
Priska masih berdiri tegap di sana. Sedari tadi ia sudah memperhatikan dua pria yang memiliki hubungan darah itu. Hingga Harlem benar-benar pergi, Priska akhirnya memberanikan diri menghampiri Revan.
"Revan, sayaang." Kembali ia merapatkan tangannya pada lengan Revan, tapi pria itu langsung menepis kasar.
"Ck, lepas. Apa kamu tidak ada kerjaan lain selain mengganggu. Dengar ya, meski kamu menangis sekalipun, aku sudah tak mempercayaimu, entah apa lagi yang kamu rencanakan kali ini." Ia berjalan cepat menuju ruang kamar pribadi, tapi cepat Priska menyusul.
"Revan, aku tidak bercanda, aku serius."
"Sudahlah, sudah cukup kamu menginap di apartemenku sampai pagi, aku tak ingin menampungmu lebih lama. Kamu bisa minta supir pribadi menjemput, bukan?" Ia mengganti pakaian kaos itu dengan kemeja, lalu mulai merapikan dasi di depan cermin.
"Tak bisa, Revan. Aku terlanjur meliburkannya." Priska berbohong.
"Kalau begitu naik taksi saja."
"Apa? Kamu menyarankanku naik taksi. Gak mau!" Ia langsung menautkan kedua lengan di dada. Memalingkan wajah dengan mata tertutup.
Revan hanya bisa menarik napas berat, lalu menghembus kasar. Ia mulai berjalan keluar menuju sofa, sementara Prilly masih terlihat sendu di ruang dapur. Ia meliriknya lalu kembali bicara.
"Oke, aku akan mengantar, kamu tunggu saja di mobilku."
"Benarkah?" Wajahnya langsung berubah semringah. "Terimakasih, Suamiku sayang." Dengan gelagat manja, Priska ingin memeluk suaminya, tapi cepat Revan menghindar, hingga akhirnya pelukan mesra dari Priska gagal.
"Ck." Ia berdecak sekilas, pandangannya kembali tertuju pada gadis yang tengah termenung di ruang dapur tadi, tampak gadis itu tengah merapatkan kepala ke meja. Spontan Revan meminta Priska untuk ke mobil sekarang. "Sekarang. Aku minta kamu ke mobilku sekarang, atau aku tidak mengantar sama sekali."
"Tapi, Revan."
"Tidak ada kata tapi, mau kuantar atau tidak?"
"Iya, iya." Sedikit kesal Priska karena merasa seperti diusir saja. Tapi tak ada pilihan selain menurut.
Huh, tak apalah, yang penting aku masih punya kesempatan mengambil kembali hati Revan.
Meski malas, Priska terpaksa tetap keluar, menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Sesekali ia masih menoleh, berharap Revan berubah pikiran, lalu memanggilnya untuk turun bersama, tapi yang ia tangkap hanyalah bayangan Revan yang terlihat menatap dingin padanya. Seakan berkata, enyahlah segera dari hadapanku.
Duh, semoga saja gadis kampung itu tidak bertingkah melebihi batas. Priska merapal doa.
Sepanjang menuju parkiran, Priska gelisah membayangkan Revan yang kini hanya berduaan dengan Prilly. Seketika bayangan negatif menyambangi pikirannya. Mendadak muncul wajah Prilly dengan mengenakan piyama tipis, piyama yang ia kirim pada gadis itu. Bayangan Prilly menggoda dengan lipstik merah, memeluk Revan dari belakang langsung memenuhi isi kepala Priska.
Ahhh.
Seketika semua buyar, ia menjerit karena telah menciptaka bayangan palsu di kepala.
Apa yang sudah kupikirkan. Gak, Priska, gak boleh. Jangan pikir yang macam-macam.
Priska kembali melangkah menuju parkiran khusus VIP itu.
Sementara di apartemen. Revan menghampiri gadis yang setia dengan wajah sendu tadi. Gadis yang merasa dirinya menjadi benalu dalam rumahtangga tuan mudanya.
__ADS_1
"Prilly?" Pelan Revan memanggil.
"Eh?" Ia terkejut, lamunannya terhenti otomatis.
"Aku akan berangkat bekerja, juga mengantarkan Priska, apakah tidak apa jika aku meninggalkanmu sendiri di sini?"
Eh, apa maksudnya, kenapa tuan muda menanyakan hal begini, bukankah memang sebelumnya aku selalu ditinggal sendirian. Batin Prilly menggumam.
"Ah, tidak apa-apa, Tuan. Bukankah memang seharusnya aku di sini dan tidak ke mana-mana, bukankah begitu yang tertulis dalam kontrak?
Revan terdiam mendengarnya. Benar juga, aku kan membuat peraturan untuknya dalam kontrak itu.
"Benarkah tidak apa-apa?"
