Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 35


__ADS_3

Revan kembali melaju di atas lajur dengan kecepatan melebihi rata-rata. Sesekali ia membanting setir saat melewati tikungan tajam, padahal bisa saja ban mobil itu tergelincir lalu berakhir dengan jatuh ke jurang, tapi semua itu Revan abaikan. Mendapatkan kembali Prilly adalah hal yang paling penting saat ini.


Maafkan aku Prilly. Aku terlambat. Semua ini tak akan terjadi andai aku tidak terlambat. Ia mengutuk, menyalahkan diri sendiri.


Sementara itu di apartemen Revan. Priska tak ubahnya gadis gila yang tak henti meraung. Airmata bahkan hampir mengering, tetap saja tak mengubah keadaan. Puluhan kali ia menelepon suami sandiwara itu, sayangnya tetap tak ada jawaban.


Menyerah, semua cara sudah ia coba, tetap saja ia diabaikan, harga diri bahkan rela ia lenyapkan hanya untuk mendapatkan cinta Revan, tapi nyatanya Revan tetap menutup rapat pintu hati padanya.


Baiklah, jika kamu tetap mengabaikanku, maka satu-satunya cara agar bisa terbebas dari penderitaan ini hanyalah ancaman mati.


Gadis itu memutuskan untuk pura-pura bunuh diri saja. Lebih baik begitu daripada hidup tak dapat cinta dan hargadiri. Ia mulai mengacak isi dapur, mencari benda tajam yang kiranya dapat digunakan untuk mengiris pergelangan tangan. Hanya dalam waktu singkat, sebuah pisau bawang sudah tergenggam di tangan.


Ini akan menjadi ancaman untukmu, Revan. Jika saja kau masih mengabaikanku, maka selamat menikmati saat-saat kematian palsuku.


Ia mulai melakukan video call pada nomor telepon ibunya.


Sementara itu, beberapa saat lalu di kediaman mansion ....


.


.


"Siapa namamu?" Wanita tua si kepala pengurus mansion itu bertanya dengan nada dingin, tanpa menatap.


"Prilly!" jawab gadis itu, ia hanya mendongak kecil, sedang mereka berjalan beriringan di ruang seluas istana itu. Selebihnya tak ada lagi percakapan.


Dua tangga besar tampak meliuk di samping kiri dan kanan, mereka melewatinya. Sebuah lobi sedang mereka masuki, beberapa saat mereka tiba di sebuah ruang yang tampak di padati oleh puluhan pintu.


"Ini adalah ruang kamar pelayan." Ia masih berjalan, sementara Prilly menjadi buntut di belakangnya. Wanita itu berhenti di depan salah satu pintu kamar. Ia memasukkan kuncinya lalu membuka pelan daun pintu.


Kriiiet.


Kini, terlihat bagian dalam yang isinya tak jauh berbeda dengan kamar miliknya di kontrakkan.


"Mulai sekarang, ini adalah kamarmu! Istirahatlah, kau akan mulai bekerja besok."


Deg.


Bekerja?


Prilly menenggak berat saliva.


Glek.


"Baiklah, aku akan meninggalkanmu di sini. Jika ada yang perlukan, tanyakan saja pada rekan-rekanmu di sana." Ia menunjuk pada kumpulan wanita yang melirik ke arahnya. Wajah mereka tak bersahabat, sepertinya mereka tak menyukai anak baru.


"Memangnya siapa dia?"


"Iya, diistimewakan sekali."


"Kepala pengurus sendiri yang sampai mengantarnya?"


"Iya, aku saja waktu pertama bekerja disuruh mencari sendiri kamarku."


"Hei, tapi kita disini kan juga baru 6 bulan."


"Oh, iya, ngomong-ngomong, apa di antara kalian ada yang pernah melihat tuan muda?"


"Aku belum pernah!"


"Aku juga!"


"Aku pernah melihatnya sekali, dia benar-benar tampan, aku sendiri sampai gemas."


"Kudengar tuan muda sangat dingin loh!"


"Hush, hati-hati kalau bicara!"


"Memangnya kenapa?"


"Apa kalian belum pernah bertemu dengan istrinya Si Nona Priska?"


"Iya, kudengar nona muda sangat sombong. Dia bahkan pernah menginjak tangan pelayan hanya karena tak sengaja tersentuh pel lantai."


"Serius?"


"Ya, tentu saja!"


"Menakutkan sekali."

