
Pagi menyapa menyambut indahnya hari yang cerah. Begitu riang nyanyian burung-burung di udara, juga burung tetangga disebelah rumah Rio.
Liana bersiul kecil sembari menuruni anak tangga satu-persatu. Ia tersenyum kecil kala melihat pemuda yang semalam ia cari masih tertidur disofa ruang tamu.
"Kak Rio bangun!" Liana berteriak disebelah telinga Rio. Membuat sang pemilik mendelik kaget karena begitu kerasnya suara Liana menyapa gendang telinganya.
"Apaan sih kamu itu! Budeg telingaku!" Keluhnya dengan sangat kesal sembari menggosok telinganya berulang-ulang. Rio langsung duduk disofa dengan wajah yang ditekuk.
"Ini udah jam sembilan Kak! Emangnya nggak kekantor?"
"Kekantor atau enggak itu urusanku Liana. Aku yang punya kantor. Ngapain repot? Lagian ada Cakka yang udah handle semua pekerjaan."
"Ya sudah, Liana berangkat bekerja kalau gitu."
"Ya, hati-hati. Kamu diantar sopir aja."
"Oke."
Setelah berlalunya sang gadis dari hadapan, Rio langsung meraih ponselnya dan mengecek adakah pesan penting atau panggilan darurat yang masuk di ponselnya.
Setelah dirasa tidak ada yang penting, ia berlalu menuju kamarnya dan membersihkan dirinya karena semalam ia langsung tertidur begitu saja. Sama persis dengan sang adik angkat.
***
Pulang dari tempat kerjanya, sang gadis terdiam lesu. Sama sekali tidak memberi salam kepada sang tuan rumah seperti biasanya. Membuat Rio kebingungan sendiri.
Mengingat-ingat apakah dirinya memiliki salah terhadap adik angkatnya itu, namun tidak ia temukan jawabannya.
Ia kemudian mengikuti langkah kaki sang gadis menaiki anak tangga satu persatu. Belum sampai diatas, ia langsung menarik tangan Liana agar menghadap padanya.
"Kamu kenapa Na?" tanyanya sangat khawatir. Baru pertama kali ini ia melihat sang gadis tertunduk lesu tanpa semangat apapun. Berbulan-bulan hidup bersama membuatnya merasa bahwa ia sudah benar dalam memperlakukan sang gadis dirumahnya.
"Aku nggak papa kok kak."
"Bohong. Cerita sama kakak."
"Aku nggak papa beneran kak. Cuma capek aja."
"Kamu masih inget sama Ayah kamu? Aku bisa bawa kamu ketempat Ayah kamu saat ini."
Liana mendengkus kasar. Ia kembali menekan dadanya yang terasa sesak.
"Kak, kenapa perhatian banget sama aku? Aku bukan adik kandung kakak."
"Jadi karena ini? Kenapa? Kamu suka sama kakak?"
Liana tertegun mendengar ucapan Rio. Ia langsung menggeleng dengan cepat. Meski pada kenyataannya ia begitu menaruh hati terdalam pada orang sebaik Rio.
Sepertinya Rio begitu ahli membaca mata batin wanita. Hanya menatap sorot matanya saja, ia bisa tahu apa yang tengah dirasakan sang gadis.
"Kakak kenapa ngomong gitu?" memalingkan wajahnya dengan malu, ia tak kuat menatap sorot mata Rio yang terasa menghujaninya setiap detik.
__ADS_1
"Aku hanya mengira." ucap Rio kemudian tawa terdengar sempurna ditelinga Liana.
Gadis itu langsung menghela nafas panjang kemudian meninju lengan Rio dengan pelan.
"Zhico maksa aku buat jadi pacarnya." ia memulai ceritanya dengan berduduk dianak tangga teratas. Diikuti oleh Rio disampingnya.
"Bagus dong. Zhico kan anak pemilik cafe itu. Nantinya dia yang akan jadi pewaris tunggal."
"Masalahnya aku nggak suka sama dia kak!"
Mata Rio memicing seketika menatap Liana. Yang ditatap malah membulatkan matanya sembari waspada terhadap prasangka-prasangka yang akan Rio berikan padanya.
"Kenapa kamu nggak suka sama dia? Kamu beneran suka sama kakak?"
Liana melengos. Membuat Rio semakin gencar menertawainya.
"Kak, kenapa selama aku dirumah ini, kakak nggak pernah bawa perempuan? Calon istri kakak?" tanya Liana mencoba mengalihkan semua praduga yang Rio ucapkan.
Yang ditanya semakin tertawa membuat Liana tak mengerti.
"Kak aku serius!" serunya sembari meninju lengan Rio. Membuat tawa pemuda itu berhenti.
"Kamu mau diseriusin? Oke. Besok kita nikah."
Setelah berucap, Rio meninggalkan Liana begitu saja dianak tangga tersebut.
Sedang yang ditinggal malah tersenyum malu sembari menyentuh pipinya yang dirasa memanas.
***
Pagi datang dengan sinar mentari yang hangat. Menyapa dengan penuh kehangatan. Berharap semua manusia di bumi ini ikut menghangat bersama hari-hari yang akan mereka jalani hari ini.
Liana menguap diatas ranjangnya setelah menggeliat cukup lama. Merasakan sepertinya hari ini ia akan sangat berbahagia. Berharap apa yang ia dengar dari mulut Rio benar-benar menjadi nyata. Tidak apa tidak mewah seperti pernikahan pada umumnya, yang terpenting ia akan menjadi milik Rio. Begitupula sebaliknya.
