
Prilly menyusul Priska yang lebih dulu melangkah masuk ke apartemen. Sesampainya, nona sombong itu menghempas tubuhnya ke atas sofa.
"Apa kamu sudah menyiapkan makan untukku?" Ia berbicara tanpa menatap, jemarinya asyik memainkan gawai.
Uh, menyebalkan sekali. Tunggu saja sampai tuan muda datang, kita lihat saja, apakah aku atau Nona yang akan unggul di matanya nanti? Aku harap tuan muda akan segera menendang Nona dari apartemen ini. rapalnya dalam doa.
Prilly bersumpah dalam hati. Ia yakin jika kini tuan muda sudah mulai berpihak padanya.
Hanya beberapa menit, Prilly. Hanya beberapa menit lagi bagiku untuk bersabar.
"Sudah, Nona. Aku akan mengambilkannya untukmu."
"Bagus, cepatlah." Kali ini Prilly memilih menuruti dulu kemauannya. Hanya dalam waktu singkat, ia kembali dengan satu buah nampan dan mangkuk berisikan bubur. Gadis itu meletakkannya di atas meja di depan nona yang tengah baring berselonjor.
"Apa itu?" Ia bertanya tanpa mau melihat dulu.
"Silahkan Nona lihat sendiri."
"Heh, aku bertanya, apa susahnya kamu tinggal menjawabnya." Ia melirik ke arah Prilly, harusnya ia juga mampu mengintip sendiri menu makanan yang dibawakan Prilly padanya itu.
"Itu, bubur, Nona."
"Bubur?" Ia bangkit, mengaduknya sekilas lalu melepasnya. "Apa-apaan ini, kamu memberiku sajian, bubur!"
Prilly mulai geram, sikap nona muda sudah semakin tak dapat ditolerir. "Nona!' bentaknya, dan berhasil membuat Priska terperanjat.
"Apa baru saja kamu membentakku?"
"Ya!"
"Heh, berani sekali kamu."
"Maaf, tapi sepertinya saya menangkap bau sandiwara tentang amnesia Nona."
Priska terdiam, ia terkejut, bagaimana bisa Prilly menebaknya dengan mudah."
"Apa maksudmu."
"Berhenti berpura-pura, Nona. Aku memang gadis miskin, tapi bukan berarti bodoh. Bukankah baru saja aku menyaksikan Nona berkelahi dengan Nona Airen, sungguh aneh bukan, padahal Nona sedang lupa ingatan, tapi masih bisa berkelahi dengan orang yang tak seharusnya Nona kenali."
Ungakapan Prilly berhasil menggelakkan tawa Priska. "Hahaha, hebat. Ternyata kamu pandai juga."
Prilly masih diam, sedang tangannya sudah mengepal erat. "Saya tahu, sejak awal Nona pasti memang sudah merencanakan semua ini, agar Nona bisa dengan mudah menindas saya, tapi maaf, saya tak selemah itu, Nona."
"Terus, kamu mau apa? Mengadu dengan Revan?"
"Ya, tentu saja, aku akan mengadukan perihal kebohongan Nona pada tuan muda."
Tawa gelahak Priska semakin keras saja. Bahkan sampai mengeluarkan sedikit air mata, pelan ia mengusapnya. "Kamu pikir aku bakal takut. Hah?"
Prilly memilih diam, kali ini ia tak dapat menebak karakter nona mudanya.
Apa yang dia pikirkan, kenapa dia sama sekali tak terlihat gentar oleh ancamanku?
"Hei, Prilly, apa kamu sudah lupa mengenai ayahmu yang stroke itu, kamu lupa siapa yang sekarang menjaga dan merawatnya?"
Deg.
Ah, iya, ayahku, kenapa aku bisa melupakan hal ini?
"Aku bisa melenyapkan nyawanya kapan saja, bukan? Lagipula, siapa peduli dengan orangtua penyakitan itu, mati sekalipun tak akan ada pihak yang akan menyelidiki." Ia bicara tanpa menatap Prilly, memainkan kuku lentiknya. Lalu kembali melirik sekilas.
Apa, kejam sekali dia, jadi dia mulai memanfaatkan kelemahanku untuk situasi ini. Aggghhh ....
