
**Sesuai janji, walau telat hari ini author usahakan update 2. Maaf jika dari kemarin suka luput update-nya dari jadwal yang dijanjikan 🤗
Selamat membaca kisah Revan dan Prilly.
Eps. 48**
Saat pagi sebelumnya ....
Jung Ah sudah lebih membaik. Ia sudah mulai bisa berjalan, walau masih menggunakan tongkat. Perawatan dengan metode fisioterapi yang difasilitasi Priska berhasil membuatnya sembuh dari penyakit stroke. Kini, tepat saat Prilly berumur 23 tahun, Jung Ah mendapat kabar mengenai istrinya, Ahyoungra.
Ia terkejut bukan kepalang. Bagaimana tidak, sudah puluhan tahun penantian tak kunjung menemukan, kini kabarnya, wanita itu sudah lama meninggal sejak awal ia menitipkan putri mereka pada Jung Ah suaminya.
Putri yang mengalir darah Sharta di dalamnya, tapi Jung Ah tak pernah mengetahui kebenaran itu. Yang ia yakini, dulu istrinya memang menjajakan diri hingga mampu menghasilkan uang yang cukup banyak hanya dalam waktu singkat. Pekerjaan apalagi yang patut dicurigai selain menjual diri. Itulah alasan keyakinannya bahwa Prilly bukanlah darah dagingnya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai mengiklaskan hal itu. Mungkin Tuhan sudah menakdirkan hidupnya menderita, dengan memelihara putri yang ia yakini bukan darah dagingnya.
Mendengar berita itu, Jung Ah sempat shok. Ia bahkan sempat terjatuh, dan nyaris terkena serangan jantung. Beruntung para perawat di sana cepat memberi penanganan, sehingga nyawa Jung Ah masih terselamatkan.
Sempat terpikir dalam benaknya untuk memberitahukan hal itu pada putrinya Prilly. Tapi ia mengurungkannya. Ia memilih menyimpan rahasia ini sampai saat waktu yang tepat itu tiba.
Pemakaman Ahyoungra berada cukup jauh, yaitu di luar pulau. Jika ingin ke sana, maka ia harus menggunakan jalur udara. Namun, rasa rindu sudah semakin membendung. Walau hanya bisa menemukan pemakan sekalipun, Jung Ah sudah bisa menetralisir sedikit kerinduan yang meluap itu.
Pagi itu, ia memutuskan untuk memesan tiket jalur udara. Fasilitas yang diberikan Priska memang benar-benar menjanjikan, bahkan hanya sekali mengutarakan keinginan, Jung Ah sudah mendapat respon baik dari pihak Priska. Ya, Priska mempercayakan seorang asisten untuk mengurus segala keperluan pria paruh baya, ayah penyandang marga untuk Prilly itu.
.
.
Sudah 15 tahun, Ahyoungra menyisakan kenangan dalam kehidupan lama Yoona. Wanita tua yang cantik itu berbaring di atas kamar tidurnya, pagi itu ia lelah akan semua aktifitas. Bahkan ia tak menghadiri acara sarapan besar Keluarga Sharta.
Pikirannya tertuju pada wanita yang telah lama mati oleh perbuatan piciknya. Ia mengira, dengan kematian Ahyoungra maka semua akan kembali berjalan normal. Awalnya memang seperti itu, hingga hari kutukan tiba, hari di mana ia menemukan Prilly hadir dalam kehidupan putrinya. Ia berpikir, mungkinkah Ahyoungra mengutuknya.
Semakin ia pikirkan, semakin ia tak tenang. Wanita itu pun memutuskan untuk mengunjungi makam Ahyoungra, pagi itu melalui aplikasi dalam ponsel, ia memesan sebuah tiket keberangkatan menuju Kota Dangjin. Tempat di mana Ahyoungra dimakamkan.
.
.
Matahari sudah semakin beranjak ke ujung cakrawala, hawa dingin masih sama, masih berhasil mencubit kulit.
Revan dan Prilly sudah selesai memilih sepatu, bahkan sudah 4 jam yang lalu. Kini mereka tengah duduk dalam satu buah cafe, memesan beberapa daging asap yang mereka panggang langsung di atas meja.
"Padahal tadi aku bisa berangkat sendiri ke toko itu. Tuan tak perlu ikut serta bersamaku."
"Cih, pergi bersamaku saja kau masih terjatuh, bagaimana kau bisa memintaku membiarkanmu sendiri saja ke sana?"
