
Yang menjauh belum tentu rela, dia hanya bersikap dewasa bahwa cinta tidak selalu berakhir bahagia.~
Pemusebentar.memperjuangkan cintanya itu tiba di bandara tujuannya. Ia yakin bahwa gadisnya juga belum pergi dari bandara terbesar dikota itu. Karena memang tidak terlalu lama jam keberangkatan keduanya.
Ia merogoh ponselnya. Menekan tombol angka dengan cepat lalu menempelkan ponsel genggamnya ke telinga.
"Ck, sialan." decaknya kesal. Gadisnya sama sekali tidak mengangkat panggilan telponnya.
"Kemana kamu Fy."
Ia memegang erat ponselnya. Sembari melirik ke sana kemari.
Tiba-tiba dengan cepat ia kembali mencari sebuah nomor di ponselnya dan dengan cepat pula menempelkan ponselnya pada telinga.
"Hallo Rio, ada apa?" suara diseberang panggilan membuat Rio sedikit lega.
"Om, apa ify sudah sampai ditempat om?"
"Tidak ada. Alyssa juga tidak bilang kalau dia mau nyusul om."
"Terimakasih om."
Rio kembali mengacak rambutnya kesal. Ia tidak tahu harus kemana, jika Umari mengatakan bahwa Ify belum ada ditempatnya lalu untuk apa ia ketempat Umari. Sama saja tidak akan hasilnya.
"Rio."
Dengan cepat Rio membalikkan badannya ketika mendengar seseorang memanggilnya dari belakang.
"Ify?" sentaknya kaget.
"Fy, akhirnya aku ketemu sama kamu." Rio memeluk Ify erat, hanya sebentar
"Kenapa kamu disini Rio?"
"Aku mau susul kamu Fy. Aku mau ikut sama kamu."
"Nggak bisa Rio. Mama Manda sama Om Haling pasti nggak setuju kalau kamu ninggalin kuliah kamu."
"Mereka pasti setuju Fy. Atau, aku juga bisa kuliah disini. Aku nggak mau jauh sama kamu."
"Rio, plis. Balik ke Indo. Aku mohon."
"Kenapa?"
Wajah Rio berubah menjadi datar dan dingin. Membuat Ify sedikit menciutkan nyalinya.Tidak pernah melihat wajah seperti ini sebelumnya.
"Aku nggak mau kamu ninggalin kuliah kamu. Kamu boleh susul aku kalau kamu udah selesai kuliah. Dan, kalau kamu mau kita bisa langsung menikah Rio."
"Kamu aja ninggalin aku. Kenapa aku harus nurutin kamu?"
"Rio, plis."
"Kamu mau jauh dari aku?"
"Mau atau tidak, itu udah takdir Rio. Aku mau nemenin ayah disini."
"Ya sudah ayo, kamu nemenin ayah kamu dan aku nemenin kamu."
"Aku nggak mau."
"Kenapa Fy? Kenapa sesulit itu?"
"Aku nggak mau kamu ninggalin kuliah kamu Yo. Aku nggak mau cita-cita kamu hilang gitu aja demi aku."
"Cita-cita aku itu kamu. Kalaupun aku nggak bisa gapai cita-cita aku, seenggaknya aku bisa bekerja di perusahaan papa aku."
"Aku nggak mau Rio. Aku nggak mau Mama Manda dan om Haling terbebani dengan perginya kamu. Plis ikutin apa kata aku."
Rio diam. Ia menatap gadisnya. Ia masih terheran. Sekuat itu Ify menahan dirinya agar ia tak bersamanya. Semudah itu hatinya jauh dari Rio.
"Kamu nggak takut aku kepincut cewek lain?"
"Nggak. Kalaupun kamu kepincut sama cewek lain, itu hak kamu. Itu kuasa kamu"
Lagi lagi, Rio menghembuskan nafasnya berat. Entah dengan cara apalagi ia meyakinkan Ify.
"Aku kuliah disini."
"Enggak."
"Kenapa sih Fy? Aku cuma mau sama kamu." nada suara Rio terdengar meninggi.
