
Perjalanan malam itu terasa panjang oleh Sharta yang termangu dalam mobil mewahnya. Jari telunjuk bersama jari ibu terpaut di bawah dagu. Memandang jauh keluar jalan.
Mobil melaju pelan saat melintas di atas jembatan pemisah jarak antar pulau X dan Y. Kota Seoul terlihat memesona jika dilihat dari atas sana. Lampu yang bertabur warna-warni dengan beberapa gedung menjulang membuat suasana malam semakin menghanyutkan pikiran Sharta.
"Tuan?" Supir itu menyentaknya.
"Hm." Sharta hanya membalas dengan deheman.
"Ke mana arah tujuan kita?"
Ya, sejak pertemuannya dengan Revan tadi, Sharta enggan untuk kembali ke kediaman. Ia ingin menenangkan pikiran sejenak. Namun masih belum memiliki tujuan pasti.
Cukup lama keheningan berlangsung.
"Antar aku ke kota Chungju." Mendadak Sharta ingin pergi ke kota itu. Kota di mana selama 2 tahun terakhir Prilly menghabiskan hidupnya bersama Jung Ah di sana.
"Tapi, perjalanan ke sana cukup jauh. Apa Tuan yakin? Karena kemungkinan kita akan memakan waktu 2 jam lamanya untuk sampai."
"Ya, tidak apa. Juga sekalian cari resort di sana untuk penginapan malam ini."
"Baik, Tuan."
Sharta kembali hanyut dalam lamunannya, mobil mulai bergeser menjauh dari jembatan, sisa-sisa pemandangan eksotik mulai memudar, seiring dengan melajunya kendaraan yang mereka tumpangi.
Malam itu, Sharta memilih untuk pergi ke kota Chungju hanya untuk melihat kediaman yang sebelumnya di huni oleh putrinya itu. Ia berniat untuk datang ke sana esok pagi.
Sementara itu di Hotel Dongdaemun, Joshua menghempaskan tubuh molek gadis mabuk itu ke atas ranjang, membuat gadis itu menggeliat.
"Revan, cepatlah lakukan, aku tak sabar untuk bercinta denganmu." Nadanya mendesah, wajahnya sudah terlihat tak kuat menahan diri setelah Joshua berhasil membujuknya untuk meminum obat perangsang itu.
Ia semakin menggeliat, memegangi kegadisannya yang mulai terasa panas. Priska bahkan tak henti-henti berteriak panas dan panas, sementara Joshua semakin tak sabar ingin menikmati malam keberuntungannya itu, cepat ia menanggalkan kemeja hingga menampakkan tubuh atletisnya.
Priska semakin meraung, rasa panas dari efek obat perangsang membuatnya gerah, ia sampai membuka sendiri pakaian di tubuhnya. Cukup tergesa ia melakukannya, dan kini semua sudah terlepas, menampilkan tubuh mulus dan molek membuat gairah Joshua semakin bangkit.
Usai melucuti diri sendiri, Priska kembali menggeliat di kasur, tangannya terus memegang kewanitaan yang semakin memanas itu, membuat Joshua menyeringai nakal.
Dengan gerakan lembut, Joshua merekatkan tubuhnya pada tubuh Priska, tapi Priska yang terlanjur bergairah akibat efek obat tak lagi dapat menahan diri. Dengan gesit ia bangkit, membuat Joshua terduduk di sana. Ia langsung berpangku di atas Joshua dengan posisi saling berhadapan, tangan Priska mulai menelusuri tubuh Joshua, sedang mulutnya sudah melum*t bibir pria yang ikut membalas kecupannya itu.
Desahan demi desahan pun tak terelakkan dari bibir Priska, Joshua sudah benar-benar menikmati itu.
Sementara itu di kediaman Rumah Baru Revan.
.
.
"P-Prilly, bisakah kamu melepas pelukanmu?"
"Ah, iya, maaf, Tuan." Prilly melepas pelukan eratnya. "Maaf aku memelukmu karena terlalu bahagia."
"Ya, tidak apa."
Keduanya diam sesaat.
__ADS_1
"Tuan, kenapa di lantai satu ini hanya ada satu kamar. Jika ini kamar untukku, lalu Tuan akan tidur di mana?"
"Hah?" Revan kaget mendengar itu. "Aku kan suamimu, sampai kapan kita harus tidur terpisah." Revan bicara sambil merebahkan tubuhnya di sana.
"Ta-tapi, Tuan."
"Sudahlah, aku tidak akan melakukan hal itu lagi padamu."
Prilly terdiam.
"Aku tak ingin melakukannya karena kau tengah hamil muda. Tapi itu tidak berlaku saat kehamilanmu sudah menginjak usia 7 bulan ke atas. Saat itu aku akan mengambil jatahku." Revan melipat kedua lengannya di bawah kepala, menjadikannya alas bantal, sementara pandangannya fokus ke depan, hanya sekali melirik Prilly dengan senyum jahilnya.
Raut tegang bercampur malu langsung tergambar di wajah Prilly.
"Sini!" Tangan Revan beralih dari sana, ia menepuknya, mengajak Prilly untuk berbaring di atas lengannya.
