Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 46


__ADS_3

Prilly, kau sedang apa?


Drrt!


Drrt!


Prilly meraih ponsel dengan malas, tapi begitu melihat si pengirim pesan, semangatnya bangkit bersamaan dengan punggung yang juga langsung ikut menegak. Duduk.


Aku sedang menonton televisi, Tuan. Senyumnya mengembang di sana.


Selang beberapa saat, titik tiga itu menggelombang.


Drrt!


Cepat Prilly membacanya.


Oh menonton, mau jalan denganku hari ini?


"Eh?" Prilly terbelalak tak percaya. Tuan serius? Bagaimana dengan meetingnya?


Sudah selesai. Balas Revan cepat.


Prilly tak kuasa untuk tidak riang, mendadak ia bangkit dari tempat duduk sebelumnya, menuju dinding transparan di sana untuk bersandar. Ia tak bisa berkata tidak untuk ajakan Revan kali ini, dengan senang gadis itu mengiyakan ajakan tadi.


Tentu saja aku mau. Balas Prilly


Oke, kalau begitu aku akan ke sana dalam 40 menit, kuharap kau sudah siap begitu aku tiba.


Kita akan ke mana, Tuan?


Kamu suka tempat apa?


Bagaimana kalau bermain Ice Skating di halaman depan Seoul Plaza?


Apa? Tidak. Tidak boleh, nanti kalau kamu terjatuh, bagaimana?


Ayolah, Tuan. Izinkan aku ke sana. Aku janji akan menonton saja.


TIDAK!


Kali ini Revan sampai menulis dengan capslook jebol.


Please, Tuan. Ini bawaan bayinya yang menginginkan.


Klik. Terkirim.


Usai memberi pesan itu, ada jeda beberapa saat hingga tiba-tiba Revan menelepon.


Kriing.


"Tuan menelepon, aduh aku harus bilang apa?"


Klik.

__ADS_1


Halo, Tuan.


Benarkah bayi kita yang menginginkan ke sana.


Ah, iya, kurasa, begitu. Prilly sedikit terbata saat menjawabnya.


Baiklah! Kalau begitu bersiaplah. Kita akan ke sana!


Benarkah?


Tentu saja!


Baiklah, Tuan. Aku akan bersiap sekarang.


Oke, 30 menit lagi aku sampai. Jangan lupa kenakan sweater tebal, topi, dan sarung tangan, oke!


Siap, Kapten.


Tawa decih Revan mengakhiri panggilan yang tersambung di antara mereka.


Tak lagi bersantai, Prilly yang sebelumnya bermalas-malasan kini tampak sibuk, mengganti pakaian yang ia kenakan dengan setelan khas ala musim dingin. Ia sudah tak sabar ingin menikmati kucuran hujan salju, hal yang dulu biasa ia lakukan saat masih berstatus lajang. Dulu ia sering menengadahkan kepala ke udara, merasakan puluhan pertikel es kecil berjatuhan di wajah, ia sudah sangat merindukan hal itu. Kini, sembari menikmati pemandangan para insan yang bermain ice skating.


Entah mungkin karena bawaan mengidam, pergi ke Plaza yang seharusnya menggunakan sepatu sport, Prilly malah menggunakan heels. Sungguh bukanlah sikap alami Prilly menggunakan sandal setinggi sepuluh senti itu, ini real karena ia mengidam.


Usai bersiap, Prilly langsung bergegas menunggu Revan di depan halte. Tak banyak barang yang ia bawa, hanya menggunakan jaket cardigan dan tas selempang berukuran sedang, Prilly duduk di kursi halte.


Udara sangat dingin, bahkan napas Prilly terlihat beruap, ia mengedarkan pandangan, masih belum tampak sang pangeran yang tengah dinanti.


"Loh, kapan Tuan sampai, aku tidak melihat Tuan datang."


"Baru saja, kamu memang tidak bisa melihat, karena tadi aku berada di antara kerumunan para penyeberang. Mari!"


Revan melingkarkan lengannya pada bahu gadis itu, merangkulnya untuk menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. Sementara itu, ia belum menyadari kalau Prilly mengenakan heels.


Seketika udara dingin saat itu mendadak terasa hangat. Lamat Prilly menatap pria di samping yang merangkulnya. Sedang bola mata Revan fokus pada lampu Zebra Cross, menunggunya sampai berwarna hijau. Puluhan pejalan kaki lainnya sudah memadati area itu, mereka juga tampak menunggu lampu itu berubah warna.


Ting.


Rambu yang tadi merah itu sudah berubah hijau. Segera Revan melangkah, bersamaan dengan Prilly yang sentiasa berada dalam lindungannya itu.


Prilly, aku berjanji akan selalu melindungimu. batin Revan mengikat janji.


Kawasan yang dipadati oleh pejalan kaki itu terlihat seperti slow motion di mata Revan. Kini berganti Revan yang mulai memandang lama ke arah gadis yang mulai fokus ke depan. Lagu romansa romantis seperti terputar otomatis dalam benak Revan, hingga tanpa disadari, ternyata mereka sudah sampai di ujung penyeberangan.