__ADS_1
"Maaf Rio, tapi aku mau fokus rawat ayah."
"Aku gak bakal ganggu kamu."
"Maaf Rio, sebaiknya kamu balik aja ke Indo. Aku mohon."
Rio masih menatap gadisnya dengan heran dan nafas terengah-engah menahan emosi.
Masih tak percaya dengan pikiran seorang Ify Alyssa saat ini.
Ify menunduk, sembari menahan tangisnya agar tak keluar dihadapan Rio.
"Aku nggak bisa Fy ninggalin kamu disini sendiri. Aku mau nemenin kamu."
"Enggak Rio. Aku nggak mau kamu disini. Kamu harus selesain kuliah kamu. Kalau kuliah kamu udah selesai, kamu boleh susul aku."
"Fy, masalah kuliah itu gampang. Aku bisa kerjain dari sini."
"POKOKNYA AKU NGGAK MAU KAMU DISINI. KAMU HARUS BALIK KE INDO!" bentak ify dengan mata melotot seperti hampir keluar.
"OKE, FINE! KALAU ITU MAU KAMU, AKU PERGI!"
Rio kalap menahan emosi, ia akhirnya membentak ify juga dan meninggalkannya begitu saja.
Orang disekitar sana memandang ify yang menangis tanpa suara, dan menatap kepergian Rio dengan heran.
"Maafin aku Rio." lirihnya dalam tangis.
********
Rio berlari menuju loket dan memesan tiket di sana. Ia balik ke negaranya hari itu juga.
Ia sangat kecewa dengan ify, dengan gadisnya itu.
Ia mengusap wajahnya kasar dan mengacak-acak rambutnya dengan brutal.
Didalam pesawat pun, ia hanya melamun memandang awan-awan diatas sana. Ia lalu terlelap tidur.
Tak lama, ia terbangun dan ia sudah sampai di bandara Jakarta.
Ia kembali menghembuskan nafasnya pelan dan kasar. Benar-benar tak percaya bahwa ia harus menjalani LDR dengan kekasihnya.
Ia keluar dari pesawat tanpa barang apapun. Lalu menuju tempat menunggu seseorang.
Setelah itu, ia kembali melihat pesan terakhir ify.
10 menit yang lalu
Sudah sampai?
Rio tersenyum kecil. Ia masih kecewa dengan gadisnya.
Ia memasukkan ponselnya tanpa membalas pesan ify.
Tak lama kemudian Alvin datang bersama Sivia.
"Gimana Rio? Lo berhasil bujuk ify nggak?" tanya Sivia begitu ia sampai dihadapan Rio.
"Kalau gue berhasil, gue nggak balik kesini." jawab Rio sambil menoyor kepala calon saudara iparnya itu.
Sivia hanya cemberut saja mendengar penuturan Rio.
Mereka bertiga akhirnya pulang ke rumah Alvin dan Rio.
Sivia pun ikut dengan kekasihnya karena memang mereka sudah merencanakan pernikahan mereka.
"Rio, tadi Ify kasih info ke gue." ucap Sivia sembari menoleh pada kursi belakang.
"Info apaan?"
"Nanyain elo, udah sampai Jakarta apa belum."
Rio hanya diam mendengar penuturan Sivia.
"Emangnya, dia gak tanya lo?"
"Ada tadi. Tapi nggak gue bales."
"Kenapa?"
"Kecewa gue sama dia. Bisa-bisanya dia bersikukuh banget nyuruh gue balik kesini. Jauh-jauh gue samperin dia malah gue dibentak-bentak, diusir-usir."
__ADS_1
"Kasian juga." celetuk Alvin yang sedari tadi hanya diam.
"Padahal udah gue panas-panasin kalau gue kepincut cewek lain gimana, eh gak mempan."
"Dia jawab apa?"
"Katanya itu hak kamu, kuasa kamu, gitulah pokoknya"
Sivia tertawa melihat ekspresi Rio saat menirukan ify berbicara. Bibirnya monyong-monyong ke depan.