__ADS_1
"Bagaimana? Kamu yakin masih mau mengadu?" Ia bicara, sedikit menyunggingkan bibirnya untuk membuat senyuman sinis.
"Nona benar-benar keterlaluan."
"Hmm, aku?" Ia menunjuk diri dengan tangan sendiri.
"Ya, bukankah sejak awal perjanjian kita hanyalah sebatas memberikan cabang bayi untuk anda dari benih tuan muda, kenapa sekarang Nona memperlakukanku layaknya pelayan, ini tak sesuai perjanjian."
Penuturan Prilly berhasil mengubah mimik Priska, raut yang awalnya santai kini terlihat geram, napasnya mulai menderu kasar, seperti balon yang diisi oksigen panas dan siap meledak.
"Kamu pikir kenapa aku begini, hah? Ini semua karenamu, bukankah sejak awal sudah kukatakan untuk jangan pernah berharap lebih dari sebatas ibu sambung, tapi lihat apa yang kamu lakukan sekarang?" Ia memaki kasar. "Kamu dengan nakalnya mengganggu suamiku, ingin merebutnya. Harusnya aku yang marah padamu sejak awal!"
Deg.
Prilly terdiam.
Nona muda benar, aku yang sudah merebut Revan darinya, ini semua salahku.
"Hanya bisa diam kan kamu sekarang, apa sekarang kamu sudah sadar dengan kesalahanmu?"
Prilly masih membisu sesaat.
"Maaf, Nona, tapi tidakkah Nona sadar, tuan muda berubah pada Nona karena sikap Nona juga. Jika memang Nona mencintainya, kenapa harus bersusah-payah menggunakan jasa pinjaman dari rahim orang lain, padahal Nona sendiri bisa memberikannya."
"Heh, apa sekarang kamu mulai berani menceramahiku, dengar ya, apapun yang kulakukan itu adalah hakku, karena aku anak dari keluarga terpandang, aku bebas melakukan apa saja yang kumau, dan kamu ... tak seharusnya kamu lantang padaku." Ia memaki, menunjuk tepat di wajah Prilly.
"Jika kamu merasa terpojok oleh sikapku, itu salahmu sendiri karena terlahir sebagai orang miskin, dan membuat kamu tak bisa berbuat banyak. Sudahlah jangan berharap banyak, apalagi bermimpi menjadi istri Revan. Karena kelak kamu akan dicampakkannya, kau tahu."
Deg.
Semua makian itu semakin memojokkan Prilly, ia merasa berada di sudut terdalam lubang hitam.
Apa? Apa benar yang dikatakan Nona Priska? Apa benar kelak tuan muda juga akan mencampakkanku?
Priska sudah kembali duduk di sofa, juga kembali memainkan gawai di tangannya. "Cepatlah, buatkan makanan yang baru, kau pikir aku bayi diberi bubur." Ia mencibir.
Krieeet.
Keduanya terkejut, mendadak seseorang membuka pintu depan. Sepasang mata mereka langsung menyambar pintu yang mulai bergerak lamban. Selang sedetik, sosok Revan langsung memadati pandangan mereka.
Prilly terdiam, sedang Priska langsung berlari menyambutnya.
"Hai, Suamiku Sayang, kamu sudah pulang, aku sudah menunggumu sejak tadi loh." Ia bicara dengan senyum merekah.
Revan mengernyit saat Priska sudah berada tepat dalam dekapannya. Ia menatapnya sekilas lalu membuang pandangan ke depan untuk melihat Prilly. Gadis itu sedikit menunduk. Revan menyingkirkan paksa tubuh Priska dari hadapannya agar ia mendapat jalan.
"Minggir!" tegasnya.
Deg.
Apa, dia menyingkirkanku?
Priska berbalik badan, tampak Revan menghampiri gadis itu.
"Sayang, aku di sini, kenapa kamu mengabaikanku demi pelayan itu?"
Revan dan Prilly menoleh padanya. "Apa katamu, pelayan?" sentak Revan.
"Ya, dia pelayan kita, kan?" Senyumnya terlihat getir.
"Tidak, enak saja. Dia istriku!"
Deg.
