Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 38


__ADS_3

"Kak, aku diantar siapa?"


"Jalan kaki."


"Kak, beneran?" Liana membulatkan bola matanya dengan sempurna. Begitu juga dengan mulutnya. Pagi-pagi sekali ia sudah dibuat kesal oleh Rio, pasalnya ia dipaksa bangun dari tidur nyenyaknya, harus memasak dan membersihkan ruang tamu yang dibuat berantakan oleh Rio.


"Aku udah masakin Kakak, udah bersih-bersih semuanya. Katanya mau diantar? Kok malah disuruh jalan kaki sih?" Saking kesalnya, gadis itu sampai menghentak-hentakkan kakinya dilantai marmer bermotif garis-garis yang dipijaknya.


"Diantar sopir nanti, bawel banget. Lagian baru jam segini, masih ada beberapa waktu." Rio mencomot roti yang sudah matang dipanggangan khusus roti, memakannya dengan lahap karena ia benar-benar sangat kelaparan akibat mengantarkan Ify kemarin malam dan tidak menyempatkan diri untuk menjamu perutnya.


Liana bernapas lega, ia ikut terduduk disamping sang kakak angkat yang masih lahap memakan roti. Tiba-tiba saja, Liana menatap Rio dengan tak berkedip.


Rio yang merasa diperhatikan pun akhirnya menoleh dengan menggerakkan kepalanya, seolah ia bertanya, kenapa?


"Kak, gimana kabar Ayah?" Bibir mungil itu bertanya dengan lirih. Ia menahan buliran air mata agar tidak terjatuh dihadapan Rio.


"Kamu nanyain orang kayak Ayah kamu? Kenapa? Mau dijahatin lagi?" Meletakkan rotinya dengan kesal, Rio menatap tajam Liana yang kini menggelengkan kepalanya pelan.


"Ingat ya Liana. Kamu harus lupain orang jahat kayak dia. Kakak jauh-jauh buat dia pindah keluar pulau supaya nggak bisa jahatin kamu lagi. Sekarang, yang kamu punya cuma kakak. Kamu udah punya kakak, jadi jangan ingat-ingat orang jahat lagi."


"Tapi nanti, kalau Kakak mau menikah gimana? Aku gimana? Aku sama siapa? Aku takut sendirian."


"Kamu nggak bakal sendirian. Kalau kamu takut kakak nikah terus kamu nggak keurus, ya sudah. Kita yang nikah. Jadi kamu nggak perlu takut lagi."


Liana mendelik kesal mendengar penuturan Rio. Bagaimana mungkin ia menikah dengan seseorang yang usianya terpaut cukup jauh dengannya? Baru juga lulus sekolah kemarin, ia sudah dihadapkan dengan Om-Om tampan seperti Rio ini.


"Nggak usah bercanda!" Ia menggeplak lengan Rio yang malah terkekeh-kekeh melihatnya menekuk muka.


"Aku berangkat deh." Ucapnya kemudian. Rio hanya berdehem saja sembari mengambil roti yang semula ia letakkan diatas meja.


Selepas kepergian Liana, ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang akan ia ajak bertemu hari ini.


Setelah dirasa perjanjian sudah disetujui, Rio kembali mengetikkan pesan untuk adik angkatnya. Berpamitan bahwa malam nanti, ia akan pulang terlambat.


***


Sesampainya dikafe tempatnya bekerja, Liana langsung membersihkan segala perabotan yang dirasa sudah kotor, membersihkan lantai, dan membuka toko agar pelanggan segera datang.


Tak seberapa lama, Zhico datang dan langsung menyapanya dengan hangat. Sepertinya, pemuda tampan berhazel kehijauan itu sudah menaruh hati pada sang gadis.

__ADS_1


"Liana, nanti malam makan yuk."


Liana yang tengah menyiapkan sebuah kopi untuk pelanggannya hanya mengangguk kecil sembari tersenyum. Mengingat bahwa Zhico adalah pemilik tempat ia bekerja, maka dirinya pun harus menghargai sang pemuda. Tak mau melihat pemuda itu kecewa atau bersedih karenanya.


Usai mengantar pesanan, Liana kembali duduk disebelah Zhico yang sudah bersiap mengajaknya berbicara panjang lebar. Ia diminta untuk duduk saja, biarkan teman-temannya bekerja. Yang justru malah membuat Liana tak enak hati dengan para seniornya.


"Nggak papa, aku yang minta. Kamu tenang aja." ucap sang pemuda menenangkan.


"Kamu keturunan mana Co? Kok mata kamu hijau-hijau gitu."


"Kamu suka sama bola mata hijau?" bukannya menjawab, Zhico malah balik bertanya pada sang gadis.


"Suka, bagus sih dilihatnya."


"Kalau gitu, mau nggak aku kasih keturunan bermata hijau?"


