Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Esp 55


__ADS_3

Prilly mematut di depan dinding kaca berlapis transparan. MeratapĀ  pemandangan hujan salju di luar sana yang mulai mereda, menyisakan hawa dingin yang memantul hingga membuat buram pada dinding transparan tadi.


Tuan Revan kapan kembalinya? Ia mengeluh dalam hati.


Ada rasa cemas bergelayut di sana saat menantikan kepulangan Revan.


Katanya sebentar saja. Ini sudah hampir 2 jam, bahkan sekarang sudah pukul 12.15 tengah malam.


Prilly kembali menatap jalan yang kosong di luar sana setelah sebelumnya menoleh sebentar ke arah jam yang tergantung pada dinding.


"Tunggu saja, Nona. Tuan Revan pasti akan kembali. Saya tahu beliau tipe pria yang suka menepati janji." Asisten itu bicara padanya, duduk di atas sofa dengan kedua lengan melipat di dada. Ia tertawa kecil melihat kecemasan Prilly yang begitu mengkhawatirkan Revan.


Prilly mengehela napas berat, sebelum akhirnya melepas pegangannya pada dinding kaca itu. Ia berbalik untuk kembali duduk bersama sang asisten Revan yang menemaninya. Wajahnya masih kusut, karena khawatir yang teramat saat harus menunggu lebih lama.


"Nona, tidurlah. Ini sudah larut. Biar saya yang menunggu Tuan Revan."


"Tidak mau! Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang, sudah jam segini dia masih belum pulang, terlebih dia mematikan ponselnya."


"Nona, diluar kan sedang turun salju. Mungkin saja dia hanya terjebak oleh tumpukan salju, dan masih menunggu petugas pembersih jalan."


Mendengar hal itu, rasa cemas Prilly semakin meningkat pesat.


"Kau bilang aku tak perlu cemas jika mobilnya terjebak di tengah jalan yang tertutup salju, bagaimana bisa aku tidak cemas. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?" Prilly kembali berdiri, mondar-mandir, menggigit ujung jarinya. Sedang satu tangan lagi merekat tepat di bawah siku.


Sepertinya, Nona ini bukanlah gadis biasa di mata Tuan Revan. Aku bisa terkena masalah nih jika membiarkannya khawatir dan menunggu di jam segini. Ah, aku harus bagaimana?


Asisten itu mulai dibuat panik oleh sikap keras kepala Prilly yang mengkhawatirkan suaminya.


"Nona, tidurlah saja. Aku janji akan menunggunya di sini. Kalau perlu aku akan mencarinya jika masih belum kunjung datang 1 jam ke depan."


"Sudah kukatakan, aku tidak mau! Aku tetap akan menunggu."


Asisten itu mengdengkus pasrah. Merapatkan duduknya dengan kasar pada sandaran sofa. "Baiklah," jawabnya lesu. Wajahnya kusut, melebihi kusutnya wajah Prilly.


Ceklek!


Suara pintu terbuka di depan sana berhasil mengalihkan pembicaraan mereka, spontan keduanya menoleh.


Cepat Prilly berlari kecil ke depan sana, menyambut kedatangan sang majikan sekaligus suami terkasih. Revan sudah berdiri di ambang pintu, tapi ada hal yang berbeda pada wajahnya yang membuat raut Prilly seketika cemas.


Lebam kebiruan menempel pada wajah Revan, dan sedikit bengkak. Sedang eksresinya datar dan dingin.


"Tuan, ada apa dengan wajah anda?" Tangan Prilly langsung menyentuh pelan rahang itu, tapi cepat Revan menahannya, rasa sakit masih menyiksa membuatnya takut tersentuh.


"Aku tidak apa-apa!"


"Tidak apa-apa bagaimana, lebam begini juga, ceritakan pada saya, apa yang terjadi?"


Revan masih termangu nenatapnya. Pikirannya tak karuan. Mengingat kejadian yang menimpanya di depan apartemen tadi. Pengakuan Sharta yang membuatnya shok itu masih membekas.


