
Setelah mengantarkan sang gadis pujaan kerumahnya, pemuda bertubuh jangkung itu langsung meluncur kerumah orangtuanya. Ingin mencoba mencari pendapat tentang keputusan yang ia ambil. Juga meminta solusi akan bagaimana langkah selanjutnya mendapatkan hati Ify kembali.
"Kamu darimana Rio? Nggak ngantor?" Haling menutup koran yang sedari tadi ia baca, mencoba mengalihkan atensinya kepada salah satu anak kembarnya. Merasa kini hanyalah Rio yang dekat dengannya. Alvin sudah terlampau sibuk dengan bisnis dan keluarganya diluar negeri. Maka, segenap perhatian akan ia berikan pada Rio.
"Aku mau bicara sama Ayah. Bunda kemana?"
"Arisan dirumah nggak tahu siapa. Tadi nggak bilang dimana nya."
"Kamu mau minum?" lanjut Haling menawarkan, sedang jawaban Rio hanyalah menggeleng pelan.
"Tadi aku ajak Ify kepuncak. Aku ajak dia balik kayak dulu." ucap Rio langsung pada inti masalahnya. Membuat Haling mengangguk mendengarkan.
"Tapi Ify nggak mau Yah. Aku bingung harus meyakinkan Ify pakai cara apalagi."
"Aku tahu mungkin Ify masih nggak bisa nerima kejadian yang dulu. Mungkin dia takut semuanya terulang."
"Aku udah berubah Yah, tapi dia nggak percaya. Dia bilang, dia nggak bisa balik sama aku."
Haling melihat ada raut keputus asaan diwajah anaknya. Menghela nafas panjang, ia menepuk pundak Rio dengan pelan.
"Kalau kamu yakin kamu sudah berubah dan bisa buat Ify bahagia, kamu harus sabar. Dia butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya. Baru beberapa bulan kan dia ditinggal suami dan anaknya. Dan Ayah rasa, Ify juga ragu akan keberadaan anak Adam dikandungannya."
"Entahlah, Ify nggak kasih tahu alasannya kenapa dia nolak aku Yah. Kalau masalah anak, aku nggak keberatan itu anak siapa. Aku bakal nganggep itu anak aku sendiri."
"Ayah tahu kamu sudah banyak berubah Rio. Ayah tahu kamu sudah bukan Rio yang dulu lagi. Jadi, kamu harus bersabar dan terus mencari cara buat meyakinkan Ify kalau kamu bisa buat dia bahagia."
Pemuda dihadapan itu mengangguk pelan. Ia melihat Haling dengan tatapan yang ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu namun tertahan.
Rupanya Haling dapat membaca raut wajah anaknya itu.
"Apa? Kamu mau ngomong apalagi?" Haling berkata sembari melepaskan kacamatanya yang bertengger sejak tadi.
"Shilla meninggal."
Hening.
Tidak ada suara apapun selain burung berkicau milik Haling yang menggantung didalam kandang dihalaman.
"Kenapa bisa? Kamu tahu darimana? Bukannya selama ini kamu nggak ada hubungan apapun sama Shilla?"
__ADS_1
"Aku tahu dari Gabriel. Kemarin dia nemuin Ify buat menyampaikan maafnya Shilla. Dan, aku yang nganter Ify ke makamnya Shilla. Dia sakit selama ini."
"Mungkin itu karma."
Rio mencebikkan mulutnya mendengar penuturan Haling yang dirasa sangat ringan itu. Merasa benar juga apa yang dikatakan Ayahnya.
Seketika ia merasa takut dan bergidik sendiri, merasa takut jikalau ia akan dihampiri oleh Karma akibat mengkhianati Ify dahulu. Bukankah orang jahat akan segera mendapatkan balasannya? Entah itu cepat atau lambat.
***
Tak jauh berbeda dengan Rio, gadis diruang tamu itu juga tengah berbincang dengan sang Ayah guna mencari jalan keluar atas permintaan Rio semalam.
"Kenapa kamu menolak?" berkata dengan lembut, Umari membelai rambut hitam anak semata wayangnya itu. Ia merasa kasihan jika disaat anak gadisnya hamil malah banyak pikiran hingga membuatnya stres tidak tertolong. Mengandung anak tanpa didampingi sang suami adalah kelemahan Ify. Dan ia tidak tega melihat Ify yang menangis terus menerus.
"Ify takut Rio bakal ngelakuin hal yang sama kayak dulu."
"Bukannya Rio sudah berubah? Dia sudah dewasa Fy. Sekarang usia kalian sudah sangat matang. Rio sekarang sudah sukses menjadi pemimpin, bukankah itu pertanda kalau dia tidak seburuk dulu?"
