
Haling dan Manda berbincang ringan disebuah gazebo belakang rumah mereka. Lama sekali mereka tidak bertemu anak kesayangannya, Rio dan Alvin. Semenjak Alvin berkeluarga dengan Sivia, mereka lebih sering menghabiskan hari diluar negeri. Mengatur sebuah perusahaan besar disana.
Hari ini, Rio berniat berkunjung kerumah orangtuanya. Itu sebabnya, digazebo inilah Manda dan Haling berada.
Menatap kedatangan anak laki-lakinya, mereka tersenyum hangat. Berbeda dengan Rio yang datang dengan wajah datarnya. Juga tanpa senyum sama sekali.
"Ada apa Rio?" Haling tak ingin berbasa-basi lagi. Ia begitu penasaran dengan apa yang Rio ingin sampaikan.
"Liana."
"Siapa Liana?"
"Anaknya Doddy."
"Doddy? Teman Papa?" Rio mengangguk kecil.
"Ada apa dengan Liana dan Doddy?"
Menceritakan sesuai apa yang ia dengar dari mulut sang gadis. Tidak menambah dan tidak mengurangi. Sukses membuat Haling dan Manda terkaget-kaget. Syok berat. Benar-benar tak percaya. Sama halnya dengan yang Rio lakukan saat pertama mendengarkan cerita Liana.
"Terus, gimana sama Liana? Dia baik-baik saja?"
"Yq, dia baik. Sekarang dia dirumah Rio."
Memutuskan untuk meninggalkan rumah Haling, pemuda tampan itu kini membangun rumahnya sendiri agar terhindar dari tekanan orangtua nya yang terus menerus memaksanya untuk menikah.
"Kamu jangan macam-macam ya sama Liana." Tegur Manda. Ia begitu trauma dengan apa yang Rio lakukan bersama Shilla beberapa tahun silam. Hingga ia harus kehilangan anak perempuannya.
"Maksud Mama apasih Ma? Jelas lah aku nggak bakal apa-apain dia. Dia masih kecil, baru juga lulus sekolah." Rio memutar bola matanya muak.
"Jangan gitu Rio. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan. Tetap waspada. Nafsu kepada siapa saja, tidak melihat itu kecil atau besar."
"Hmm."
Merasa jengah dengan kesalahan yang sering diungkit. Ini juga penyebab Rio tidak mau satu atap lagi dengan orangtuanya. Jahat memang, disaat orangtua sudah tua dan butuh perhatan anaknya malah ditinggalkan. Namun apa boleh dibuat, Rio semakin tertekan saja dengan ucapan-ucapan orangtua nya. Salahnya juga memang.
"Kemarin, aku ketemu sama Ify."
__ADS_1
Ucapan Rio mendadak membuat hening. Haling yang ingin menyeruput teh hangatnya disore ini langsung terdiam, dengan mulut yang terbuka dan tangan yang masih memegang cangkir putih berisi teh. Begitu juga Manda.
Wanita paruh baya itu langsung menatap Rio tanpa suara.
Rio? Ia hanya mengamati Haling dan Manda secara bergantian saja. Masih dengan tatapan datarnya.
"Ify? Ify Alyssa? Anaknya Umari?" Rio mengangguk. Memang Ify siapa lagi yang ia kenal?
"Dimana dia sekarang, Rio? Kasih tau Mama. Mama mau kesana. Mau ketemu sama Ify."
"Aku nggak tahu."
"Kamu gimana sih Rio? Katanya kemarin ketemu sama dia." Manda bersungut-sungut sangat marah. Hingga Haling harus mengelus lembut punggungnya agar emosinya mereda. Rio yang melihatnya hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Pasti cucu Mama sudah besar sekarang. Terakhir bertemu, beberapa tahun yang lalu." Kenang Manda.
"Anak dan suaminya meninggal satu bulan yang lalu karena kecelakaan."
Prang!
Cangkir teh yang masih dipegang Haling seketika terjatuh dan pecah berserakan didekat kakinya.
"Buat apa Rio bohong Ma? Ify sendiri yang bilang sama Rio."
Manda menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Tak percaya dengan kabar berita yang Rio bawa.
Dipertemukan takdir dengan cucu dan menantunya beberapa tahun yang lalu tanpa Rio tahu, membuat Manda merasa anak perempuannya sudah kembali menemukan kebahagiaannya setelah sekian lama disakiti oleh seorang Mario.
Dan kini, kebahagiaan itu sudah direnggut, sudah hilang. Apakah Ify akan baik-baik saja?
