
Mentari hangat mulai menyambut musim dingin di Kota Seoul. Gadis itu menggeliat di atas matras, lamat-lamat mengerjap, mengusap mata dengan satu tangan sebelum menggantungkan keduanya ke udara.
Hoaaam!
Desahan napas layu menguap dari dalam mulutnya. Pagi itu Prilly terbangun dengan perasaan sejuk di hati. Mimpi bertemu sang ibu dalam tidur membuatnya melupakan kejadian kemarin.
Ia meraih gawai yang terselip di bawah bantal, melirik notif pesan yang datang dari suami sekaligus majikan itu.
Tuan Muda, nama itu masih melekat dan tersimpan dalam kontak panggilan. Ia membuka pesan yang dikirim dalam ponselnya tadi.
Prilly istriku, Sayang. Saat bangun nanti, jangan lupa untuk mengisi perutmu. Aku sudah membuatkan menu sarapan pagi yang sehat untukmu, jadi jangan coba untuk membeli makanan diluar sana, terlebih yang dipinggir jalan. Oke.
Ia tercengir membaca pesan yang terdengar menekan tapi peduli itu.
Tuan, aku tahu, semua yang kamu lakukan padaku bukan semata ingin menekan, tapi karena kini kau peduli.
Ia mulai beringsut malas dari atas matras, menyelipkan sandal tipis pada kedua kaki mungil itu, menuju ruang kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai. Tak banyak aktifitas yang dapat ia lakukan, sebab kini semua sudah dikerjakan oleh Revan. Hal terakhir yang bisa dilakukan hanyalah berbaring sambil bermalas-malasan di atas sofa, sebuah remot menjadi pengendali isi kepala, berkali-kali ia mengganti channel siaran dalam televisi, bersama satu porsi camilan menemani kesendirian.
Ting. Tong.
Bell di depan menyentaknya.
"Siapa yang mungkin berkunjung ke sini? Ah, lama-lama aku lelah juga tinggal di
apartemen tuan ini jika banyak sekali pengganggunya. Tidak bisakah mereka membiarkanku santai sebentar saja?" Ia mengeluh, berjalan gontai menuju pintu depan. Melirik pengunjung yang berdiri di balik layar di depan sana.
Seorang gadis berambut pirang dengan pakaian tipis tengah berdiri, melepas sweater dan kacamata hitam juga topi, yang Prilly duga untuk menutupi identitasnya. Ia juga menggantung satu buah tas selempang pada pergelangan tangan.
"Dia Airen kan, artis terkenal itu? Ada perlu apa dia ke apartemen tuan Revan?" Prilly mengernyit seorang diri. Bertanya pada batin yang tak memberi jawaban.
"Tunggu, mungkin saja dia sedang mencari Nona Priska, bukankah hari itu aku menemukan mereka tengah berseteru? Apa sebaiknya aku buka saja dan mengatakan jika Nona Priska sedang tak ada di apartemen?"
Cklek.
Krieet.
"Hallo, Priska? Ehh?" Senyum yang tadi mengambang itu mendadak tertahan. Ia terkejut saat disambut langsung oleh Prilly. "Eh, kupikir kau adalah Priska. Di mana Nona Mudamu? Kau pelayan yang membawanya keluar dari lift waktu itu kan?"
Uh, aku lelah dipanggil pelayan. Huh! Prilly mendelik kesal. Namun, tetap berusaha mengembangkan senyuman ramah.
"Ah, iya, Nona Benar! Tapi, saat ini Nona Priska tidak sedang berada di apartemen, jadi datanglah lain waktu."
"Hmm, benarkah?"
"Ya benar! Mungkin Nona Priska sedang ada kesibukan di luar, jadi saya rasa, Nona bisa mengunjunginya lain waktu saja." Buru-buru Prilly ingin menutup pintu itu, tapi tangan mulus Airen menahan daun pintunya.
Eh, ada apa?
"Eh tu-tunggu, kau serius mengusirku?" Ia mengernyit tak percaya. "Kau tidak tahu ya, ku ini Airen, aktris terkenal. Kau serius tidak mengenalku dan ingin mengusirku?"
Prilly berpura-pura memperhatikan wajahnya. Padahal ia memang mengenal, hanya ingin bersandiwara.
Mentang-mentang terkenal, dia pikir karena artis aku akan mengelu-elukannya. Huh!
"Maaf, tapi saya memang tidak mengenal anda."
