
Pagi cerah sudah tiba. Namun tidak secerah hati sang gadis yang tengah gundah gulana. Ia menatap sayu pada kaca rias dihadapannya yang sudah pecah pada bagian tengah akibat dihantam ponsel karena merasa muak dengan tingkah kekasih dan sahabatnya.
Benar-benar tak habis pikir, ada apa dengan dirinya hingga laki-laki itu mengkhianatinya dengan mudah? Bukankah ia pergi karena ingin mempertahankan harta satu-satunya yang ia punya?
"Alyssa?"
Gadis itu menoleh pada ambang pintu. Terdapat seseorang yang ia anggap harta berharga itu, tersenyum tulus padanya. Melangkah mendekatinya dan mengelus puncak kepalanya.
"Kita balik ke Jakarta ya Al, Papa udah sembuh kok."
"Kenapa Pa? Alyssa masih mau disini. Rasanya sekarang, Alyssa tidak punya tujuan apapun untuk balik ke Jakarta."
"Al, masalah itu harus dihadapi. Bukan dihindari. Papa nggak mau hubungan kita semua hancur karena keegoisan kamu sama Rio. Papa nggak mau Om Haling dan Mama kamu Manda jadi salah paham. Kita selesaikan ini semua baik-baik ya?"
"Tapi Alyssa nggak salah Pa."
"Papa tau. Alvin udah cerita semuanya sama Papa. Hanya saja, semua masalah memang harus dijelaskan dengan gambalg Al, jangan sampai kita menyesal dikemudian hari."
Alyssa hanya menghembuskan nafasnya berat. Begitu letih menghadapi semua masalah yang ada. Lelah menangis setiap malam hanya untuk seseorang yang sudah berlaku jahat kepadanya.
"Kita balik Jakarta hari ini. Kamu siap-siap. Kita berangkat jam 11 nanti."
Umari melangkah pergi tanpa mendengar ucapan Ify lagi. Ini adalah keputusan bulatnya. Ia tidak mau anak gadisnya terus menerus digerus masalah dari pihak manapun. Anaknya harus bahagia. Harus!
***
Alvin kembali melangkah memasuki rumah Sivia. Sudah 100% persiapan pernikahan mereka. Hanya menunggu kedatangan Ify dan Umari. Serta kejelasan hubungan Rio dan Shilla.
Biar bagaimana pun Rio adalah saudara tirinya dan Ify adalah adiknya. Tidak akan ia ijinkan siapapun menyakiti Ify meskipun itu adalah saudara tirinya sendiri.
"Kapan ify pulang Vin? Aku kangen banget sama dia." gadis mungil itu merengkuh mesra tubuh calon suaminya.
"Nanti siang. Ify juga pasti kangen banget sama kamu."
"Rio Shilla?"
Alvin termangu. Ia pun tidak mendapat kabar apapun dari Shilla maupun Rio. Alvin merasa, dua orang itu sudah tidak ia kenal dengan baik seperti aebelumnya.
"Aku nggak tau Vi. Mungkin mereka nanti juga menyusul pulang."
Sivia mengangguk pelan, ia juga mengerti masalah yang dihadapi ketiga sahabatnya itu tidak mudah untuk diselesaikan. Akan ada banyak hati yang dilukai, terutama hati Ify Alyssa.
"Vi." Sivia menoleh. Menatap Alvin yang memandangnya sendu penuh harap. Entah apa yang ada di pikiran calon suaminya itu.
"Apa?"
"Aku nggak sabar Vi."
"Nggak sabar ngapain?"
Jantung Sivia berasa ingin keluar dari tempatnya karena Alvin semakin mengeratkan pelukannya. Semakin menyeruak kedalam leher jenjangnya.
"Nggak sabar milikin kamu." terkekeh geli karena ulah Alvin, Sivia mendongak dan mengecup bibir Alvin dengan mesra.
"Sabar ya. Kita tunggu masalah Ify dan Rio selesai. Habis itu kita bikin acara pernikahan yang mewah."
"Bukan acara pernikahannya yang bikin aku nggak tahan Vi."
__ADS_1
"Terus apa dong?"
"Menyatukan tubuh kamu sama tubuh aku. Menjadikan tubuh kita bersatu tanpa jarak apapun. Memberitahu dunia bahwa kamu hanya milikku." Sivia merinding mendengar bisikan Alvin tepat ditelinga dan lehernya.
Menggelinjang manja karena Alvin terus bergelayut di badan nya, di atas sofa itu ingin sekali Alvin segera memiliki Sivia. Mata terpejam dan terus mengendus Sivia seolah Sivia adalah makanan lezat yang akan segera ia santap.
***
Ify Alyssa. Gadis cantik dengan postur tubuh yang aduhai membuat semua mata pria menatapnya lekat di bandara. Menetap diluar negeri selama hampir 3 bulan membuatnya nampak lebih sintal dan berisi.
