Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 37


__ADS_3

Seorang gadis dengan wajah cantik pipi merona itu tersenyum datar. Hatinya sangat miris, sangat teriris, ingin mencaci maki seseorang yang ada dihadapan. Namun, apa mau dikata jika yang ingin ia caci sudah tak bernyawa?


Memutuskan untuk mengikuti kemana sang mantan kekasih mengajaknya, Ify kini berada diantara banyaknya gundukan tanah kering dan basah. Berdiri bersama dua orang pemuda yang berdiri disini kanan dan kirinya.


Air matanya sudah tidak terjatuh lagi, tidak seperti saat ia pertama kali mengetahui bahwa seseorang yang ia benci, teramat ia tidak sukai, telah meninggalkannya bersama suami dan anaknya.


"Shilla meninggal tepat setelah suami dan anak kamu meninggal Fy. Selama ini, dia sakit. Dan ya, semua yang dia lakukan itu semata-mata karena menurutnya, dia tidak pernah dapat kebahagiaan."


"Maaf, kalau cara Shilla mencari kebahagiaan adalah menghancurkan kebahagiaan kamu. Dulu, dan sekarang. Maafin dia, buat dia tenang dialam sana Fy. Sama halnya kayak kanu maafin suami kamu, yang udah jahat khianatin kamu dan bawa pergi anak kamu bersama dia."


Gabriel menghembuskan nafasnya dengan pelan.


Ia tidak tahu lagi, bagaimana caranya untuk mendapatkan maaf Ify untuk orang yang ia cintai. Begitu besar pengorbanan Gabriel, demi melaksanakan sebuah amanat dari sang mantan. Ia benar-benar tulus mencintai Shilla. Menyesal mengapa dulu ia dengan bodohnya tergiur oleh bujuk rayu seorang gadis bernama Acha.


"Aku maafin kamu Shil." Ujar Ify setelah beberapa saat ia terdiam. Duduk disamping makam yang masih basah, Ify mengelus nisan putih yang terukir nama sang sahabat. Gadis itu terdenyum tulus kali ini, air matanya kembali merembes keluar, ketika kilatan-kilatan bayangan masa lalu mereka kembali menguar diingatan.


Masa-masa mereka saat bertemu dan berkenalan pertama kali, menjadi seorang sahabat, saling berkorban dan bercerita panjang lebar, hingga sebuah pengkhianatan yang benar-benar membuat semuanya berubah 180°.


Namun kembali lagi pada pandangan, dimana ia hanya akan membenci sosok yang sudah tiada jika tidak memaafkan Shilla. Memang sangat sulit, teringat bagaimana jahatnya gadis itu mengambil kebahagiaannya seperti apa yang diucapkan Gabriel. Namun, bukankah ia sudah mendapatkan balasan dengan menderitanya sebuah penyakit hingga ia kehilangan nyawanya saat ini?


Semua sudah setimpal menurut Ify. Ia mengangguk berkali-kali sembari menghapus air matanya sendiri.


"Maafin Shilla Fy." Gabriel kembali memohon kepada sang gadis.


"Ya, aku maafin Shilla Gab. Semua udah berakhir. Aku berharap, Shilla diberikan tempat yang layak dan indah disana. Semoga apa yang dia perbuat didunia, sudah mendapatkan maaf dari-Nya."


"Terimakasih Fy. Shilla sudah tenang sekarang. Aku yakin itu."


"Ayo pulang." Rio bersuara. Sejak ia datang, pria itu hanya diam tanpa suara. Hanya menerka, dan menjawab sendiri atas apa pertanyaan yang datang diotaknya.

__ADS_1


Tidak ingin bertanya ini dan itu, ia sudah cukup merasa bersalah telah melepaskan Shilla tanpa dosa saat dulu. Ya, ia merasa bersalah pada wanita itu karena tanpa restu orangtua nya, ia tidak bisa menikahi Shilla seperti apa yang diminta sang gadis.


"Gab, aku pulang dulu. Terimakasih ya."