Prilly terlihat berat menelan saliva. Isi kepala ingin berontak untuk menolak, tapi hatinya mendorong untuk manut. Ia kalah dengan hatinya, sikap manut pada si tuan muda menaklukkan dan berhasil menjadi The Winner malam itu.
Pelan Prilly mendaratkan kepalanya di sana, begitu ia berbaring, Revan langsung merapatkan pelukannya. Hawa dingin dari tubuh Revan masih menempel lekat, tapi Pria itu sudah terlihat memejamkan mata, sejuta beban di kepala menggiringnya untuk segera membenamkan diri dalam dunia mimpi.
"Prilly," panggilnya.
"Emm?"
"Peluk aku, aku kedinginan."
"Eh?" Prilly kaget, menoleh padanya, hanya wajah dingin dengan mata terpejam yang ia lihat. Prilly sadar, malam itu Revan benar-benar lelah. Cukup lama Prilly memeluknya, hingga perlahan tubuh itu mulai terasa hangat, ritme napasnya pun mulai teratur. Kali ini Revan sudah benar-benar hanyut dalam dunia mimpi.
Prilly mengesampingkan posisi tidurnya, satu tangan menopang kepala. Matanya menelusuri wajah tampan dengan batang hidung yang berdiri tegak nenantang. Bibir kemerahan dengan kulit putih mulus terlukis di sana.
Sejak percakapan itu, Prilly sadar ada hal yang janggal yang disembunyikan oleh Revan.
"Aku percaya pada apapun keputusanmu, Tuan. Aku yakin apapun yang kau lakukan pastilah yang terbaik."
Prilly mengecup lembut bibir Revan yang masih terbaring pulas. Lalu kembali merenggangkan jaraknya. "Selamat malam, Tuanku," bisiknya pada pria yang sudah tak mungkin mendengarnya lagi itu.
Sementara di kediaman Sharta ....
Yoona yang mulai kacau dengan semua masalah yang ia hadapi semakin gerah saja saat tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal mengusik kegundahannya. Ia lalu mengangkat.
Klik.
"Halo?" sapa Yoona mengawali.
[Syukurlah, ternyata ini benar nomormu]
"Siapa kau?" Yoona panik. Pasalnya suara yang ada di dalam telepon terdengar asing.
[Apa kau melupakanku? Aku mantan kekasih gelapmu, Jung Ah?]
Deg.
Bagaimana bisa dia menemukan nomorku?
__ADS_1
"Mengapa kau menghubungiku, apa maumu?"
[Masih hal yang sama, aku hanya ingin menanyakan perihal anak kita]
"Brengs*k! Sudah kukatakan, tidak ada yang namanya anak kita. Gadis itu buah dariku bersama suamiku Sharta."
[Sharta?]
Jung Ah terkejut mendengar nama itu. Nama yang tidaklah asing, seketika ia ingat pesan terakhir istrinya yang tulis pada secarik kertas. Di sana ada sampai 2 kali ia menyebutkan nama Sharta.
Apa mungkin .. Sharta yang dia maksud adalah pengusaha kaya raya itu, itu artinya Yoona istri dari seorang Presdir. Sepertinya ada sebuah teka-teki harus kupecahkan. Apa mungkin kematian istriku juga ada hubungannya dengan Presdir itu?
[Jadi .. anak kita perempuan, ya?]
Yoona terbelalak. Ia tersadar baru saja kelepasan bicara. 'Kacau! Aku baru saja salah bicara.
"Diamlah. Sudah kukatakan dia bukan anakmu."
[Jika kamu terus saja menyembunyikan kebenaran ini dariku, maka aku akan terus menerormu]
"Heh, jangan bermimpi kamu sanggup menyaingi kekuasaanku. Aku bisa saja mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisimu jika aku mau, kau tahu?"
[Kirimlah! Aku tak gentar oleh ancamanmu]
Sial. Dia sama sekali tidak takut pada ancamanku. Ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut.
"Baiklah. Apa maumu?"
[Tidak ada, aku hanya ingin bertemu dengan putriku itu, melihat keadaannya, meski hanya sekali]
"Jika aku mengabulkannya, apa kau berjanji tidak akan menggangguku lagi?"
[Baiklah. Aku berjanji]
"Oke, aku akan memegang janjimu, dan jika kau mengingkarinya, jangan salahkan aku yang akan mempercepat pertemuanmu dengan istrimu Ahyoungra."
[Baiklah, setuju. Jadi kapan kau akan mempertemukanku pada putriku]
"Secepatnya?"
[Aku mau yang pasti. Kapan?]
"Besok, di kediamanmu!"
[Baiklah, besok aku akan menunggumu, jangan lupa untuk mengajaknya]
Tut
Tut
Tut
Panggilan itu berakhir.
__ADS_1
Sungguh diluar dugaan, ternyata Yoona sudah mengetahui keberadaanku. Ini tak mungkin hal yang kebetulan, pasti karena ada rahasia mendalam di balik semua ini. Terlebih, Yoona juga mengancam akan membunuhku, semakin mengeratkan kecurigaanku padanya, sepertinya kematian Ahyoungra benar ada hubungannya dengan Yoona. Aku akan mengusut tuntas kasus kematian Ahyoungra. Meski aku hanyalah pria miskin, aku akan mencari cara apapun agar bisa mengungkap kebenarannya.