
Satu minggu sudah ify berada di rumah sakit dan Rio yang senantiasa merawatnya. Ia sudah berjanji lagi akan melindungi dan menjaga Ify pada Umari saat mereka berbincang berdua sebelum Umari pergi dari Jakarta. Dan Rio bertekat, ia dan janjinya tidak akan bisa dipungkiri.
Hari ini, ify berbahagia karena ia sudah dibolehkan pulang oleh dokter.
Gadis berambut pirang itu menata baju-bajunya didalam tas sembari menunggu kedatangan Rio dan Alvin Sivia.
"Pagi cantik "
Ify membalikkan badannya dan melihat dokter Adam berdiri diambang pintu. Dokter yang sudah merawatnya sejak ia berada di rumah sakit.
Ify tersenyum dan berhenti mengemasi bajunya.
"Ada apa dok?" tanya ify.
Dokter muda itu terkekeh sedikit dan berjalan menghampiri ify.
"Nggak usah panggil dok. Panggil Adam saja."
"Hehe, iyaa Adam." Ify menurut saja meskipun terdengar sangat aneh.
"Ada apa?"
"Gimana badan kamu? Udah enakan?"
"Udah kok. Kan udah dibolehin pulang."
Adam hanya tersenyum.
"Kamu sama pacar kamu udah berapa lama pacaran Fy?"
"Oh Rio, udah dari kelas 3 SMA Dam."
"Wah, dan sekarang kamu udah hampir lulus kuliah ya. Langgeng banget kalian."
"Iya Dam, alhamdulilah aja. Oiya, kamu udah nikah ya Dam?"
Ify duduk dipinggir ranjangnya. Ia sudah selesai mengemasi baju-bajunya.
"Belum."
"Kok belum? Kamu udah mapan gini. Usia juga udah cukup buat nikah."
"Belum ada yang cocok Fy. Sekalinya ada yang cocok, dia udah punya gandengan."
Ify sedikit tertawa mendengar penuturan Adam.
Adam hanya menatapnya dengan senyuman tipis.
"Udah ngobrolnya?"
Rio nyelonong saja masuk dan langsung mendekap tubuh mungil ify, membuat Adam sedikit menjauhkan badannya dari Ify.
"Kita pulang yuk, aku kangen banget sama kamu." ucap Rio manja.
Adam hanya menunduk saja tak mau melihat kemesraan sepasang sejoli ini.
"Ya udah ayo pulang." ucap Ify.
Ia berpamitan pada Adam dan pergi meninggalkan Adam di ruangan itu.
Adam diam menatap kepergian Ify yang digandeng oleh Rio.
"Andai aja gue datang disaat yang tepat ya Fy. Mungkin lo bakal jadi milik gue." batinnya pilu.
__ADS_1
Ia juga tak mengerti mengapa hanya dalam waktu 1 minggu saja ia bisa menyukai gadis mungil itu.
gua kira percaya diri itu penting, ternyata yang lebih penting itu sadar diri.~
*******
Ify dan Rio menunggu Alvin dan Sivia ditempat parkiran mobil. Mereka izin untuk membeli makanan sebentar dan nyatanya sangat lama. Membuat Rio sangat kesal.
"Alvin sama Sivia ditinggal aja yuk. Lama banget." ucapnya tak sabaran.
"Sabar kali Rio. Inikan mobil Alvin kok jadi kamu yang berkuasa." ucap Ify.
Rio hanya mendengus kesal.
"Dokter tadi bilang apa aja ke kamu?" tanya Rio tiba-tiba.
"Cuma nanyain kondisi tubuh aku."
"Kok pakai aku kamu sih ngomongnya"
"Ya kan dia dokter Rio, masak harus lo gue." Sadar, Rio kini tengah cemburu. Batin Ify menggelengkan kepalanya.
"Tapi kamu tadi manggil dia pakai nama, bukan dokter."
"Dia yang minta."
Disaat berdebat, Alvin dan Sivia datang dan langsung masuk kedalam mobil. Alvin langsung menancap gas mobilnya menuju rumahnya.
"Lo lama banget beli apa sih Vin?" tanya Rio.
"Kepo aja lo."
"Ify, gimana keadaan lo? Udah baikan kan?" tanya Sivia. Ia membalikkan badannya mengarah ke kursi belakang.
