Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 14


__ADS_3

Rio duduk dibalkon kamarnya. Menatap bintang yang terang, meskipun tak ada bulan disampingnya. Ia ragu, ia bingung, akankah ia memperjuangkan ify? Atau Agatha?


apa yang sudah pergi itu tak akan pernah kembali.


seperti waktu, yang sudah pernah terjadi tak akan pernah terulang kembali.


cukup menjadi kesan kenangan utama tidak untuk mengulang selamanya.


Mungkin itulah sebuah kata yang pantas menggambarkan posisi Rio saat ini yang tengah bingung akan hatinya sendiri.


Alvin mengetuk pintu kamar Rio. Ia merasa harus menjadi penengah lagi antara hubungan Rio dengan saudara kandungnya yang kini berada disebuah rumah yang berbeda dengannya.


"Masuk aja." ucap si pemilik kamar.


Alvin berjalan menghampiri Rio dan duduk disampingnya.


"Lo yakin masih mau mempertahanin Agatha?" tanya Alvin to the point. Ia tak suka berbasa-basi.


"Gue nggak tau Vin. Gue bingung."


"Lo itu udah gede Rio. Kita sebentar lagi mau lulus kuliah, dan melanjutkan perusahaan Papa. Kita udah mapan. Mama sama papa berharap kita cepet-cepet nikah selesai kuliah. Karena mama sama papa semakin tua. Lo harus bisa berfikir dewasa. Mana yang baik, dan mana yang enggak. Mana yang tulus, dan mana yang berpura-pura."


Rio diam. Ia memikirkan ucapan Alvin berulang-ulang.


"Tapi jujur aja, gue kecewa sama sikap Ify belakangan ini. Dia jadi kasar Vin."


"Titik mana yang buat ify terlihat kasar?"


Rio menatap Alvin tak mengerti.


"Lo nggak liat tadi pagi Agatha didorong sama ify sampai pingsan? Dijambak pula. Dan waktu itu di aula, Ify nampar Agatha Vin. Masa lo nggak tau." ucap Rio menggebu-gebu.


"Rio, gue juga lihat. Tapi yang gue lihat, bukan ify yang kasar. Tapi Agatha yang licik. Dia sengaja ambil tangan ify terus di taruh di pipi dia biar dia kelihatan tertampar. Dan ya namanya juga manusia, dia punya titik kesabaran dong. Siapa sih yang mau difitnah terus-terusan? Ify cuma mau mempertahankan harga diri dia yang diinjak-injak sama Agatha. Elo aja yang buta Rio."


Sekali lagi, Rio dibuat diam oleh ucapan Alvin. Ia sangat frustasi. Menghembuskan nafasnya secara kasar dan mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Menurut lo, gue harus apa Vin? Gue udah janji sama Agatha bakal jagain dia karena dia sekarang lagi sakit Vin."


"Lo yakin Agatha sakit? Atau cuma pura-pura?"


"Maksud lo?"


"Gue tau Agatha bilang ke lo kalo dia sakit leukimia kan?"


"Darimana lo tau?"


"ify yang bilang ke gue."


"Kok dia bisa tau?"


"Mungkin dia nggak sengaja lewat ruang kesehatan, dan dengar obrolan lo sama Agatha."


"Gue nggak tau Vin harus gimana." lirih Rio.


"Ikuti kata hati lo. Jangan hanya karena kasian lo mengorbankan hati orang lain. Ntar kalo ify diambil yang lain lo nyesel."


Ceklek..


Pintu kamar Rio terbuka menampakkan Manda dan Haling di sana.


"Boleh mama sama papa masuk?" tanyanya. Rio hanya mengangguk saja.


"Rio, mama sama papa mendengarkan obrolan kalian tadi. Dan papa setuju sama Alvin. Nggak semua orang punya kesempatan kedua Rio." ucap Haling sembari menepuk pundak Rio. Pria paruh baya itu, sangat lembut terhadap kedua anaknya.


"Kamu sama Alvin sebentar lagi selesai kuliah. Papa mau kalian meneruskan perjalanan papa mengurus perusahaan Halmand Corp's. Dan papa sama mama tidak mau kamu menikah terlalu tua Rio."

__ADS_1


"Mama sama papa tidak memaksa kamu menikah sama ify. Tentukan pilihan kamu sendiri. Karena yang menjalani kehidupan kedepannya itu kamu sendiri. Asal jangan sampai salah langkah ya. Pernikahan itu sekali seumur hidup, pilih yang benar-benar baik menurut kamu Rio."


Rio dan Alvin hanya mendengarkan petuah orang tuanya.


"Kalau Alvin pasti sudah jelas ia akan menikahi Sivia. Betulkan Alvin?" goda Haling.


Alvin hanya cengengesan saja menanggapinya.


"Pokonya, semua keputusan ada ditangan kamu sendiri Rio. Kamu bebas memilih. Entah itu Ify, Agatha, atau orang lain. Semua mana yang terbaik untuk kamu saja."


********


Pagi tiba. Ify berjalan menuruni anak tangga satu persatu. Badannya kurang enak dirasa hingga ia memutuskan untuk tidak pergi kuliah hari ini.


Ia menghampiri Umari yang masih duduk dimeja makan.


"Papa nggak ke kantor?"


"Ke kantor sayang, cuma belum berangkat aja."


"Hemm." ify mengambil sehelai roti dan mengolesinya dengan selai coklat favoritnya.


"Kamu kenapa nggak kuliah?"


"Nggak enak badan Pa."


"Ya sudah kamu istirahat aja ya. Papa mau berangkat ke kantor."


