Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 42


__ADS_3

Mencintai seseorang itu mudah, hanya membutuhkan hati yang siap untuk terluka. Begitulah pepatah mengatakan demikian indahnya.


Dan benar, cukup hati yang menjadi korbannya, jangan ada mental dan lain sebagainya. Liana yang terperosok jauh ke dasar jurang cinta seorang Mario Stevano kini tak mampu berdalih.


Saat pemuda tampan yang sudah dewasa itu membisiki sebuah kata dan pernyataan bahwa dirinya akan memiliki kakak ipar, hatinya teriris begitu dalam.


Senang, sedih, benci, dan muak menjadi satu. Senang karena kakak angkatnya tersebut akan memiliki seorang istri yang mengurusnya siang dan malam. Sedih karena dirinya yang terlanjur jatuh cinta pada Rio harus kehilangan cinta pertamanya. Benci dan muak, karena dengan percaya dirinya ia mencintai lelaki seperti Mario.


Seorang pemuda yang sudah berbaik hati menyelamatkan hidupnya, menampung dirinya dirumah mewah dan besar, mencarikan pekerjaan untuknya, juga menghidupinya sekian lama.


"Kamu kenapa?"


Suara bass yang begitu merdu itu mendengung sempurna ditelinga Liana. Membuat gadis yang masih berjibaku dengan piring-piring kotor terlonjak kaget.


"Zhico! Ngagetin aja!" Hentaknya melempar kain piring kearah kekasihnya.


Yang dilempar kain hanya tertawa sembari mengambil kain yang terjatuh diatas lantai.


"Kenapa Liana? Kok ngelamun? Kamu sakit?" Tanya Zhico memastikan, ia sentuh kan punggung tangannya kearah dahi sang gadis.


"Nggak kok."


"Kenapa ngelamun?"


"Nggak ngelamun."


Zhico menatap Liana yang terus membersihkan piring-piring disana tanpa menatap sang lawan bicara. Membuat Zhico menghembuskan nafasnya kesal.


"Liana, lihat aku." Pinta sang pemuda tampan. Liana langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Zhico yang langsung tersenyum senang.


"Aku cinta sama kamu."


"Aku tau Zhico." Liana tersenyum sedikit canggung, merasa tidak mencintai pemuda dihadapan namun harus berpura-pura untuk terus terlihat bahagia.


"Kamu cinta kan sama aku?"


Liana menghembuskan nafasnya sejenak sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan tempat pencuci piring. Dibelakangnya ada Zhico yang terlihat resah mengikuti langkah kakinya.


Memilih untuk duduk disebuah kursi panjang dibelakang restauran, Liana terdiam sejenak. Ia tatap Zhico yang terduduk manis disampingnya. Saling menatap namun tidak mengeluarkan suara apapun.


Dalam hati Zhico sangat berdebar, baru kemarin ia menjadikan Liana sebagai kekasihnya. Apakah harus berakhir secepat ini? Pemuda tampan pewaris tunggal kekayaan ayahnya tersebut dapat melihat dimata sang gadis bahwa ada suatu kebohongan yang tersimpan disana.


"Katakan." Pintanya semakin menatap Liana dengan lekat.


Sedang gadis itu, mengalihkan pandangannya kearah depan. Tak sanggup menatap sorot mata sang kekasih yang tidak diinginkannya tersebut.


"Zhico, aku nggak bisa nerusin hubungan kita."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku nggak ada rasa apapun sama kamu."


"Kamu bercanda kan Liana?" Secercah harapan akan masa depan yang indah bersama sang gadis hancur berkeping-keping seiring ucapan Liana yang menyatakan bahwa gadis itu tidak mencintai dirinya.


"Aku serius Zhico! Aku cinta sama orang lain." Tegas Liana menatap tajam sorot mata Zhico.


Pemuda itu, mengalihkan pandangannya sembari menghembus nafas pelan. "Baiklah, kejar cintamu. Aku nggak bakal egois buat nahan kamu terus sama aku." Putus sang pemuda.


"Aku nggak bisa ngejar cinta aku Zhico." Satu bulir air mata luruh dari pelupuk mata sang gadis. Membuat Zhico terenyuh dan mengusapnya perlahan.


"Dia mau menikah sama orang lain. Tanpa dia tahu kalau aku cinta sama dia."


"Aku nggak bisa egois."


Zhico terdiam. Ia memeluk Liana dengan hangat, tak apa jika hatinya hancur karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Setidaknya, ia masih bisa melihat gadis yang ia cintai.


Hanya ada suara isak tangis Liana ditempat yang sunyi tersebut, kedua manusia itu sama-sama terdiam hanyut dalam pikirannya masing-masing.


"Zhico, maafin aku." Ucap Liana pada akhirnya. Ia angkat kepalanya dari bersandar dipundak Zhico. Ia usap air matanya, dan tersenyum manis kepada sang pemuda.