"Maaf, itu karena kejadian tadi, aku hanya tak biasa ditatap oleh puluhan mata di depan khalayak seperti tadi."
"Lalu, mau bagaimana lagi. Aku terpaksa mengangkatmu, kau bisa sakit jika memaksakan berjalan. Apa kau mau, menonton ice skating malam nanti menjadi batal bahkan justru berakhir di Rumah Sakit?"
"Tidak!" Prilly bersungut. "Ah, mungkin harusnya tadi Tuan saja yang membeli sepatu untukku."
"Aku tidak tahu ukuran sepatumu." Revan bicara tanpa menatapnya, sedang tangannya sibuk membolak-balik daging di atas panggangan asap.
"Tuan kan bisa menanyakannya padaku."
"Ini akan dipakai langsung, bagaimana jika tidak pas. Karena tidak semua ukuran sepatu itu sesuai."
"Hmm, baiklah. Tuan selalu benar atas segalanya." Revan menoleh, tertawa kecil atas ucapan gadis itu.
"Hei, kau marah?"
"Tidak!"
__ADS_1
Ia semakin tertawa, membuat Prilly semakin bersungut. "Baiklah, kau kesal karena tadi menjadi pusat perhatian?"
"Emm." Ia mengangguk, masih setia menundukkan wajah. Kesal.
"Apa kau tahu, ada banyak wanita di luar sana yang menginginkan berada di posisimu, emm?"
Prilly mendongak, menatap Revan yang terlihat menaikkan kedua alis. "Begitu ya, Tuan?"
"Emm, ya, kurasa begitu. Ada banyak wanita yang haus akan sikap romantis pria."
"Jadi, yang tadi terjadi itu, termasuk romantis?"
Eh, dia kenapa? Apa ini bawaan hormonnya lagi, dia tak mengerti arti romantis atau apa?
"Menurutmu?"
"Menurutku sih memalukan!"
Bruup!
Lagi, kali ini Revan kembali tersedak.
Apa? Memalukan. Bagaimana bisa ada seorang wanita yang mengatakan hal romantis tadi memalukan?
Revan menenggak berat saliva, melihat ke arah Prilly yang tampak menikmati sajian hangat di atas meja.
Dia benar-benar berbeda. Selama ini, semua gadis yang kutahu pasti haus akan kasih sayang, dan hal-hal yang berbau romantis, tapi tidak dengan gadis ini. Aku heran, apa yang membuatnya begitu? Tapi ini unik, dia termasuk gadis langka, meski sikapnya berbeda, entah kenapa aku makin menyukainya.
"Tuan?" Prilly menyentak Revan yang terlihat menatap lama padanya.
"Ah, ya?" Ia benar-benar tersentak.
"Oke, baiklah." Revan mengambil satu, mengunyahnya dalam mulut.
.
.
Cahaya jingga mulai merapat ke ufuk barat, membias di antara batu nisan. Menyembul pada permukaan pakaian yang Yoona kenakan sore itu.
Ia bersimpuh di depan satu buah makam bertuliskan nama Ahyoungra, wafat pada tahun 2007. Ia meletakkan bunga itu di atas pusara. Sedang foto Ahyoungra masih tersenyum manis di sana. Foto yang mengingatkannya akan kisah kelam masa lalu.
"Aku datang berkunjung, Ahyoungra." Ia memulai percakapan pada wanita yang kini bersemayam di alam berbeda.
"Bagaimana kabarmu?"
Tak ada jawaban, tapi foto yang tersenyum di sana seakan bicara padanya.
"Kau sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi kenapa .. kenapa bayanganmu masih berhasil menghantuiku? Aku seperti terkena kutukan olehmu, kau tahu!"
Biasan cahaya semakin menyorot tepat di wajah wanita cantik paruh baya itu. Di bawah Pohon Holly, pohon peneduh itu yang sesekali bergoyang tertiup angin. Mengibas selendang yang Yoona kenakan dengan melingkarkan di seputaran leher.
"Apa kau yang mengirim putrimu pada Sharta? Dia tidak boleh bertemu, bahkan jika kau perlu, aku akan memberi sepertiga hartaku untuknya, tapi kumohon berhentilah mengirim anakmu pada Sharta." Ia benar-benar memohon pada Ahyoungra di atas pusara.
