Rahasia Orion

Rahasia Orion
Bab 6


__ADS_3

Dikantin sekolah inilah, delapan manusia tampan dan cantik itu bercengkrama. Rio sudah memberitahu sahabat-sahabatnya bahwa ia dan ify baru saja resmi menjadi sepasang kekasih, menyusul Agni Cakka, dan Shilla Gabriel. Membuat Rio dan Ify dimintai pajak jadian hari itu juga.


"Tinggal Alvin nih yang belum." ucap Cakka sambil melirik Sivia. Yang dilirik hanya mencebikkan mulutnya sembari menatap sinis.


"Belum apa nih?" pancing Gabriel, alisnya naik turun menggoda.


"Belum ehem lah." ucap Cakka lalu tertawa. Sementara Alvin dan Sivia hanya mengerucutkan bibirnya.


"Tenang tenang, gue gak mau gegabah. Takut ngerusak semuanya." ucap Alvin santai lalu merangkul Sivia disebelahnya. Sahabatnya hanya tertawa melihat itu. Shilla menatap Gabriel, ingin menanyakan mengapa lelaki itu tidak pernah menghubungi lagi jika sudah diluar sekolah. Namun ia urungkan niatnya itu karena tidak mau mengganggu kebersamaan mereka.


***


Bel pulang sudah berbunyi. Rutinitas semua siswa sudah berakhir. Ashilla mempercepat langkahnya menuju kelas Gabriel. Ia harus bertanya mengapa ia terabaikan oleh Gabriel beberapa minggu ini. Ia sudah tidak tahan dengan sikap Gabriel yang acuh kepadanya. Bukankah gadis itu masih kekasihnya?


"Gabriel!!"


Pria yang baru saja keluar dari kelas itu langsung menoleh dan sedikit tersenyum melihat kekasihnya berlari menghampirinya.


"Kenapa Shil?" tanya Gabriel begitu Ashilla berdiri didepannya.


"Kamu kenapa sih? Kok nggak pernah jawab telfon aku? Kamu sibuk? Atau aku ada salah ya sama kamu?" sebegitu takutnya Ashilla kehilangan seorang Gabriel.


"Enggak kok Shil, cuma akhir-akhir ini banyak kerjaan. Kamu tau sendiri kan aku waketos, banyak kegiatan." jelas Gabriel.


"Tapi Rio yang ketos aja ada waktu buat ify, kamu kan cuma wakil, kenapa sibuk terus?" sedih Shilla.


"Udah ya Shill, nanti aku jelasin lagi ke kamu. Aku buru-buru."


"Kamu sengaja hindarin aku?"


"Aku nggak hindarin kamu kok Shil. Aku cuma lagi sibuk aja"


"Kamu ada wanita lain?"


"Enggak ada. Udah ya, aku buru-buru. Nanti aku hubungi kamu lagi." ucap Gabriel lalu pergi meninggalkan Shilla yang menatapnya kesal.

__ADS_1


Brukk...


Baru saja Shilla membalikkan badannya hendak ke parkiran mobil, tubuhnya tersungkur karena ditabrak oleh seseorang.


"Aduh lo gimana sih?" ucap seseorang yang menabrak Shilla sembari memunguti bukunya yang berserakan.


"Lo yang gimana? Udah nabrak bukannya minta maaf malah ngegas." ucap Shilla kesal. Ia berdiri dan pergi saja tanpa membantu orang yang menabraknya.


********


Malam tiba. Cakka Agni dan Alvin Sivia mengadakan double date berkeliling taman dan mall untuk melepas penat. Baru saja tadi siang, Mini selaku wali kelasnya mengumumkan jadwal ujian yang membuat para pemuda pemudi itu pusing sendiri. Fikiran mereka pasti akan terpenuhi oleh tugas-tugas sekolah.


Dan disinilah mereka. Sebuah restaurant dan cafe dengan nuansa sejuk nan harmonis. Disudut-sudut ruangan terdapat jendela yang mengarah kearah luar ruangan. Dengan guyuran air buatan dari dalam jendela, membuat nuansa sejuk semakin mendominasi ruangan.