Ify tersenyum dan mencium punggung tangan ayahnya. Lalu Umari bergegas menuju kantornya.


"Males banget kuliah ketemu Rio sama Agatha. Manusia-manusia aneh bin lebay." ucapnya kesal. Ia membanting rotinya di piring. Melamun. Dan berfikir.


"Apa gue nyerah aja ya? Kayaknya Rio udah benci setengah mampus sama gue deh. Mungkin dia suka lagi sama Agatha. Namanya juga cinta dari dia masih monyet." gumamnya. Tangannya ia gunakan untuk menumpu dagu tirusnya.


"Tapi masa sih gue kalah sama Agatha?"


"Tapi kan dia udah nyakitin Rio."


"Dan gue yang menyembuhkan luka di hatinya Rio."


"Harusnya gue yang menang dong, bukan Agatha."


Ify terus saja bergumam sembari melamun menatap langit-langit rumahnya.


"Udah ngelamunnya?"


Ify tersentak kaget mendengar suara yang sangat ia kenal. Kepala menoleh kesana kemari dan mendapati orang yang baru saja ia lamunkan.


"Lo ngapain kesini?!" ucapnya sambil melebarkan matanya.


Rio berjalan menghampiri ify dan menaruh telapak tangannya di jidat ify.


"Kok nggak panas?" ucapnya.


"Lo ngapain kesini?" tanya ify lagi. Kali ini ia sembari menghempas tangan Rio.


"Gue tadi ditelfon om Umari. Suruh mampir kesini. Katanya lo nggak enak badan. Jadi deh gue disuruh jenguk lo."


"Gue masih hidup."


"Yang bilang lo mati siapa?"


"Udah lo kuliah sana. Nanti Agatha nyariin. Pingsan lagi ntar, mampus tuh orang."


"Lo kenapa sih benci banget sama Agatha?"

__ADS_1


Ify menatap Rio tepat dimanik matanya.


"Lo pikir karena apa?" tanya ify. Rio mengalihkan pandangannya menatap kearah lain. Tak kuasa kembali menatap mata Ify yang menggetarkan hatinya.


"Ya gue nggak tau lo ada masalah apa sama Agatha."


"Gue nggak ngerasa ada masalah apapun sama Agatha. Tapi kalo dia ngerasa ada masalah sama gue, berarti yang bermasalah bukan gue."


"Ya udah nggak usah nyolot gue cuma nanya."


Ify menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Rio begitu saja. Ia menaiki tangga satu persatu tanpa ucapan apapun.


Rio kesal dengan tingkah ify. Ia pergi dari rumah ify untuk melanjutkan perjalanannya ke kampus. Percuma saja rasanya ia menghampiri gadis tirus tersebut. Tak ada yang bisa diperbaiki saat ini.


Sesampainya di kampus ia sudah disambut hangat oleh Agatha.


"Pagi Rio." sapa Agatha tersenyum manis. Rio hanya membalas dengan senyuman tipis.


"Rio, ke kantin yuk."


"Lo belum sarapan?"


"Belum."


"Lo ke kantin duluan ya, nanti gue susul. Gue mau ke kelas dulu."


"Aku ikut kamu ya." pinta Agatha manja.


"Nggak usah. Lo duluan aja ke kantin."


Agatha mengangguk dengan wajah sedih. Dan berlalu menuju kantin. Ia harus membuat Rio kembali padanya dengan mengembalikan semua sifat-sifatnya dulu sebelum ia pergi. Yaitu, menuruti semua ucapan Rio. Sementara Rio masuk ke kelasnya dan menemui Alvin yang sedang berdua dengan Sivia.


"Bantuin gue." ucapnya secara tiba-tiba.


"Bantu apa sih Rio?"


"Bantuin gue supaya Agatha menjauh dari gue. Plis."


"Lo yang buka kisah baru sama Agatha. Lo juga yang harus nutup itu." ucap Sivia menimpali.


"Nggak asik lo semua." kesal Rio. Alvin dan Sivia hanya terkekeh geli.


Rio pergi dengan kesal. Ia tidak menyusul Agatha ke kantin, melainkan pergi kembali ke rumah ify.


Sementara Agatha yang sudah memesan makanan dan minuman menoleh kesana kemari mencari keberadaan Rio. Yang ia dapati malah Febby bersama David, teman sekelas Rio, juga teman sekelasnya.


"Febby, lo liat Rio nggak?"


"Tadi sih abis bicara sama Alvin dia pergi bawa motor. Mungkin bolos kelas."


Agatha mengangguk dan terlihat seperti berfikir. Ia pergi meninggalkan makanannya dan berlalu menuju kelas Alvin


"Vin, Rio kemana?" tanyanya diambang pintu kelas.


"Gue gak tau. Mungkin ke rumah ify." ucap Alvin memanasi.


"Rio sama ify itu nggak bisa di pisahin lagi Agatha. Jadi mau lo berusaha sekeras apapun, Rio bakal tetap balik ke ify." ucap Sivia. Ia menghampiri Agatha.


"Karena nggak semua orang itu punya kesempatan kedua." lanjut Alvin menirukan gaya ucapan ayahnya tadi malam.


"Gue gak peduli, gue bakal tetap bikin Rio cinta lagi sama gue." ucap Agatha percaya diri. Sivia tersenyum remeh.


"Coba aja"


"Tapi gue kasih tahu sesuatu sama lo. Selesai kuliah, Rio dan Ify akan menikah." ucapnya lalu meninggalkan Agatha seorang diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2