__ADS_1
Eh? Istri, apa-apaan ini?
"Tapi, aku istrimu!"
"Ya, kamu memang istriku, tapi Prilly juga istriku."
"Apa?" Priska terkejut, ia tak percaya dengan pernyataan Revan barusan. Sungguh hal yang di luar dugaan.
"Aku akan menanyakan hal ini pada orangtua kita, untuk memastikan kebenarannya."
"Untuk apa, bukankah kamu yang mengirimkannya padaku, kamu yang memintaku untuk memperistrinya karena kamu tak ingin hamil, ini adalah kesepakatan yang kita buat di balik sepengetahuan orangtua, kau tahu?"
"Tapi, Sayang ...."
"Iya, aku tahu, kamu tak dapat mengingatnya karena amnesia, sudahlah."
Revan merangkul Prilly agar gadis itu tegar. Revan tahu, Priska pasti habis mengerjainya.
Agghhh, mengesalkan, kesepakatannya bukan begitu, aku tak pernah memintamu menjadikan Prilly sebagai istrimu juga, kau memanfaatkan kelemahanku, Revan!
Priska mengepal erat tangannya, berusaha menahan gejolak di dada. Terlihat Revan yang sedikit tertawa getir. Lalu mulai mengalihkan pandangan.
Tanpa sengaja, mata Revan menangkap semangkuk bubur hangat di atas meja itu. Ia melirik pada gadisnya, Prilly. "Kamu akan memakan bubur itu?"
"Tidak, Revan, itu untukku, dia yang membuatkannya." Priska menyela. Menunjuk pada Prilly.
Kena kamu Prilly, Revan pasti akan marah padamu kali ini, karena kamu sudah menyediakan makanan tak berkelas itu untukku.
"Oh, ya? Prilly yang membawakannya untukmu?"
Sepasang mata Priska tampak berkaca, mengangguk pelan, seolah ia sudah terzolimi. "Keterlaluan sekali kan dia, bagaimana bisa dia memberiku makanan tak berkelas begitu, bagaimana jika aku jatuh sakit karena makanan itu?"
Revan tak kuasa untuk tidak mengernyit. "Kau bilang apa? Makanan itu bisa membuatmu jatuh sakit?"
Eh, ada apa dengannya? Kenapa marah begitu? Benarkan yang kukatakan?
"Kenapa, aku tak salah bicara, kan?"
"Tentu saja salah, bagaimana kamu bisa mengatakan makanan itu membuatmu jatuh sakit. Apa kamu tahu dengan pasti bahan apa saja yang terkandung di dalamnya?"
"Aku tidak tahu, tapi aku yakin begitu," sahut Priska. 'Semoga aku tidak salah bicara.
"Cih, jika tak suka, kenapa tidak memasak sendiri."
"Aku?" Ia menunjuk dirinya. "Ayolah, Sayang, jangan bercanda, aku mana bisa memasak."
"Cih, kalau begitu jangan menghina masakanku."
Deg.
Apa katanya? Bubur itu buatannya? Priska melongo. Sial, apa sekarang dia sedang membohongiku lagi?
Perdebatan mereka membuat Prilly menjadi canggung. Gadis itu nyaris mati kutu.
"Sayang." Revan mengelus bahunya pelan. "Sejak pagi tadi aku belum sarapan, tolong bawakan semangkuk untukku, ya."
"Em, baik, Tuan." Prilly mengangguk.
"Prilly, tunggu." Panggilan Revan itu berhasil menghentikan langkah Prilly. "Tolong kamu antarkan Nona Priska ke kamarnya. Dia kan belum pulih, biarkan dia beristirahat."
"Ah, baik, Tuan."
Prilly memilih menuruti perintah Revan, dengan gelagat penuh percayadiri, ia menghampiri Priska. Meraih pelan lengan nona itu. "Mari, Nona, biarkan saya mengantar anda ke kamar."
__ADS_1
Cepat Priska menepisnya. "Tak perlu, aku bisa sendiri." Tak ada lagi senyum dan gelagat manja, dengan hati yang berkecamuk, ia melenggang menuju kamar Revan. Gadis itu kemudian masuk, membanting daun pintu.
BAAAM.