Jadi .. Prilly adalah putri dari keluarga terpandang. Sungguh di luar dugaanku. Sekarang apa yang harus kukatakan padanya, haruskah aku menutupi kebenarannya hingga tiba waktu yang tepat, atau aku membiarkan dia mengetahui dengan sendirinya?


"Tuan, kenapa anda masih berdiam saja. Ayo masuk, saya akan mengompres luka itu." Prilly berbalik badan, dan hendak menuju wastafel untuk mengambil semangkuk besar air dingin. Namun baru selangkah ia beranjak, mendadak Revan menahan tangannya. Membuat langkah Prilly terhenti dan langsung menoleh kembali padanya.


"Eh?" Ia tersentak.


"Kenapa kau masih belum tidur juga di jam begini?"


"Ehh, i-itu, karena saya mencemaskan Tuan, saya menunggu Tuan."


"Ini sudah jam 12 lewat. Harusnya kau tidur saja, tidak usah menungguku." Entah kenapa, pertikaian tadi membuat emosi Revan masih hinggap di sana hingga ingin meluapkan pada Prilly, tapi tanpa ia sadari, ia sudah memukul perasaan Prilly. Gadis itu terkejut oleh sikapnya yang mendadak berubah dingin.


"Eh?" Ia menatap tak percaya. Kenapa mendadak Tuan Revan berbicara dingin. Huh, aku ka hanya mencemaskannya, tidak seharusnya dia membalas dengan sikap dingin begini.


Prilly menepis lengan Revan yang masih menggenggam di punggung tangannya.


"Aku 'kan hanya menunggu Tuan karena aku cemas. Tidak perlu sampai membentakku begitu!" Dengan wajah kesal Prilly berlalu. Meninggalkan Revan yang masih mematung dengan sejuta pikiran kacau di kepalanya.


Ia masuk ke kamar, menutupnya rapat. Prilly naik ke atas ranjang miliknya. Kamar yang bahkan belum pernah ia sentuh sebelumnya, tak peduli meski hawa mistik tengah mengahantui pikiran, rasa kesalnya pada Revan berhasil mengalahkan rasa takut.


Ia menggerutu, terus saja menggerutu.


Sementara itu, Revan yang tadi mematung mulai menutup rapat pintu depan, beranjak menuju sofa, yang mana seorang asisten sudah menunggunya sejak tadi.


"Maafkan saya, Tuan. Saya sudah mengatakannya agar tidur lebih awal, tapi dia keras kepala ingin menunggu anda."


Revan masih setia bungkam, tak ia mendengarkan ucapan asisten itu. Sejuta pikiran berkecamuk masih menggerogoti isi kepala.


"Tuan?" Asisten itu menyentaknya, membuat Revan terkejut.


"Ah?" Ia menoleh cepat.


"Astaga, kenapa dengan wajah anda. Biar saya bantu mengompresnya, ya!" Buru-buru asistennya berdiri, mengambil semangkuk air dingin, mengompres untuk mengurangi lebam pada wajah Revan. Hanya dalam hitungan menit ia kembali..

__ADS_1


Revan masih terdiam di sana. Sementara asisten tadi sudah mulai mengompres pada wajahnya. "Biarkan aku saja." Revan mengambil alih kain basah itu. Menempelkannya pada rahang untuk beberapa saat.


"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?"


Revan masih diam, sesaat ia menoleh. "Aku mendapat sedikit masalah. Ini mengenai masalah pribadi, tak ada urusan dengan bisnis."


"Oh, maaf jika saya lancang!"


"Tidak mengapa."


Keduanya hening sesaat.


"Tuan, kenapa kau membuatnya marah."


"Maksudmu?"


"Gadis itu ...." Bicaranya terputus saat Revan kembali menatapnya.


"Sejak Tuan pergi, dia selalu berdiri di sana, memandang keluar hanya untuk menunggu kepulangan anda."


Deg.


Revan terhenyak. Astaga. Apa yang sudah kulakuakan, aku sudah membuatnya khawatir tapi saat bertemu, aku justru memakinya.


"Tuan?"