"Ify takut." melepaskan pelukannya dengan sang Ayah, Ify memandangi kakinya yang ia tumpuk diatas meja. Sedikit membengkak akibat pergerakannya yang terbatas, ia tidak seaktif dulu saat mengandung anak pertama.
"Apa yang kamu takutkan?"
Ucapan itu membuat Umari menghela nafas panjang. Tidak ada yang salah dari pemikiran sang anak, hanya saja ia yakin bahwa Rio sudah banyak berubah dan jika Rio meminta, bukankah pemuda itu sudah memikirkan segala konsekuensinya?
Namun tidaklah ia mudah percaya lagi, dulu ia sangat mempercayai Rio. Namun kenyataannya, pemuda itu malah menyakiti hati anaknya. Namun jika bukan keluarga Haling, siapa lagi yang akan menjaga anaknya disaat ia sudah berpulang nanti?
Ia sudah sangat tua, merasa sakit-sakitan terus menerus. Ia takut berpulang sebelum Ify mendapatkan suami yang baik hati menerima apa adanya dirinya.
"Yakinkan dulu hati kamu Al. Ayah tahu kamu masih ragu atas semua yang terjadi. Kalau Rio benar-benar menginginkan kamu, dia pasti mau menunggu sama kamu siap buat nerima dia."
"Aku bakal kasih keputusan setelah anak aku lahir nanti Yah."
"Itu lebih baik."
***
Matahari sudah kembali keperaduan nya, dan kini tinggal Bulan yang harus menjalankan tugasnya.
Semua isi hati manusia, hanya Orion lah yang mengetahui. Baik dan buruknya manusia, tidak ada yang bisa menerka.
__ADS_1
Liana kembali kerumah dengan sempoyongan. Kepalanya sangat sakit akibat kehujanan sore tadi saat mengantarkan makanan kerumah pelanggannya.
Tubuhnya sangat sensitif terhadap air hujan, benar-benar tidak bisa bertahan barang sebentar saja untuk tidak mengeluarkan ingusnya didalam hidung.
"Heh! Kamu sakit?"
Liana berjingkat kaget mendengar suara menggelegar didalam rumah. Matanya menangkap siluet Rio yang berjalan menghampirinya.
"Hehe, aku kehujanan tadi Kak. Sakit banget kepalaku." keluh sang gadis. Ia memijat kepalanya pelan, merasa sangat pening sekali.
Tanpa aba-aba, Rio langsung menggendong sang gadis menuju kamarnya. Tak ada penolakan juga dari Liana, hingga membuat Rio leluasa bergerak. Ia langsung merebahkan tubuh Liana diatas ranjang, melihat mata Liana yang terpejam membuat Rio mengernyitkan keningnya.
"Kamu tidur?" tanyanya sembari mengguncang tubuh sang gadis.
"Aku tidur ya Kak, pusing banget." Liana berkata lirih dengan mata yang masih terpejam. Membuat tangan Rio terangkat dan membelai lembut kepala sang gadis.
"Ya sudah, kamu istirahat. Besok nggak usah kerja, Kakak ijinkan ke kafe kamu."
Rio mengecup pelan kening Liana, lalu menyelimuti tubuh sang gadis hingga sebatas dada. Selepas itu, ia beranjak meninggalkan Liana dengan kamar yang redup. Membiarkan sang gadis beristirahat agar lekas membaik.
Pemuda itu berinisiatif membelikan Liana sebuah makanan dan juga obat agar kesehatannya cepat pulih.
Namun, didalam kamar sang gadis malah membuka matanya lebar-lebar. Tangannya meraba dada yang dirasa bergemuruh akibat kecupan hangat yang diberikan sang Kakak angkat kepadanya.
"Kenapa gue deg-degan ya? Apa sih!" keluhnya tak suka. Ia tidak boleh merasakannya rasa yang lebih kepada Kakaknya tersebut.
Ia merasa bahwa Rio sudah terlalu baik padanya, tidak sopan jika harus menaruh hati pada sang pemuda. Namun bukankah rasa cinta tidak memandang kepada dia siapa? Tidak ada juga yang meminta rasa cinta itu tumbuh dengan hebat.
"Gue harus bisa kendaliin rasa gue."
"Gue nggak mau nyakitin Kak Rio."
"Gue yakin, Kak Rio pasti udah punya calon istri."
Bermonolog dengan hati yang berdebar, Liana mencoba memejamkan matanya berulang-ulang hingga dirasa sangat perih.
"Sial! Gara-gara Kak Rio nih!"
Akibat kecupan itu, ia merasa pusing dikepalanya sudah hilang musnah entah kemana. Yang ada hanya debaran jantung yang kian membuncah bahagianya. Ia tidak bisa berkata-kata, hingga harus menetralkan detak jantungnya dengan cara menghela nafas panjang-panjang. Barulah ia memejamkan matanya kembali dan bersiap terlelap.
__ADS_1
BERSAMBUNG...