"Emang dia nggak balik kesini lagi ya? Apa om Umari bakalan menetap disana? Bukannya disana Om Umari cuma berobat buat kesembuhannya ya?"
"Gue gak tau. Tapi bisa jadi Om Umari menetap. Soalnya kerjaan dia dipindahkan kesana semua supaya mempermudah Om Umari saat berobat. Nggak bolak balik ke Jakarta."
Sivia dan Alvin manggut-manggut saja mendengar penuturan Rio.
Rio kembali mematung menatap luar jendela. Hujan lebat mengguyur Jakarta saat itu.
Perasaan rindu mulai merajai hati Rio. Hujan memang selalu menang dalam membuat Rindu tercipta.
Padahal baru saja ia bertemu Ify, namun tetap saja ia merindukan gadisnya itu.
Beberapa saat ia langsung tersadar akan keegoisan Ify. Ia kembali merasakan kecewa yang luar biasa ketimbang dengan rindunya saat ini.
Sivia dan Alvin hanya diam saja mendengar Rio yang berulang kali menghembuskan nafasnya kasar.
Rio bertekad untuk tidak mengganggu Ify sesuai permintaan gadisnya itu.
Biarkan saja ify mengetahui kabarnya dari orang lain seperti Alvin dan Sivia. Atau juga Shilla?
Ia benar-benar tak ingin menghubungi ify untuk saat ini.
********
"yang sudah harus berhenti jangan dipaksakan untuk berjalan."~
2 BULAN KEMUDIAN
Rio berjalan memasuki rumahnya dengan pelan. Ia baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya dirumah Shilla.
Sore sudah tiba. Ia melihat jam tangannya kembali, sudah pukul 17.45
Saatnya ia mandi dan bergegas makan. Ia sudah sangat lapar.
Tak lama, saat Rio sudah kembali ke meja makan, di sana sudah ada Alvin dan kedua orangtuanya.
"Makan Rio. ucap Manda.
"Iya ma."
Rio duduk di samping Alvin yang sedang mengunyah makanannya sedari tadi.
"Kalian kapan libur?" tanya Haling.
"Besok udah mulai libur ma. Kan kuliah juga udah selesai." ucap Alvin.
Memang benar, mereka sudah selesai menjadi anak kuliahan. Hanya menunggu wisuda saja.
"Rio, apa kamu jadi nyusul Ify?"
Rio memberhentikan aktivitas makannya. Haling dan Manda sudah tau tentang hubungan Rio dan Ify. Juga tentang Umari.
"Nggak tau pa. Rio belum kepikiran buat itu. Rio mau tenangin pikiran Rio dulu."
"Apa selama 2 bulan ini Ify nggak pernah hubungi kamu?" kali ini Manda yang bertanya.
"Pernah ma. Tapi Rio nggak pernah tanggapin. Rio masih kecewa sama Ify. Meskipun udah 2 bulan berlalu."
"Kamu yang sabar ya Rio. Mungkin Ify masih belum bisa fokus sama kamu. Dia terlalu takut kehilangan Umari. Wajar saja dia sejak kecil hanya dengan Umari."
"Mungkin juga Ify punya alasan lain buat dia sendiri." Haling menimpali.
"Tapikan harusnya dalam sebuah hubungan itu nggak ada yang boleh menyimpan satu rahasia pun kan pa ma? Harus saling terbuka kan?" ucap Rio berambisi.
"Iya benar, tapi coba kamu turuti saja apa kata Ify. Selesai kuliah, kamu pergi susul dia. Apa dia masih sama dengan yang pendiriannya dulu, atau gimana."
Rio diam. Nampak berfikir.
Alvin melahap nasi goreng terakhirnya. Lalu ia beranjak dan menepuk pundak Rio tanpa berkata-kata dan berlalu begitu saja. Membuat Rio terheran. Dikira Alvin akan memberikan wejangan kepadanya, karena biar bagaimanapun Alvin adalah saudara kandung Ify. Namun ternyata....nothing.
"Anak sialan." umpatnya.
__ADS_1
Bersambung....