"Ya Fy, aku juga berterimakasih sama kamu karena udah mau maafin Shilla."


***


Membuka pintu utama dengan pelan, ia takut membangungkan sang pemilik rumah. Gadis itu melongok kekanan dan kekiri, mencari sesosok pemuda yang biasanya masih terjaga meski waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Kemana Kak Rio? Kok rumah kosong? Tadi sore pamit keluar sama temennya, masa sih belum pulang?" Gumamnya. Ia melangkah menuju kamarnya dilantai atas, tepat disebelah kamar Rio berada.


"Sepi banget."


Membuka kamarnya dan menguncinya, ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya, gadis itu merasa sangat lelah. Hari pertama bekerja dan ia sudah mengeluh lelah. Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya. Ia pasti tidak akan betah bekerja.


Namun, bukankah itu akan menyulitkan hidupnya jika ia tidak bekerja? Mana mungkin sang pemuda yang ingin dipanggil Kakak tersebut terus menerus mengurusi kehidupannya. Hei, pemuda itu mempunyai kehidupannya sendiri.


***


Kembali dalam perjalanan Ify dan Rio.


Menuju tempat pemakaman Shilla membutuhkan waktu yang cukup lama. Cukup juga membuat Ify dilanda rasa bosan yang tiada tara. Ia berulang kali menguap, menandakan bahwa ia sangat mengantuk saat ini.


Rio berulang kali menoleh pada sang gadis, ingin berkata sesuatu namun tertahan. Hingga berulang-ulang. Hatinya resah, dilanda gundah karena terus menahan keinginan untuk berbicara serius dengan Ify.


"Kalau ngantuk, tidur aja. Nanti aku bangunin kalau udah sampai." Tuturnya kemudian. Gadis itu menoleh dan mengangguk setuju. Sudah tidak tahan untuk tidak memejamkan mata barang sejenak.


"Iya, aku tidur dulu. Hati-hati nyopirnya. Jangan ngelamun."

__ADS_1


Memejamkan matanya dengan menyenderkan kepala kekaca sebelahnya, Ify pun terlelap dengan cepat. Rio yang memandang itu hanya tersenyum kecil.


Tidak ada yang berubah dari sang gadis. Baik dari segi fisik, ataupun perhatiannya kepada semua orang. Ia merindukan sang gadis.


Tak seberapa lama diperjalanan, Rio telah sampai didepan rumah Ify. Mencoba membangunkan sang gadis namun tidak terbangun juga. Ingin berinisiatif menggendongnya kedalam, namun ia takut sang gadis akan marah jika lancang menyentuhnya.


Ayolah, mereka sudah sama-sama dewasa, sudah berumur, dan salah satu dari mereka pernah berumah tangga. Wajar jika ia merasa sangat canggung saat ini.


Belum juga selesai dengan perdebatan didalam otaknya, gadis itu menggeliat dan membuka matanya dengan perlahan. Melirik kekanan dan kekiri untuk memastikan ia sudah sampai dimana.


"Loh, sudah sampai? Kok nggak bangunin aku?" Ucapnya kemudian. Rio menghela nafas panjang dan meliriknya sekilas. Merasa jengkel karena sang gadis benar-benar tidak berasa jika Rio sudah mengguncang-guncang tubuhnya agar terbangun.


"Tadi udah dibangunin. Nggak bangun-bangun. Capek."


"Ya maaf deh." Rio hanya berdehem saja.


"Aku masuk ya, makasih udah mau nganterin."


Ify bersiap membuka kunci mobil Rio,


"Fy, besok ada waktu?" Ucapan Rio membuatnya mengurungkan diri untuk membuka pintu mobil mewah tersebut.


"Mau apa emangnya?"


"Aku mau ajak keluar kamu. Mau ngobrolin sesuatu."


"Kenapa nggak sekarang aja?"


"Nanggung. Udah malam juga. Besok aja ya."

__ADS_1


Ify hanya mengangguk saja kemudian tersenyum kecil. Ia lanjut membuka pintu mobil Rio dan berlalu meninggalkan sang pemuda.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2