Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 57


__ADS_3

Mentari masih malu-malu menyembul di cakrawala ufuk timur, musim dingin masih belum beranjak dari Kota Seoul. Bahkan hawa sejuknya semakin menusuk saja.


Joshua duduk di atas sofa, dalam sebuah kamar hotel VIP yang ia sewa semalam, sudah puluhan batang rokok ia hisab, menyisakan sejumlah puntungnya yang mulai berserak pada kotak tisu. Dua botol wine dan coktail sudah kosong, habis isinya ia tenggak tadi malam usai puas melampiaskan nafsu bejatnya.


Wajahnya nampak frustasi, dengan jemari menekan ujung pelipis, sementara pakaian mereka masih berserakan di area lantai mengelilingi ranjang itu. Joshua hanya mengenakan celana panjang tanpa baju.


Priska masih terlelap di sana, tanpa busana dan hanya selimut tebal yang menutup tubuh moleknya.


Selimut itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Beberapa bercak darah menempel dengan angkuh, seakan menertawakannya.


Aku tak menyangka jika ternyata Priska masih belum terjamah. Kupikir dia gadis murahan yang sama dengan gadis lainnya di luar sana. Ahhh, apa yang sudah kulakukan. Haruskah aku meninggalkannya dalam keadaan begini, tapi itu terdengar kejam sekali. Ahhh!


Ia meremas rambut dengan kedua tangan, kepalanya menunduk. Frustasi mulai bergelantungan pada benaknya.


Tapi jika aku tak meninggalkan Priska sekarang, maka aku harus siap dengan konsekuensinya. Mungkin saja gadis ini meminta tanggungjawab padaku. Aku tak ingin menikah cepat, karirku bisa hancur karenanya. Apa sebaiknya aku tinggalkan saja Priska di sini?


Mentari mulai menerobos dinding kaca gedung tinggi itu. Silaunya tepat memancar di atas ranjang tempat Priska berbaring nyenyak. Perlahan cahaya itu  membuatnya menggeliat.


Sadar Priska terbangun, buru-buru Joshua bangkit, menyambar kemeja yang terletak pada bibir ranjang, tapi baru saja ia berdiri dan memegang handle pintu, berusaha mengenakan kemeja, mendadak Priska duduk, gadis itu mengusap mata, masih belum menyadari akan apa yang terjadi padanya malam tadi.


"Revan?" Ia memanggil pria yang sejatinya adalah Joshua. Buru-buru Joshua membuka penguncinya, dan berlari keluar sebelum sempat Priska melihat wajahnya.


"Revan, kau mau ke mana?" Priska bergeser dari posisinya, menyibak cepat selimut untuk mengejar pria itu, sayangnya begitu berhasil tersibak, ia menemukan dirinya tak mengenakan sehelai kainpun, terpaksa Priska urung mengejar.


Ia mulai linglung, kesadaran kini mulai terisi 100%. Hal yang membuat jantungnya berdebar hebat saat ia melihat selimut yang tadi menutup tubuhnya bernoda darah, diiringi rasa nyeri pada bagian kegadisannya.


Deg.


"Revan? Benarkah pria tadi itu Revan. Astaga, apa yang terjadi padaku? Apa aku menghabiskan malamku bersama seorang pria asing. Ahhh!"


Menyadari ada hal yang janggal terjadi padanya, membuatnya sedikit frustasi, ia terduduk lemah, menangis sejadi-jadinya. Pakaiannya yang berserak ia lempari untuk melampiaskan kekesala, hingga tiba-tiba suara dering telepon bergetar di atas meja sofa, dan berhasil menyentaknya.


Priska kaget, suara ringtoon itu tak asing baginya, tapi itu juga bukan miliknya. Sepertinya pria tadi meninggalkan ponsel di sana.


Dengan sedikit terhuyung Priska berjalan menuju sofa. Dan benar saja, terpampang di hadapannya sebuah handphone yang layarnya menyala, sebuah panggilan masuk menggetarkan ponsel itu.


Ia sedikit gemetar saat melihat nama pemanggil yang tertulis di sana. 'Airen Kekasihku' sebuah nama yang berhasil meluluh-lantakkan seluruh kekuatannya, ponsel itu menyala beberapa saat lalu kembali redup.


