Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 32


__ADS_3

Rio menghembuskan nafasnya dengan letih. Seiring terbukanya kelopak mata indah dihadapan. Ia memandang datar kearah sang gadis, ingin mencari kejujuran disana.


"Om-"


"Berhenti panggil saya Om. Saya bukan Om kamu!" tegasnya. Liana hanya menundukkan pandangannya. Ia masih terbaring diatas ranjang Rio. Menatap tangan yang dibalut perban sebegitu tebal membuat Liana tersenyum kecut.


"Kamu apakan Doddy? Kamu bunuh dia?" tanya Rio mulai mengintrogasi. Liana hanya menggeleng lemah. Tatapannya masih mengarah ketangannya, bulir air mata sudah menggenang dipelupuk mata indahnya.


Perlahan, ia memandang Rio yang duduk disisi ranjangnya sembari menyandarkan punggungnya disandaran kursi yang ia duduki. Kakinya mengetuk lantai hingga terdengar suara berdentang dari sepatu kantor yang ia kenakan.


"Aku pukul pakai vas kaca."


"Kenapa?"


"Dia mau perkosa aku Om."


Rio membulatkan matanya secara sempurna. Mulutnya terbuka membentuk huruf O. Matanya terus menatap mata Liana dengan tak percaya dan juga terkaget-kaget.


Doddy yang ia kenal sempurna sebagai seorang Ayah, dan juga pebisnis luar biasa dibidangnya benar-benar memiliki sifat dan sikap yang sangat bejat. Membuat Rio benar-benar syok dan terhentak kaget.


"Kamu becanda kan? Siapa namamu?" Rio menatap Liana dari atas hingga kebawah. Keujung kakinya yang masih ditutupi oleh selimut tebal.


"Liana, Om." Gadis itu memalingkan wajah menatap langit-langit kamar Rio yang bernuansa elegan, menurutnya. Buliran air mata masih terus menetes disisi kanan dan kiri wajahnya. Membasahi bantal yang ia kenakan.


"Doddy ayah tiriku, sejak Ibuku meninggal sikapnya berubah 180° Om."


"Kasar, mabuk, dan sering banget siksa aku. Bahkan nyuruh aku buat muasin nafsunya."


"Dan kamu mau?" sela Rio kembali terhentak, membuat Liana menggeleng.


"Aku selalu berusaha menghindar. Sampai akhirnya Ayah bikin surat perjanjian tanpa persetujuan aku."


"Apa isi suratnya?"


"Setelah lulus SMA, aku harus bersedia memberikan semuanya yang ada dihidup aku Om, kepada Ayah. Termasuk keperawananku."


Rio semakin menggelengkan kepalanya tak percaya. Bukan tak percaya dengan ucapan Liana, namun tak percaya dengan semua topeng yang Doddy perlihatkan selama hampir 2 tahun berbisnis dengannya.


Rio tahu, Liana adalah gadis yang lugu dan polos. Ia mengenal Liana saat kepemimpinan perusahaan masih dikendalikan oleh Haling. Namun hanya beberapa saat saja mereka bertemu, sangat jarang sekali.


"Dasar orang tua gila!" memegang kepalanya yang berdenyut kencang, Rio berdiri hendak meninggalkan Liana.


"Om mau bantu aku kan?"

__ADS_1


Berhenti dan menoleh kembali pada Liana, ia sudah sampai diujung pintu. Ia mengangguk saja untuk menjawab pertanyaan sang gadis.


"Istirahatlah. Aku ada urusan. Nanti aku kembali."


*********


Pergi menemui Doddy disebuah Rumah Sakit ternama dikota tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan ia baru saja sampai. Tak sulit untuk mendapatkan informasi mengenai Doddy, si pria paruh baya yang memang lebih tua darinya. Seusia Ayahnya, namun bukankah kedudukan seorang Mario lebih tinggi daripada Doddy? Tidak mungkin jika ia yang harus menunduk kepada Doddy meski usia mereka terpaut cukup jauh.


"Pak Mario?" Doddy terheran mendapati Rio sudah berdiri diambang pintu ruangannya. Dengan setelan baju santai, Rio melangkah mendekati Doddy yang masih terbaring lemah diatas brankar. Kepalanya dililit perban sangat tebal. Mungkin, melebihi tebalnya perban yang Liana kenakan ditangannya.


"Apa kabar?" Rio membuka suara.


"Baik Pak, ada apa? Kenapa bapak bisa tahu saya disini?" Ya, Doddy harus lebih hormat pada pemilik perusahaan bukan?


"Liana."


Doddy mengeraskan rahangnya, Rio bisa melihat itu. Ada amarah tertahan dimata sang pria paruh baya yang baru saja selesai operasi kepala akibat robek terkena vas kaca itu.


"Dimana Liana pak? Kenapa bapak bisa bertemu anak saya?"