__ADS_1


"Oh iya, ngomong-ngomong, bukankah anak baru itu bekas pelayan di apartemen mereka?"


"Benarkah? Kau tahu darimana?"


"Tadi aku sempat menguping percakapan Nyonya Sharta dengannya."


"Oh ya?"


"Hu'um." Ia mengangguk.


"Kudengar juga, Nyonya Sharta sendiri yang menjemputnya."


"Benarkah? Kurasa dia pelayan kesayangan."


"Iya, itu artinya kita harus hati-hati dengannya."


Gosip itu tersendat saat semua pasang mata itu melirik ke arah Prilly yang masih duduk termenung di atas matras.


"Hai, anak baru. Kemarilah. Bergabunglah bersama kami." Salah seorang memanggil Prilly, mengajaknya bergabung bersama, membuat lamunan Prilly tersentak, tangannya langsung berhenti mengelus perut yang masih tipis itu.


"Ah, iya." Gadis itu bangkit, niatnya untuk bergabung bersama mereka, hingga kepala pengurus kembali menghampirnya, ia mengurungkannya.


"Prilly, ikutlah denganku. Nyonya Sharta ingin menemuimu di aula utama."


"Begitukah, baiklah." Prilly mengiyakan. Lalu menoleh pelan pada mereka. "Maaf aku belum bisa ikut bergabung sekarang," ucapnya yang kemudian melenggang pergi.


"Cih, lihat. Songong sekali dia."


Prilly tak mendengar kutukan itu, ia sudah terlanjur mengikuti langkah si kelapa pengurus mansion.


Tuan muda, aku benar-benar berharap anda di sini.


Sepanjang menuju aula utama mereka hening. Hanya suara derap dari sepatu kepala pengurus yang terdengar memecah keheningan.


Kriiiet.


Ia membuka pelan pintu, lalu masuk terlebih dulu."Permisi, Nyonya. Wanita itu sudah di sini."


"Bagus, suruh dia masuk."


Kepala pengurus mundur satu langkah, lalu menoleh pada Prilly. "Masuklah, Nyonya sudah menunggumu."


"Kemari, duduklah. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan." Wanita itu tampak memegang berkas data pribadi Prilly. Ia belum membacanya.


"Ah, baik, Nyonya." Prilly mendekat, duduk di sana.


"Jadi, siapa nama panjangmu, ah maksudku apa kamu punya marga?" tanyanya, lembaran data itu sudah berada dalam genggaman. Ia mulai membaca.


"Nama panjangku adalah Prilly Ahyoungra Sharta."


Deg.


"Apa, kau bilang Prilly Ahyoungra Sharta?"


"Ya."


Ia mengernyit. Cepat kembali melempar pertanyaan. "Siapa yang memberimu nama itu?"


"Ibuku. Ayah bilang ini pesan dari ibu, katanya nama ini akan mempertemukanku dengan takdir, tapi aku tak percaya."


Dag. Dug.


Dag. Dug.


Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin kebetulan begini!


Mendadak raut Nyonya Sharta berubah pias. Matanya tampak melotot tak percaya.


"Siapa nama ayah dan ibumu?"


"Ayahku Jung Ah, dan ibuku Ahyoungra."


Deg!


Apa?? tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi.


"Sudah berapa lama kau tinggal di kota seoul?" Kembali ia melempar pertanyaan.


"Hanya 2 tahun terakhir sejak ayahku mengalami kelumpuhan akibat stroke. Kami tinggal di kontrakkan milik keluarga Sharta. Ayah bilang ini amanah dari ibu sebelum meninggalkanku, ibu meminta kami tinggal di kontrakkan milik keluarga Sharta. Tapi baru 2 tahun terakhir ayah merealisasikan keinginan ibu."

__ADS_1


Dag. Dug.


Dag. Dug.


Apa? Tidak mungkin. Ini tidak boleh terjadi. Tidak mungkin dia gadis yang dicari Sharta selama ini. Aku sangat yakin  sudah mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa mereka, untuk melenyapkan mereka. Tidak mungkin para mafia itu tidak bekerja dengan benar.


"Lalu, di mana ibumu?" tanyanya. Kali ini nadanya tak lagi terdengar hangat.


Eh, ada apa dengan Nyonya. Kenapa wajahnya berubah dingin, dan pertanyaannya jadi panjang begini?


