Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 29


__ADS_3

Suasana hening mulai membalut kedua gadis itu. Prilly masih diam, bingung, dari mana harus memulai obrolan.


"Nona," panggilnya, ia berbalik, memutar badan menghadap Priska, seketika semburat tajam dari tatapan Priska menghunjam ke arahnya.


"Eh?" Prilly sedikit terkejut mendapati tatapan menakutkan itu. Senyum sinis bahkan tak luput Priska lampirkan, membuat Prilly sedikit curiga.


Aneh, bukankah Nona Priska amnesia, mengapa tatapannya masih sama seperti sebelum lupa ingatan, apa jika sudah tertanam sikap sombong, akan seterusnya sombong meski otaknya sedang tidak stabil. Benar-benar aneh ....


"Kapan Revan pulang?" Priska bertanya singkat diikuti nada judes.


"Ahh, mungkin sekitar saju jam lagi," jawab Prilly masih berusaha ramah.


Mendadak Priska bangkit, berada dalam satu apartemen bersama Prilly membuatnya merasa gerah. "Apa kode sandi pintu apartemen ini?" Priska memancingnya untuk memberitahu.


Ternyata ada bagusnya juga aku berpura-pura amnesia. Dengan begini, si bodoh ini pasti akan tidak akan bisa menolak untuk menjawab. Toh tadi dia sendiri yang mengatakan kalau aku tinggal di apartemen ini, dan sedang aku lupa ingatan karena amnesia. Ahaha, otak ini kadang suka cerdas juga .... Ia berjingkrak girang dalam hati.


Prilly terdiam sesaat. Gawat, mau tak mau aku harus memberinya kode apartemen ini. Huffhh, semoga tuan tidak marah saat tahu nanti.


"Woy, kok diam?"


"Ah, iya, kodenya 763342," jawab gadis itu tersentak setelah mendapat bentakan.


Tuan, maafkan aku .... Kini, batinnya hanya bisa meringis.


Priska tersenyum puas, seolah ingin menunjukkan bahwa ia selalu memegang record pemenang dalam hal persaingan, sementara Prilly hanya bisa bersungut sedih.


"Ah, sementara menunggu suamiku pulang, aku ingin mencari udara sejuk dulu."


"Eh?" Prilly kaget, spontan mendongak. "Biar saya temani Nona jika ingin keluar?"


Apa, menemaniku? Cuih.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!"


"Tapi, amnesia Nona kan masih belum pulih, bagaimana jika Nona tersesat?" Pertanyaan dengan nada men-judge itu sontak membuat Priska kesal, kata amnesia yang terlontar dengan santai sudah terdengar seperti hinaan saja.


"Apa katamu? Hei, aku ini hanya amnesia, bukan berubah menjadi manusia bodoh, kalau hanya berkeliling apartemen, aku pasti bisa kembali pulang." Ia mendengkus kesal.


Duuh, kupikir jika amnesia, sifat orang akan berubah, ternyata cerita itu hanya ada dalam film, kenyataannya wanita ini masih galak meski otaknya belum stabil


Prilly memilih diam, karena menyahut sama saja dengan memperlanjang ocehan menjengkelkan dari Nona Priska.


"Oke, jangan lupa siapkan aku makanan yang enak saat aku kembali. Ingat, jangan tidak dibuatkan, aku akan kembali dalam 30 menit." Ucapannya sudah seperti titah ratu saja.


Apa, perintah apaan ini?

__ADS_1


Prilly menghembus napas kasar. Ah, untungnya tadi tuan muda sudah memasak bubur, menurutku rasanya cukup enak, apa aku beri itu saja, semoga saja nona suka.


"Baik, Nona. Berhati-hatilah."


Perhatian yang diberikan Prilly padanya tak lantas membuat Priska simpati, cepat ia berlalu tanpa menoleh. Baginya, Prilly tak lebih dari sekadar pengemis yang beruntung karena bertemu dengannya.