"Zhico!!" Liana berteriak keras sembari melemparkan lap yang dibawanya kearah Zhico. Sungguh, cengiran yang disuguhkan Zhico untuknya begitu membuatnya salah tingkah.


"Diajakin nikah tuh sama Zhico." celetuk salah satu teman Liana, Rani namanya.


Yang disebut malah tertawa terbahak-bahak sedangkan Liana malah menekuk muka kesal.


"Nggak usah cemberut gitu, jelek tau." pemuda itu kembali tersenyum dengan teduh, membuat hati Liana menghangat.


***


Ify yang terlampau bosan didalam rumah hanya setuju saja kemanapun Rio membawanya. Hatinya bergemuruh hebat kala kenangan-kenangan manis bersama Rio kembali menyeruak didalam ingatannya. Begitu pula kala sebuah pengkhiatan yang dilakukan oleh pemuda yang duduk disebelahnya tersebut.


"Kamu kenapa ngelamun Fy?" Rio menatap dengan pandangan yang teduh, senyumnya menghangat dimata Ify. Apakah ada yang berbeda dengan Rio?


"Kita udah sampai." Rio membuka pintu mobilnya dan memutari kap depan kemudian berhenti disamping pintu Ify. Ia membukanya dan menyuruh Ify untuk menyambut uluran tangannya.


Rio tahu, gadis itu sangat rapuh saat ini. Tidak untuk dulu dan sekarang. Gadis itu tetap sama. Sama-sama rapuh namun berusaha untuk tetap tegar dihadapan semua orang.


Sebuah pemandangan sejuk dengan bukit yang hijau membentang. Angin sepoi-sepoi menerbangkan jas mahal Rio, juga menerbangkan helaian anak rambut Ify yang dibiarkan tergerai indah tersebut.


Rio mengajak Ify untuk duduk disebuah bangku panjang yang tersedia disana. Saling berdiam diri karena masih meresapi semua pemandangan indah didepan matanya.


"Tujuan kamu ngajak aku kesini itu apa Rio?" helaan nafas jelas terdengar ditelinga sang gadis, membuatnya menoleh pada pemuda disamping dan dua netra bertemu dalam satu garis lurus.

__ADS_1


"Aku mau kamu kembali sama aku."


"Aku mau kita balik kayak dulu Fy."


"Aku mau kamu."


Kini, giliran Ify lah yang menghela nafas panjang. Namun, seperti ada yang tersengal diantara deru nafasnya yang ia tarik untuk ia keluarkan.


"Buat apa? Nyakitin aku lagi?"


"Sejak dulu dan sekarang, setelah perginya Agatha, ternyata cuma kamu yang ada dihati aku."


Berdecih sejenak, Ify memalingkan wajahnya menatap hamparan bukit dihadapan.


"Shilla?"


"Ternyata enggak Fy. Aku sama Shilla cuma karena nafsu. Beda saat aku sama kamu,"


"Apa bedanya? Aku sama Shilla sama-sama perempuan. Bedanya, aku nggak pandai menggoda."


"Dan itu sebabnya, karena aku digoda sama Shilla makanya aku khilaf."


"Apa karena Shilla udah meninggal kamu kayak gini sama aku?" Kali ini, pertanyaan ini membuat Ify dan Rio saling menatap.


Menggelengkan kepalanya pelan, Rio menunduk tak mau menatap tatapan tajam sang gadis.


"Nggak Fy. Saat kamu pergi, atau saat Shilla pergi, baru aku sadar dimana hati aku berada. Kalau dari dulu aku cuma cinta sama Shilla, harusnya aku udah menikah kan sama dia? Kenyataanya enggak Fy. Aku memilih untuk sendiri."


"Aku tau aku jahat, akh egois. Aku cuma mau jujur sama kamu, sejak dulu sampai sekarang, aku masih cinta sama kamu."


"Apa dengan cintamu bakal menjamin kalau kamu nggak bakalan kegoda lagi sama cewek lain?"


"Sekian lama kita berpisah, aku berubah menjadi orang yang lebih baik Fy. Menjadi diriku dengan versi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan dulu. Aku bisa jamin kebahagiaan kamu dengan Adam akan kembali saat kamu bersama aku nanti. Bahkan aku jamin, kebahagiaan kamu akan jauh lebih banyak dibandingkan saat bersama Adam."


Gadis itu terdiam untuk sesaat, sebelum kemudian senyum kecil tersungging dibibir mungilnya.


"Aku nggak bisa."


Pemuda itu menatap dengan sayu, ia paham apa yang membuat Ify mengatakan tidak bisa kembali kepadanya.

__ADS_1


"Aku tahu kamu butuh waktu Fy, aku akan biarin kamu selama yang kamu mau, aku bakalan nungguin kamu sampai kamu mau balik sama aku."


BERSAMBUNG...


__ADS_2