"Ternyata, Ify sekarang lagi hamil anak keduanya bersama Adam. Mereka memang berencana buat punya anak lagi, dan setelah pulang dari honeymoon ternyata mereka kecelakaan."
"Ya, lebih tepatnya hanya Adam dan anak mereka. Karena saat itu Ify tidak satu mobil sama mereka."
Manda semakin terisak mendengar kabar anak kandungnya yang lama terpisah dengannya. Tubuhnya bergetar hebat. Haling merasa kasihan, hingga ia memeluk tubuh Manda.
"Yasudah, Rio pergi dulu. Kalau Rio ketemu lagi sama Ify, Rio kasih tau Mama sama Papa."
__ADS_1
Rio bergegas meninggalkan Manda dan Haling setelah izin dan mendapat anggukan kepala dari Haling. Ibunya butuh istirahat agar mentalnya tetap terjaga. Ia begitu syok dengan kabar berita yang ia bawa.
Tanpa tanggung jawab dengan kabar berita yang ia bawa tentang Ify, ia langsung pergi begitu saja. Apa-apaan?
*******
Malam ini menjadi malam yang sangat kelabu untuk seorang Ify Alyssa. Oa seorang diri, sebuah taman tak jauh dari rumahnya. Memutuskan untuk kembali kenegara asalnya, kerumah lamanya, dimana semua kenangan porak-poranda itu hadir didalam hidupnya.
Kenangan bahagia bersama sahabat, dan juga kekasih, bahkan suaminya. Semua itu pernah tercipta ditempat ini. Membuat Ify menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar pula.
Disebelahnya, ada seorang pemuda yang juga pernah menjadi sahabat terbaik dimasanya dalam hidupnya. Sama-sama terdiam, karena entah apa yang ingin mereka katakan rasanya tidak pas sama sekali.
Angin berhembus kencang, membuat anak rambut Ify beterbangan dibawa angin.
"Mau ngomong apa?" Setelah sekian lama terdiam, gadis yang masih setia dengan kecantikannya itu bersuara.
"Maafin Shilla."
Hati Ify berdenyut kembali. Merasa sakit untuk yang kesekian kalinya. Mendengar nama itu, benar-benar membuat hatinya sakit seribu lebih sakit dari apa yang pernah Shilla lakukan saat mereka masih remaja dahulu.
"Buat apa sih Gab kamu jauh-jauh nemuin aku dari Australia ke Jakarta? Cuma buat bilang kayak gini?"
"Fy, aku tahu Shilla banyak salah sama kamu. Aku mohon, maafin dia ya?" Gabriel memohon dengan menekuk lututnya dan bersimpuh dihadapannya.
"Gue nggak bisa. Kenapa harus kamu yang minta maaf? Kenapa bukan dia sendiri?"
"Dia nggak bisa kesini Fy."
"Itu artinya dia nggak benar-benar mau minta maaf sama aku! Dan sampai kapanpun, aku nggak bakal mau maafin dia!"
"Fy.." Gabriel menangis dihadapan Ify, membuat gadis itu terhenyak. Demi Shilla? Pria tampan dihadapan rela bersimpuh dan menangis dihadapannya?
"Maafin Shilla, buat kesalahan dia dimasa lalunya, dan juga kesalahannya dimasa kini. Maafin dia, buat kesalahan-kesalahan yang dia perbuat sama kamu Fy."
Ify masih terdiam seribu bahasa. Tak mau berkata iya ataupun tidak. Hatinya merasa ganjal, merasa tidak senang dengan ucapan Gabriel. Semua rasa sakit yang ia rasakan, hingga ia harus kehilangan orang-orang tersayang, membuatnya begitu membenci gadis yang pernah menjadi sahabat terbaiknya juga.
"Aku pulang dulu Fy. Besok aku bakal temuin kamu lagi buat minta kata maaf kamu buat Shilla. Semoga besok kamu udah berubah pikiran ya." Menyeka air matanya, Gabriel tersenyum tulus menatap Ify. Berdiri dan kembali menyeka, ia mulai berjalan meninggalkan Ify disebuah taman seluas itu.
__ADS_1
Ify masih diam saja seperti sebelumnya, hanya menatap kepergian sang pemuda hingga tak terlihat lagi dipandangan matanya. Lalu, ia menangis dan menjerit sebisa yang ia lakukan. Hanya satu, mengusir rasa sesak didalam dadanya.
BERSAMBUNG.....