Cuih, sok perhatian padaku. Lihat saja apa yang akan kuperbuat nanti, masihkah kamu bisa bicara sok lembut begitu? gerutunya kesal.


Priska sudah berhasil menapaki area luar, dan langsung menuju lift untuk sampai ke lantai dasar.


"Bagaimana aku sanggup berada di sana jika hanya berduaan dengan gadis kampung di apartemen, cih, yang ada nanti aku bisa gila."


Ia masih berdiri di depan lift, menunggu pintu terbuka. Jemarinya asyik memainkan gawai. Berkirim chat pada Dinda sahabatnya. Sesekali ia tertawa lepas.


Ting.


Lift berhenti di lantai sepuluh, tepat di mana ia berpijak, pelan pintu stenless itu terbuka. Ia masuk, masih setia menatap ponsel miliknya. Tawa cekikik kembali lolos dari bibirnya.


"Cih, bukankah Nona Muda dari keluarga Sharta itu mengalami amnesia, ya?"


Suara gadis yang tiba-tiba bicara di sebelahnya berhasil memutus rantai tawa Priska yang sebelumnya sempat hanyut non stop. Ia terkejut, menoleh.


Sosok Airen yang melipat tangan di dada, dengan senyum sinis melirik ke arahnya, tiga sekawan sesama rekan artis bahkan terlihat ikut memadati ruang lift berukuran sedang itu. Mereka asyik menertawakan Priska.


"Cih, tak kusangka akan bertemu dengan kumpulan wanita pecundang di sini, yang bahkan rela merebut pria bekasku karena gagal mendapatkan suamiku."


"Sialan, apa kamu sedang menghinaku, kamu pikir kamu itu perfect?" Ia mencibir. "Huh, yang sebenarnya pecundang itu bukan aku, tapi kamu. Lihatlah betapa menyedihkannya, saking inginnya menjadi artis karena selalu gagal debut, kamu sampai berakting di dunia nyata. Berpura-pura amnesia, cih, basi!"


Ungkapan kenyataan itu sudah seperti tamparan keras. Priska mulai tersulut emosi, mendapat hinaan seperti itu rasanya lebih mengesalkan ketimbang bertemu Prilly. "Beraninya kamu mengataiku?" Ia bahkan lupa kalau kini lawannya tak sepadan, Priska nekad mengepalkan tangan, siap menghajar mereka.


"Kenapa, ha? Terus kamu mau apa?" Ketiga kawannya terlihat maju, semua melipat lengan di dada, mengitari Priska. Tapi gadis itu tak gentar sedikitpun meski tengah dikerubuni, sedetik saja ia sudah menghambur tangannya di atas rambut Airen, menjambaknya sekuat mungkin, tapi artis papan atas itu tak mau kalah, ia balas menjambak rambut Priska hingga terjadi pertempuran sengit.


Saling hujat dan cacimaki bahkan sudah tak cukup untuk meramaikan suasana di dalam lift itu, ketiga kawan Airen sudah mencoba menghentikan mereka, tapi tetap saja gagal, tangan keduanya sudah seperti terpoles lem hingga merekat erat susah dilepas.


"Airen hentikan, bagaimana jika liftnya terbuka dan kau tertangkap kamera wartawan sedang bertengkar?"


"Aireen, ayolaaah." Berat rasanya saat ketiga sahabatnya mencoba melerai. Keduanya sangat lengket sudah seperti kembar siam saja.


Ting.


Pintu lift kembali terbuka, ternyata sebelumnya salah seorang teman Airen sempat menekan tombol hold, sehingga sejak awal Priska masuk, lift itu masih tertahan di lantai sepuluh.


.


.

__ADS_1


Sementara itu, beberapa saat setelah Priska keluar, Prilly mulai menyibukkan diri, memanaskan sup buatan tuan muda tadi untuk ia berikan pada Priska.


"Huh, melelahkan sekali, padahal aku baru saja beristirahat, dan sekarang gara-gara kedatangan nona, terpaksa aku harus beraktifitas lagi." Prilly mengeluh tipis.


