
Sepanjang malam Nyonya Sharta terus saja dihantui rasa takut. Takut akan masalah kelam yang mulai kembali mencuat. Dibenamkannya wajah ke dalam bantal empuk, sayangnya hal itu tak membuatnya membaik, bayangan akan kehancuran semakin meraja dalam pikiran.
Ia melirik pria yang kini tertidur pulas di sampingnya. Pria kaya raya dan memiliki segalanya itu tampak selalu tenang dalam tidurnya, seakan tak pernah memiliki beban hidup, meski 15 tahum silam pria itu pernah frustasi saat mengetahui anaknya yang terlahir dari ibu sambung itu mati dengan mengenaskan, yang kabarnya mereka semua dibunuh dan dibiarkan terbakar hingga sulit untuk mengenali jasad korban.
Lamat Nyonya Sharta memerhatikan wajah lelaki paruh baya yang tampak bugar itu, nyaris tak ada riwayat penyakit dalam tubuhnya. Ya, Sharta rajin berolahraga ke pusat kebugaran, juga rutin mengontrol kesehatannya oleh dokter pribadi.
Kembali pandangan Yoona alias Nyonya Sharta ia lemparkan ke langit-langit kamar, menatap biasan cahaya kecil dari lampu tidur. Bayangannya pergi jauh ke masasilam.
Padahal aku sudah berusaha mengubur semua kenangan lama, aku berusaha menciptakan dunia baru untuk menghapus kisah masalalu itu, tapi sepertinya roda ingin kembali berputar, ingin mengembalikanku pada masa penderitaan itu.
Tidak! Akulah pemilik takdirku, ini bukan karma, kan kupastikan akan mencapai semua usaha yang sudah kulakukan. Kepala pengurus mansion benar, Priska harus mengandung bayi dari calon penerus Sharta Group, dengan begitu harta suamiku Sharta tidak akan pernah jatuh pada tangan gadis itu, bahkan untuk waktu yang cukup singkat sekalipun tak akan kubiarkan.
Ia merapal doa panjang sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
.
.
Pagi menyambut musim dingin di Kota Seoul. Tebalnya sweater menjadi perisai setiap insan yang menampakkan diri di area pejalan kaki. Hampir tak satupun yang keluar tanpa tameng bermotif bulu itu.
Revan sudah siap dengan setelan kantor, ia sengaja tak membangunkan Prilly terlebih dulu, takut mengganggu tidur wanita hamil muda itu. Ia juga sudah menyajikan menu makanan di atas meja dapur agar Prilly dapat langsung menikmatinya saat bangun.
Perjalanan bisnis pagi itu masih panjang, ada beberapa kasus mengenai proyek lama yang sempat tersendat akibat penyalahgunaan dana infrastruktur. Kali ini, Revan sebagai Perwakilan Ketua Dewan Direksi harus bertindak tegas mengatasi masalah sembelit yang terjadi pada proyeksi antar perusahaan Arkandi dan Sharta Group, ia terpilih menjadi juru bicara pada rapat yang akan dihadiri oleh petinggi perusahaan yaitu Presdir Harlem dan Presdir Sharta.
Asisten yang menjemput Revan itu mulai melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Jadwal meeting yang diadakan masih berlangsung 1 jam setengah ke depan, sehingga masih ada waktu senggang untuk mempersiapkan segalanya, baik dari segi naskah maupun dari segi mental sudah ia siapkan. Revan kembali membuka lembaran berkas dalam map di sampingnya, mempelajari semuanya sebelum berpresentasi.
Sebelumnya, ia juga sempatkan mengirim pesan pada gadis yang mungkin masih terlelap di dalam kamar di apartemen itu.
Prilly istriku, Sayang. Saat bangun nanti, jangan lupa untuk mengisi perutmu dengan makanan sehat. Aku sudah membuatkan menu sarapan pagi yang sehat untukmu, jadi jangan coba untuk membeli makanan diluar sana, terlebih yang dipinggir jalan. Oke.
__ADS_1
Pesan panjang itu ia tulis dengan khidmat penuh penghayatan sebelum akhirnya mengirimnya pada Prilly.
Tak hanya meninggalkan menu untuk sarapan, sebelumnya Revan juga sudah membekali wanita itu dengan sebuah kartu kredit non limitied, agar gadisnya bisa menggunakan kapan saja.
.
.