"Aku tak tahu, ibuku sudah lama pergi meninggalkanku dan ayah sejak masih berumur 7 tahun."


Deg.


Sharta terduduk di sofa. Matanya terbelalak menatap Prilly, membuat Prilly merasa bersalah.


"Nyonya, apa yang terjadi?" Cepat ia menghampiri Nyonya Sharta, memegangi lengan wanita itu, tapi cepat Nyonya Sharta menepisnya.


Ehh? Prilly terkejut. Apa ada yang salah dengan ucapanku?


"Lepaskan tanganmu, jangan menyentuhku."


Eh, apa yang terjadi. Prilly mengernyit. Sementara Nyonya Sharta sudah tak dapat mengontrol degupan jantungnya.


Aku tak menyangka akan bertemu dengan gadis ini. Padahal 15 tahun lalu aku sudah mengirim pembunuh untuk melenyapkan mereka, tak kusangka sekarang justru aku yang membawanya ke sini. Sharta tidak boleh sampai menemukannya.


"Pengawaaal!" Mendadak ia memanggil pengawal. Dua orang pria dengan pakaian jas serba hitam datang menghampirinya, membuat Prilly tersentak.


Ah, ada apa? Kenapa memanggil pengawal.


"Kami di sini siap bertugas, Nyonya." Mereka datang memberi hormat.


"Bawa gadis ini, kurung dia dalam gudang penyimpanan barang."


Prilly kaget bukan kepalang mendengarnya.


"Eh, tapi, kenapa Nyonya." Sharta sudah tak lagi menyahutnya. Sementara itu dua pengawal tadi cepat meringkus Prilly, segera mereka memegang tangan gadis itu, Prilly berontak sekuat yang ia mampu.


"Nyonya, tolong katakan pada mereka untuk melepasku. Tolong ini sakit." Nyonya Sharta hanya diam, tak ada satupun kata yang terucap.


"Lepaskan Prilly?" Suara yang bicara secara tiba-tiba mendadak menyentak semuanya.


"Revan?" Nyonya Sharta terkejut, ia semakin tercengang. Cepat Revan menghampiri Prilly untuk menarik lengannya.


"Nyonya, yang anda lakukan sudah terbilang tindakan kriminal. Saya bisa menuntut anda atas tindakan semena ini "


"Apa maksudmu, Revan. Aku ini mertuamu, berani sekali kamu bersikap kasar padaku. Lagipula, dia hanya pelayan, memangnya apa yang kamu tahu, baru saja gadis ini melakukan kesalahan besar."


Deg.


Apa, dia memfitnahku.


Seketika Prilly mendongak, melihat wajah pria yang berdiri di belakangnya. Pun dengan Revan yang langsung menatapnya juga. "Aku tidak melakukan apa-apa, Tuan. Sungguh."


Revan masih menatapnya lekat. "Aku percaya padamu." Bicaranya terdengar dingin.


"Nyonya, aku tidak akan melepasmu, aku akan melanjutkan hal ini ke ranah hukum. Anda sudah menculik istri saya, terlebih anda juga ingin mencelakainya, bagaimana jika saya terlamba?"


"Apa kamu bilang, istri? Revan. Jangan macam-macam dengan putriku, kau adalah suami dari putriku, apa maksudmu dengan mengatakan  pelayan ini istrimu?"


"Dia bukan pelayan, siapa bilang dia pelayan?" Revan menggertak. Membuat Nyonya Sharta semakin terkejut saja.


Keributan di dalam sana berhasil membuat para pelayan berkumpul di luar ruangan untuk menguping pembicaraan.


"Apa maksudmu?" Nadanya kini sama dinginnya.


"Biar kuperjelas. Prilly adalah wanita yang dikirim putrimu padaku, dia mengatakan kalau Prilly adalah sebuah hadiah."


"Bohong! Keterlaluan kamu Revan. Kamu memanfaatkan keadaan putriku yang tengah amnesia."


"Terserah jika Nyonya tak percaya. Itulah kenyataannya. Priska mengantarkan Prilly agar dia bisa mengandung anak untuk kami. Dia tak ingin mengandung anak dariku."


Deg.


Nyonya Sharta semakin terhenyak mendengar hal itu, hingga ponselnya berdering ia menoleh. Terlihat nama putrinya sebagai pemanggil via video.


Priska meneleponku? Tentu saja, pasti karena Revan meninggalkannya.


Belum juga ia mengangkat, Revan sudah pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2