Banyak sekali pujian yang ia dengar dari para pria disana, ataupun sebuah cibiran pedas dari kaum hawa yang iri kepadanya. Ia tersenyum tipis dan simpul, melangkah kecil mengikuti ayahnya yang terlebih dulu berjalan didepan.
Berhenti melangkah. Kedua manusia itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru parkiran. Ia menemukan mobilnya, lalu menepuk pundak Ayahnya untuk pergi menemui supirnya dahulu yang sudah menunggunya.
"Maaf lama ya Tuan, Non." ucap sang sopir tergopoh-gopoh. Ia mengambil alih tas dan koper yang mereka bawa.
"Tidak Pak. Ayo, ke rumah Haling."
"Kok ke sana? Nggak pulang?" ify terheran.
"Kita harus selesaikan urusan kamu sama Rio dulu. Baru pulang."
"Tapi Pa, aku capek. Mau pulang, istirahat. Lagian Rio belum tentu udah balik Jakarta. Dia paling masih senang-senang sama Shilla disana."
"Lupakan Rio. Kita bicara sama Om Haling dan Mama kamu."
Meski dengan mendengus kesal, gadis itu tetap memasuki mobil dan menuruti Ayahnya saja. Tak mau berdebat. Rasanya tubuh sudah lelah dan ingin beristirahat saja.
Tak butuh waktu lama, mobil Ify sudah terparkir rapi dirumah Haling. Mereka disambut hangat oleh mantan isterinya juga suami dari mantan isterinya tersebut. Tak heran juga ada Alvin dan Sivia yang selalu saja bergelayut manja.
"Apa kabar Fy? Apa kabar Om?" tanya Sivia sopan. Ia memeluk ify, sahabatnya.
Ify mengedarkan pandangan, tak menemukan sosok Rio di sana. Benar saja mungkin ucapannya tadi, bahwa Rio masih bersenang-senang diluar negeri bersama Shilla. Ia terduduk disebelah Umari, dihadapan Haling dan Manda.
"Fy."
Gadis itu mendongak, menatap ibu kandungnya. Yang juga sudah menjadi ibu tiri Rio selama beberapa tahun ini.
"Maafin Rio ya." ify mengangguk kecil. Ia tau apa yang dimaksud Manda, tak heran juga jika semua keluarga sudah mengetahui masalah Rio dan Shilla dengan cepat. Mereka mendamba Rio dan Ify lah yang kelak akan menjadi pasangan terbahagia di rumah itu selain Alvin dan Sivia.
"Fy, Om juga nggak tau Rio bisa senekat itu. Om juga nggak tau apa yang ada di hati Rio. Apa yang difikirkan anak itu, Om juga nggak ngerti." Haling menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sesekali mengurut keningnya yang terasa berdenyut.
Ify hanya diam saja mendengar penuturan Haling. Ia hanya menatap Haling dengan seksama. Menunggu sebuah lanjutan dari ucapan seorang pria paruh baya dihadapannya itu.
"Semua, kami kembalikan sama kamu Fy. 4 tahun lebih, kamu bersama sama Rio. Bukan waktu yang singkat Fy memang. Om rasa sulit buat kamu nerima ini semua."
"Om tau Fy, cinta kamu ke Rio itu bukan main-main. Om juga tau, alasan kamu pergi keluar negeri itu apa. Om juga tau alasan kamu nggak mau di susul Rio itu apa. Semua sudah yang terbaik yang kamu lakukan dan kamu berikan kepada Rio. Jika memang semua harus berakhir seperti itu, Om dan Mama kamu meminta maaf Fy."
"Bukan Om dan Mama Manda yang salah. Ify dan Rio juga salah." akhirnya membuka mulut. Gadis itu masih dengan tatapan kosong menatap Haling dihadapan.
"Nggak papa Om, Ma. Itu sudah keputusan Rio bersama Shilla. Dan keputusan Ify adalah pergi dari hidup Rio. Mungkin memang Rio dan Ify bukan jodoh. Bersama lama, bukan jaminan kami akan naik ke pelaminan kan? Semua butuh proses. Ify bersyukur sudah diberitahu semua ini sebelum Ify menjadi isteri Rio. Akan lebih sulit lagi kalau Ify sama Rio udah nikah nanti baru ketahuan."
Menghela nafas kasar, gadis itu berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan keluarga Haling. Ia bukan wanita lemah, ia harus kuat. Batinnya tak semangat.
"Om serahkan semua sama kamu. Rio sebentar lagi akan pulang. Kamu selesaikan sama Rio ya."
"Semua sudah selesai Om. Ify dan Rio sudah selesai."
__ADS_1
Hening. Tak ada suara apapun. Alvin dan Sivia pun ikut terdiam mendengar penuturan Ify.
"Nggak boleh ada yang selesai antara kita Fy."