Satu buah dompet pria juga tergeletak di meja itu. Dompet yang tak lagi asing di mata Priska.


"Jadi, pria yang bersamaku tadi malam adalah Joshua?" Ia menutup mulutnya dengan tangan, deraian air mata mengalir di atas punggung tangannya. Sedang kedua matanya tak berkedip.


Tap


Tap

__ADS_1


Tap


Braaak


Seorang pria masuk dengan tergesa, dan langsung terjekut mendapati Priska duduk di atas sofa memegang dua benda miliknya.


"Joshua, Brengs*k! Apa yang kau lakukan padaku?" Priska langsung menghardik kasar begitu melihatnya berdiri di sana.


"P-Priska .. apa yang kau katakan, aku tak mengerti?" Gagap, berusaha menutupi kebenarannya.


"Oh, ya? Jadi kau tak tahu apa-apa, ya? Kalau begitu jelaskan padaku, mengapa ponsel dan dompetmu ada di kamar ini?"


Joshua terdiam, mulutnya tercekat, seperti berat untuk bicara, bahkan untuk sekadar menelan saliva.


"Beraninya kau menodaiku, Brengs*k!" Makian itu diiringi sedikit tangisan. "Aku akan membuat perhitungan padamu!"


"Heh, jangan menyalahkanku, kau sendiri yang menggodaku saat di klub tadi malam. Kau yang merayu dan memaksaku untuk tidur denganmu, padahal aku sudah menolak, tapi kau terus memaksa, yaah aku bisa apa? Anggap saja aku menghadiahkanmu kenikmatan, itu aku beri secara cuma-cuma!"


Priska sudah mengepal erat tangannya. Ingin mendaratkan ke wajah pria yang dianggapnya ******** itu. "Beraninya kau mengarang cerita, Bajing*n! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."


"Ya, ya! Kuanggap itu adalah caramu berterimakasih. Aku tahu, kau gadis pemalu, jadi memaki adalah bentuk dari arti terimakasihmu."


Agghh!


Geram. Priska yang hanya mengenakan pant dan perisai dada itu berlari menghambur ke arah Joshua, tangannya sudah mengepal siap memukuli pria bejat yang berdiri dengan tawa licik di sana.


Kini Joshua sudah menggenggam kedua lengan Priska, gadis itu masih terlihat amay geram, wajahnya merah menahan amarah berusaha melepas, tapi ia kalah kuat, berkali-kali lipat tenaganya tak akan mampu melepaskan diri dari genggaman Joshua.


"Cukup, Priska. Mengapa kau tak puas juga memukulku. Jika kau terus melakukannya, aku akan mengulangi apa yang terjadi padamu malam tadi." Usai bicara, ia mendorong tubub Prika hingga tersungkur ke lantai.


"Bajing*n. Tunggu saja saatnya, aku pasti akan membalasmu."


"Cih!" Pria itu justru berdecih. "Kau harusnya berterima kasih padaku, aku memberimu kesempatan dengan menjadi kekasihku, tapi lihat apa yang kau lakukan, kau justru meninggalkanku, kau menikah dengan pria pengusaha itu. Padahal saat itu statusmu adalah kekasihku, kau tahu betapa sakit hatinya aku?"


Deru napas Priska terdengar memburu kasar. Ia teramat kesal dengan sikap Joshua padanya.


"Lagipula, apa kau lupa, aku ini aktor ternama memiliki sejuta penggemar. Ada jutaan wanita di luar sana yang ingin bisa tidur denganku tapi aku menolaknya, sedangkan padamu, aku memberikan secara cuma-cuma. Harusnya kau berterimakasih. Sini, berikan ponsel dan dompetku!"


Priska menatapnya penuh murka. "Kau ingin ini?" Nada bicaranya terdengar dingin, mengangkat dua benda itu di tanganya.


"Ya, cepat. Kembalikan padaku." Joshua memberikan tangannya, sedang sebelahnya menopang pada pinggul.


