Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 15


__ADS_3

"ASTAGA RIO LO NGAPAIN MASIH DI RUMAH GUE!!??" Ify menjerit kaget melihat Rio yang malah makan siang dimeja makannya. Ia melongok dari lantai atas karena mendengar suara seseorang seperti mendentingkan sendok dan garpu.


"Gue pikir Papa udah pulang." ucapnya lagi. Ia menuruni tangga dan menghampiri Rio. Ia melontarkan tatapan sinis nya. Seolah ia terganggu dengan kehadiran Rio.


"Siapa yang kasih ijin lo makan di rumah gue?"


"Kan udah biasa Fy."


"Itu beda Rio!!"


"Apa bedanya? Toh sama-sama makan kan?"


Ify mendengus kesal. Jelas berbeda. Jika dulu Rio adalah kekasihnya, kini Rio hanyalah sebatas mantan. Pikirnya.


"Lo udah enakan?" Rio meneguk air putih dan menatap ify.


"Emang gue kenapa?"


"Gila."


Ify melempar sendok dihadapannya hingga mengenai dada bidang Rio.


"Udah lo pulang sana." ucap ify.


"Nanti kalo om Umari udah pulang." jawab Rio santai.


"Terserah lo aja." ify beranjak hendak meninggalkan Rio dimeja makan. Rio berdiri dan menggapai tangan Ify, namun secepat itu juga Ify menghempasnya.


"Fy."


"Apa? Gue mau ke kamar. Mau tidur." jawabnya ketus.


Tak ada jawaban dari Rio, karena penasaran ia pun membalikkan badannya menghadap Rio.


"Lo mau nggak balikan sama gue?" tanya Rio mengepalkan tangannya, ia takut sendiri dengan ucapannya.


"Lo ngantuk ya? Tidur sana." ucap ify. Ia mencoba menetralkan rasa geli di dadanya. Juga, mengapa degupan jantungnya terasa lebih cepat. Tidak bisa diajak berkompromi sama sekali, pikirnya.


Rio beranjak mendekati Ify yang tadi sudah sedikit menjauh. Ia menghampiri ify didekat anak tangga.


"Fy, gue mau kita kayak dulu lagi."


"Lo aja nggak kayak dulu. Apa yang lo harapin dari seseorang yang udah berubah?"


"Gue janji gue bakal lindungi lo Fy. Gue janji bakal kayak dulu lagi."


Ify diam saat tangannya digenggam lembut oleh Rio. Kedua mata saling pandang, bersilang tatap. Sama-sama mencari kebenaran bahwa cinta itu masih benar-benar ada.


"Agatha?" tanyanya.


"Gue udah putusin dia waktu lo makan ice cream sama Alvin waktu itu."


"Tapi kemarin lo udah janji sama Agatha kalo lo mau jagain dia."


"Gue nggak mau Fy. Gue cinta sama lo. Bukan Agatha."


Rio memeluk ify erat. Ia sangat merindukan gadis itu. Lama sekali ia tidak memeluk ify sehangat ini. Rasa nyaman menjalar di seluruh tubuh ify dan Rio. Tubuh mereka menghangat satu sama lain.


"Gue mau Yo balikan sama lo." ucap ify masih memeluk Rio. Rio pun semakin mengeratkan pelukannya pada ify.


Akhirnya, ify kembali padanya lagi. Akhirnya, cinta itu tergapai kembali. Akhirnya, perjuangannya tidak sia-sia. Cinta itu benar, memang masih ada.


********


Alvin melajukan mobilnya menuju sebuah bukit yang hijau. Ia membawa gadisnya dan sebuah kotak kecil ditangannya tanpa sepengetahuan Sivia.

__ADS_1


"Waw Alvin! Ini indah banget." ucap Sivia terkagum melihat pemandangan sejuk dan asri seperti itu.


Ia merentangkan tangannya dan berputar perlahan, menghirup udara sore hari yang tidak terkena sinar matahari.


Angin sepoi-sepoi berhembus memainkan rambut panjang Sivia.


"Kamu suka Vi?" tanya Alvin. Ia menatap lembut pada gadisnya.


"Suka banget Vin!!" ucapnya senang.


"Peluk dulu dong." Alvin merentangkan tangannya sambil tersenyum.


Sivia dengan senang hati langsung menghambur ke pelukan Alvin. Pria pujaan hatinya yang sangat meratukan dirinya dimana pun ia berada dan kapan pun itu waktunya.


"Vi, kamu mau tunangan sama aku?" Alvin melepaskan pelukannya dan berlutut sembari membuka kotak kecil berisi cincin emas berkilau.


Sivia menangkupkan kedua tangannya dibibirnya. Tak percaya bahwa Alvin melamarnya. Ingin ia menangis haru saat itu juga karena terlalu bahagia dengan niat Alvin.


"Tapi Vin, mama belum pulang dari luar negeri. Aku belum bilang apapun sama mama."


"Kamu tenang aja Vi, aku udah telfon mama kamu. Mama kamu setuju kok sama hubungan kita. Aku udah minta ijin sama tante buat melamar kamu hari ini." Sivia semakin bahagia dengan ucapan Alvin.


"Iya Vin aku mau aku mau."


Alvin tersenyum hangat dan memakaikan cincin itu dijemari mungil Sivia.