Suara baritone milik Rio terdengar nyaring ditelinga para penghuni sofa ruang tamu itu. Mereka terhenyak mendengar ucapan Rio. Lebih terkaget lagi ketika mereka tau bahwa Rio datang bersama Shilla.
Semuanya memandang Rio dengan posisi berdiri, kecuali Ify. Ia tidak bergerak sama sekali dari posisinya duduk dihadapan Haling. Memasang wajah datar dan dingin.
"Fy, aku mohon sama kamu. Jangan ada yang selesai antara kita." Rio berdiri dibelakang sofa yang diduduki Ify. Dibelakang Rio ada Shilla yang berdiri menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Sivia memandang Shilla dengan tatapan benci. Tak menyangka semudah itu Shilla mengkhianati Ify. Orang yang selalu ada buatnya disaat ia disakiti oleh Gabriel beberapa tahun yang lalu.
Gadis mungil itu beranjak dari posisinya dan berjalan mendekati Shilla. Alvin hanya diam saja tak mengikuti kekasihnya. Mungkin saja Sivia ingin berkata empat mata saja bersama Ahilla.
"Murahan banget sih lo Shill." bisiknya tepat ditelinga Shilla, membuat gadis semampai itu terhentak kaget.
"Maksud lo apa sih Vi?" masih dengan suara yang teramat pelan. Takut didengar oleh para orang tua.
"Mudah banget lo khianatin Ify, dia sahabat lo Shil. Lo dengan mudah kasih tubuh lo ke Rio."
Lagi lagi, Shilla dibuat tersentak dengan ucapan Sivia. Mendengar ucapan itu, otaknya melanglang buana pada kejadian tadi malam sewaktu di hotel, satu kamar berdua, juga satu ranjang pun dipakai berdua.
***
"Rio..." desis Shilla tertahan. Ia tak kuat menahan gejolak yang melandanya. Darahnya berkali-kali mendesir hebat kala jemari Rio dengan lincah menerabas semua gundukan-gundukan kenyal di dadanya.
"Shill, aku nggak tahan." bisik Rio ditelinga Shilla. Ia sudah seperti orang kesetanan. Tak lagi memakai akal sehat untuk berfikir. Yang ada di otaknya saat ini adalah menuntaskan hasratnya untuk menggauli tubuh semok dan seksi milik Shilla. Yang diberikan hanya dengan cuma-cuma.
"Lepas semua Rio"
Dengan tangan sigap, semua pakaian wanita itu sudah lepas amblas dari tubuhnya. Begitu juga dengan Rio. Lampu yang remang membuat suasana kamar menjadi lebih syahdu. Tak lagi dapat menahan hasrat gejolak menggelora, Rio dengan cepat menindih tubuh Shilla dan kembali meraba nya.
Dengan sekali hentakan, juniornya berhasil menelusup kedalam bagian inti tubuh Shilla. Menyatukan kenikmatan tiada tara. Desas desis mesra keluar dari bibir merah merona milik Shilla.
"Aku milikmu Rio, sshhh aaahhh ..."
***
"Kita selesai. Kamu bersama Shilla, dan aku bersama takdirku sendiri. Kita berpisah. Secara damai dan halus." ucapan Ify mengagetkan Shilla dari lamunannya. Ia senang, juga sedih. Ia takut, juga gembira.
"Fy, kumohon. Maafin aku. Aku khilaf Fy. Aku janji akan perbaiki semuanya." mohon Rio. Ia mencoba menarik tangan ify agar ify membalikkan badannya dan menatapnya.
"Jangan sentuh gue."
"Apa?" Rio tertegun. Secepat itu Ify berubah padanya? Seolah memang gadis itu tidak pernah berbuat dosa. Tapi bukankah benar? Berpisah dari Rio saja Ify masih bisa setia, dosa apa yang Ify lakukan pada Rio? Ia rasa, tidak ada.
"Fy, kamu kenapa?"
"Elo yang kenapa?" Ify membalikkan badannya dan berhadapan dengan Rio. Ia sudah muak dengan semua omongan polos Rio. Ia ingin luapkan semua emosinya detik itu juga.
"Lo gue tinggal baru 2 bulan, udah bisa lo main gituan sama Shilla? Lo pikir gue nggak punya hati ha?"
"Gue kurang apalagi Rio dihidup lo? Gue kurang gimana lagi buat nuruti semua kemauan lo? Gue kurang apa?"
"Gue kurang cantik kayak Shilla? Atau gue tubuh gue kurang seksi, nggak kayak Shilla?"
"Fy, maafin aku. Aku menyesal." ucapan Rio sungguh sangat lirih sekali. Ia pun menundukkan wajahnya dalam-dalam.
__ADS_1
"Nggak ada maaf buat Lo! Kita selesai. Dan jangan pernah lo ganggu hidup gue lagi."
BERSAMBUNG...