"Mau pesan apa kak?" tanya seorang pelayan yang menghampirinya.


"Saya minum aja mbak, ice blend coffe ya." ucap Alvin.


"Kalian apa?" lanjutnya menatap teman-temannya.


"Oke. Ice blend coffe nya 4 ya mbak."


Pelayan itu pergi setelah mengiyakan pesanan Alvin.


Tak lama minuman mereka pun datang. Keempat orang itu hanyut dalam cengkrama asik yang membuai mereka. Entah itu soal asmara, atau menggibahkan tetangga-tetangga mereka. Juga ada nama Rio dan ify terselip diobrolan ringan mereka.


Namun, mata Sivia menyipit menatap lekat seseorang diseberang mejanya. Baginya, semakin matanya menyipit maka semakin jelas penglihatan yang ada didepannya.


"Kayak kenal deh." ucapnya begitu pelan, hampir berbisik.


Alvin, Cakka, dan Agni mengikuti arah pandangan Sivia.


"Gabriel?" ucapnya serentak.


"Etapi itu kayaknya bukan Shilla deh yang dibawa Gabriel. Siapa ya?" ucap Agni. Matanya juga ikutan menyipit seperti Sivia.

__ADS_1


Sivia menghembuskan nafasnya kasar, menatap dengan tajam sekali lagi. Membenarkan apa yang ia lihat tidaklah salah.


Tanpa basa-basi lagi Sivia berdiri dan langsung menghampiri Gabriel. Ia tidak rela jika Shilla, sahabatnya yang baik hati itu diselingkuhi seperti ini.


Brakk..


"Siapa dia?" bentak Sivia. Matanya menoleh kerah Gabriel dan wanita yang duduk dihadapan Gabriel secara bergantian.


Gabriel dan perempuannya berjingkat kaget saat mejanya di gebrak begitu saja oleh Sivia.


"Sivia?!" ucap Gabriel kaget. Ia dan perempuannya berdiri dari duduknya. Sementara Cakka, Agni, dan Alvin hanya menonton dari meja mereka. Biarlah Sivia menyelesaikan semuanya. Bagi mereka, perempuan berambut panjang itu jika sudah marah melebih reog Ponorogo.


"Lo kok ada disini?" tanya Gabriel, raut wajah panik dapat dibaca oleh Sivia.


"Kenapa? Kaget ya? Kaget karena lo ketahuan selingkuh sama dia." ucap Sivia enteng sambil menunjuk gadis dihadapannya.


"Dia sepupu gue Vi."


"Gab, kita sahabatan itu dari kecil, orang tua kita kenal satu sama lain. Dan lo masih bilang kalo dia sepupu lo? Sepupu ketemu gede gitu maksud lo?" cecar Sivia.


"Lo tau nggak sih kalo Gabriel udah punya pacar?" tanya Sivia pada perempuan itu.


"Tau kok. Gue sama Gabriel cuma teman, nggak lebih."


"Teman? Teman tapi mesra? Jelas-jelas gue lihat lo berdua pegangan tangan. Tadi Gabriel bilang lo seoupunya, sekarang temannya. Mulut busuk lo semua! Lo Gab, gue nggak nyangka lo bisa sebrengsek ini."


"Denger ya, hidup lo berdua nggak akan tenang kalau sampai lo berdua ketauan ada hubungan dibelakang Shilla." ucap Sivia lalu meninggalkan meja Gabriel. Ia mengode Cakka, Agni, dan Alvin untuk keluar dari cafe itu.


Sementara Gabriel yang tau bahwa disana bukan hanya Sivia pun semakin terlihat panik. Ia meremas rambutnya sendiri, menggigit bibir bawahnya, lalu terakhir menatap perempuan dihadapannya.


"Gue salah ya?"


"Enggak lo. Yuk, pulang."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2