Sekali lagi, Sivia menghambur ke pelukan Alvin. Ia menangis terharu, tanpa suara.


"Makasih ya Vin." ucapnya.


Alvin mengecup lembut bibir Sivia. Ini pertama kalinya ia lakukan kepada gadis pujaan hatinya.


********


Agatha berjalan kesana-kemari seperti sebuah setrika di kamarnya sembari menggigit kukunya kecil. Ia bingung, harus dengan cara apa ia meluluhkan hati Rio lagi. Ia membohongi Rio dengan penyakitnya pun tak juga membuahkan hasil.


"Aaahhhhh gue benci!" teriaknya lalu melempar vas bunga kecil kearah kaca gantung nya.


*P**raanggg*...


Agatha menatap benci kearah kaca.


"Lo akan hancur seperti kaca itu Fy. Lo lihat aja. Sebentar lagi hidup lo juga akan berantakan kayak hidup gue!" ucap Agatha dalam emosinya.


"Lo akan hancur Fy!"


********


Minggu pagi yang cerah. Secerah hati Rio karena tak sabar ingin pergi bersama Ify. Lama sekali rasanya ia tak pergi berdua hanya dengan Ify seperti ini.


Pagi-pagi sekali ia sudah ada didepan rumah ify. Menanti kekasihnya itu selesai bersiap-siap.


"Rio, haha kamu pagi-pagi sekali sudah disini." sapa Umari sembari terkekeh. Ia baru saja keluar dari rumah untuk pergi ke kantornya.


"Hehe iya om."


"Mau kemana emangnya Rio?"


"Mau jalan-jalan saja om."


"Ya udah, om titip anak om ya."


"Iya om siap laksanakan."


Umari tersenyum hangat dan pergi meninggalkan Rio bersama mobilnya.

__ADS_1


Tak lama ify keluar dengan aura cantiknya. Membuat Rio semakin terpesona dengan geraian rambut Ify yang membuatnya nampak anggun tersebut.


"Udah lama?"


"Belum kok."


"Mau kemana kita?"


"Kemana aja deh. Yang penting sama Ify." ucap Rio sedikit manja. ify terkekeh geli melihatnya, lalu masuk kedalam mobil Rio.


Keduanya hanyut dalam obrolan kecil didalam mobil, hingga tak sadar ada yang mengikutinya sedari tadi.


"Rio, aku mau ke danau dong, kayaknya asik deh pagi-pagi kedanau."


"Oke sayang."


Rio benar-benar memanjakan ify saat ini. Ify senang sekali rasanya karena Rio benar-benar memperlakukannya sama seperti dulu. Seperti saat Agatha belum datang dan menghancurkan kebahagiaannya.


Tak butuh waktu lama Rio dan Ify sudah sampai ditepi danau. Setelah memarkirkan mobilnya, Rio turun menggandeng tangan ify dan duduk ditepi danau.


"Kamu pengen apa? Aku beliin." ucap Rio. Ify mengedarkan pandangannya melihat semua orang yang berjualan.


Matanya tertuju pada seorang pedagang arum manis yang sedikit jauh dari sana. Ia menunjuk dengan senyum di bibirnya.


Rio mengikuti arah telunjuk ify.


"Arum manis?"


Ify hanya menganggukkan kepalanya antusias.


"Ya udah, kamu tunggu disini ya. Aku beliin."


Lagi-lagi ify hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Rio melangkah sedikit cepat menghampiri pedagang itu. Karena memang sedikit jauh, ia tidak ingin ify menunggunya terlalu lama.


Setelah dibuatkan 1 slot arum manis, Rio membayarnya dan bergegas menuju tempat duduk ify.


Namun nothing, ia tidak menemukan siapapun.


"Loh, ify kemana?" gumamnya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh tepi danau, takut jika ia salah tempat duduk.


Tetap saja, ia tidak menemukan ify di sana.


Rio merogoh ponselnya, menekan nomor ify, dan menempelkan ponselnya pada telinga. Tidak tersambung. Ponsel ify mati.


"Kemana sih tuh anak?" gumamnya lagi. Ia melihat anak kecil tak jauh dari tempat itu, dan menghampirinya.


"Hai gadis kecil." sapa Rio. Gadis itu hanya mendongak tanpa tersenyum.


"Hai kak."


"Kakak punya arum manis nih buat kamu. Mau?"


Gadis kecil itu mengangguk.


"Kamu tau kakak perempuan rambut panjang yang tadi duduk disini nggak?" tanya Rio. Gadis kecil itu mengangguk.


"Kemana dia?"


"Kata mama, kakak cantik tadi diculik. Mamah lagi ngejar penculiknya pake mobil."


Rio terkaget mendengar penuturan gadis kecil itu. Mungkinkah gadis itu berbohong?


Belum sempat Rio berfikir, ia dikagetkan dengan kedatangan seorang wanita paruh baya.


"Mas, mendingan cepat telfon polisi. Teman mas yang tadi diculik" ucapnya terengah-engah. Rio semakin shock saja mendengar ucapan wanita yang ternyata Ibu dari anak kecil gadis yang ia beri arum manis punya Ify.

__ADS_1


Ternyata benar, ify memang diculik.


Bersambung...


__ADS_2