Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 53


__ADS_3

"Pelayan kurang ajar! Beraninya dia menipuku, agghhh!" Airen membanting tas mini miliknya ke atas sofa. Kesal akan perlakuan Prilly membuatnya ingin menghabiskan malamnya bersama satu buah minuman penenang pikiran.


Botol wine yang terisi penuh beserta sebuah gelas kosong sudah ia letakkan di atas meja. Ia hempaskan punggung pada sandaran sofa, masih setia dengan pikiran kesal. Remot yang tak berdosa bertengger di meja pun menjadi sasaran utama, buah korban dari amukan kekesalannya. Remot itu remuk setelah Airen membantingnya ke dinding.


Ia menuangkan wine hingga nyaris penuh ke dalam gelas kosong tadi, lalu menenggaknya cepat. Minuman beralkohol sudah menjadi teman candu yang selalu ada setiap Airen merasa kesal, ia sudah terbiasa menenggaknya, sehingga jika hanya beberapa gelas yang masuk ke perut, itu tak akan membuatnya oleng dan hilang kendali.


Apartemen mewah miliknya selalu sepi. Ya, Airen memang menghuninya seorang diri. Meski managernya menyarankan untuk menyewa asisten Rumah Tangga, ia selalu menolak.


Di luar, Airen memang selalu terlihat energik dan percaya diri, tapi begitu masuk ke dunia kesendiriannya, ia kembali menjadi dirinya, ia kembali menjadi wanita pemurung dan merasa bahwa semua pencapaiannya tak ada yang sukses, padahal ia sudah berhasil menjadi aktris terbaik yang tengah naik daun musim ini.


Kegagalannya untuk memiliki Revan membuat rasa percaya diri itu berkurang.


"Revan, apa kurangnya aku, kenapa kau tak pernah melirikku sekalipun. Aku bahkan rela menghuni apartemen ini selama 2 tahun, sejak pertama kau pindah ke kawasan elit ini. Tapi kenapa, kau terus saja mengabaikanku, dan ujungnya kau justru memilih menikah dengan Priska, hanya karena dia keluarga terpandang." Lagi, ia menuang ke gelas, dan menenggaknya.


"Revan, aku merindukanmu." Airen sudah menghabiskan sebotol penuh wine, ia bahkan nyaris memuntahkannya. Ya, perutnya yang tipis tak mampu menampung sebotol penuh air ke dalamnya. Kali ini ia gagal untuk tidak mabuk, Airen yang biasanya kuat, kini goyah juga oleh minuman penenang pikiran itu.


Tapi bukannya terlelap di kasur setelah mabuk, pikiran kacau Airen justru terpancing untuk keluar kamar, mendatangi kediaman Revan. Ya, gadis itu belum mengetahui pasal kepindahan Revan, sehingga tanpa sadar ia nekat keluar menuju apartemen lama milik Revan.


Dengan terhuyung, ia membunyikan bell itu di sana. Tak ada respon, tapi gadis yang terlanjur mabuk itu bersikukuh menekan bell di sana.


.


.


Sementara itu, Priska yang dirundung duka setelah mengetahui rahasia si gadis di balik pewaris aset keluarga, membuatnya tak kuasa untuk berdiam di dalam kamar. Ia nekat menerobos pintu, melawan para penjaga di sana untuk bisa kabur dari kamarnya. Namun, tenaganya kalah kuat oleh puluhan pengawal bertubuh kekar yang bertabur di sana.


"Lepaskan aku! Aku hanya ingin menemui papahku." Ia berontak, tapi para pengawal itu tak peduli pada ocehannya.


"Lepaass! Aku gak akan segan untuk mengadukan perbuatan kalian pada papah." Ia menghardik mereka.


"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Besar."


Priska menatap tajam mereka. "Kalian!" Tangannya terlihat mengepal erat saat para pengawal itu merenggangkan pegangan mereka, untuk membiarkannya bebas sesaat. Gigi Priska bahkan terlihat mengertak di sana.


Priska masih menatap mereka penuh amarah, hingga tanpa sengaja, matanya menangkap bayangan senjata terselip pada kantong jas salah seorang pengawal. Sigap ia meraih, menggenggamnya erat mengarahkan pada kepala.


Satu buah pistol berhasil ia raih. Namun, bukannya mengarahkan ujung pistol ke para pengawal, Priska justru meletakkan ujungnya pada dahinya sendiri. Ya, kali ini ia membuat sandiwara lagi, dengan berpura-pura mengancam akan bunuh diri jika saja mereka masih nekat mengurungnya.


"Aku akan melepaskan pelatuknya, jika saja kalian masih menghalangiku," ancamnya pada mereka. Membuat semua menjadi panik. Beberapa hendak menerkam untuk merebut pistol itu dari tangan Priska. Namun, akting gadis yang seperti nekat bunuh diri itu terlihat natural, membuat semuanya takut salah dalam bertindak.

__ADS_1


Nona Muda Sialan! Selalu saja menyusahkan.


Priska meminta mereka untuk memberi jalan, sementara itu ia juga meminta salah seorang dari mereka memberikannya sebuah kunci mobil. Cara yang ia lakukan membuahkan hasil. Takut salah bertindak, mereka terperdaya oleh tipuan sandiwara Priska.


Dengan lenggang, Priska berhasil keluar dari hukuman ayahnya. Pistol itu bahkan masih setia tergenggam di tangannya. Ya, dia tak mau lengah dengan membuang senjata penyelamat baginya itu.


Priska akhirnya berhasil keluar malam itu, membelah jalan, menuju apartemen Revan. Entah apa yang ada dipikirannya, yang ia inginkan saat ini hanyalah bertemu Prilly, ingin meluapkan semua kekesalannya pada wanita yang dianggap virus perusak masadepannya itu.