Udara dingin di pagi hari tak lantas membuat mata Nyonya Sharta berat untuk terbuka lebih awal. Sebagai seorang nyonya besar, ia terbiasa tampil cantik dan elegan setiap saat, tapi untuk hari ini, ia mengawalinya lebih dini.
Acara sarapan besar ala keluarga Sharta tiba, tapi putri kesayangan Nyonya Sharta masih belum menampakkan batang hidungnya di sana. Penasaran, Nyonya Sharta memilih ingin mengintipnya langsung ke kamar.
"Kau akan ke mana?" Mendadak Sharta menembaknya dengan pertanyaan dingin.
"Ke mana lagi, aku ingin melihat keadaan putri kita."
Deg.
"Apa maksudmu? Aku kan hanya ingin melihat keadaan Priska."
Sharta terkejut mendengar pertanyaan dengan nada mengejutkan itu. "Pelankan bicaramu. Apa sekarang kau mulai berani bicara lantang padaku."
Dag. Dug.
Dag. Dug.
"Suamiku, bukan maksudmu ingin berbuat lancang, hanya saja .. aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu. Putri kita sedang terluka karena dikhianati oleh suaminya dari keluarga Arkandi Group itu. Terlebih sekarang dia sedang amnesia. Tidakkah kau juga terluka?"
Meski napas istrinya terdengar memburu saat bicara, tetap saja Presdir Sharta bisa menikmati hidangan pagi itu dengan tenang. Sepotong, duapotong roti isi selai itu ia lumatkan dalam mulut, mengunyah pelan hingga nyaris habis separuh porsi, sementara Nyonya Sharta sudah semakin geram.
__ADS_1
"Suamiku, tidak bisakah sekali saja kau menghargaiku saat bicara? Aku sedang membahas perihal putri kita. Apa kau tidak bisa merasakan perihnya perasaan anak kita yang dikhianati Revan itu?"
"Kenapa harus bersusah payah memikirkannya. Itu karena sifatnya yang terlalu manja, bahkan untuk urusan melayani suami, haruskah kita membimbingnya?"
Yoona mengernyit. Tak percaya akan mendapat jawaban seperti itu.
"Aku yakin kesalahan ada pada putri kita, dialah penyebab Revan mengkhianatinya."
"Apa? Bagaimana bisa kau justru menyalahkan anak kita?"
"Memangnya menurutmu apa, hah?" Sharta mulai bicara dengan nada menghardik. Emosinya mulai tak stabil, naik satu tingkat. "Cih, apa kemampuan anak itu selama ini, tidak ada kan? Dia selalu saja manja, tidak pernah memiliki prestasi apapun, apa untuk urusan melayani pria dia juga perlu diajarkan, benar-benar payah."
"Papah?" Mata Nyonya Sharta mulai memerah. Tak percaya kalau suaminya semakin tak memedulikan keluarga kecil mereka. "Teganya kau berkata begitu pada anak kita."
"Kau bilang anak kita? Cih!" Ia berdecih pelan. "Dia anakmu, sejak awal kelahiran Priska tak pernah benar-benar kuharapkan. Semenjak Ahyoungra menghadirkan putri untukku, sejak itupun putriku kesayanganku hanyalah Prilly, kau harus ingat itu." Ia menatap lantang dua bola mata menyalak di sana. Seakan mengatakan, tunggu saja bila saatnya tiba, aku akan membongkar kebusukanmu.
Tatapan itu nyaris membuat bulu kudu Yoona berdiri kaku. Ia terdiam. Bahkan bolamatanya tak lagi bergerak, hanya membulat sempurna.
"Lalu, untuk apa kau menikahkan mereka jika kau tak peduli pada Priska?" tanyanya kesal.
"Tentu saja untuk menyambung kerjasama antar perusahaan Sharta dengan Arkandi Group. Memangnya apa lagi?" Ia bicara tanpa melirik sedikitpun. Hanya fokus pada menu sarapan paginya.
Benar-benar tak berperasaan!
Hal itu membuat Yoona benar-benar geram. Dibenamkannya emosi ke dalam lubuk terdalam, ingin rasanya ia ledakkan kemarahannya saat itu juga, tapi ia tak berdaya di hadapan suami yang memiliki kuasa penuh itu.
Keterluan kau, Sharta. Ia menggerutu kesal sebelum akhirnya beranjak pergi menuju kamar putrinya.
Rasa kesal dan dendam semakin berkecamuk dalam raganya, tapi untuk saat ini, semua hanya bisa ia pendam. Lagi, ia harus menahannya demi mempertahankan posisi sebagai Nyonya Besar.
__ADS_1