"Di mana Tuan memarkirkan mobilnya?" tanya Prilly saat Revan tiba-tiba diam menatap ke arah mata kaki gadis itu. Sesaat ia kembali beradu tatap pada bola mata Prilly.


"Kenapa kamu mengenakan sandal tinggi begitu, bagaimana jika kamu terjatuh? Jangan katakan jika ini alasan dari bawaan hamil lagi?"


Prilly tertunduk. "Itu benar, aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengenakan sandal ini. Ini memang bawaan, maafkan aku."


"Astaga, aku tak percaya ini." Revan berdecak, membuang pandangan sekilas.


"Maafkan aku membuatmu marah, Tuan."

__ADS_1


"Sudahlah." Revan berjongkok, melepas sepasang sepatu yang ia kenakan. Lalu mendekat ke arah Prilly. Hal yang mengejutkan, karena ia juga melepas heels di kedua kaki Prilly. Gadis itu diam menuruti saja. Saat satu heels sudah terlepas dari kaki Prilly, Revan langsung memasangkan sepatu miliknya pada kaki istrinya itu.


"Tuan?"


"Sudah, pakai saja." Revan bicara tanpa mendongak untuk menatap mata Prilly. Hal yang membuat gadis itu tersentuh, sampai menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Selesai!" Revan kembali menegakkan punggungnya. Menautkan jemari di atas jemari Prilly, menggandengnya menuju mobil.


Sementara heels tergenggam di tangan sebelahnya. Ia membuatnya ke dalam tempat sampah saat melewati. Pemandangan romantis itu membuat puluhan mata yang melintas tersentuh haru.


Sementara itu, di cafe The Lounge ....


Airen yang teramat menginginkan pertemuan pertamanya dengan Revan itu sudah menunggu lebih awal di sana. Ia memilih meja dekat dengan dinding berlapis kaca bening. Berkali-kali menatap jalan yang ramai itu, berharap menemukan sosok pria idamannya memasuki area parkir cafe The Lounge.


Tapi sudah setengah jam lebih waktu yang telah dijanjikan, Airen masih tak kunjung menemukan Revan di sana.


Ia mulai gerah akan penantiannya, dan memilih untuk bangkit, sedikit kesal tapi masih mencoba menyapu pandangan ke setiap sudut ruang dalam cafe itu, berharap menemukan sang pria idola yang ia yakini sudah berjanji akan bertemu. Namun, bukannya mendapatkan pencapaian atas penantian, Airen justru dikejutkan oleh seorang wanita yang duduk berseberangan denganya, mata mereka saling beradu tatap. Seketika masing-masing dari keduanya membuang pandang.


"Apa yang kau lakukan di sini, jangan-jangan kau mulai beralih profesi menjadi penguntit." Airen menyindir keras. Bicara dengan nada sinis sudah menjadi hal biasa baginya.


"Eh, jangan asal bicara, ya! Aku di sini sedang menunggu seseorang, kau tahu?"


"Oh, ya! Kebetulan sekali ya!"


"Cih!" Priska berdecih, sekali lagi ia membuang pandang. 'Kuharap si kampung itu segera datang. Jangan sampai perjuangan beratku ke cafe ini berakhir sia-sia! Batin Priska berharap Prilly segera datang.


"Aku yakin, kau akan terkejut saat mengetahui siapa tamu yang kutunggu ini!" Airen mencoba memanasi Priska.


"Oh ya? Benarkah, aku tak percaya." Priska menaikkan seutas senyum sinis saat menjawab. Meski dalam hati ada sedikit rasa penasaran yang mengganggu.


"Kau lihat saja nanti!" Airen benar-benar yakin, kali ini dia akan membuat kejutan besar pada Priska. Ia ingin menunjukkan bahwa ia mampu mendapatkan apa saja yang dia inginkan, termasuk merebut Revan dari Priska.


10 menit lebih lama menunggu, Airen sudah semakin gelisah.


Kenapa Revan belum datang juga? Ia menggumam dalam hati. 'Apa sebaiknya aku menelepon saja?


Menyerah, aktris molek itu memilih mencoba menghubunginya. Ia mulai mencari nama yang tertulis pangeran dalam ponselnya, dan langsung menekan ikon hijau.


Klik.


Tuut


Panggilan itu berhasil masuk. Ia belum sempat ia meletakkan ponsel pada daun telinga, dan disaat waktu yang bersamaan, ponsel Priska berdering.


Airen terkejut, belum sempat Priska mengangkat panggilan dalam teleponnya, Airen langsung menekan tombol merah. seketika itu juga nada dering dalam ponsel Priska berhenti bersuara.


Seketika Airen membuang pandangan. Wajahnya berubah pias.


Sialan, ternyata pelayan itu menipuku. Nomor ini bukan milik Revan, melainkan milik Priska. Keterlaluan, aku akan membuat perhitungan padanya nanti.


Mendadak Airen pergi, sebelumnya ia langsung mem-blacklist nomor Priska agar gadis itu tak dapat menghubunginya lagi. Sementara Priska sendiri dibuat bingung oleh Prilly yang mendadak mematikan teleponnya. Berkali-kali ia menelepon balik, tapi sudah gagal tersambung.


Sialan, beraninya Prilly membohongiku!

__ADS_1


__ADS_2