"Kau pulanglah! Terimakasih sudah menemaninya." Mendadak Revan bangkit, ia beranjak dari sana.


"Ah, tapi, Tuan."


"Pulanglah."


"Baik, Tuan." Asisten tadi hanya dapat menghela napas kesal. Meraih mantelnya untuk kemudian pulang dengan hati mengerutu.


.


.


Revan membuka pelan kamar yang dihuni oleh istrinya itu. Gelap, hanya menggunakan penerangan dari lampu tidur. Prilly terlihat berbaring di sana, berlapiskan selimut tebal, menghadap jendela.


Pelan Revan menghampirinya. Duduk pada bibir ranjang, dengan kaki menjuntai.


"Prilly? Kau sudah tidur?"


Tak ada jawaban. Tapi deru napas Prilly pada bagian punggungnya yang bergerak, seirama dengan selimut menempel terlihat cepat, menandakan ia masih terjaga.


"Tidak apa, Tuan. Tidurlah. Bukankah ini sudah malam?"


"Prilly, kau baik-baik saja?"


Huh, ada apa dengannya, kenapa sikapnya selalu berubah-ubah. Apa dia spesies sejenis bunglon? Dia menanyakan apa aku baik-baik saja, tentu saja aku tidak baik, huh! Prilly menggerutu kesal dalam hati.


"Prilly?" Ia menyentuh pelan, tapi cepat Prilly menepisnya.


"Kau marah padaku?" tanya Revan.


"Tentu saja aku tak boleh marah padamu, kau kan majikan, jadi bebas seenaknya saja memperlakukanku."


"Prilly, tidak begitu."


"Lalu apa?" Prilly berbalik. Matanya terlihat sedikit berkaca.


"Kau menangis?"


Prilly menghapus sebulir kristal yang berhasil lolos dari kelopak matanya. "Tidak," jawabnya, hal yang membuat Revan tertawa kecil.


"Maafkan aku Prilly, tadi aku masih terbawa emosi, ada sedikit masalah yang terjadi saat aku keluar tadi."


"Jadi benar, Tuan mengalami masalah. Kalau begitu, mengapa tidak cerita padaku?"


Revan terdiam sesaat. "Ahh, bukan hal serius, ini mengenai bisnis kantor."


"Tuan tidak berbohong kan?"


"Em!" Revan menggangguk.


"Kalau begitu jelaskan, bagaimana bisa Tuan mendapatkan lebam itu?"


"Ah, kau tahu di luar sedang musim salju bukan? Aku mendapat sedikit kendala saat diperjalanan."


"Benarkah begitu?"


"Tentu saja."

__ADS_1


"Apa Tuan tahu bagaimana aku mencemaskanmu?"


Revan menatapnya lamat, diam tak menyahut. "Tuan jahat, Tuan bilang perginya hanya sebentar saja, tapi nyatanya Tuan sudah membuatku menunggu lama." Prilly bersungut sedih. Namun cepat Revan memeluknya hangat.


"Maafkan aku, Prilly. Maafkan aku. Maaf aku sudah memakimu. Aku begitu karena takut kehilanganmu."


"Hmm?" Mendadak Prilly mendongak, ia mengernyit heran.


"Tuan tidak akan kehilanganku. Memangnya aku akan ke mana? Aku 'kan milik Tuan. Bukankah Tuan yang menjanjikan akan terus bersamaku."


Lagi, Revan menatapnya lamat. "Ah, kau benar." Revan diam sesaat, ada secercah senyum mengembang di sana.


Mereka hening sesaat.


"Prilly ...."


"Em?"


"Aku ingin bertanya."


"Ya, tanyakan saja, Tuan."


"Andai tiba-tiba saja hidupmu berubah, ah .. maksudku, jika saja ternyata kau adalah putri dari keluarga terpandang, maka jalan mana yang akan kau pilih. Ikut dengan keluarga barumu, atau masih setia bersamaku?"


"Ha?" Prilly melongo sesaat sebelum akhirnya terbahak. "Tuan, apa yang anda pikirkan, apa anda pergi meninggalkanku untuk menonton ke sebuah bioskop. Ini seperti bukan diri anda."