"Apa?" Wajah Airen sampai berubah pias, tak percaya dengan pernyataan Prilly barusan. Sedangkan Prilly sendiri kembali cepat-cepat ingin menutup pintu.
"Tunggu, tunggu, tunggu. Oke, oke!" Karena paksaan tangan Airen yang menghalang itu, Prilly mengurungkan niatnya mengunci kembali daun pintu.
"Apalagi, Nona?"
__ADS_1
"Oke, terserah deh kalo kamu gak percaya dan mengatakan tidak mengenalku, tapi aku ada urusan sama Priska. Jadi .. izinkan aku menunggunya di dalam, oke."
"Gak bisa! Nona Priska tidak pulang hari ini." Cepat-cepat Prilly ingin kembali menutupnya. Pintu apartemen Revan itu sampai menjadi korban perisai dari perdebatan dua wanita di sana. Prilly berusaha keras menutup paksa, sementara Airen berusaha keras membuka paksa.
"Oke, oke. Tunggu, please jangan tutup dulu."
Permintaan itu membuat Prilly terpaksa membukanya lagi. Kali ini ia sudah memasang wajah kusut kesal.
Sialan, bisa-bisanya aku diperlakukan begini oleh seorang pelayan. Tapi tak apa, Airen, ini semua demi tujuan utama. Baiklah, biarlah aku turunkan sedikit harga diri dan egoku, aku sudah meluangkan waktu ke sini, akan sangat rugi jika aku tak dapat mengorek info lebih banyak.
"Hmm?" Prilly memberi kode dengan gerakan alis dan deheman kecil. Yang jika diartikan maka pasti terdengar, apalagi maumu, hah?
"Ahhh, aku sudah terlanjur datang ke sini. Tidakkah kamu mau menjamuku."
"Tidak bisa!"
"Sebentaaar saja. Em? Please." Ia memasang wajah memelas. Memohon dengan memegangi tangan Prilly, membuat gadis itu luluh.
"Huh!" Prilly menarik napas berat. "Baiklah, sebentar saja."
"Ah, terimakasih."
"Masuklah."
Airen merasa puas berhasil meluluhkan gadis itu, ia kini mulai menginjakkan kaki untuk pertama kalinya ke apartemen Revan.
Hmm, jadi begini suasana apartemen pria idamanku itu?
"Duduklah, aku akan membuatkan Nona minuman," pintanya dengan nada datar.
"Ah, terimakasih, aku akan menunggu." Ia tersenyum lebar, senyum yang dipaksa agar terlihat natural. Selang beberapa saat, Prilly kembali dengan segelas minuman dingin. Ia meletakkannya saja di atas meja.
"Terimakasih."
Prilly tak menyahut, hanya merapatkan duduknya di sofa dengan tenang. Memangkau kaki kiri di atas yang kanan, sementara tangannya bertaut di atas pangkuan.
Geram. Airen menarik napas dalam, lalu menghembus pelan.
Sabar Airen, ini hanyalah permainan waktu, tunggu saja bila saatnya aku bertemu Revan. Akan kuadukan sikap tak sopannya, agar Revan memecat pelayan tak sopan seperti dia.
Sepasang tatapan mata Airen menyiratkan ketidaksukaannya terhadap Prilly, tapi gadis itu tak bodoh, ia paham tatapan mata tak suka itu. Cepat ia mengambil tindakan dengan bertanya langsung tujuan Airen.
"Hmm, jadi langsung saja, apa yang ingin Nona bahas bersama saya di sini. Karena saya tak punya banyak waktu untuk meladeni orang asing.
Sialan, makin lantang saja dia mengataiku orang asing. Huh, sabar Airen, sabar ....
"Ah, kau rupanya tipe wanita yang tidak sabaran."
"Cepatlah katakan, jangan banyak basa-basi."
"Ah baiklah. Jadi begini, berhubung Nona Priska tidak ada, dan kebetulan aku juga sudah membuat janji dengannya, maukah kamu menggantikannya untuk ikut bersamaku ke suatu tempat?" Ia berdusta.
Wanita ini sudah keterlaluan. Aku akan mengerjainya saja.
"Maaf, aku tidak bisa. Jika perjanjian itu Nona buat bersama Nona Priska, maka tunggu saja orangnya. Lakukan dengannya, bukan denganku." Tak ingin kalah dalam hal berdusta, Prilly meluncurkan jurus bohong yang sama.
"Tapi .. kamu kan pelayannya?"
Deg.
Cukup, wanita sombong! Aku bukan pelayan. Aggghhh.