"Lepaskan Liana, atau anda yang akan saya buat menyesal."


Masih dengan raut wajah datar dan suara yang tenang. Rio mengantongi dua tangan disaku kanan dan kiri celananya. Menatap Doddy yang kini kebingungan.


"Saya yang akan bertanggung jawab atas anak anda."


"Tapi pak, saya-"


"Lepaskan Liana. Atau anda akan kehilangan pekerjaan anda saat ini Pak Doddy. Dan saya pastikan, tidak akan ada perusahaan manapun yang mau menerima anda untuk menjadi karyawannya."


Doddy menelan ludahnya kasar. Dadanya kembang kempis menahan amarah.


"Dan saya pastikan juga, citra anda sebagai ayah terbaik diperusahaan akan hancur berantakan. Saya sudah tahu semuanya."


Doddy mengangguk pasrah.


"Iya pak, saya akan melepaskan Liana. Tapi saya mohon, jangan pecat saya Pak." kini giliran Rio yang mengangguk dengan sedikit senyum.


"Jangan ganggu Liana lagi Pak Doddy. Dan saya akan pindah tugaskan ada disalah satu cabang perusahaan saya dipulau Kalimantan." terang Rio. Lagi dan lagi membuat Doddy mengangguk pasrah.


"Saya pamit Pak Doddy. Semoga Anda lekas membaik."


Rio tersenyum dan pergi meninggalkan Rumah Sakit ternama tersebut.

__ADS_1


Namun langkahnya harus terhenti disebuah parkiran mobil yang sangat luas tersebut. Matanya memicing tajam, menatap seorang wanita yang sangat ia kenal tengah duduk seorang diri dipinggir parkiran.


Ia berjalan mendekat, secara perlahan. Jantungnya berdegup dengan kencang, bibirnya ia kulum dalam-dalam untuk mengendalikan emosi didalam jiwa yang selama ini ia kubur dalam-dalam.


"Ify?"


********


Gadis berambut panjang nan pirang dengan jepit kecil diponinya itu melangkah keluar dari Rumah Sakit dengan perasaan yang sangat gundah. Air matanya menetes tanpa henti, membuat nafasnya sedikit tersengal. Tanpa suara, namun air mata tak bisa berhenti dengan semestinya.


Ia menunduk kalut, menjambak rambutnya dengan emosi yang membara. Terduduk disebuah tempat duduk diparkiran mobil yang luas dan gelap. Ia terus menunduk dan masih senantiasa mengusap air matanya yang jatuh berderai.


Seiring berjalannya waktu, ia sudah bisa kembali menguasai dirinya agar tenang. Air mata sudah mengering dan tidak keluar lagi. Namun ia masih nyaman duduk ditempat tersebut. Menatap nanar pada sebuah lembar kertas dan sebuah buku berwarna merah muda diatas pangkuannya. Ia tersenyum kecut, kembali ingin menangis namun ia tahan sekuat yang ia bisa.


Tak sadar, dihadapannya sudah berdiri seorang pria tampan nan manis tengah memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Yang tadinya ia hanya menatap sepatu dihadapan, kini ia mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang pria.


"Ify?"


"Rio?"


Ify terlonjak kaget dan langsung berdiri begitu saja. Terlupa dipangkuannya ada sebuah lembar kertas dan juga buku, hingga ia berdiri dan langsung saja lembar kertas juga buku itu berserakan diantara kakinya dan juga kaki Rio.


Menatap kebawah, Rio memungut sebuah foto kecil dengan gambar yang tidak ia pahami. Namun saat ia meraih buku yang terjatuh itu, ia langsung mengerti dan mengangguk sembari tersenyum kecut.


Mengembalikan semua kertas dan buku yang berserakan kepada pemiliknya yang masih syok atas kehadirannya.


"Gimana kabar kamu Fy? Lama banget kita nggak ketemu." Rio langsung duduk dikursi yang semula diduduki oleh mantan kekasihnya selama 4 tahun tersebut.


"Duduk Fy." ucapnya lagi, membuat Ify langsung menjatuhkan tubuhnya disamping Rio.


"Kamu hamil lagi? Anak keberapa?" masih tersenyum menatap Ify. Yang ditatap malah terdiam dengan pandangan yang masih syok.


"Kamu kenapa sih Fy? Aku Rio! Kamu lupa sama Aku?" Ify menggelengkan kepalanya. Ia menatap bukunya, lalu kembali menatap Rio


"Kamu ngapain disini? Mana suami kamu?"


"Dia...dia..."


"Lagi sama anak kamu ya?" Ify menggeleng lagi. Air matanya luruh begitu saja, membuat Rio terhenyak kaget. Ia mengelus punggung Ify, bermaksud meredakan tangis sang mantan kekasih.


"Dia...sudah meninggal."


"Apa!?"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2