Priska menyunggingkan senyumnya, lalu dengan gerakan kilat ia melempar benda itu keluar jendela, membuat Joshua terbelongo. Pasalnya puluhan kartu unlimitied miliknya ada dalam benda itu, juga ponselnya, di sana tersimpan beberapa dokumen naskah yang akan ia perankan nanti dan beberapa file penting lainnya.


"Kau membuangnya?" Wajahnya terlihat murka. Matanya melotot, ia tak percaya Priska melakukan hal itu. Membuat senyuman sungging Priska semakin menari-nari di atas bibir.

__ADS_1


"Kau punya benda yang berharga juga, ya ternyata? Jadi bagaimana rasanya saat barang berhargamu aku buang begitu saja?"


Deg.


Ungkapan itu membuat Joshua terdiam. Ia sadar yang ia lakukan pada Priska benar-benar fatal. Pantas saja selama ini Priska selalu menolak ajakannya, ternyata gadis itu masih menyimpan rapat kegadisannya.


"Baiklah! Kalau begitu kita impas!"


"Apa? Impas? Tidak ada kata impas bagiku. Kau telah merenggut harta berhargaku, barangmu yang hilang itu sanggup kuganti 10 kali lipat, tapi apa yang sudah kau rebut dariku, tak akan pernah bisa kau kembalikan, Bajing*n!"


Joshua tampak menghembus napas kasar. "Huh, jadi kau mau apa?"


"Kau bertanya, aku mau apa? Kenapa kau sama sekali tak punya hati, hah?" Lagi, Priksa memaki hingga mengeluarkan air mata. Sejujurnya yang ingin ia dengar dari Joshua adalah kata maaf yang tulus, tapi Joshua sama sekali tak terlihat menyesal. "Kau benar-benar keterlaluan, Joshua."


"Baiklah, katakan apa yang kau mau, agar aku bisa menggantikan kerugianmu."


Priska berusaha menghapus air mata itu. "Kemauanku, cih!" Ia berdecih kasar. "sebenarnya aku masih sangat membencimu, tapi semua sudah terjadi, kau tak bisa mengulang waktu yang sudah terlewat. Andai bisa, aku ingin meminta kau kembalikan kegadisanku."


Joshua diam, matanya sayu menatap Priska, bukan karena iba, melainkan lelah meladeni gadis itu.


"Jadi .. kau mau apa? Bisakah langsung keintinya saja?"


Brengs*k. Bajing*n ini benar-benar tak punya hati. Tapi biar bagaimanapun, semua sudah terjadi, aku tak bisa mengulang waktu yang terlewat. Aku tak boleh rugi karena hal ini.


Priska diam sejenak. Sejuta kecamuk tengah beradu dalam pikirannya.


"Aku belum bisa memutuskan apa yang kiranya pantas untuk kau lakukan, tapi jika kau berjanji akan mengabulkan permintaanku, maka temui aku besok di cafe The Lounge."


"Oke, aku akan menemui di sana setelah usai shooting. Jadi, apa dengan begini kau sudah lebih baik sekarang?"


"Lebih baik katamu? Tentu saja untuk menaikkan moodku tidak semudah itu."


"Jadi, kau ingin apa sekarang?"


"Tak ada. Tinggalkan saja aku di sini."


"Kau serius?"


"Ya?"


"Aku tak bisa meninggalkanmu sejumlah uang, karena kau membuang dompetku."


"Aku tak bermasalah dengan uang. Aku bisa mengatasi hal itu. Tinggalkan saja aku di sini. Aku ingin menenagkan diri."


"Baiklah. Aku akan pergi sekarang."

__ADS_1


Tanpa rasa simpati, Joshua memutuskan untuk benar-benar pengabulkan permintaan Priska pagi itu, yang menyuruhkan meninggalkan seorang diri. Ia beranjak dari sana, menyisakan bayangan semunya dalam benak Priska. Gadis itu kembali terhenyak begitu memastikan Joshua benar-benar pergi. Ia kembali menyesali diri yang kesuciannya telah direnggut dengan menangis keras.


Bersambung dulu. Maaf kalau ceritanya menguras emosi. 🤭🙏


__ADS_2