"Tetap saja tidak bisa! Lagipula Nona Priska sudah memercayakanku untuk menjaga apartemen, aku tak mungkin meninggalkan tempat ini."
__ADS_1
"Ayolah, hanya sebentar saja. Atau jika perlu aku menghubungi Nona Priska untuk mendapat persetujuannya. Aku rasa dia tidak akan menolak."
Sialan, permainan apa yang sedang dibawa Nona ini? Benarkah dia punya urusan dengan Nona Priska? Atau jangan-jangan ingin mengerjaiku?
"Tidak perlu, aku juga tetap tidak akan ikut."
Sialan, wanita ini ternyata keras hati juga.
"Ah, sebenarnya, tadi sebelum mampir ke sini, aku sempat bertemu dengan Nyonya Sharta, beliau bilang ingin aku mengajak putrinya keluar, ah andai saja aku benar-benar bertemu Nona Priska."
Tuh kan, dia berbohong. Untuk apa Nyonya Sharta mencari putrinya, bukankah selama ini putrinya inggal di sana bersamanya. Dasar pembohong.
"Maaf, Nona. Waktu anda habis. Silahkan kembali lain waktu saat Nona Priska ada di apartemen." Prilly mulai bangkit, kedua tangannya tersembunyi di kantung piyama samping yang ia kenakan.
Apa? Dia mengusirku. Ahh, gadis ini membuatku kesal. Aku akan cari cara untuk menyingkirkannya dari apartemen ini. Dasar pelayan tak tahu diri, harusnya kamu sadar akan batasanmu. Ia merutuk kesal dalam hati.
"Baiklah, aku pergi. Terimakasih atas jamuannya hari ini." Ia bangkit dengan hati dongkol. Sepanjang menuju pintu depan, tak hentinya menggrutu. Kini langkahnya berhasil berpijak pada bagian luar, tapi mendadak ia kembali berbalik badan mengahadap Prilly.
"Ahh, aku mau bertanya sesuatu."
"Ya, silahkan."
"Kau .. punya nomor Revan?"
Deg.
Apa? Nomor Revan? Ih gatal sekali dia, dia kan tahu tuan muda sudah beristri.
"Kalo boleh tahu, untuk apa Nona meminta nomor tuan muda?"
"Ah, tidak. Aku hanya ingin melakukan transaksi bisnis dengannya. Kau jangan salah paham dulu, bukan untuk urusan pribadi kok."
Hmm, bagaimana ini, apa iya aku harus memberinya nomor tuan muda?
Prilly diam sesaat, masih memikirkan antara memberi atau tidak.
"Hai!" Ia melambai tepat di depan wajah Prilly yang mendadak melamun. "Bagaimana, kau punyakan?" Nadanya masih ramah. Prilly menatapnya singkat, lalu mulai membuka locksreen pada layar ponselnya, sekilas menatap nomor Revan yang tertera nama tuan muda itu.
Memberikan nomor Revan pada pembohong ini, dia pikir aku bodoh.
Tanpa sengaja, pandangan Prilly beralih pada nomor nona muda alias Priska yang juga terpampang dalam kontak. Mendadak terbesit sebuah ide gila di kepalanya.
"Ah, baiklah. Segera catat ya!" perintahnya.
"Oke!"
Prilly mulai menyebutkan beberapa angka nomor telepon pada Airen. Dengan semangat membara Airen menyimpannya dalam kontak.
Dasar bodoh, mau aja kutipu! Airen menggumam nakal dalam hati.
"Oh iya, nanti jangan langsung memanggilnya dengan nama Revan, ya!"
"Hm?" Airen mengernyit tak mengerti.
"Ah, itu .. tuan muda tak menyukai nomor asing, katakan saja jika kau adalah aku, jadi tuan muda pasti akan membalas pesan dari Nona."
Apa? Dia memintaku mengaku menjadi dirinya di depan Revan. Huh, tentu saja aku tak mau, tapi jika hanya itu caranya baiklah. Akan aku coba. Dasar bodoh.
"Ah, ternyata kau baik sekali, ya. Terimakasih atas semua saranmu, juga untuk nomornya."
"Sama-sama," sahut Prilly yang tak kuasa ingin melepas tawa.
"Baiklah, aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada Priska."
__ADS_1
"Baik, Nona. Akan kusampaikan."
Prilly menatap lekat kepergian artis berbakat yang mulai mengenakan kembali segala macam pakaian pelengkap penyamaran tadi.