
Kita sudah terlalu handal untuk menjadi manusia yang baik-baik saja. Menutupi lara dan juga kecewa. Lantas mengapa kali ini aku tak sekuat sebelumnya?~
Ify menghempaskan tubuhnya di atas ranjang besar miliknya. Berdebat dengan mantan kekasihnya membuat daya tahan tubuhnya merosot hingga ia tak mampu lagi berkata-kata. Semua ucapan Rio seakan menusuk hatinya yang paling dalam. Bukan dalam lagi, tapi teramat dalam dan begitu sakit.
Memandang langit-langit kamarnya. Ucapan Rio terus terngiang-ngiang di telinganya. Seakan memang ia benar-benar dipermainkan oleh Rio.
***
"Rio, apa kamu lupa dengan apa yang kita lakukan semalam?"
Ify tersentak dengan ucapan Shilla. Ia menghentikan langkahnya yang ingin pergi diambang pintu. Merasa penasaran dengan apa yang diucapkan Shilla, ia pun berbalik dan mendapati Shilla memegang tangan Rio dengan memandangnya tegang.
"Ada apa?" tanyanya tak ingin basa basi. Ia melangkah mendekati Shilla yang menunduk dan mulai melepaskan pegangannya pada lengan Rio.
"Ada apa Shilla? Apa yang lo lakuin sama Rio?" ify tak berhenti melangkah. Ia masih mendekati Shilla dan Rio yang mematung.
Tak ada yang bersuara meski banyak orang di sana. Tegang semua mendengar ucapan Shilla. Pikiran mereka benar adanya, namun mereka mencoba berpikir positif. Barangkali bukan yang ada dipikiran mereka yang dimaksud Shilla.
"Jawab Shilla!!"
"Gue sama Rio satu kamar Fy." jawabnya dengan cepat. Tak mau membuat Ify semakin murka kepadanya.
Ify memejamkan matanya. Menghembuskan nafasnya perlahan, lalu tersenyum kecut. Ia sudah menduga. Pergi hanya berdua, apalagi yang akan mereka lakukan jika bukan bersenang-senang kan?
"Fy, maafin gue." Shilla memegang erat tangan Ify. Namun secepat itu juga Ify menepis tangan Shilla.
"Apa yang lo lakuin sama Rio?"
"Gue...
"Apa?"
"Fy." Rio memegang pundak Ify dan menghadapkannya kearah tubuhnya.
"Aku sama Shilla nggak ngelakuin apa-apa. Percaya sama aku."
Shilla menatap belakang kepala Rio, karena posisi Rio yang membelakanginya. Tak menyangka pemuda itu akan menyangkal apa yang sudah mereka lakukan di hotel tadi malam. Ia tak mau kehilangan Rio begitu saja. Apalagi Rio sudah mencicipi tubuhnya. Cukup Gabriel saja yang tidak tau diri.
"Gue sama Rio bersetubuh Fy." ucapan Shilla kembali membuat semuanya terhenyak. Apalagi Ify yang langsung menatap kosong pada Rio. Benar-benar sudah bukan Rio yang ia kenal dulu.
Ify melangkah mundur. Merasa bahwa Rio sudah ternoda dan najis untuk didekati. Ia memasang wajah datarnya.
"Semakin gue sadar kalau lo benar-benar bajingan. Lo nggak pantas buat gue. Lo murahan. Lo benar-benar hina Rio!" teriaknya parau. Ify langsung menghambur pergi dari rumah neraka itu.
Tak ingin lagi berlama-lama berada di sana. Yang akan membuatnya semakin tidak waras. Menerobos derasnya hujan dengan berlari menuju rumahnya. Tak perduli teriakan Ayahnya atau Ibunya dan saudaranya. Ia benar-benar hanya ingin melupakan masa lalunya.
***
"Ayah tau kamu sakit Fy. Ayah hanya ingin yang terbaik buat kamu. Kita pergi dari kota ini ya?"
__ADS_1
Ify mendudukkan tubuhnya yang masih basah. Menatap Umari yang masih berdiri diambang pintu kamarnya. Ia hanya mengangguk lemah. Tak tahu lagi harus berkata apa.
"Ify mau istirahat dulu ya, besok kita berangkatnya."
Kini berganti Umari yang mengangguk. Ia meninggalkan kamar Ify dengan senyuman manis. Menutup kembali pintu kamar hingga tak terlihat lagi seorang anak gadis yang duduk ditepi ranjangnya.
Ify menundukkan wajahnya, menghembuskan nafasnya kasar. Lalu menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya.
***
Rio dan Shilla masih termangu diruang tamu. Begitu juga dengan Alvin dan kekasihnya. Juga kedua orang tua mereka. Berdebat dengan pikiran masing-masing yang menghampiri mereka. Sesaat, Rio kembali menatap Shilla dengan kilatan yang bercampur aduk.
"Kenapa lo bilang sama ify Shil? Gue nggak mau kehilangan dia." ucapan Rio benar-benar membuat Shilla terbakar emosi.
"Lo pikir kalau gue nggak mau kehilangan lo, gue dengan cuma-cuma kasih tubuh gue ke elo? Lo pikir dong. Gue juga nggak mau kehilangan lo!"
