Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 52


__ADS_3

"Maafkan Mamah, maafkan Mamah." Yoona sampai mengucap 2 kali kata maaf. Rasa bersalah pada putrinya membuat tiang pondasi yang ia bangun tak lagi kokoh. Harapannya mulai runtuh, hilang sudah bayangan kelangsungan masa depan.


Priska terduduk, wajah pucat bagai bertemu malaikat maut tergambar di sana. Ia tak kuasa menahan getaran pada bibirnya.


Prilly, kenapa harus dia, di antara sejuta manusia di dunia ini, kenapa harus wanita itu, wanita yang bukan hanya sekadar merebut suamiku, dia juga calon perenggut kebahagiaan masa depanku.


Priska termangu. Matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip, sesenggukan ibunya seraya menutup wajah seakan tak terdengar lagi olehnya.


Ini benar-benar di luar nalar. Aku tak percaya akan yang kualami, semua terlihat bagai sebuah novel. Ini tak masuk akal. Aku berharap terbangun di pagi hari, dan semua kembali normal, kembali ke hari di mana aku tak pernah berjumpa gadis kampung itu.


Tak ada suara di malam hari itu, selain tangisan Yoona dan hembusan angin yang menuip tirai hingga melambai di antara jendela. Jendela yang menjadi satu-satunya akses untuk melarikan diri, tapi kini sudah tertutup oleh tralis yang baru di pasang siang tadi.


Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Yoona sesenggukan, tapi tidak dengan Priska, sebaliknya tak ada air mata yang mengalir pada kedua pipinya. Seakan mengering seiring dengan gencatnya beban masalah yang mereka hadapi belakangan ini.


.


.


Sharta dan beberapa ajudannya telah sampai pada lokasi yang ia yakini sebagai tempat tinggal putrinya Prilly. Mereka memarkir kendaraan yang berjarak 50 meter dari lokasi pantauan.


"Kau yakin, ini tempatnya?" Sharta bertanya, ia tongolkan kepala sedikit keluar kaca mobil, antara percaya dan tidak, sedang dadanya sudah berdebar hebat, membayangkan wajah putri yang sudah pasti susah untuk dikenali, mengingat kepergian Prilly sudah berlangsung 15 tahun lamanya.


"Ya, Tuan. Ini lokasinya. Apa Tuan ingin kita ke sana sekarang?"


Sharta terdiam, ada suatu memory ingatan yang terlintas di kepala, tapi susah mengingat detilnya.


Melihat wajah Sharta yang memancarkan raut tak biasa, membuat ajudan itu bertanya. "Ada apa, Tuan?"


"Entah. Aku merasa seperti tidak asing dengan apartemen ini."


"Tentu saja Tuan tidak asing. Bukankah ini juga apartemen yang dihuni oleh menantu Tuan?"


"Benarkah? Baguslah. Kalau begitu apa kau mengetahui nomor apartemen Revan?"


"Tidak, Tuan. Saya hanya mengetahui kalau Tuan Muda Revan tinggal di apartemen ini."


"Baiklah, aku akan mencoba menghubunginya saja. Sementara itu, lakukan penjemputan putriku sekarang juga."


"Baik, Tuan. Apa anda ingin ikut?"


"Ah, tidak. Aku akan menunggumu di sini saja."


"Baiklah. Kalau begitu, kami akan segera ke sana."


"Em!" Sharta mengangguk. Yang artinya dia setuju akan permintaan ajudannya tadi. Sementara mereka mulai bergerak menuju kediaman Prilly, Sharta memilih mencoba menghubungi Revan.


Tangannya mulai sibuk, mencari nomor Revan dalam kontak ponsel, dan langsung menekan ikon hijau untuk menghubungi.


Panggilan itu masuk, tapi tak langsung di angkat, hingga beberapa saat terdengar nada di seberang yang mengangkatnya.


Klik.


[Halo, Tuan. Ada apa menghubungiku? Maaf aku sedang diperjalanan.]


"Ah, tidak. Kebetulan, ada sesuatu yang aku melakukan di seputaran apartemen elit, tempat di mana kau juga tinggal."


[Oh, benarkah, Tuan. Kalau begitu, di mana posisi anda saat ini?]


"Aku sedang menunggu para tangan kananku bekerja di jarak 50 meter dari apartemen."


[Begitukah, kebetulan aku sedang diperjalanan menuju apartemen. Mungkin sekitar 15 menit lagi aku akan sampai.]


"Baiklah, kalau begitu, aku akan menunggu."

__ADS_1


Klik.


Panggilan itu berakhir, seiring dengan penantian Sharta yang mulai menunggu Revan di bawah lampu jalan, di dalam mobil.