"Padahal tadi tuan berpesan padaku agar jangan beraktifitas berat, tapi kalau begini keadaannya, aku bisa apa, huh terpaksa aku melanggar perintah tuan muda." Lagi, ia mendesah pelan.


Suara letupan dari bubur yang mendidih sudah terdengar jelas. Prilly membuka penutup panci itu untuk memeriksanya. Menggunakan centong kecil ia mencicipinya.


"Hmm, kenapa rasanya kurang begini, sepertinya tadi saat kumakan rasanya cukup pas." Ia mencoba mencicip sekali lagi. "Tuh kan benar, rasanya ada yang kurang. Sepertinya harus ditambahkan sedikit minyak wijen.


Gadis itu mulai membuka lemari penyimpanan segala jenis bumbu dan rempah masakan, tapi sungguh kebetulan, rempah yang ia cari tak ditemukan di sana. Hanya sebuah botol minyak wijen yang sudah kosong.


"Habis?" Ia melintirnya, bahkan tak setetes pun jatuh ke dalam panci sup itu. "Huh, sepertinya aku harus membelinya ke supermarket." Gadis itu melirik jam yang tergantung pada dinding di ruang dapur.


"Waktu yang kubutuhkan tinggal 15 menit, masih sempat." Ia menggumam. Bergegas Prilly keluar untuk menuju supermarket yang berada tepat di depan apartemen.


Ia sudah berdiri di depan lift, menekan tombolnya, lalu sedetik kemudian pemandangan mengejutkan memenuhi ruang penglihatan Prilly. Ia terbelalak untuk sesaat. Sedang kelima wanita yang berada di dalam lift lebih tercengang mendapati Prilly yang kini menjadi kamera utama atas pertempuran sengit itu.


"Nona Priska?"


Dua pasang tangan dari Priska dan Airen masih menggantung pada kepala lawan masing-masing. Menyadari tengah di tonton di depan mata, spontan mereka melepasnya bersamaan.


"Nona?" Prilly kembali memanggilnya.


"Prilly, tolong aku, mereka ini ingin membully-ku, entah salah apa aku pada mereka!" Priska berlari kecil, menghampiri dan pura-pura menangis di bahu Prilly.


Apa yang terjadi? Itu kan Nona Airen, artis terkenal yang sering menggoda Tuan Revan setiap hari? kenapa dia bertengkar dengan Nona Priska.


"Kamu siapa?" tanya Airen, artis terkenal dan ketiga kawannya itu masih di dalam lift, salah seorang temannya kembali menekan tombol hold agar pintu lift sentiasa terbuka.


"Saya Prilly, pelayan Nona Priska."


"Oh, kebetulan sekali."


"Maaf jika nona saya merepotkan anda, Nona Priska sedang mengalami amnesia setengah ingatan, jadi .. mohon maaf untuk segala tindakan buruknya." Prilly menundukkan kepala kecil.


"Oh, pantas saja sikapnya seperti orang yang tak waras, ternyata dia amnesia." Ia mendelik, memicingkan matanya saat bicara. "Lain kali, tolong dijaga ya nonanya biar gak terlepas dan meresahkan penghuni lain." Puas mencibir, mereka menutup pintu lift dengan menekan tombol lantai dasar, sedang tawa itu masih menggema, lambat laun mulai memudar dan hilang.


Prilly menoleh pada Priska, kini hilang sudah wajah memelas tadi, berganti dengan wajah arogansi, menatap sinis pada Prilly. Sedetik ia berbalik, memutar langkahnya menuju ruang apartemen Revan.


Ada yang aneh, apa yang terjadi di antara mereka, lebih tepatnya apa yang terjadi pada Nona? Sepertinya Nona Priska mengenalnya dengan jelas, ini tak seperti sifat orang yang sedang amnesia, mencurigakan.


Bersambung ....


Satu chapter lagi akan segera menyusul, doakan cepat rampung yaa.

__ADS_1


__ADS_2