Sementara itu ....


.


.


Salju masih turun di atas bumi Kota Seoul. Memenuhi taman-taman dan jalan dengan warna keputihannya. Wajah Revan dan Sharta sudah terlihat pucat, pertikaian malam itu masih belum berujung penyelesaian.


Tajam Sharta menatap pada Revan, pun dengan pria tampan yang berdiri di hadapannya itu.


"Kau sudah menodainya! Bajing*n kau, Revan. Di mana putriku, aku kemari untuk menjemputnya."


"Maaf, tidak bisa. Selain karena anda tak menunjukkan bukti kuat, saya juga masih sepenuhnya bertanggungjawab atas kelangsungan hidup Prilly, karena dia masih berstatus istriku."


"Oh, ya? Lalu ke mana ahsaja anda selama ini. Membiarkan Prilly hidup sengsara dengan pria yang bukan dari ayah biologisnya?"


"Diam, kau!"


"Lalu sekarang, setelah dia dewasa, anda menuntut hak atas darah yang mengalir di dalam raganya. Atas dasar apa anda berhak?"


"Lalu, bagaimana denganmu, kau juga menemukannya saat ia sudah puas menderita, bukan?"


"Aku? Setidaknya aku lebih dulu menemukannya darimu, artinya aku lebih dulu membahagiakannya sebelum anda."


Deg.


Sharta terdiam. Ucapan Revan membuatnya bagai terhantam godam. Sharta sadar, ia terlambat menemukan Prilly. Kini, Prilly sudah berada dalam pelukan Revan.


"Aku masih tak percaya bahwa sejak awal kau tidak mengetahui perihal Prilly yang sebenarnya adalah putriku."


Mendengar itu, Revan terlihat mengehela napas berat.

__ADS_1


"Fouh! Bukankah saat di gedung Sharta Group sudah kukatakan pada anda, bahwa Prilly adalah gadis kiriman dari putrimu, Priska."


Deg.


Seketika Sharta teringat percakapan yang terjadi di antara mereka beberapa hari lalu. Ia kemudian menatap lekat pada Revan.


"Aku bisa membuktikannya!" Revan menegaskan. "Aku memegang dokumen kontrak yang di tandatangani oleh putri anda Priska di bawah stempel Sharta Group."


Pernyataan itu nyaris menghenyakkan dada Sharta. Terasa sesak saat ia mencoba untuk tegar, ucapan Revan berhasil membuatnya menyerah untuk sementara. Kali ini dia memang kalah telak dalam memperebutkan Prilly.


Sepertinya Revan berkata jujur. Mungkin saja dia memang tak sengaja bertemu putirku, hingga berujung memperisteinya.


"Baiklah, sepertinya kau menang."


"Tidak, Tuan! Tidak ada kata menang di antara kita," jelas Revan. "Karena bagiku Prilly bukanlah sebuah barang taruhan yang bisa dijadikan landasan dalam perebutan menang dan kalah."


"Hmm, tetap saja, aku mengaku kalah. Kau berhasil merebutnya, karena kau menemukannya jauh sebelumku."


"Jadi .. apa anda masih berniat mengambilnya dariku?"


"Tentu saja. Tapi tidak sekarang." Sharta tersenyum pias. "Dia putriku, kau tak bisa menutupi itu sampai batas waktunya tiba, kelak dia akan tahu, saat itu dia pasti akan menentukan untuk ikut dengan ayahnya, atau dirimu, suami yang menganggapnya istri simpanan."


Deg.


Usai bicara, Sharta dan para pengawalnya mulai memasuki mobil yang mereka parkirkan di bawah lampu jalan tadi, membiarkan Revan memindai mereka, masih setia mematung di bawah jutaan buliran salju yang berjatuhan, sebagian memadati rambut hitamnya, dan kini terlihat sedikit memutih.


Sharta membuka pintu mobilnya, mendongak pada Revan.


"Beritahukan alamat barumu padaku, dalam waktu dekat aku akan berkunjung ke sana. Tenang saja, hanya sebatas kunjungan biasa, bukan untuk menjemput Prilly hanya ingin menemuinya." Usai bicara, tanpa menunggu persetujuan Revan, Sharta sudah menganggapnya menyetujui. Ia menutup kembali kaca mobil. Melaju meninggalkan Revan yang bayangannya mulai mengecil di dalam kaca spion.


Sementara itu, dari ujung pintu utama lantai dasar, Airen menyaksikan apa yang terjadi di depan sana. Ia terkejut hingga nyaris terbelalak.


Bagaimana tidak, Prilly yang ia anggap pelayan, ternyata istri Revan. Yang lebih mengejutkan, ternyata dia bukan hanya sekadar perebut suami Priska, dia juga anak kandung dari Presdir Sharta, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Yang artinya dia dan Priska masih memiliki hubungan darah.


Pantas saja dia berani menipuku. Ternyata dia istri kesayangan Revan. Tapi berita barunya benar-benar mengejutkan, ternyata Prilly juga anak Tuan Sharta. Benar-benar suatu kejutan.


Ia menghela napas berat. Di sisi lain, ia merasa puas karena hubungan Priska dan Revan ternyata hanya sebuah sandiwara, artinya satu rival sudah berhasil dikewatkan. Tapi di satu sisi, ia juga terhenyak, satu rival sudah gugur, kini muncul rival baru.


Huh, apa aku harus menyerah saja dengan pria idamanku itu.

__ADS_1


Ia memutar tubuh, berjalan masuk untuk kembali ke apartemen.


__ADS_2