15 menit berlalu, mobil sport dengan bak tertutup tampak mendekat, lalu berhenti tepat bersebelahan dengan mobil yang di dalamnya di huni Tuan pemilik perusahaan Sharta Group itu.


Pelan ia membuka kaca pada bagian samping untuk menyapa, begitu juga dengan Sharta, ia melakukan hal yang sama. Sesaat Revan keluar. Daun pintu mobil itu terdengar berdegub saat ia menutup cepat. Diiringi Sharta yang juga mulai keluar dari kendaraan hangatnya.


Dingin mulai menyerang kulit mereka, rasanya cukup menggigit.


"Selamat malam, Tuan."


"Malam, Revan."


Perbincangan hangat baru saja dimulai.


"Apa yang membawa Tuan kemari?"


"Tidak, hanya bisnis kecil." Sharta berdusta. Perihal penjemputan putrinya ini bukanlah rahasia umum, sehingga ia tak ingin ada pihak-pihak yang mengetahui.


"Emm, begitu."


"Kau sendiri, di mana istrimu?"


"Ah, Prilly, ya?"


Deg.


Mendengar itu, seketika jantung Sharta berdegub. Ia teringat percakapan yang terjadi di antara mereka sepekan lalu. Saat itu Revan mengatakan bahwa istri simpanannya bernama Prilly. Entah kenapa, suatu kebetulan yang hampir tak masuk di nalar. Ia sedang menjemput putrinya Prilly, yang berstatus pelayan di satu gedung apartemen yang sama dengan menantunya. Membuat Sharta bergidik, ia menatap sinis pada Revan.


"Ada apa?" tanya Revan bingung.


"Tidak ada. Di mana istrimu?" Nada bicara Sharta saat bicara kini mulai terdengar dingin, sedingin musim salju malam itu.


"Dia ada di rumah baru kami."


"Maaf, tolong jangan menyinggungnya dengan mengatakan istri simpanan. Bagiku, Prilly nomor satu. Meski sekarang aku belum bisa mengenalkannya pada publik."


"Hmm baiklah. Maaf jika aku menyinggungmu, jika begitu, artinya kau sudah tidak tinggal di apartemen ini, lalu untuk apa kau kemari?"


"Kami baru pindah malam ini, jadi masih ada beberapa dokumen kerja yang ingin kubawa."


"Hmm, begitu ya."


"Ya, begitulah."


Perbincangan mereka belum usai saat tiba-tiba hadir seorang ajudan yang tadi pergi untuk menjemput putri Sharta di apartemen lantai 10. Ia tampak tergopoh, berlari cepat untuk mengahampiri Sharta, membuat sepasang menantu dan mertua itu menatap heran padanya.


"Tu-Tuan." Ia masih tersengal. Sedikit menunduk, menautkan punggung tangan di atas persendian kaki.


"Ada apa, kenapa kau terlihat buru-buru begitu?" Sharta terperanjat olehnya.


"Putri anda ...." Ia masih berusaha mengatur napas."


Revan langsung mengernyit. Seketika wajah Priska timbul dalam bayangannya. Tak terpikir sedikitpun dalam benaknya bahwa putri yang Sharta maksud adalah Prilly. Revan akhirnya ikut menyimak.


"Ya, kenapa dengannya, katakan cepat!"


"Dia .. baru saja pindah."


Deg.


Sharta terdiam. Pun dengan Revan yang mulai berpikir keras.

__ADS_1


Pindah? Putri Tuan Sharta? Dari apartemen ini, apa maksudnya? Begitulah pikir Revan.


Sementara Sharta, berbagai spekulasi bermunculan di kepalanya. Bagaimana tidak, baru saja menantunya berkata bahwa dia dan istri simpanannya yang juga bernama Prilly pindah dari apartemen malam ini.


"Kau tahu ke mana pindahnya orang itu. Dan siapa yang memberitahumu kalau dia pindah?"


"Itu .. tadi saya mencoba menekan bell berkali-kali, tapi tak ada sahutan, hingga tanpa sengaja saya bertemu petugas yang berjaga, dia mengatakan pemilik apartemen itu pindah.


Deg.


Revan mulai merasa bahwa arah pembicaraan ini seperti merujuk padanya.


"Kemari!" Sharta meminta ajudan itu untuk berbisik di dekatnya. Membuat Revan yang berdiri di belakang sana semakin penasaran.


Hujan salju masih stabil, tapi hawa dingin sudah mulai membuat bibir mereka sampai kebiruan.


"Ya, Tuan." Ajudan tadi mendekat, bicara dengan sedikit menunduk, tepat berhadapan satu jengkal di bawah kepala Sharta.