"Tapi gue cinta sama Ify Shil. Bukan sama lo."
"Kalau lo cinta sama Ify, kenapa lo mau melakukan hal itu sama gue? Kenapa lo mau sama tubuh gue? Kalau lo cinta sama Ify, kenapa dengan mudahnya lo berpaling dari dia?"
"Gue khilaf Shil. Maafin gue." menunsuk, tak mau menatap manik mata Shilla.
"Percuma. Ify udah nggak mau sama lo."
"Gue maunya sama Ify Shil. Maafin gue, tapi gue mau kejar cinta Ify."
Rio pergi meninggalkan Shilla begitu saja. Entah dia mau kemana, yang jelas ia pergi menemui Ify dimanapun Ify berada.
"Lo usir gue? Gue sahabat lo Vi."
"Gue nggak punya sahabat brengsek kayak lo."
Sivia pun juga ikut meninggalkan Shilla. Begitu pula dengan Alvin. Kini hanya tersisa Haling dan Manda.
"Om nggak tau harus apa. Ini semua kalian yang lakukan, dan Om juga pasrahkan semuanya sama kalian."
Haling dan Manda pergi meninggalkan Shilla yang kini hanya duduk seorang diri diruang tamu sebesar itu. Ia mendengus kasar dan pergi dari sana. Entahlah, merasa percuma saja ia mencoba mengambil Rio dari Ify.
***
Panas sore menjelang malam begitu hangat ditubuh. Seorang pria tampan berlari kecil ingin menuju sebuah supermarket. Namun langkahnya terhenti ketika mendapati seorang gadis duduk termangu disebuah taman tak jauh dari tempatnya berdiri.
Senyum kecil mengulas diwajahnya. Ia merogoh ponselnya dan mencari sebuah foto yang sedikit terhalang sebuah lobang. Begitu sedikit tak jelas jika hanya dilihat sekilas.
"Hai." sapa nya lembut dengan berdiri tepat didepan sang gadis.
Gadis itu mendongak kaget. Setelah beberapa tahun ia tak melihat pria itu, kini malah pria itu berdiri dihadapannya. Ia terkaget dan berdiri begitu saja. Menatapnya tajam.
"Mau apa lo?"
__ADS_1
"Lo masih galak aja. Lo nggak kangen sama gue?"
Gadis itu melengos ketika dagunya ingin disentuh oleh pria dihadapannya itu.
"Gue nggak nyangka ya, ternyata lo ngikutin jejak gue juga."
Gadis itu mengernyit tak mengerti. Masih menatap pria dihadapannya itu dengan tajam.
"Ashilla Zahrantiara. Gadis cantik yang sewaktu SMA dulu membalaskan dendamnya pada kekasihnya yang berkhianat. Menyebar luaskan foto-foto asusila yang dilakukan kekasihnya dengan sahabatnya sendiri."
"Maksud lo apa sih? Nggak usah basa-basi. Gue nggak ada waktu."
"Nih."
Shilla mengulum bibirnya karena kaget dengan foto yang ia lihat didalam ponsel Gabriel.
"Darimana lo dapat foto itu?"
***
Seorang gadis cantik nan mungil itu berjalan pelan tanpa suara menuju kamar lantai tiga dengan nomor 246. Pintunya tertutup dan tidak ada suara apapun yang ia dengar dari luar.
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah sedotan panjang dan lebar, lalu memasukkan sedotan itu pada lubang kunci di grendel pintu. Matanya membulat sempura menyaksikan pertempuran hebat sepasang muda-mudi didalam kamar.
Cepat-cepat ia mengambil itu ponselnya dan menekan tombol kameranya lalu mengarahkan ponselnya pada lubang sedotannya.
1 foto. 2 foto. 3 foto. 4 foto. dan 5 foto. Berbagai bentuk ia foto dan langsung mengirimkannya pada seseorang melalui ponselnya. Ia tersenyum kecil. Lalu mendekatkan telinganya pada lubang sedotannya.
"Ahhh Rio.. Aku milikmu sayang."
******* lembut dari bibir Shilla mendarat ditelinga gadis mungil itu, membuat gadis didepan pintu kamar itu bergidik ngeri sendiri.
***
"Acha?" Shilla menebak gadis kecil yang diceritakan Gabriel. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Nggak nyangka ya, lo juga bisa gitu sama sahabat lo. Gue kira cuma gue aja."
"Lo nggak tau apa-apa. Nggak usah ikut campur."
"Gue tau semuanya Shilla. Lo pasti jebak Rio kan? Lo suka sama dia?"
"Kalau pun gue suka sama Rio, itu bukan urusan lo. Urusan lo sama Acha. Bukan sama gue."
"Gue masih cinta sama lo."
Shilla mendongak menatap gabriel dengan mata yang masih tajam. Tak mengerti lagi dengan apa yang dipikirkan pria dihadapannya itu.
Ia pergi begitu saja. Tak mau memikirkan hal tidak jelas seperti ucapan Gabriel beberapa saat yang lalu, baginya itu tidak jelas karena menurutnya yang jelas itu adalah, Gabriel sudah memiliki anak bersama Acha. Hanya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...