Prilly melebarkan senyumnya, membuat wajah manisnya semakin indah dipandang. Senyum itu tanda bahwa ia
akan baik-baik saja.
"Prilly ...."
"Ya?"
"Ah, anu ... soal tawaranku tadi."
Prilly mulai menatap lekat, menunggu kata-kata yang akan terucap dari mulut Revan.
"Aku serius dengan itu. Aku sendiri tak tahu apakah aku mencintaimu atau hanya karena rasa bersalah. Yang pasti aku sudah merenggut kehormatanmu, aku ingin bertanggungjawab atas itu, jadi Prilly ...."
"Izinkan aku menjadi suamimu, izinkan aku menikahimu, walau itu artinya kamu hanya akan menjadi istri simpanan, kamu mau kan, Prilly?" Ia menatap lekat gadis yang kini tercengang tak percaya.
Apa, kenapa akhirnya jadi begini?
Bola mata Prilly membulat sempurna. Cukup lama mereka beradu tatap. Tak ada percakapan selama beberapa detik, hingga Revan kembali menyentak.
"Prilly, tolong jawab aku."
Seketika gadis itu mengalihkan pandangan, ia menunduk, menatap mata kakinya sendiri.
"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa."
Deg.
Jawaban itu berhasil membuat Revan terhenyak. Bagai tertembak peluru snipper, seketika bayangan indah dalam pikiran Revan runtuh. Ia tak menyangka Prilly akan menolak.
"Tapi, kenapa. Aku ini orang kaya, Prilly. Kamu tidak hanya akan mendapat rumah kontrakkan kecil, aku akan memberi lebih banyak, sepuluh kali lipat lebih dari kontrak itu. Aku akan memberimu sebuah Mansion, perhiasan, mobil, pelayan, dan supir pribadi. Plis, kamu hanya perlu berada di sampingku."
Prilly masih setia menunduk. Betapa kacau hatinya saat itu. "Maaf, Tuan. Cukup sudah aku mengorbankan rahim dan kehormatanku, aku tak ingin menyerahkan diri ini sepenuhnya, aku masih mendambakan hidup bebas, meski itu artinya hanya akan memiliki satu buah rumah kontrakkan kecil." jawabnya. "Aku tak bisa membayangkan jika harus bersandiwara seumur hidup saat orangtuamu tak menginginkanku."
__ADS_1
Mendengarnya, Revan sedikit terkejut. "Maksudmu? Apa kamu mendengar ucapan ayahku tadi pagi."
Gadis itu mengangguk, membuat Revan menghela napas kasar.
Hufh.
"Prilly."
"Em?" Ia mendongak kecil.
"Kamu tahu, kamu masih boleh pertimbangkan hal ini, aku memberimu kesempatan. Aku anggap saja kamu belum menjawab apa-apa, jadi tolong pikirkan lagi." Ia mulai memutar tubuh untuk berlalu.
"Aku akan mengantar Priska, lalu ke kantor. Kamu tunggulah aku pulang, dan juga tolong jaga kesehatanmu." Ia mengucapnya dengan sedikit tergesa, berlalu tanpa menatap.
"Apa Tuan mencintai Nona Priska?"
Deg.
Pertanyaan itu berhasil menghentikan langkah Revan. Seketika ia menoleh. Kini pandangan mata mereka kembali beradu tatap. "Apa kamu berharap aku tidak mencintainya?"
Deg.
Eh, apa? Aku tidak bilang begitu, loh.
"Kalau dengan begitu kamu akan menerimaku, maka akan kupastikan, aku tidak akan mencintainya."
Tidak. Bukan itu yang kumaksud. Ahhh, kenapa mulut ini gak bisa bicara sih? Prilly terdiam. Bibirnya seakan terkunci rapat.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Oh iya, tolong jangan terima sembarang tamu, ya?"
Prilly mengangguk mengiyakan. Revan akhirnya benar-benar keluar.
Kenapa jadi begini, bukan ini kesepakatan di awal. Ahh ....
Prilly merapatkan kepala ke meja makan itu.
****
Bip.
Revan masih di dalam lift saat tiba-tiba ponselnya menge-bib sekilas. Ia melirik, satu buah pesan tampak menggantung di layar itu.
Ia menggeser lockscreen pada layarnya, terpampang nama Priska sebagai pengirim pesan. Lalu membuka.
Revan sayaang, kenapa lama sekali, aku sudah menunggumu.
Ia juga membubuhkan emot kiss di sana.
__ADS_1
Cih, wanita ini semakin aneh saja. Dia mau memanfaatkanku sebagai pelarian karena putus dengan kekasihnya. Baiklah, tak akan kubiarkan hal itu terjadi. Kamu tunggu saja satu tahun ke depan, Priska. Akan kupastikan kamu menghadiri sidang perceraian kita di pengadilan tertinggi.
Revan kembali menyelipkan ponsel ke dalam saku baju. Berjalan cepat memasuki lift.