Indahnya berkhayal.
Menuruni anak tangga dengan perlahan, mata bulatnya melirik jam dinding yang tergantung dipojok ruangan tamu. Jam menunjukkan pukul 9 pagi, namun ia merasa mendengar sebuah suara yang berasal dari ruang tamu yang sempat ia lirik beberapa saat yang lalu.
"Apa kak Rio nggak ngantor ya?"
Semakin menuruni anak tangga, semakin ia mendengar suara banyak orang tengah berbincang.
Dengan pelan ia memutar gagang pintu, kemudian ia menyembulkan kepalanya dari balik daun pintu yang terlihat mahal tersebut.
"Liana, kamu udah bangun?" suara Rio memecah keheningan setelah datangnya Liana tanpa aba-aba.
Yang disapa hanya tersenyum lebar lalu menundukkan kepalanya, tanda menyapa semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Sini, kenalin keluarga aku. Selama kamu disini, kamu belum bertatap muka sama kedua orang tua ku kan."
Gadis itu mengangguk lalu mulai berjalan mendekati posisi Rio yang sudah berdiri bersama orang-orang yang belum pernah Liana temui. Terlebih seorang gadis cantik berambut panjang hitam legam yang sepetinya tengah mengandung tersebut. Terlihat dari mata kecil Liana.
__ADS_1
"Kenalin, ini Ayah Haling, Om Umari, dan juga Bunda Manda."
Mengecup punggung tangan para orang tua tersebut, Liana seperti mendapatkan keluarga barunya. Keluarga yang dulu ada, namun harus hancur akibat keegoisan dan takdirnya dimasa lalu.
"Liana, Bunda tahu kamu sangat berat melalui ujian hidup kamu diusia yang masih muda ini. Dan Bunda senang kamu bisa mempertahankan mahkota kamu dari orang yang tidak baik seperti Ayah kamu."
"Lupakan semuanya. Anggaplah kita adalah keluarga kamu yang sesungguhnya.
Mata bulat indah itu memerah, dan nafasnya terengah. Ia benar-benar terharu melihat ketulusan keluarga Rio yang selalu mendukungnya hingga detik ini.
Bukan siapa-siapa, bahkan sebelumnya pun tidak saling mengenal kecuali dengan Ayahnya, namun dengan tulus mereka mau menerima gadis tersebut dengan baik dan tulus.
"Terimakasih Om, Tante. Liana bersyukur banget bisa berada ditengah-tengah keluarga kalian." ucapnya sembari menyeka satu air mata yang luruh dipipi mulusnya.
Rio yang melihat itu ikut terharu dan mengelus lembut pundak sang gadis sembari mendekapnya.
"Nggak usah nangis. Anggap aja ini adalah hadiah dari Tuhan buat kamu, yaitu mendapatkan keluarga baru." senyum Rio benar-benar mem-porak porandakan hati sang gadis kecil.
"Terimakasih Kak Rio, udah mau nolongin Liana waktu itu."
"Iya, sama-sama.
Liana menatap gadis dengan perut yang sedikit membuncit itu, sedari tadi hanya diam dan tersenyum saja menatapnya. Membuatnya bingung dan salah tingkah sendiri.
"Oh iya, kenalin ini Ify." ucap Rio yang bisa menebak kebingungan adik angkatnya.
"Hai, aku Ify. Teman masa sekolahnya Rio dulu, dan ya sampai sekarang." seperti tiada beban Liana menyambut uluran tangan seorang Ify Alyssa. Senyumnya pun mengembang dengan sempurna, menatap Ify dengan tatapan yang hangat.
"Calon kakak ipar kamu." bisik Rio tepat ditelinga Liana, membuat senyum itu memudar seiring tawa Rio yang terdengar renyah setelah dicubit pinggangnya oleh Ify.
"Jangan hiraukan ucapan Rio ya. Dia emang suka becanda." kilah Ify mencoba biasa saja.
"Jangan gitu dong Fy, biarpun kamu belum nerima aku lagi tapi aku udah janji buat bahagiain kamu."
"Rio! Malu ada orang tua."
"Nggak papa dong Fy, Bunda malah seneng kalau kamu bisa balik lagi sama Rio." timpal Manda.
"Tuh, Bunda aja setuju. Pasti Om Umari juga setuju kan?" tatap Rio meminta persetujuan pada calon mertuanya.
"Ayah ikut sama keputusan Ify saja. Yang penting Ify bisa bahagia." ucap Umari menatap yakin pada Ify.
"Saya pamit ya Om Tante, mau shift siang soalnya." ucap Liana mendadak, ia tersenyum kecil kemudian melenggang pergi tanpa jawaban dari siapapun yang ada di ruangan tersebut.
"Kenapa Liana kamu suruh kerja Rio? Harta kamu itu tidak akan habis kalau cuma untuk menghidupi Liana." ucap Haling angkat bicara.
"Bukannya Liana itu harusnya kuliah? Kenapa malah kerja?"
"Aku mau ajarin dia mandiri Yah. Biar nggak bergantung sama orang lain. Nggak selamanya Liana bakalan ikut sama aku terus kan?" Rio mencoba membela dirinya.
"Ya, kamu benar."
__ADS_1
BERSAMBUNG...