"Semangat ksrena ada Adam, ya kan?" ucao Rio ketus. Rupanya ia mendengar obrolan ringan antara Ify dan dokter muda tersebut.
"Apa sih Rio, enggak begitu." rajuk Ify. Ia salah tingkah sendiri karena Rio cemburu berat padanya.
"Bagus deh. Lo bisa kuliah lagi dan selesaikan urusan lo di kampus." ucap Sivia menengahi.
"Gimana kabar Agatha?"
"Udah dipenjara." celetuk Rio.
"Biar mampus tuh orang dipenjara." ucap Sivia menggebu-gebu.
"Kok gitu?"
"Ya kan dia udah meculik lo. Udah gitu menganiaya lo. Pasal berlapis tuh."
Ify hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan Sivia.
Drttt ... Drrttt ... Drrrtttt ...
Ponsel ify bergetar. Ia merogoh sakunya dan melihat layar ponselnya.
***083850xxxxxx
Siang Fy, jangan lupa minum vitamin ya :)
"Siapa nih?" gumam ify. Ia melirik Rio yang menyenderkan kepalanya ke jendela mobil dan memejamkan matanya. Ia tak berniat membalas pesan itu, lalu menyimpan lagi ponselnya kedalam tas dan menghadap Rio yang berada disebelahnya.
"Kamu capek ya Rio?" tanya Ify.
__ADS_1
"Enggak."
"Terus kenapa kok kayak capek gitu."
Rio membuka matanya. Ia menatap ify.
"Aku yakin Adam suka sama kamu." ucapnya tiba-tiba.
Ify menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari menatap Rio terheran-heran.
"Aneh." gumamnya. Sementara Rio kembali pada posisi awalnya yang menyender pada jendela.
Ia kembali menatap jalanan yang ramai di penuhi penduduk bumi. Pasti siang hari sangat ramai karena orang kantor sudah beristirahat dan mencari makan siang.
*******
Mobil Alvin sudah sampai dirumahnya. Ify dan Rio turun. Sivia membantu Ify membawa tas berisi baju-bajunya.
"Halo sayang, selamat datang." sapa Manda memberikan pelukan hangat. Dan juga Haling.
"Gimana badan kamu Fy? Udah enakan?" tanya Haling. Ia merangkul pundak calon mantunya itu.
"Udah kok om." ucap Ify tersenyum.
Keluarga besar itu masuk kedalam rumah dan bercengkrama ringan sembari menyantap makanan ringan yang dibeli Alvin dan Sivia.
********
Adam memasukan ponselnya ke saku celananya. Ia tersenyum sedikit membayangkan saat dimana ia merawat ify dengan tulus.
Baru kali ini ia menemukan pasien muda yang menarik perhatiannya. Wajahnya, sifatnya, sikapnya, sorot matanya, sungguh membuat Adam terpana.
Sayang sekali, gadis itu sudah memiliki seorang pujaan.
Adam menghembuskan nafasnya kasar. Ia tak mungkin bisa memiliki Ify.
"Adam."
Seseorang berdiri diambang pintu ruangan Adam.
"Ada apa?"
"Aku kangen sama kamu."
Gadis itu berjalan manja dan langsung memeluk Adam. Secepat itu juga Adam melepaskan pelukan gadis itu.
"Luna, ini rumah sakit. Tolong jangan bertindak seenaknya."
"Adam, sampai kapan sih lo dingin terus sama gue? 4 tahun gue perjuangin lo."
"Gue nggak mau bahas ini. Tolong lo keluar dari ruangan gue."
"Lo suka sama siapa sih Dam? Gue lihat lo selalu nggak ada pacar. Kurang apa gue Dam?"
"Luna gue mohon lo pergi. Gue mau sendiri."
Luna mendengus kesal dan pergi dari ruangan Adam.
Adam menatap kesal kepergian Luna. Gadis itu selalu saja mengganggunya. Dan entah kenapa, hatinya selalu tertutup oleh kedatangan Luna. Mungkin, ia masih mencintai masa lalu nya. Atau, hanya ify yang bisa membukanya?
Adam menggelengkan kepalanya lalu menyambar jas kedokterannya dan pergi dari ruangan itu. Ia bergegas untuk pulang kerumahnya.
[Bersambung...]
__ADS_1