"Aku serius, Prilly. Kenapa kau malah tertawa. Aku begini karena takut kehilanganmu." Lagi, ungkapan itu membuat Prilly terbahak.


"Cerita seperti itu mana mungkin terjadi dalam dunia nyata. Itu hanya cerita yang sering aku tonton dalam drama film. Atau novel-novel terlaris. Aku merasa hari ini anda sedikit konyol. Apa mungkin anda benar-benar pergi menonton bioskop tanpaku?"


"Ah, katakan saja, mana yang akan kau pilih?" Dua kali ditertawakan, membuat Revan kembali tersulut emosi.


"Ah, baiklah, baiklah, aku tidak akan tertawa lagi."


"Jadi apa pilihanmu?"


"Tentu saja aku memilih untuk bersama anda. Lagipula, hal seperti itu tidak akan terjadi padaku, bukan?"


"Ah, benarkah kau memilihku. Aku lega jika itu pilihanmu." Revan tersenyum bahagia, membuat Prilly sedikit heran.


Jadi .. apa sekarang Tuan Revan benar-benar mencintaiku. Dia sampai mengkhayal hal yang tidak-tidak.


"Oh iya, Tuan. Ada hal yang ingin aku pinta pada anda. Hal ini, aku sangat berharap Tuan dapat mengabulkannya."


"Hmm, apa itu, katakan saja?"


"Ini mengenai ayahku?"


Deg.


"Sharta?" Mendadak Revan mengucap nama itu. Wajah Presdir Sharta langsung terlintas dalam pikirannya saat Prilly mengucap kata ayah. Membuat Prilly sedikit menyngernyit.


"Hah? Maksud Tuan?"


"Ah, tidak, lanjutkan."


Prilly masih diam senejak, lalu mengabaikan hal itu. Ia menganggap mungkin saja Revan memang sedang mengalami masalah yang cukup rumit, sehingga pikirannya terbagi-bagi.


"Ini mengenai ayahku, Jung Ah."


"Ya?"


"Ahh, itu .. baru-baru ini aku menghubungi perawat di sana. Mereka bilang ayahku sudah lebih baik. Ayah sudah bisa berjalan meski masih harus menggunakan tongkat."


"Hmm, syukurlah. Aku turut senang mendengarnya. Apa kau ingin kita menjenguknya?"


"Ahh, tidak, bukan soal ini."


"Jadi?"


"Bolehkah aku meminta lebih padamu."


"Ya, apapun akan kulakukan untukmu, Prilly."


"Aku ingin Tuan membebaskanku dari jeratan kontrak dengan Nona Priska. Aku hanya ingin ayahku berada dalam pengawasan Tuan. Bukan pengawasan dari Nona Priska."


Revan menatapnya sejenak. Kali ini ia bingung, sebenarnya mengabulkan permintaan Prilly adalah hal yang mudah, hanya saja jika memutus kontrak dengan Priska, itu artinya sama saja ia mengantarkan dirinya ke dalam kubangan masalah yang terlanjur membendung.


Pasalnya, kontrak itu menjadi landasan bukti bahwa semua kesalahan yang terjadi pada hubungan mereka berawal dari Priska.


Apa yang harus kulakukan?


"Baiklah. Aku akan melakukannya," ucapnya parau, membuat mata Prilly berbinar.

__ADS_1


"Benarkah?" Spontan gadis itu menghamburkan pelukan hangat pada Revan. "Terimakasih, Tuan. Aku mencintaimu."


Revan tak berkutik dibuatnya. Rasa haru barcampur debaran di dada membuatnya mati kutu. Terutama, kini adik kecilnya mendadak berdiri tegak, bersorak bangkit dan meronta, ingin segera mendapat kehangatan. Tapi mengingat istrinya itu tengah hamil muda, Revan tak mungkin mengambil haknya, akhirnya Revan hanya bisa pasrah, menenggak saliva yang mulai terasa berat sambil berusaha menahan gairah yang menyerang secara tiba-tiba.


__ADS_2