggeleng. Tidak ingin kehilangan Ify saat ini. Cintanya besar untuk Ify, namun pada Shila, entahlah. Rio juga tak mengerti.
"Enggak Fy, aku nggak mau."
"Jangan bodoh Rio! Aku bukan seseorang yang sempurna seperti Shilla. Kamu benar. Kamu benar memilih Shilla menjadi pengganti aku. Sekarang aku tau, 2 bulan tanpa mengabari aku adalah saat-saat kamu mendekati hati Shilla. Selamat, kalian berhasil buat aku sakit luar dan dalam." ucap Ify. Ia pergi meninggalkan Rio dan Shilla tanpa sepatah kata apapun lagi.
Tangis pun berusaha ia bendung sekuat tenaga sampai ia benar-benar masuk kedalam mobil dan menenggelamkan kepalanya di kemudi stir.
Benar-benar tak menyangka dengan apa yang dilakukan Rio dan Shilla.
Sementara Shilla, ia bingung harus senang atau sedih. Ia senang karena Ify mengakhiri hubungannya dengan Rio, itu berarti ia bisa memiliki peluang mendapatkan Rio. Namun ia juga sedih, Ify pasti membencinya.
"Maaf Fy, gue egois." batinnya sedikit tersenyum.
Ia meraih lengan Rio yang ingin mengejar Ify.
"Biarin dulu, Ify butuh waktu buat nerima semua ini. Dia pasti tertekan." ucap Shilla menenangkan Rio.
Ia memapah Rio menuju sebuah bangku di sana. Dan kembali mengelus-elus punggung Rio.
Rio hanya diam tak berucap apa-apa, ia menahan tangisnya tak menyangka apa yang ia lakukan benar-benar fatal akibatnya.
"Yo, kita cari penginapan ya. Nggak mungkin kita balik Jakarta sementara kita belum dapat maaf dari Ify."
Rio hanya mengangguk saja dan menuruti Shilla.
*********
Ify berjalan memasuki rumah yang ia sewa selama ia di kota ini bersama Umari.
Dengan lesuh ia terduduk disebelah Umari yang masih mengerjakan tugas kantor dengan infus yang menancap ditangannya.
"Katanya mau jemput Rio sama Shilla. Kok nggak diajak kesini?" tanyanya.
"Aku selesai sama Rio Pa."
Umari terkaget. Ia menatap Ify dengan tatapan yang serius. Ia mengerti dan ia tahu, hubungan yang anaknya bangun dengan Rio bukanlah hubungan yang biasa. Sejak mereka SMA dan hingga kini mereka sudah lulus kuliah. Bukankah itu bukan waktu yang singkat?
"Kamu serius Fy? Kenapa?"
"Rio selingkuh sama Shilla. Benar-benar fatal. Ify nggak bisa maafin mereka Pa."
Umari mengangguk mengerti. Ia tak ingin banyak bertanya kepada putrinya itu. Bukan waktu yang tepat, pikirnya.
"Kamu istirahat ya. Papa nggak mau kamu sakit. Jangan terlalu dipikirkan. Jodoh tidak akan kemana." ucap Umari menepuk pundak Ify.
Ify mengangguk dan meninggalkan Umari begitu saja.
"Semoga bahagia selalu, anakku." ucapnya pelan menatap kepergian anak gadisnya.
Ify menghambur ke kasur empuk di kamarnya. Menatap langit-langit kamarnya.
Bukan lagi jarak bulan ia mengenal Rio dan Shilla, namun tahun. Bukan 1 atau pun 2, banyak sekali tahun yang sudah ia lewati bersama Rio dan Shilla.
Hanya dengan waktu 2 bulan saja, Rio berhasil menghancurkan masa-masa tahunan bersamanya. Menghancurkan impian-impian mereka dalam sekejap saja.
Ia kehilangan 2 sekaligus seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Salah gue apa sih? Kenapa kalian tega sama gue?"
Air mata mengalir dari mata sipit gadis itu. Tak berusaha menahannya. Ia masih membiarkan air matanya mengalir.
Ponselnya kembali bergetar, namun dengan cepat ia melempar ponsel itu tanpa mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamarnya.
Bersambung...
__ADS_1