"Apa kau sudah menyelidiki siapa nama pemilik apartemen itu?"


"Ya, Tuan. Saya sudah menanyakan di bagian resepsionis lantai dasar. Dia bernama Revano Aldrian," tukasnya. "Ahhh!" Ajudan itu tersentak kaget, ia baru menyadari bahwa pria bernama Revan itu adalah putra tunggal Arkandi Group, menantu dari keluarga Sharta Group. Yang lebih mengejutkannya lagi, pria bernama Revan itu tengah berdiri di belakang Presdir Sharta.


Bagai terhantam godam, Sharta merasa terpukul kuat. Bagaimana tidak, memory rekaman sepekan lalu mengenai percakapannya dengan Revan langsung terputar otomatis dalam pikirannya. Ucapan Revan yang mengatakan bahwa istri simpanan itu tengah hamil langsung mengiang.


Itu artinya, Revan telah membuat putriku Prilly mengandung anaknya. Matanya masih setia membelalak di sana.


Pelan Sharta memutar kepalanya, tatapannya tajam menghunjam ke wajah Revan, membuat Revan bergidik. Dari sorot mata Revan tersirat sebuah tertanyaan, apa dan kenapa?


Sharta mendekat dengan gerakan cepat, menghamburkankan sebuah pukulan ke wajah Revan, membuat Revan nyaris terjatuh. "Hei! Apa yang terjadi?" Revan terkejut mendapat serangan dadakan.


Bukannya menanggapi pertanyaan itu, Sharta justru kembali melayangkan amukan ke wajah Revan. "Brengs*k!" Ia mengepalkan tangannya, meluncurkan tepat keq wajah Revan. Tapi cepat Revan menangkisnya.


"Tuan, kendalikan dirimu!" Revan masih berusaha menstabilkan emosi Sharta, sambil menahan pukulan kuat dengan tangannya. Tak memungkiri ia juga tengah berusaha mempertahankan diri dari serangan pria besar dengan usia yang sudah setengah abad itu.


Duel sengit terjadi di sana. Pertarungan terus berlanjut, sementara obrolan mereka juga tiada terputus.


"Tuan, kendalikan dirimu, apa yang terjadi pada anda?"


"Katakan! Sudah berapa lama kau mengincarnya?"


Kekuatan dari keduanya seimbang.


"Aku tak mengerti maksudmu!" ucap Revan masih berusaha menahan serangan Sharta.


"Kau memang pandai berdalih rupanya," selah Sharta.


"Aggghhh!" Revan berusaha mendorong, hingga ia berhasil berdiri kokoh lagi, dengan posisi yang masih siaga untuk bertarung. "Aku tak mengerti maksudmu!"


Sharta yang tadi terjatuh kini bangkit, ia tampak membersihkan tubuhnya dari salju yang menempel.


"Kau pasti sengaja mengikatnya dengan pernikahan kan, karena kau tahu dia putriku?"


"Apa maksud anda, apa anda mengatakan Prilly istriku adalah putri anda, cih!" Revan sampai berdecih. Sedang Sharta semakin menatapnya geram.


"Tak kusangka, kau benar-benar licik, Revan. Kau pasti punya tujuan saat memperistrinya. Kau tahu dia putriku, kau mainkan perasaannya agar bisa menjebaknya untuk masuk dalam pelukanmu, lalu kelak kau dan ayahmu bersuka-ria menghancurkanku karena kini putri kesayanganku di tanganmu."


Mata Revan sampai terbelalak, ia terkejut mendengar penyataan itu.


"Sepertinya kau salah orang, Prilly bukan putrimu, dia memiliki seorang ayah yang sekarang sedang menderita stroke."


"Kau tidak tahu apa-apa mengenai masalaluku, kau tidak berhak mengatakan hal di luar batasmu."


"Harusnya aku yang mencurigai anda, Tuan. Apa maksud anda mengakui bahwa Prilly putri anda, bukankah anda mengatakan putri anda sudah mati, apa mungkin anda punya tujuan lain?"

__ADS_1


Mendengar itu, seketika emosi Sharta membuncah, cepat ia meraih kerah pada kemeja Revan. "Kau ...." Sharta melotot padaya. "Apa kau sedang memancing amarahku, apa kau ingin masuk ke dalam daftar hitam musuh-musuhku?" Ia melepas sambil sedikit mendorong tubuh Revan, tapi Revan tak goyah. Pria itu masih terlihat kokoh berdiri di sana. Memperbaiki posisi kerah baju yang sempat kumal akibat serangan Sharta.


Next menunggu yaa. Mau lanjut nulis, tapi masih sibuk momong. 🙏


__ADS_2