"Kehidupanku sudah kembali normal, tapi itu sebelum kedatangan putrimu dalam lingkaran keluargaku. Kumohon, tolong kau cabut jika ini kutukanmu, maafkanlah kesalahanku yang dulu, aku akui aku salah telah menghabisi nyawamu, aku terpaksa. Aku terdesak oleh keadaan. Kau berhasil mengubah cara pandang Sharta padaku saat itu. Mungkin akan terus begitu andai hingga kini kau masih hidup."
Ia bicara, menatap foto yang setia tersenyum itu. Tak ada suara selain hembusan angin. Hingga tiba-tiba seorang pria menyentaknya.
"Yoona?"
Deg.
__ADS_1
Ia terkejut. Menoleh.
Jung Ah tengah berdiri, mengenakan sebuah tongkat, dipandu oleh seorang pengawal kiriman Priska yang menunggunya di kejauhan.
"Jung Ah?" Ia terperangah. Mulutnya sampai terbuka, tak percaya akan bertemu dengan pria itu di sana.
"Kau .. mengenal Ahyoungra?" Pertanyaan itu berhasil membuat mimik Yoona semakin gelabakan.
"Ya, seperti yang kau lihat, aku menemui makamnya karena kami juga berteman?"
Hening. Suasana mencekam di antara keduanya.
"Apa kau sudah lama mengetahui perihal ke mana perginya Ahyoungra selama ini?"
Dag. Dug.
Dag. Dug.
Yoona menenggak berat saliva. Kali ini ia seperti mendapat serangan skakmat dari Jung Ah. Bagaimana tidak, selama ini Jung Ah sudah kelawalahan mencari Ahyoungra, setelah 15 tahun terpisah, hanya kabar kematian yang ia terima.
"Kau mengetahuinya? Apa kau juga tahu alasan kematian Ahyoungra? Katakan, Yoona."Â Nadanya sedikit menekan.
"Kau tidak berhak memakiku, Jung Ah!"
"Ke mana saja kau selama ini? Kau pergi setelah mengatakan kau hamil. Sebenarnya siapa dirimu, sandiwara apa yang terjadi di balik semua ini, apa kematian Ahyoungra ada hubungannya denganmu?"
"Cukup, Jung Ah! Kau sudah kelewatan. Aku tidak memiliki sangkut paut apapun mengenai kematian Ahyoungra."
"Kau pasti tahukan jika Ahyoungra ini istriku, lalu kenapa 23 tahun silam kau datang padaku untuk menyerahkan dirimu?"
"I-itu ...." Yoona sudah mulai gelagapan. Ia tak mampu lagi mencari alasan untuk menghindar.
Gawat. Bagaimana bisa Jung Ah menemukan makam istrinya di sini. Benarkah ini sebuah kutukan, seperti kata peramal dulu yang mengatakan suatu saat aku akan terkena kutukan karma?
"Nona, pesawat akan landas dalam waktu 1 jam ke depan. Kita harus kembali sekarang." Seorang pengawal menghampiri Yoona.
Ah, bagus! Kau datang disaat yang tepat.
"Maaf, aku harus pergi sekarang!" Yoone menunduk pelan, lalu berbalik badan, tapi mendadak Jung Ah menahan dengan spontan memegangi tangannya.
"Bagaimana dengan anak kita?"
Deg.
"Kau bicara apa?"
"Satu bulan setelah sering bersama, kau bilang kau hamil, bukan? Di mana anak kita, bagaimana kabarnya, apakah dia lelaki atau perempuan?"
"hei, jaga bicaramu! Aku orang terpandang, tak mungkin memiliki hubungan apapun dengan orang rendahan sepetimu, jadi berhati-hatilah saat bicara, aku bisa saja memidanakanmu dengan tuduhan pencemaran nama baik."
Yoona gugup, beberapa pengawal sudah berada di dekatnya. Khawatir jika saja salah satu pengawal itu adalah mata-mata Sharta, dan mulai mengorek-ngorek tentang masalalunya, kemudian menceritakannya pada Sharta.
"Aku harus pergi sekarang." Ia menepis paksa tangannya dari genggaman Jung Ah. Meninggalkan Jung Ah yang mematut di sana, hingga Yoona sudah berlalu sejarak 20 meter, Jung Ah kembali berteriak.
"Ingatlah. Walau bagaimanapun, aku adalah ayah biologisnya. Kau tak boleh berlama-lama menyembunyikan hal itu darinya!"
Brengs*k!
Yoona menggerutu, tapi ia tak menoleh lagi. Langkahnya bergerak pasti meninggalkan makam di sana bersama 2 orang insan yang tampak mematung memandangi kepergian mereka.
Bersambung ....
__ADS_1