"Kamu nggak perlu minta maaf. Asal kamu bahagia, aku juga akan bahagia. Aku nggak mau jerat kamu dengan sebuah hubungan. Biarlah hubungan ini berjalan dengan sendiri Liana. Aku janji sama diri aku sendiri, asal kamu bahagia entah itu sama siapapun, aku akan ikut bahagia."


Liana mengangguk dan tersenyum. Ia yakin Zhico adalah pemuda yang baik diantara semua pemuda yang ia temui.


***


Jika disebuah cafetaria ada seorang gadis yang tengah menangisi seorang pemuda, maka disebuah rumah besar inilah pemuda yang ditangisi Liana bercengkrama ringan dengan gadis pilihannya.


Saling tertawa dan sesekali Ify menepuk lengan Rio akibat bahan candaan yang dilontarkan terlalu absurd.


"Jadi, kamu sudah memutuskan?" Ucap Rio beralih pada mode serius.


"Memutuskan apa?" Melempar kulit kacang ketempat sampah terdekat, Ify menatap Rio dengan tatapan bercanda.


"Ayolah Fy, jangan bercanda lagi. Aku serius kali ini."


Ify terkekeh ringan mendengar gerutuan sang mantan. Ia sejenak terdiam, akankah ia kembali kepada seseorang yang sudah mengecewakannya begitu dalam?


"Apa kamu nggak bisa nunggu aku Rio?"


"Aku bisa. Selalu bisa."


"Kalau begitu, tunggulah aku."


"Sampai kapan Fy? Apa kamu mau bayi dalam kandunganmu lahir tanpa sosok Ayah?"

__ADS_1


Ify terdiam. Jika keputusan awal ia akan menerima Rio saat bayi dalam kandungannya sudah keluar, kini ucapan Rio membuyarkan keputusan tersebut.


Ia ingin saat pertama kali anaknya lahir adalah tangan sosok Ayah yang menerima kehadirannya dan menimang pertama kalinya.


"Kalau kamu sudah yakin sama aku, lebih cepat lebih baik Fy." Ucap Rio merengkuh pundak Ify. Ia usap perlahan untuk menenangkan calon istrinya tersebut.


"Tapi kalau memang kamu belum yakin sama aku, baiklah aku akan menunggu lebih lama lagi."


"Tidak perlu Rio. Kamu benar, anakku harus lahir didampingi seorang Ayah." Putus Ify setelah berpikir cukup lama.


"Jadi?"


"Ya, aku mau menikah sama kamu."


***


Liana termangu disisi pintu masuk kediaman Rio. Malam yang larut begitu membuatnya lelah, ditambah pikiran-pikiran tak enak hati sejak siang yang selalu bergelayut dibenaknya.


Rasanya, ingin ia pergi dari rumah tersebut. Namun apa daya, ia belum memiliki cukup biaya untuk mencari kost tersendiri dikota tersebut.


"Ngapain diluar?" Hentak seorang pemuda dibelakangnya.


Liana berjingkat kaget kemudian mengelus dadanya sembari memejamkan matanya. Ia balik badannya kemudian tersenyum canggung kepada Rio.


"Kenapa diluar?" Ulang Rio bertanya karena pertanyaan pertama tidak ada jawaban dari sang gadis dihadapan.


"Nggak papa kok Kak. Tadi lagi mikir aja dirumah ada orang apa enggak. Tau nya kakak juga baru pulang jam segini. Darimana?" Sudah tahu jawabannya, namun Liana tetap bertanya dengan lembut.


"Dari rumah Ify." Rio menggandeng tangan Liana memasuki rumah dan duduk disofa ruang tamu.


"Liana, sebentar lagi aku dan Ify akan menikah." Ucap Rio menjelaskan. Ia harus memberitahu Liana jauh-jauh hari supaya gadis itu tidak kaget.


Sedang Liana hanya tersenyum dan mengangguk saja. Sudah menebak bahwa pemuda yang ia cintai akan menikahi wanita lain. Dan itu memang benar, dirinya yang bersalah karena berani menaruh hati pada sang pemuda.


"Kamu nggak bertanya apapun?"


"Memangnya mau bertanya apa?"


Menghembuskan nafasnya sesaat, Rio tatap lekat mata bulat Liana yang berpendar sendu menatapnya. Disana, ia menemukan kesedihan yang mendalam.


"Kamu tetap tinggal disini. Kamu tetap adikku." Pinta Rio sekaligus menegaskan.


"Tapi kak, aku nggak enak sama kak Ify. Nanti aku ganggu privasi kalian. Lagipula aku cuma orang lain disini."


"Nggak ada kata tapi. Kakak tetap kakak kamu. Kakak yang bikin kamu jauh sama Ayah kamu. Dan kamu sudah jadi tanggung jawab kakak." Putus Rio kemudian beranjak meninggalkan Liana karena tak mau terus menerus dibantah.


Sedang gadis itu termenung seorang diri. Alasan dirinya takut merepotkan tidak digubris oleh sang kakak angkat. Membuatnya jengah sendiri, takut jikalau hatinya tak kuat melihat kedekatan pria yang ia cintai bersama wanita lain.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2